
Narendra duduk di pinggir ranjang sambil tersenyum menatap Aileen yang terlelap. Ia baru saja selesai mandi, begitu pula Glacia yang kini sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka.
Tangan Narendra terulur mengelus puncak kepala Aileen. Matanya menyorot teduh sang putri, hingga beberapa saat kemudian Aileen mengerjap, lalu menyipit dengan pandangan berat.
Gadis kecil itu bergumam serak. "Mama ..."
Narendra kembali tersenyum. Kali ini ia mengusap pipi bulat Aileen yang menguarkan bau khas bayi bangun tidur. "Morning, Pumpkin."
Aileen membuka mata. Sesaat ia terdiam, lalu tak lama wajahnya berubah cerah saat berteriak. "Papaaa!!"
"Yes, baby. Papa is here." Narendra mendekap punggung mungil putrinya ketika ia melonjak. Kini Aileen sudah memeluk erat Narendra sambil membenamkan wajahnya di dada sang papa.
"Papa mana aja? Ilen lindu," rengut Aileen manja, dengan sura cadelnya yang khas. Yang Aileen maksud, ia sangat merindukan Narendra.
Narendra terkekeh gemas, mengusap rambut serta punggung Aileen dengan lembut. "Papa kerja, Sayang. Maaf, kemarin Papa tidak menghubungi Aileen. Papa ketiduran di pesawat."
Narendra sama sekali tak mengatakan dirinya yang sempat kecopetan dan kehilangan ponsel.
Aileen menjauhkan wajah sambil menggembungkan pipi. Bibir mungilnya mencebik dengan mata menyipit menatap Narendra.
Tingkahnya itu semakin membuat Narendra gemas. Ia tertawa mendekap tubuh Aileen, dan menggendongnya menjauh dari ranjang.
"Princess Papa jangan ngambek. Papa janji akan traktir kamu belanja hari ini. Sekarang, ayo kita mandi. Mama sudah menunggu di bawah."
Aileen memeluk leher Narendra, kepalanya bersandar si bahu lebar milik sang papa. Matanya masih sembab dan sayu, terlebih kemarin ia menangis habis-habisan.
"Aileen tayang Papa," gumamnya kecil.
Lagi-lagi Narendra terkekeh. Ia mengecupi rambut Aileen yang masih meninggalkan wangi sampo. "Papa lebih sayang Aileen."
"Belapa banyak tayang?" tanya Aileen imut.
Narendra tertawa. "Banyaaaak sekali. Sebanyak sayang Papa ke Mama kamu."
Aileen ikut tertawa kegelian karena merasakan jambang Narendra yang menggelitik. "Hahaha ... Papa baunya milip Mama!"
"Iya, Papa pakai sabun Mama."
"Napa tak pakai punya Ilen?"
"Kalau Papa pakai punya Aileen, tidak akan cukup satu botol. Punya Aileen kan kecil, punya Mama besar, jadi bisa dipakai bersama," jelas Narendra beralasan. Sebenarnya tadi ia mandi bersama dengan sang istri, dan karena sabun miliknya masih ada di koper, jadi sekalian saja Narendra pakai punya Glacia.
Pembicaraan kecil itu terus berlanjut di kamar mandi. Narendra memandikan Aileen sambil terus bercerita, yang ditanggapi anak itu dengan riang.
***
"Papa, Papa."
"Hem?" Narendra yang tengah mengunyah makanan, kontan menoleh menanggapi panggilan Aileen.
"Kemalin, Mama temu Om Ganteng," celetuk anak itu.
Glacia hampir tersedak saat Narendra menoleh padanya. Pria itu menatapnya penuh selidik, mempertanyakan kebenaran ucapan Aileen.
Glacia menghela nafas. "Kemarin Aileen rewel karena kangen sama kamu. Aku ajak dia ke mall buat jajan. Terus, kami tidak sengaja bertemu teman lamaku."
__ADS_1
"Teman lama?" Narendra masih menatapnya curiga. Raut pria itu sangat serius, sampai-sampai Glacia merasa terintimidasi. Setelah ini pasti Narendra akan menuntut penjelasan ini itu.
"Iya, hanya kenalan, bukan teman dekat. Aku juga sudah agak lupa." Glacia lalu beralih pada Aileen yang sedang makan di pangkuan Narendra. "Aileen, kamu mengotori baju Papa, Nak."
"Tidak masalah. Namanya juga anak kecil. Kamu sebaiknya jangan mengalihkan pembicaraan," sahut Narendra. Suaranya terdengar lembut, namun juga mengancam.
Glacia menggigit bibir. Setelah itu mereka kembali fokus pada sarapan di meja. Narendra bahkan sudah kembali menanggapi celotehan Aileen yang tidak ada habisnya. Tapi setelah ini, Glacia yakin Narendra tak akan melepaskannya.
Glacia meringis dalam hati. Andai ayahnya juga ikut sarapan di sini, Glacia masih bisa mencari pembelaan. Sayangnya pagi-pagi sekali Yohanes pamit karena ada pertemuan. Lelaki itu hendak bermain golf sekaligus makan bersama para kolega.
Usai sarapan, Narendra mengajak Aileen bermain di taman belakang mansion. Pria itu mengajarkan Aileen cara menanam bunga yang benar. Ditemani beberapa pelayan yang mengasuhnya, Aileen aktif berlari ke sana kemari setiap kali melihat sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Papa! Pupu!"
Narendra tertawa renyah menanggapi seruan putrinya. "Kupu-kupu, Sayang." Ia mengelus rambut Aileen setelah melepas sarung tangan karetnya yang kotor.
"Pupu," gumam Aileen, sambil terus mengamati hewan bersayap indah tersebut, dan berusaha menyentuhnya.
Namun Narendra segera menahan tangan mungil Aileen sambil berujar lembut. "Mama tadi buat es buah semangka. Ada pancake kesukaan Aileen juga. Kita sudahi dulu tanam bunganya, yuk?"
Aileen berkedip, lalu menoleh ke arah Glacia di kejauhan sana. Sang mama tengah duduk menunggu mereka di kursi taman. Ia melambai begitu mendapati pandangan Aileen.
Aileen balas tersenyum lebar hingga beberapa gigi susunya yang baru tumbuh, terlihat. Sementara matanya menyipit seperti bulan sabit.
Anak itu begitu lucu dan menggemaskan. Narendra terkekeh saat Aileen tanpa pikir panjang berlari mendekati mamanya.
"Hati-hati! Perhatikan langkahmu, Pumpkin!" seru Narendra.
Meski khawatir Aileen terjatuh, ia dan Glacia tak pernah melarang anak itu berlari. Aileen sedang dalam tahap tumbuh kembang. Maka dari itu, Narendra biarkan anaknya melakukan apa pun selama masih dalam pengawasan.
Tuhan, betapa ia mencintai dua perempuan itu. Entah berapa kali hati Narendra membuncah setiap kali memeluk mereka sepulang kerja. Glacia dan Aileen adalah obat pereda bagi rasa lelahnya.
"Sebentar, kamu curang. Tadi kan kita sudah suit, dan Mama menang. Otomatis yang mendapat puding ini adalah Mama!" Glacia berseru sambil mencegah tangan Aileen yang hendak mengambil satu-satunya puding di atas es buah.
Aileen merengut. Ia menatap nanar es buah cantik yang terhidang dalam cangkang semangka berbentuk kelinci. Imut sekali, tapi ia sedih karena gagal mendapat puding yang selalu mamanya letakkan di atas potongan buah.
Bibir Aileen mencebik hendak menangis, ia juga mendongak menatap Narendra yang kini sudah tiba di hadapan mereka. Narendra menatap keduanya bergantian.
"Jangan minta bantuan Papa. Ini kompetisi di antara kita," cetus Glacia mengingatkan, sekaligus menggagalkan aksi Aileen yang hendak merengek pada Narendra.
Aileen menggembungkan pipi. Kedua tangannya bersidekap, membuang muka dari Glacia. Gadis itu tampak merajuk tak ingin melihat siapa pun. Tentu hal tersebut membuat Glacia maupun Narendra merasa geli, tapi mereka hanya diam dan mengamati perubahan emosi dalam diri anak itu.
"Karena Mama menang, jadi puding ini punya Mama," ucap Glacia, pun bibir Aileen kian mengerucut.
Diam-diam Glacia menahan senyum. Ia mengambil puding tersebut dari atas sop buah. Matanya tak lepas mengamati Aileen yang masih terdiam tak ada perlawanan.
Aileen berpikir sang mama akan memakan puding kesukaannya, tapi ternyata ia salah. Glacia malah menyuapkan puding tersebut ke mulut Aileen.
Glacia tersenyum menatap putrinya yang mengerjap. "Puding ini punya Mama, jadi terserah Mama mau memberikan puding ini pada siapa."
Raut Aileen yang semula kusut berangsur normal. Anak itu menatap sang mama dengan pandangan polosnya.
"Ayo, buka mulut Aileen," bujuk Glacia.
Pada akhirnya Aileen pun membuka mulut, dan ia bisa merasakan puding lezat yang menjadi rebutan mereka tadi.
__ADS_1
Narendra tersenyum. Ia tahu Glacia hanya berniat menggoda putri mereka. Siapa sangka Aileen akan menurut dan menerima kekalahannya.
Semakin ke sini, kesabaran Aileen memang semakin berkembang. Anak itu tak lagi merengek setiap kali harus menunggu. Ia selalu diam saat harus kalah dari sesuatu.
Tapi, kemanjaannya pada Narendra sudah mendarah daging. Ia tak akan mengalah jika itu menyangkut sang papa, meski harus bersaing dengan mamanya sekalipun. Mereka memang kerap berlomba mencari perhatian lelaki itu.
Narendra terkekeh memepet Glacia ke dinding. Mereka sudah di dalam rumah, sementara Aileen masih bermain dengan salah satu pelayan.
"Apa yang kau lakukan? Kalau Aileen melihat, itu sangat tidak baik. Menyingkirlah." Glacia mendorong tubuh Narendra yang berdiri sekuat batu karang.
Aneh, gestur Narendra padahal terlihat santai, tapi kenapa dia tak berpindah sedikitpun ketika Glacia dorong?
"Naren!" bisik Glacia gemas.
Alih-alih mendengar, Narendra justru mengecup bibir Glacia cepat. Bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali hingga Glacia risih karena bunyi decapannya berpotensi mengundang perhatian pelayan. Meski Narendra sudah membawanya ke koridor paling sepi sekalipun, tapi itu tak menjamin mereka aman.
"Aku belum selesai denganmu," bisik Narendra dengan suara menggoda, tepat di samping telinga Glacia. "Jangan pikir aku melupakan pembahasan kita tadi pagi. Kau harus menjelaskan, Sunshine. Atau aku akan memberimu hukuman?"
Glacia berdecak. "Ayolah, Naren. Kenapa kau mempermasalahkan celetukan anak kecil seperti Aileen? Dia hanya tahu apa yang dia lihat."
Narendra mengangguk. "Benar. Justru itu, karena dia hanya mengatakan apa yang dia lihat, itu berarti anak kita tidak berbohong," tekannya. "Katakan, siapa pria yang kau temui itu?"
Helaan nafas terdengar panjang dari mulut Glacia. Ia menatap Narendra dengan wajah memelas. "Bukankah tadi aku sudah bilang, dia hanya kenalan lama yang bahkan aku lupa namanya?"
Narendra tak menjawab. Ia terus menatap Glacia dengan pandangan menuntut. Hal itu tentu membuat Glacia jadi bingung sendiri. Menghadapi Narendra yang cemburu jauh lebih sulit dari membujuk Aileen yang mengamuk karena suatu hal.
"Naren? Kau masih saja tidak percaya padaku?"
"Apa maksudmu? Aku selalu percaya padamu. Tapi sikapmu yang kadang membuatku merasa waspada," balas Narendra menyanggah.
"Itu artinya kau tidak percaya padaku. Seharusnya jika kau percaya padaku, kau tidak akan selalu cemburu hanya karena hal kecil seperti ini."
"Hal kecil? Glacy, yang kulakukan adalah untuk menjagamu tetap di sisiku. Dari mana yang bisa kau sebut hal kecil? Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu dariku."
Glacia menatap Narendra berusaha sabar. "Naren, tanpa kamu menjagaku, aku akan selalu bersamamu. Aku sudah memilihmu, jadi kamu tenang saja, oke?"
Dalam sebuah perselisihan, pasti ada salah satu yang harus mengalah. Glacia akan selalu menyerah jika menyangkut kecemburuan Narendra yang kadang membuatnya gemas sendiri.
Glacia mengerti, sikap Narendra yang demikian dipicu oleh masa lalu mereka. Bagi Narendra, cinta Glacia masih seperti mimpi yang takut ia lepaskan.
Sepertinya, setelah ini Glacia harus memikirkan untuk memberi Narendra kejutan yang istimewa. Agar pria itu tahu, sebesar dan sepenting apa Narendra di hidupnya.
"Apa aku salah? Cemburu itu sifat alami manusia, kan?" tanya Narendra.
Glacia mengangguk disertai senyum. "Tapi cemburu juga harus masuk akal. Jangankan pria tampan di luar sana, aku mengobrol dengan tukang kebun saja matamu sudah seperti pisau."
Sindiran Glacia bukan hanya omong kosong belaka. Tingkat kecemburuan Narendra memang sudah separah itu. Glacia heran, kebaikan apa yang ia lakukan di masa lalu sampai mendapatkan pria yang sangat mencintainya seperti Narendra.
Glacia menepukkan kedua tangannya di dada Narendra, seolah menyingkirkan debu yang sebenarnya tidak ada. "Sudah. Apa aku perlu menciummu sampai pingsan agar kau tidak khawatir lagi? Aku tidak akan berpaling darimu."
"Kau ingin kita pulang ke rumah, atau tetap menginap di mansion Papa?" lanjutnya. "Kau tahu? Sikapmu kadang seperti Aileen yang merajuk. Lama-lama aku merasa punya 2 bayi kalau kau terus seperti ini."
Setelah mengatakan itu, Glacia menarik Narendra untuk menghampiri Aileen yang sedang bermain, mengajaknya bersiap untuk pulang ke rumah Narendra. Anak itu terlihat sedikit tidak rela meninggalkan mansion opanya.
Meski tak bicara apa pun lagi, tapi Glacia tidak tahu bahwa mata Narendra sejak tadi memicing mengamatinya. Ia akan tetap menyelidiki pria yang Glacia maksud sebagai kenalan lama.
__ADS_1