Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh
7. Hati yang Mulai Ragu


__ADS_3

Berhari-hari Glacia lewati dengan suram. Kehidupan yang semula menakjubkan kini berubah kelam minim harapan. Terlebih ia juga belum mendapat kabar mengenai Gallen. Padahal setiap hari Glacia selalu menanti kedatangan lelaki itu.


Berupaya keras menepis segala praduga yang muncul, juga perkataan-perkataan Yohanes yang perlahan mengikis kepercayaannya terhadap lelaki itu. Setidaknya, Gallen memiliki sedikit saja kesempatan untuk menemui atau sekedar menghubunginya, memberinya kabar mengenai keadaannya, kalau memang ia baik-baik saja seperti yang Yohanes bilang.


Seminggu ini Glacia berusaha mencari kabar kekasihnya itu. Handphone-nya rusak karena kecelakaan, dan Glacia harus memulihkan sebagian data di sana ke ponsel yang baru. Meski tidak semuanya, setidaknya ada beberapa kontak Gallen dan temannya yang bisa ia hubungi.


Sayangnya tak ada satupun panggilan Glacia yang diterima, bahkan chat di media sosial pun tak terbaca. Ada apa sebenarnya? Kenapa semuanya jadi terasa rumit. Glacia tak menyangkal bahwa hatinya mulai merasa janggal dan ... ragu.


Benarkah Gallen baik-baik saja? Lalu, kenapa pria itu tak menjenguknya sama sekali?


Glacia berusaha menyingkirkan pikiran bahwa Gallen sengaja menghindarinya. Pria itu pasti masih dalam masa pemulihan, sama seperti Glacia yang saat ini tengah rutin menjalani terapi pada kakinya.


Iya, pasti Gallen juga membutuhkan waktu usai kecelakaan itu. Semula Glacia bisa berpikir begitu, namun kepercayaannya kembali diguncang oleh sebuah berita di televisi. Tubuhnya mematung, ia bergeming menatap layar kaca, di mana seseorang yang berhari-hari ia pikirkan nampak berdiri bugar di sana. Diiringi narasi yang menjelaskan detail informasi secara singkat, bahwa pengambilan berita tersebut dilakukan kemarin hari.


"Pewaris kerajaan bisnis MCT Corporation, Gallen Mou resmi menjabat di perusahaan. Menggantikan sang ayah yang dengan secara terbuka menyerahkan kekuasaan tersebut pada sang putra tunggal. Akankah MCT berkembang lebih baik dalam era baru kepemimpinan Gallen Mou? Sepertinya menarik. Simak berita selengkapnya dalam wawancara langsung sang pewaris!"


Glacia terpaku dengan mata enggan berkedip. Ia bahkan seakan lupa bernafas saat mendengar dan melihat sendiri bagaimana Gallen berbicara di sana. Jadi, benar dia baik-baik saja? Lalu kenapa Gallen tak kunjung menampakkan diri di hadapan Glacia?


Sesuatu seolah menikam hatinya begitu dalam. Perasaan sesak berhasil menghantam kepercayaan yang sedari kemarin ia bangun. Galen baik-baik saja, tapi ... ia tak sekalipun menemui Glacia usai kecelakaan. Padahal, sedari pertama membuka mata, orang pertama yang Glacia harapkan adalah Gallen.


Glacia mati-matian memendam khawatir tatkala sulit memperoleh kabar. Nyatanya, Gallen memang sengaja tak ingin menemuinya. Kenapa? Apa karena sekarang Glacia cacat?


"Berapa kali Papa harus bilang bahwa Gallen itu brengsek? Kamu akan tahu setelah merasakannya nanti."


Ungkapan Yohanes kembali terngiang hingga Glacia tak bisa menahan isak tangisnya. Suasana ruang tengah yang sepi seakan mendukung Glacia untuk meluapkan segala kegundahannya. Perasaan sesak yang berhari-hari lalu terpendam kini seakan meluap tak terbendung.


Glacia menangis, ia menunduk di atas kursi rodanya. Bahu kecilnya berguncang nampak rapuh. Semua itu tak luput dari perhatian seseorang yang tanpa Glacia sadari bergeming di ambang pintu.


Narendra menyaksikan sendiri bagaimana hancurnya wanita itu. Ia berdiri dengan ekspresi tak beriak menatap punggung ringkih sang istri. Wajah angkuh yang biasa ia temui, kekeraskepalaan dan arogansi yang biasa ia hadapi seakan luntur bersamaan air mata yang tumpah ruah.

__ADS_1


Glacia terpuruk setelah tahu pacar bajingannya baik-baik saja, dan ia dengan sengaja dan secara sadar tak menjenguk Glacia yang bisa dibilang cacat karena perbuatannya.


Kalau saja Gallen lebih berhati-hati dalam menyetir, mungkin ia tak akan mengalami semua itu.


"Hiks, kamu jahat, Gallen."


***


Tak ingin tinggal diam, keesokan harinya Glacia nekat mendatangi gedung perusahaan MCT guna bertemu Gallen. Ia kemari hasil memaksa supir supaya mau mengantarkannya tanpa bilang-bilang siapa pun, apalagi sang ayah dan Narendra.


Dengan perasaan resah dan hati yang berusaha kuat, Glacia terdiam sejenak di depan lobi, mendongak melihat betapa tingginya perusahaan keluarga Mou yang tak kalah besar dari Martadinata.


Glacia mengambil nafas sejenak. Ia tak bisa menghubungi Gallen seolah akses di antara mereka memang sudah sepenuhnya tertutup. Entah Yohanes yang melakukannya atau Gallen sendiri yang dengan sengaja menghindarinya.


Glacia menolak tawaran sang supir untuk mengantarnya memasuki lobi. Ia menekan salah satu tombol si kursi rodanya hingga benda elektrik itu bergerak sendiri melewati pintu masuk.


Sebisa mungkin Glacia mengabaikan berpasang mata yang memandangnya. Mustahil Glacia keluar tanpa dikenali orang, wajahnya kerap santer di pemberitaan, bersanding dengan publik figur terkenal. Glacia juga terbilang aktif di sosial media termasuk YouTube. Jadi, tak heran jika beberapa dari mereka mengenalinya.


Glacia pun menghampiri resepsionis untuk bertanya. Mereka terlihat gugup ketika mendapati Glacia dengan kursi rodanya yang bahkan lebih pendek dari meja tempat mereka bekerja.


Glacia menanyakan Gallen, namun anehnya jawaban yang didapat sangat berbelit-belit.


"Saya mau bertemu Gallen Mou. Di mana dia sekarang?" tanya Glacia sekali lagi, kali ini lebih tegas.


"Maaf, Nona. Pak Gallen sedang tidak bisa ditemui. Beliau sedang keluar untuk masalah pekerjaan."


Glacia merasa tak puas dengan jawaban tersebut. Ia yang tak biasa mendapat bantahan harus terlibat perdebatan yang memicu kegaduhan. Hal itu berhasil mengundang atensi semua orang, di mana mereka beramai-ramai memperhatikan Glacia yang tampak aneh dengan penampilan barunya.


Glacia Martadinata, si cantik yang kerap terlihat sempurna, kini hanya bisa duduk tak berdaya di atas kursi roda.

__ADS_1


Lama berseteru dengan resepsionis, tiba-tiba kedatangan seseorang mengalihkan segala perhatian. Glacia turut menoleh dan mendapati Edward Mou, direktur MCT sebelumnya yang tak lain adalah ayah Gallen. Lelaki itu baru saja keluar dari lift dan berjalan mendekat ke arah mereka.


"Ada apa ini?" tanyanya dengan suara berat. Sekilas matanya melirik Glacia, ia juga sempat memperhatikan kaki wanita itu yang tertekuk kaku di balik dress biru yang dikenakannya.


Kedatangan Edward membuat senyum Glacia sedikit mengembang penuh harap. "Om? Aku mau bertemu Gallen, tapi mereka menahanku dengan alasan berbelit-belit," adunya.


Edward terdiam sesaat. Ia maju beberapa langkah mendekati Glacia dengan kedua tangan tenggelam di saku. "Maaf, Glacia, tapi Gallen sibuk. Sekarang dia sudah sepenuhnya menghandle perusahaan. Lebih baik kamu pulang, mungkin kapan-kapan kalian bisa bertemu."


Glacia terhenyak. "Tapi, Om ..."


"Ayolah, Glacia. Gallen baru saja jadi direktur. Kamu jangan mengganggu fokusnya."


Sungguh tak bisa diduga. Glacia terperangah dalam hati. Saat akhirnya ia memutuskan kemari, Glacia mati-matian menyangkal kenyataan, bahwa sudah tak ada lagi simpati di mata Gallen dan keluarganya. Buktinya, sekarang Edward menatapnya penuh malas seolah Glacia adalah hama, alih-alih pria itu bertanya soal kabarnya usai kecelakaan.


"Om, aku hanya mau bertemu Gallen, sebentar saja? Aku ingin memastikan apa dia benar baik-baik saja? Kenapa sampai sekarang Gallen belum juga menemuiku? Mustahil dia tidak tahu kondisi aku bagaimana, kan?" tanya Glacia beruntun.


"Lalu apa?" todong Edward. "Kamu mau Gallen terus terpaku padamu dan meninggalkan kewajibannya, begitu?"


"Om?"


"Sedari dulu kamu memang tak pernah membawa pengaruh baik untuk anak saya. Kamu yang hanya mau dimanja dan diperhatikan seterusnya. Kamu pikir orang lain tidak memiliki urusan sampai harus mementingkan kamu terus?"


Sungguh, hati Glacia seakan ditikam belati mendapat hunusan kalimat seperti barusan. Selama ini Edward memperlakukannya dengan baik sebagai kekasih dari putranya, meski tahu Glacia sudah menikah sekalipun.


Statusnya sebagai istri orang tak serta-merta membuat Edward menghalangi hubungannya dengan Gallen. Tapi, kenapa sekarang semuanya seolah berbalik ingin meninggalkan Glacia? Apa karena kakinya?


Tak lama dari itu Gallen datang bersama Jason dan beberapa rekan kerjanya. Pria itu masuk dari arah pintu lobi hingga mata mereka langsung berpapasan begitu Gallen mendongak.


Sesaat Gallen mematung menghentikan langkah. Keduanya saling tatap satu sama lain, dan Gallen sempat melirik kaki Glacia yang meskipun terlihat tetap cantik, namun ... terkesan tak berguna.

__ADS_1


"Glacy?" guman Gallen tanpa sadar.


"Gallen!"


__ADS_2