
Setelah 4 hari, Glacia pun sudah diperbolehkan pulang. Ia baru saja tiba di rumah bersama dua pelayannya yang lain. Jangan lupakan juga Narendra yang menjemput mereka.
Awalnya Yohanes ingin turut menjemput Glacia, akan tetapi lelaki itu mendadak ada urusan ke luar negeri. Glacia tidak tahu sang papa pergi ke mana, kali ini Yohanes tak memberitahunya seperti biasa.
"Aku ingin mandi," cetus Glacia begitu tiba di kamar.
Wina dan Weni saling pandang. "Tapi, tadi pagi Nyonya sudah mandi saat masih di rumah sakit, sebelum pulang?" tanya salah satunya bingung.
Glacia membuang nafas. "Aku ingin mandi yang benar-benar mandi, bukan diseka."
Dua pelayan itu terdiam, mereka juga tak mungkin menolak keinginan Glacia. Tak ingin wanita itu semakin marah, Weni buru-buru ke kamar mandi guna menyiapkan air.
"Saya siapkan dulu air hangatnya, Nyonya," ujarnya sebelum beranjak.
Wina mendorong kursi roda Glacia menuju jendela sembari menunggu Weni selesai menyiapkan kamar mandi. Namun sesaat kemudian gadis pelayan itu kembali keluar dengan wajah panik.
Glacia menatapnya dengan kening berkerut heran. Weni sendiri sedikit gelagapan ketika berkata. "Sepertinya air di kamar Nyonya bermasalah," cicitnya gugup, tak berani menatap.
Glacia mengernyit semakin dalam hingga matanya menyipit. "Maksudmu?"
Weni pun kembali menjelaskan. "Shower di kamar mandi tidak menyala, begitu pula kerannya. Tidak ada air sama sekali."
"Kenapa bisa? Selama ini aku belum menemui masalah dengan kamar mandi itu?" Glacia tampak bingung.
__ADS_1
"Saya juga tidak tahu, Nyonya."
Membuang nafas kasar, Glacia berdecak menahan kesal. "Panggil tukang untuk segera perbaiki."
"Lalu, Nyonya tidak jadi mandi sekarang?"
"Tentu saja aku ingin mandi! Kau tahu cuaca hari ini sangat gerah!" seru Glacia, yang tentu membuat Weni terlonjak gugup.
"Nyo-nyonya ingin mandi di mana?" tanya Weni kemudian.
"Di mana saja. Kamar mandi di rumah ini bukan hanya satu. Meski sebenarnya aku tidak suka memakai kamar mandi yang bukan milikku."
Weni mengangguk paham. "Kalau begitu saya siapkan sabun dan peralatan mandi milik Nyonya."
"Bawa saja," cuek Glacia.
Ketika mereka bersiap keluar, Narendra tiba-tiba muncul di ambang pintu, membawa segenap barang-barang Glacia yang masih tertinggal di mobil. Kelaki itu berkerut penasaran, terlebih saat melihat segala perintilan di tangan Weni. "Kalian mau ke mana?"
Glacia membuang wajahnya malu. Sementara Weni menjawab gugup. Dibanding Wina, Weni memang tampak lebih sering panik menghadapi sesuatu. "A-anu, Tuan. Nyonya mau mandi, tapi kamar mandi di kamar Nyonya airnya bermasalah. Shower dan kerannya mati."
"Mati?" Narendra langsung masuk dan menuju kamar mandi begitu ia menyimpan barang-barang Glacia di ranjang.
Tak berapa lama ia kembali dengan jas yang sudah terlepas dan lengan kemeja tergulung. Tampaknya Narendra sempat memeriksa shower dan keran. Ia menghampiri Glacia, Wina serta Weni yang masih setia bergeming di pintu.
__ADS_1
"Mandi di kamarku saja," cetusnya serta-merta.
Tentu hal tersebut mengundang delikan tak setuju dari Glacia. "Kamar mandi di rumah ini banyak."
"Tapi tidak lebih besar dari punyaku dan punyamu. Kalau kau nyaman, silakan saja." Narendra tahu Glacia gila akan kemewahan, ia tak akan sudi menggunakan kamar mandi yang di bawah standarnya, meski terbilang sama-sama layak dan mahal sekalipun.
Narendra melirik dua pelayan Glacia. Sebenarnya ia tak nyaman jika kamarnya dimasuki orang asing, dan hal tersebut nampaknya dimengerti Wina dan Weni. Mereka semakin kebingungan harus bersikap bagaimana. Terlebih Glacia pasti membutuhkan bantuan dalam segala hal.
"Biar kusiapkan dulu kamar mandinya," ujar Narendra. Ia meminta sabun dan peralatan lainnya dari tangan Weni yang tak mampu membantah.
Glacia yang merasa repot sendiri pun buka suara. "Aku mandi di kamar mandi lain saja. Akan merepotkan kalau kau tidak memperbolehkan pelayanku masuk," ketusnya.
"Tidak masalah, di kamarku saja," kekeh Narendra. Belum sempat Glacia membantah lagi, Narendra sudah lebih dulu masuk ke kamarnya.
"Astaga," desah Glacia lelah. "Lalu siapa yang akan membantuku mandi nanti?"
"Aku yang akan membantumu." Narendra yang rupanya sudah kembali spontan menyahut.
"Kau gila?!" Tentu Glacia terperangah mendengarnya.
"Lalu, kau mau mandi di kamar mandi kecil?" Narendra mengangkat alis, dan itu membuat Glacia kesal dibuatnya. Menurutnya saat ini Narendra sangat menyebalkan.
Narendra menatapnya seolah tahu bahwa Glacia akan menyerah. Sial!
__ADS_1