
Glacia memilin tangannya di atas paha. Ia duduk menghadap jendela, matanya berkaca sambil sesekali terisak. Sudah sehari semalam Narendra mengunci Glacia di ruang rawatnya sendiri. Pria itu hanya mengizinkan dokter dan perawat masuk untuk melakukan pemeriksaan.
Adapun Yohanes belum kunjung Glacia dapati menjenguknya. Entah ke mana sang ayah, biasanya dia selalu berkunjung menemui Glacia setiap hari.
Pintu terbuka, Glacia kontan menoleh. Tapi wajahnya langsung merengut saat yang dilihatnya masuk justru Narendra. Bagus, pria itu mulai seenaknya. Sejak mengurung Glacia, ia tak pernah terlihat lagi seolah tak melakukan kesalahan.
Glacia membuang wajahnya ketika pandangan mereka bertemu. Ia mendengar langkah kaki Narendra yang mendekat, kemudian lelaki itu berhenti tepat di hadapan Glacia. Narendra berlutut, menumpukan tangannya di lengan kursi roda. Matanya menatap Glacia lekat, meski wanita itu hanya memandang lurus ke luar jendela.
"Maaf." Itu adalah kalimat pertama yang Narendra katakan. Kemudian suasana kembali hening lantaran keduanya sama-sama diam.
Narendra menyentuh tangan Glacia, ia tersenyum karena Glacia tak menolaknya. "Sudah makan?"
Glacia tak menjawab, Narendra pun menoleh ke arah meja nakas di samping ranjang, di mana jatah sarapan Glacia masih utuh seolah tak tersentuh. Ia tahu, karena sebelumnya perawat juga mengabarkan bahwa Glacia kesulitan makan sejak kemarin ia tinggal.
Narendra mendongak lagi menatap Glacia. Mata wanita itu merah dan sembab, pun pipinya masih nampak sedikit basah. Ia pasti baru saja menangis.
Tangan Narendra terulur naik, mengusap permukaan wajah Glacia serta sudut matanya yang kembali berair. Bibir Glacia yang bungkam nampak bergetar menahan tangis. Pada akhirnya isakan itu kembali meluncur di hadapan Narendra. Lelaki itu langsung menegakkan tubuh memeluk Glacia.
Narendra mengelus punggung Glacia, berusaha menenangkan wanita itu yang tersedu di bahunya.
"Aku minta maaf," ucap Narendra sekali lagi. "Semua yang kamu dengar kemarin tidak seperti yang ada dalam pikiranmu. Dan tolong, jangan sebut lagi nama mantan pacarmu karena aku cemburu."
Tangis Glacia semakin kencang di bahu Narendra. Narendra bisa merasakan kemejanya basah oleh air mata Glacia. Sesekali lelaki itu melabuhkan kecupan di pundak dan sisi kepala Glacia.
"Kamu jahat," ujar Glacia parau. Ia seolah sedang memaki Narendra dalam hatinya.
Narendra tak keberatan, kemarin ia memang terlalu keras pada istrinya. Seharian Narendra berpikir, dan sadar tindakannya justru akan memicu stress pada Glacia.
"Aku minta maaf. Aku salah karena meninggalkanmu seperti itu."
Glacia masih menangis, dan Narendra pun melanjutkan. "Kamu yang terus membandingkanku dengan pria lain membuatku kesal."
"Aku lebih kesal karena kamu masih peduli pada Lizy," balas Glacia dengan suara terbungkam.
Narendra membuang nafasnya panjang. "Sudah kubilang kamu salah paham."
Glacia tak menjawab lagi. Ia tidak ingin membahas dulu masalah kemarin, karena yang sekarang Glacia inginkan adalah ketenangan, bersama Narendra di sisinya.
Puas menumpahkan kegelisahan yang ia tahan sejak kemarin, Glacia perlahan menjauhkan wajahnya dari bahu Narendra. Ia menatap lelaki itu sendu, pun Narendra balas menatapnya dengan senyum kecil yang nampak teduh.
__ADS_1
Narendra membersihkan wajah Glacia dari sisa-sisa air mata, kemudian mencondongkan tubuh dan mengecup sudut bibir Glacia selama beberapa detik. Ia menjauhkan kembali wajahnya tak sampai lima senti. Memandang Glacia dengan jarak sedekat itu seolah memberi energi tersendiri baginya.
"Kamu pucat," bisik Narendra tanpa sadar. Tak ingin membuat Glacia kesal, ia pun menambahkan. "Tapi cantik."
Glacia diam saja, termasuk saat Narendra memagut bibirnya dalam buaian lembut. Glacia membalasnya tak kalah lembut. Beberapa saat mereka berciuman hingga Narendra menjauh lantaran tahu Glacia hampir kehabisan nafas. Ia mengusap sisi bibir Glacia yang basah, melabuhkan satu kecupan terakhir sebelum beranjak ke arah nakas.
"Kamu makan dulu, ya? Nanti minum obat."
Glacia masih memperhatikan Narendra. Dari mulai lelaki itu mengambil nampan, lalu kembali ke arahnya. Narendra tampak berpikir seolah mengingat sesuatu.
"Aku lupa, kemarin kita gagal sarapan di taman. Bagaimana kalau sekarang kita makan di sana?" tanya Narendra menawarkan.
Glacia menyahut datar. "Nanti kamu mengunciku lagi."
"Tidak akan. Anggap saja kemarin kamu bertemu lelaki gila yang tak tahu adab memperlakukan wanita, dan yang sekarang kamu hadapi adalah suamimu."
Glacia berdecih sambil membuang muka. Tapi kemudian ia menyetujui usulan Narendra. "Ya sudah, tapi jangan aktifkan ponselmu."
Kening Narendra berkerut. "Kenapa?"
Berdecak, Glacia pun berseru kesal. "Aku tidak mau kau menyebut-nyebut nama Lizy di telpon seperti kemarin."
Glacia hanya mengendik tak acuh. "Apa pun itu. Kalau tidak mau ya sudah."
"Oke." Narendra setuju. Ia menitipkan dulu nampan di tangannya ke pangkuan Glacia, lalu merogoh ponselnya dalam saku, dan menonaktifkan benda elektronik tersebut. "Sudah."
Ia menunjukkan layar gelap itu pada Glacia. Glacia tak bersuara, ia menurut ketika Narendra mendorong kursi rodanya keluar kamar. Sebelum itu Narendra memanggil salah satu pengawal untuk membantunya membawakan nampan. Glacia pasti kesulitan karena gerak satu tangannya terbatas oleh infus.
Mereka sampai di taman, di gazebo yang kemarin sempat menjadi tempat pertengkaran. Kali ini belum ada jus dan semacamnya, karena Narendra tidak merencanakan sarapan ini seperti sebelumnya.
Ia mendorong Glacia berhadapan dengan sebuah meja. Pengawal yang mengikuti mereka menaruh nampan di atas meja tersebut, lalu menjauh beberapa langkah dan berdiri tak jauh dari keduanya.
Narendra menyeret sebuah kursi ke dekat Glacia, ia duduk di sana seraya mengambil mangkuk bubur dan menuangkan sayur ke atasnya. Tak lama sendok itu terulur di depan mulut Glacia, namun Glacia tak kunjung membukanya.
"Kamu tidak makan?" tanya wanita itu.
Narendra tersenyum disertai gelengan. "Aku baru saja minum kopi sebelum ke sini. Belum mau makan."
Kening Glacia berkerut dalam. "Minum kopi dengan siapa?"
__ADS_1
Melihat wajah Glacia yang kembali curiga, Narendra tidak tahan untuk tidak tertawa. "Kamu mulai cemburuan, ya?"
Seketika Glacia tergagap. "T-tidak. Aku hanya bertanya. Tidak dijawab pun tidak apa-apa."
Kekehan Narendra masih menguar di antara mereka. Narendra kembali menyodorkan sendok sambil berkata. "Tidak dengan siapa-siapa. Aku bahkan tersiram air panas karena tak berhenti memikirkan istriku yang sedang marah di rumah sakit. Kamu masih berpikir aku punya waktu untuk pendekatan dengan wanita lain?"
Narendra mengangkat alis, mengendik ke arah mulut Glacia yang setia mengatup. "Buka, Sayang. Waktu yang baik untuk sarapan hampir habis. Nanti kamu telat minum obat."
Namun Glacia masih terdiam hingga Narendra mengernyit lantaran tak paham dengan sikap Glacia. "Ada apa lagi? Ada yang ingin kamu tanyakan? Cepatlah bertanya."
Glacia mengerjap. "Kamu ... itu, aku ..."
Narendra mengangkat alis, menunggu Glacia memperjelas ucapannya.
"Aku hanya belum terbiasa dengan kamu yang memanggil seperti itu," ucap Glacia sangat cepat. Rautnya nampak malu dan ragu.
"Seperti apa?" Sebenarnya Narendra sudah mengerti. Hanya saja entah kenapa pembicaraan ini lumayan menarik untuk dibahas.
"Itu ... Sayang?"
Jantung Narendra terasa berdebar meski ia tahu kata tersebut bukan ditujukan padanya, melainkan hanya sebuah pertanyaan.
"Iya?" Narendra membalas seolah sedang menyahut. Glacia jadi semakin malu, bisa dilihat pipi pucatnya kini sedikit merona terlihat hangat.
"Aku bukan sedang memanggilmu!"
Narendra menunduk tertawa. Mau tak mau ia menyimpan kembali sendoknya ke dalam mangkuk untuk meladeni pertanyaan Glacia. "Iya, lalu kenapa?"
"Aku bilang, aku belum terbiasa dengan panggilan seperti itu darimu."
Narendra mengangguk paham. "Baiklah, tapi mulai sekarang kamu harus terbiasa, karena aku akan lebih sering memanggilmu seperti itu."
"Atau kamu mau panggilan yang lebih manis? Seperti ... Sweetheart, mungkin?" lanjut Narendra. Ia tersenyum hingga matanya menyipit menatap Glacia.
Sementara Glacia, ia balas menatap Narendra lekat. Raut hangat Narendra mengingatkan Glacia pada matahari pagi yang bersinar di sekitar mereka. Tanpa sadar ia pun berucap. "Sunshine."
Bisikan pelan Glacia justru membuat Narendra berpikir lain. "Kamu mau aku memanggilmu begitu?"
"Tidak masalah. Sunshine berarti matahari, panggilan itu bermakna kebahagiaan dan energi positif. Sepertinya cocok, aku ingin kamu selalu bahagia dan dipenuhi semangat serta pikiran baik untuk sembuh," lanjutnya, kembali tersenyum mengusap dagu Glacia sekilas. "Sekarang buka mulutmu dan makan, lalu setelah ini minum obat."
__ADS_1