
Keesokan harinya Glacia memutuskan untuk berkunjung ke rumah Yohanes. Mansion besar itu nampak sepi seperti biasa, hanya ada pekerja yang berkeliaran dengan tugas-tugasnya.
Weni mengikuti Glacia dari belakang. Ada juga Julian yang Narendra perintahkan untuk menjaganya. Glacia membuang nafas ketika mengingat lagi kekeraskepalaan lelaki itu. Entah kenapa, tapi Glacia merasa sikap Narendra semakin berbeda padanya.
Narendra kerap memerhatikannya secara berlebihan, dan itu membuat Glacia sedikit tak nyaman. Mungkin memang Narendra tipe orang yang bertanggungjawab, dia baik, meski mereka tak saling mencintai Narendra mampu bertahan walau sikap Glacia kerap semena-mena.
Tapi itulah yang membuat Glacia gelisah. Ia tak mau dikasihani. Menurutnya Narendra hanya kasihan padanya, pada nasib menyedihkan yang menimpanya. Ia wanita cacat yang ditinggalkan semua orang.
Di depan lobi sudah ada banyak pelayan yang menyambutnya, termasuk kepala pelayan yang kini membungkuk segan menghormatinya.
"Selamat datang kembali, Nona," sapa Jang, kepala pelayan yang sudah bekerja puluhan tahun di keluarga Glacia.
"Pagi," balas Glacia singkat. "Papa ada?"
"Tuan sedang ke luar untuk suatu pekerjaan."
"Mari masuk, Nona? Kami sudah menyiapkan kudapan kesukaan Nona di rumah ini," lanjut Jang, mempersilakan Glacia untuk segera memasuki mansion.
Glacia menggerakkan kursi rodanya melewati para pelayan yang berbaris. Ia diam sejenak mengamati keseluruhan lobi yang tidak berubah. Lukisan ibunya masih setia terpajang di sana, juga foto keluarga yang membentang besar di dinding paling atas.
"Nona mau istirahat dulu? Nanti saya bisa antarkan kudapannya ke kamar?" tanya kepala pelayan Jang.
"Tidak perlu. Aku mau keliling rumah ini dulu. Rasanya sudah lama aku tidak kemari. Tapi nanti aku akan ke gazebo."
Jang mengangguk. "Baik, nanti kami antar makanannya ke gazebo."
Glacia melanjutkan perjalanannya menuju sisi utara mansion besar itu. Seluruh tanaman bunga milik ibunya masih terawat dengan baik, meski sekarang tak lagi mendapat sentuhan dari tangan lembutnya.
Glacia ingat, sang mama selalu menghabiskan waktu merangkai bunga yang akan ia simpan di beberapa ruangan. Alasan kenapa setiap hari mansion ini selalu terasa segar.
Glacia memetik setangkai bunga gardenia di sana. Mencium wanginya yang semerbak membelai hidung sambil terpejam mengingat semua kenangan yang masih tertinggal.
__ADS_1
Gardenia adalah bunga favorit mamanya. Glacia tersenyum, sungguh ia merindukan kebersamaan mereka yang sampai kapan pun akan tersimpan di ingatan Glacia.
Beralih dari taman, selanjutnya Glacia menyusuri halaman belakang dengan kolam membentang luas. Pohon palem tertanam di beberapa sudut, menciptakan oasis di tengah teriknya cuaca Jakarta. Tapi, mansion Martadinata memang berdiri di lingkungan asri, lebih tepatnya sengaja dibuat asri.
Di tengah ketenangan Glacia pagi itu, tiba-tiba Weni mendekat dan berkata dengan badan sedikit membungkuk. "Nyonya, ada tamu," ucapnya memberi tahu.
Glacia menoleh ke belakang, keningnya berkerut samar mendapati Claire berdiri beberapa meter tak jauh darinya. Wanita berambut pendek itu menatap Glacia lurus. Tanpa bicara pun Glacia tahu Claire sengaja datang ke sini untuk menemuinya.
Glacia menoleh pada Weni serta Julian. "Kalian lanjutkan saja. Aku akan ke gazebo sebentar."
Mendengar hal tersebut tubuh Julian kontan menegak. Dari gesturnya ia sedikit tak setuju dengan usulan Glacia. Bagaimana pun Narendra sudah memerintahnya menjaga wanita itu dari jarak dekat.
Nampaknya Glacia menyadari keraguan Julian. Ia pun berkata untuk meyakinkan lelaki itu. "Dia keluargaku."
Mau tak mau Julian pun mengalah. Ia dan Weni beranjak meninggalkan Glacia bersama Claire yang kini berjalan mendekat.
"Lama tak bertemu, Sister." Claire berdiri tegap di depan Glacia, menatapnya datar seperti biasa.
"Ada apa?" tanya Glacia to the point.
Claire tak langsung menjawab. Ia mengajak Glacia ke gazebo belakang tak jauh dari sana. Beberapa saat mereka hanya saling terdiam. Claire bersidekap memandang percikan air yang menyapu kolam di bawah mereka.
"Minggu depan Lizy ulang tahun. Kau datanglah," ucap Claire.
Glacia mengernyit samar. Claire pun berbalik hingga kini mereka berhadapan. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Lizy sibuk dan tak bisa mengundangmu langsung. Tapi dia menitipkan ini padaku."
Claire menyerahkan selembar undangan pada Glacia. Glacia menatap itu sejenak sebelum menerimanya.
"Aku tidak tahu ternyata kalian dekat," lanjut Claire memancing.
Glacia menyimpan undangan tersebut di pangkuan. "Belum lama. Dia cukup ramah diajak berteman," balasnya mengendik, terkesan hanya menjawab seadanya.
__ADS_1
Claire pun mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat tipis merasa lucu. "Ternyata kau cukup mendengarkanku."
Kalimat berupa sindiran yang sama sekali tak Glacia hiraukan. Tampaknya Claire sudah tahu mengenai upaya Glacia yang berusaha mendekatkan Narendra dengan Lizy, dan wanita itu berpikir Glacia melakukannya karena merujuk pada pembicaraan mereka tempo lalu di acara makan malam keluarga.
"Memang sudah seharusnya kau membuka mata pada pernikahanmu. Tidak mungkin kau terus terbelenggu dalam hubungan tanpa arah, kan?"
"Kau dan Narendra memang terikat, tapi tujuan kalian tidak pernah sama. Apa aku benar?"
Glacia mendongak sebentar. "Anggap saja begitu."
Dalam hati Glacia mendengus karena sikap Claire yang terkesan sok tahu. Tapi, mau bagaimana pun apa yang dikatakan wanita itu memang benar. Tujuan pernikahan Glacia sangat tidak jelas. Hambar, tanpa romansa seperti kebanyakan orang.
Memikirkan itu kadang membuat Glacia ingin hidup seperti orang lain. Memiliki pernikahan yang sempurna bersama orang yang dicintai dan mencintainya. Dulu, Glacia menaruh harapan itu pada Gallen, tapi ternyata lelaki itu hanya pelabuhan semu yang mengisi lembar hidup Glacia sementara.
"Pernahkah kau berpikir rasanya menjadi Narendra?" ucap Claire tiba-tiba. "Hidup dalam bayang-bayang orang lain dan tertekan di bawah pengaruhnya. Tak bisa bebas mengutarakan keinginan. Bahkan untuk bergerak pun ia harus melihat dari segala sisi."
"Ayahmu terlalu menyukai Narendra, sampai-sampai masa depannya pun ia atur sedemikian rupa. Tak peduli berapa banyak yang sudah Narendra korbankan untuk bisa menuruti semua perintahnya. Ia bahkan rela mengesampingkan hatinya untuk kehidupan semu yang tak jelas larinya ke mana."
"Kalau itu kamu, mungkin sudah memilih mati atau melarikan diri," lanjut Claire, disertai senyum sumir menatap Glacia.
Glacia bungkam di tempatnya. Matanya menerawang melihat aliran air yang mengisi kolam ikan. Claire pun menegakkan tubuh terlihat hendak beranjak.
"Dia hebat karena masih bisa bertahan. Tapi, tidak menutup kemungkinan hatinya berubah suatu saat, kan?"
Mata Claire menatap Glacia penuh arti, dan Glacia hanya membalasnya datar cenderung tak peduli. Claire tersenyum menepuk pundak Glacia. "Kalau begitu aku pulang. Jangan lupa untuk datang minggu depan."
Setelah itu Claire melenggang pergi meninggalkan Glacia. Tapi ia berhenti sesaat untuk kembali bicara. "Wajahmu semakin pucat. Semoga pengobatanmu berjalan lancar."
Glacia tak bergeming setelah kepergian Claire. Ia menarik nafas dan menyentuh hidungnya yang kembali berdarah. Glacia melihat Weni serta Julian yang mendekat di kejauhan. Ia pun segera mengambil tisu yang akhir-akhir ini selalu terselip di saku kursi rodanya.
***
__ADS_1