
"Papa?" Glacia mengerjap dan berujar parau. Ia baru saja terbangun karena merasa tidurnya terganggu oleh usapan halus seseorang.
Rupanya itu Yohanes yang kini menatapnya teduh. Bibirnya tersungging halus menyambut Glacia yang baru tersadar dari alam mimpi.
Mata Glacia mengedar mengamati kamarnya. Hari masih gelap sejak terakhir ia tidur.
"Tumben Papa kemari malam-malam?" tanya Glacia heran. Ia kembali menoleh pada sang papa.
Yohanes terdiam, sekilas ada raut gelisah di matanya, namun semua itu kembali normal dan tergerus oleh senyuman. Tangan Yohanes turun mengusap pipi halus Glacia. Ia seolah ingin mengatakan sesuatu namun urung.
"Papa hanya kangen kamu, lupa kalau sudah seminggu Papa tidak berkunjung," jawab Yohanes. "Bagaimana keadaan kamu? Apa ada keluhan yang mengganggu?"
Glacia terdiam sesaat, lalu menggeleng. "Glacy baik-baik saja. Terapinya berjalan lancar."
Rasanya Yohanes ingin menangis mendengar itu. Ia tahu Glacia berbohong karena tak ingin membuatnya khawatir. Ia mengangguk berusaha tersenyum. "Syukurlah."
Hening. Mereka sama-sama terdiam dalam bungkam. Hingga tak lama Yohanes kembali membuka suara. "Glacy?"
"Hm?"
Yohanes menelan ludah. "Papa minta maaf."
Glacia mengernyit bingung. "Minta maaf untuk apa? Papa tidak berbuat salah."
Yohanes menggeleng. "Papa banyak salah padamu. Papa selalu memaksamu ini dan itu. Kamu pasti tertekan karena harus mengikuti semua keinginan Papa."
__ADS_1
"Termasuk ... menikah dengan Narendra," lanjut Yohanes. Glacia merasakan suara sang ayah terdengar sedikit parau.
Glacia menyentuh tangan Yohanes yang mengusap pipinya. "Semua untuk kebaikan Glacy. Glacy mengerti Papa khawatir."
"Narendra orang baik, tidak salah Papa mempercayakan Glacy padanya. Dibanding itu ... kalau Glacy tidak menikah dengan Narendra, mungkin saat ini Glacy tengah berjuang karena sakit hati oleh Gallen. Papa benar, Gallen bukan orang baik. Aku pun sebenarnya tahu, tapi terlalu buta oleh perhatian yang sebenarnya semu."
Glacia tersenyum lembut menatap Yohanes. "Papa adalah papa yang baik. Terima kasih karena sudah menjaga Glacy selama ini. Papa dan Mama akan selalu menempati posisi tertinggi di hati Glacy. Maaf, sejauh ini Glacy belum menjadi anak yang baik untuk Papa. Glacy bahkan tidak punya sesuatu untuk dibanggakan. Papa pasti sedih karena ini, kan?"
"No, bukan." Yohanes menggeleng. "Papa bangga karena punya anak secantik kamu. Kamu putri Papa yang paling berharga."
Glacia tertawa kecil. "Aneh. Papa datang ke sini malah bersedih. Ada masalah? Papa tidak seperti biasanya?"
Akhirnya Glacia menanyakan keheranan yang sedari tadi terngiang. Entah apa yang sudah terjadi hingga Yohanes mendadak diselimuti haru. Ia terlihat gelisah dan khawatir.
"Ada masalah dengan perusahaan?" Jantung Glacia tiba-tiba berdetak. Jangan bilang ini ada hubungannya dengan kekacauan yang Glacia buat.
Namun Yohanes menggeleng. Itu berarti bukan masalah saham. Lalu apa?
"Terus, Papa kenapa?"
Bukannya menjawab, Yohanes malah menyusut sudut matanya yang berair. Lelaki itu sampai menangis, pasti ada sesuatu yang berat mengganggunya. Glacia tentu khawatir.
"Papa?" Ia berusaha bangun untuk duduk dan meraih bahu Yohanes yang entah kenapa terkesan rapuh.
"Papa tidak punya siapa-siapa selain kamu," bisik Yohanes.
__ADS_1
"Keluarga Papa banyak," sanggah Glacia.
"Mereka tidak lebih berharga darimu." Yohanes mendongak, memandang putrinya sendu. "Kamu harus baik-baik saja."
Meski heran, Glacia tetap mengangguk. "Tentu, aku pasti baik-baik saja. Papa jangan khawatir, tidak lama lagi aku pasti bisa berjalan. Bukankah Papa yang selalu menyemangatiku begitu?"
Yohanes mengangguk. "Benar. Kamu harus tetap semangat. Apa pun ke depannya nanti, Papa akan selalu menemani kamu. Jangan pernah berpikir kamu hidup sendiri. Kamu punya Papa. Mungkin, dulu Papa kurang memperhatikanmu setelah kepergian Mama. Dan kamu menemukan perhatian itu pada Gallen. Kalau dipikir-pikir, di sini Papa yang paling punya andil atas sikap memberontak kamu. Papa benar-benar minta maaf, Nak."
Glacia membuang nafasnya panjang. "Sudahlah ... yang penting sekarang kita baik-baik saja."
Tapi kamu tidak baik-baik saja, Glacy. Batin Yohanes.
"Sudah malam. Kamu lanjut tidur lagi. Maaf Papa ganggu kamu. Papa terlalu rindu sama kamu." Yohanes membantu Glacia berbaring lalu menyelimutinya.
"Mimpi indah ya, Sayang," ucapnya mengecup kening Glacia.
Glacia mengangguk dengan wajah pucat yang damai. Yohanes memandang putrinya lama sebelum memutuskan keluar dari kamar.
Narendra yang sejak awal berdiri di depan pintu kamar Glacia, lantas segera berlalu memasuki kamarnya sendiri. Saat pulang tadi, ia tanpa sengaja mendengar suara dari kamar sang istri, ternyata itu mertuanya yang berkunjung.
Suara pintu yang ditutup menandakan bahwa Yohanes telah pergi. Biasanya Narendra akan menyambut pria itu di manapun berada, namun saat ini entah kenapa ia malah terpaku lama.
Narendra sedang berpikir kenapa Yohanes tampak begitu sedih saat bertemu Glacia. Apa ada sesuatu yang tidak ia ketahui?
***
__ADS_1