
Narendra menerima telpon sambil sesekali melirik Glacia yang tengah menjalani pemeriksaan rutin setiap pagi. Ia memasukkan satu tangannya ke dalam saku, sementara satunya lagi menahan ponsel di telinga.
Suara Harley terdengar serius di seberang sana. Lelaki itu mengabarkan informasi keberadaan Lizy yang saat ini masih dalam tahap pencarian. Mereka juga sedang menyelidiki identitas si penyusup yang membawa Lizy pergi. Kali ini cukup merepotkan karena dua orang itu hidup berpindah-pindah. Setiap kali tim menemukan lokasi yang akurat, keduanya pergi tanpa jejak.
Narendra mengangguk paham meski tahu Harley tak akan melihatnya. Ia memilih menjaga suaranya guna menghindari kejadian sama terulang. Narendra tidak mau Glacia mendengar percakapannya dengan orang-orang Wiranata. Glacia belum tahu, bahwa Narendra kini bergabung dengan sepupunya lagi.
"Oke, aku akan ikut denganmu nanti," tukas Narendra sebelum akhirnya menutup panggilan.
Perhatiannya kini beralih pada Glacia. Dokter sudah selesai memeriksa, menjelaskan kondisi Glacia lalu setelah itu pergi. Narendra mendekat dan mengambil nampan di meja, ia bersiap menyuapi Glacia saat wanita itu tiba-tiba buka suara. "Kamu mau pergi lagi?"
Narendra yang tengah menyendok makanan, kontan mendongak membalas tatapan Glacia yang juga menatapnya menunggu jawaban.
Diam sesaat, tak lama Narendra pun mengangguk lamat. "Tidak sampai malam. Maksimal sore aku sudah kembali. Janji."
Melihat Glacia yang terdiam, Narendra membuang nafas menyimpan kembali nampan ke atas meja. Ia yang semula duduk di pinggir ranjang, kini berlutut di hadapan Glacia yang bergeming di atas kursi rodanya.
"Apa perlu aku panggil Weni ke sini, supaya kamu ada teman?" tanya Narendra. "Aku ingat, Weni berkali-kali menanyakanmu. Mungkin dia akan senang kalau bertemu denganmu."
Lama Glacia berpikir, mau tak mau ia pun mengangguk. "Ya sudah," ucapnya setengah lesu.
Narendra tersenyum kecil. Ia senang, karena sepertinya Glacia mulai ketergantungan dengan kehadirannya. Narendra bangkit mengambil kembali nampan yang sempat ia simpan. "Sekarang makan, lalu minum obat."
Glacia menerima suapan demi suapan dari Narendra. Lelaki itu dengan telaten mengurusnya. Glacia terharu, di jaman sekarang ini, di mana lagi Glacia bisa menemukan pria setulus Narendra.
Padahal pria itu bisa saja memilih pergi mengingat kondisi Glacia yang seperti ini. Tapi Narendra malah bertahan, dan justru memaksa agar mereka memperbaiki semuanya.
Sudah seperti ini, wajar jika Glacia luluh pada lelaki itu, kan?
Usai sarapan, Narendra memberi Glacia obat. Lelaki itu menatapnya hangat, sekaligus seperti sedang mengamati. Glacia tentu merasa aneh, karena tidak tahan ia pun bertanya. "Ada apa? Kenapa terus melihatku?"
Senyum kecil terpatri di bibir Narendra, ia mengendik seraya mengalihkan wajah. Narendra menyimpan gelas berisi air yang tinggal sisa setengah, bekas Glacia ke tempat semula. Sambil lalu ia menjawab. "Aku hanya senang melihatmu."
"S-senang? Kenapa bisa begitu?" Glacia mendongak menatap Narendra yang berdiri di sampingnya. Lelaki itu sekalian mengambil jam tangan di nakas. Ia menunduk ketika mendengar Glacia bertanya.
"Tidak tahu," sahut Narendra singkat, sambil memasang arloji di pergelangan tangan.
Glacia mencibir heran. Ia merasa tidak puas dengan jawaban Narendra yang terdengar abu-abu. Narendra yang tahu Glacia kesal pun lantas melanjutkan. "Apa kau tidak pernah seperti itu? Merasa senang melihat seseorang yang disukai?"
__ADS_1
Glacia mengerjap, tanpa sadar ia turut menatap wajah Narendra di atasnya. Narendra yang mendapati raut fokus Glacia kontan menahan senyum. Wanita itu terpaku seolah melihat sesuatu yang menakjubkan. Hal tersebut membuat Narendra merasa sesuatu menggelitik di perutnya.
Narendra berdehem, namun Glacia masih bergeming menatapnya tanpa berkedip. Ia meringis kemudian bergumam. "Aku bisa menduga kau juga merasa senang saat melihatku, jika kau terus menatapku seperti itu."
"Memang," bisik Glacia tanpa sadar.
"Hm?" Narendra mengangkat alis, wajahnya mulai serius memandang Glacia. Ia baru saja selesai memasang jam di tangannya.
"Kau menyukaiku?"
Refleks Glacia mengerjap seolah tersadar. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, menghindari Narendra yang kini tampak menuntut jawaban. Glacia risih sendiri, sejak kapan Narendra jadi lebih suka menggodanya?
"Kau menyukaiku?" tanya Narendra lagi.
Glacia berdesis kesal. "Bukankah aku pernah mengatakannya?!" Ia berseru dengan bibir mencebik.
Narendra tersenyum. Tanpa diduga Narendra membungkuk dan mencium Glacia cepat. "Iya, tidak usah marah. Aku hanya ingin memastikan lagi. Siapa tahu perasaanmu berubah."
Sementara Glacia, ia mematung setelah Narendra menciumnya. Lelaki itu selalu bertindak sesuatu yang membuat Glacia merasa terkejut.
Setiap akan ke kantor, biasanya setelan Narendra lengkap dan rapi. Narendra menoleh, ia menggeleng disertai senyum tipis. "Hari ini aku ada urusan di luar."
Glacia ingin bertanya lebih, tapi ia takut Narendra risih dan menganggap Glacia berlebihan karena terkesan terlalu ikut campur. Ia takut lelaki itu tidak nyaman dengan rasa penasarannya.
Narendra menghubungi seseorang, mungkin kepala pelayan di rumah Yohanes karena Weni masih tinggal di kediaman Martadinata. Lelaki itu menyuruh seseorang tersebut menyampaikan kepada Weni, agar si pelayan segera bersiap dan berangkat ke rumah sakit untuk menemani Glacia.
Tak sampai satu menit ia menurunkan ponselnya dari telinga, lalu menyelipkannya ke dalam saku celana. Narendra berbalik, melangkahkan kakinya mendekati Glacia.
"Aku sudah meminta Jeremy untuk menyuruh Weni ke sini."
"Kamu mau pergi sekarang?" tanya Glacia.
Narendra mengangguk. Ia melihat sekilas arloji di tangannya. "Nanti sore aku kembali."
Glacia membuang nafas. "Ya sudah. Hati-hati di jalan. Kau tidak bersama Julian?"
Baru Glacia bertanya, orangnya sudah muncul membuka pintu. Julian baru saja datang, dan ia mengerjap ketika Narendra dan Glacia sama-sama menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Narendra kembali menatap Glacia sembari mengulas senyum tipis. Kedatangan Julian sekaligus menjawab pertanyaan wanita itu.
Ia pun membungkuk menumpukan tangannya di lengan kursi roda, lalu melabuhkan kecupan singkat di kening sang istri yang kini melirik malu pada Julian.
"Aku pergi. Kamu baik-baik selama aku tidak ada. Tenang, jika besok kondisimu semakin baik, lusa kita pulang."
Glacia mengangguk saja. Ia memperhatikan Narendra yang keluar bersama Julian. Kini ruang rawatnya kembali dilanda sepi setelah Narendra pergi.
Bibirnya sedikit mengerucut menoleh ke arah jendela. Ketika tanpa sengaja ia melirik potongan-potongan cermin yang menghiasi dinding di sebelahnya, Glacia pun terpaku.
Ia mengernyit samar, lalu mendekat melihat bayangannya sendiri. Glacia menyentuh leher, lalu sedikit menyibak kerah piyama pasien yang dipakainya.
"Ini ..." Ia tak mampu berkata-kata saat melihat dua bekas merah di leher serta tulang selangkanya. "A-apa-apaan ini?" tanya Glacia terbata, pada dirinya sendiri.
Ia lalu mengingat-ingat kejadian kemarin, tapi Glacia tidak merasa ia dan Narendra berciuman sampai sejauh itu. Mereka hanya saling memagut bibir. Jadi, kapan tanda di lehernya ini dibuat?
Di dalam mobil, Narendra senyum-senyum sendiri hingga membuat Julian menatapnya heran. "Tuan kenapa?"
Narendra tak menjawab, ia malah berdehem sambil membuang wajahnya menatap ke luar jendela.
***
Lizy menatap penuh dendam pada bangunan rumah sakit di seberang jalan. Ia tahu, saat ini Glacia masih dirawat di sana. Setelah melewati berbagai pertimbangan, akhirnya Lizy setuju untuk mengikuti rencana lelaki itu.
Ya, meski sekarang ia sangat membenci Narendra karena sudah menyiksanya, memisahkan lelaki itu dari Glacia tetap menjadi keinginan terbesar Lizy saat ini.
Lizy tidak mau kesakitan yang ia alami menjadi sia-sia. Ia begini karena Glacia, jadi Glacia harus membayar semua ini bersamanya. Jika Lizy tidak bisa menghindari kematian, maka ia akan mengajak Glacia untuk mati juga. Lizy sungguh tidak rela melihat Glacia bahagia di atas penderitaannya.
Ini memang di luar rencana. Pria itu hanya ingin memisahkan Glacia dan Narendra, agar dia bisa memiliki Glacia sepenuhnya. Sementara Lizy, ia ingin lebih dari itu. Karena meski Glacia dan Narendra berpisah, Lizy tetap tak akan bisa memiliki sang mantan kekasih. Maka jalan terbaik bagi Lizy adalah kematian Glacia.
"Sejak awal keinginan kita memang berbeda. Kau ingin memiliki Glacia, sementara aku ingin melenyapkan wanita itu," bisik Lizy, seraya terus menatap rumah sakit elit di depan sana.
Karena banyaknya luka di sekujur tubuh, Lizy pun mengenakan pakaian tertutup, sekaligus demi memuluskan penyamarannya. Ia tahu polisi tengah mencarinya saat ini. Sebisa mungkin Lizy berbaur dengan orang-orang tanpa menimbulkan rasa curiga.
Kali ini ia harus cepat, sebelum orang-orang Narendra kembali menemukan posisinya. Entah bagaimana cara mereka hingga selalu berhasil menemukan tempat persembunyiannya. Ini merepotkan karena Lizy jadi harus sering berpindah-pindah.
Sudut bibir Lizy terangkat di balik masker yang ia pakai. Saat ini ia beruntung karena masih memiliki sekutu, meski menurutnya pria itu bodoh dengan mengajaknya bekerjasama. Tapi biarlah, secara tidak langsung ini merupakan situasi yang harus Lizy manfaatkan.
__ADS_1