
Akhirnya karna Ziva tak bisa berhenti menangis Revan menggendong nya kembali ke vila. Ia langsung membawa Ziva ke kamar nya, ia menurunkan Ziva tepat di tempat tidur. Mata Ziva sudah sangat sembab akibat terlalu banyak menangis. Ia sampai sesegukan, dan hanya mampu meringkuk diam. Revan pun di buat kebingungan, ia sama sekali tak tahu harus berbuat apa.
Sedangkan di vila itu hanya tinggal mereka berdua. Pak Kasno tadi mengabari Revan bahwa ia sedang ada urusan di luar. Dan tak akan pulang sampai besok malam. Revan mencoba merangkul Ziva untuk memberi nya ketenangan. Sedikit demi sedikit Ziva pun sudah mulai tenang, ia terus bersandar di bahu Revan.
"Zi, Lo gak papa kan??" Tanya Revan sembari menggenggam tangan Ziva namun Ziva hanya diam.
Perlahan Revan melepaskan rangkulan nya, ia membantu Ziva untuk bersandar di kepala ranjang.
"Gue ke bawah dulu!!" Seru Revan namun tetap tak ada jawaban.
Revan pun bergegas keluar kamar dan pergi ke bawah lebih tepat nya ke arah dapur. Ia mengambil mangkuk yang berukuran sedang. Kemudian ia membuka lemari es, ia mengambil beberapa balok es kemudian ia taruh di mangkuk tadi. Setelah itu ia mengisi nya dengan sedikit air, ia membuka laci di dekat lemari es dan mengambil sebuah handuk kecil. Tak lupa ia mengambil sebotol minuman soda dari lemari es.
Setelah lengkap ia pun membawa semua itu dengan menggunakan nampan. Ia bergegas kembali ke atas, ia sangat khawatir pada gadis nya itu. Setelah sampai ia melihat Ziva masih dalam kondisi yang sama. Ia menaruh nampan itu di nakas dekat tempat tidur. kemudian mencelupkan handuk kecil ke dalam mangkuk berisi air es tadi. Ia memeras nya hingga kering, kemudian mengarah kan handuk itu pada mata Ziva.
Ziva menoleh menatap Revan bingung.
"Pejemin mata Lo, gue kompres dulu!! Biar mata Lo gak sakit!!" Seru Revan.
Ziva hanya diam dan menurut, karna memang mata nya sekarang sedikit sakit karna terlalu banyak menangis. Dengan hati hati Revan mengompres kelopak mata Ziva dengan air es.
"Kata mama gue, kalo di kompres pake Aer dingin pasti cepet reda sakit nya!! Dan gak bakal bikin mata jadi bengkak besok nya!!" Jelas Revan dengan lembut.
Ziva yang di perlakukan seperti itu pun menjadi sangat tersentuh. Ia sedikit menyunggingkan senyum nya, meski Revan tak melihat nya. Karna Revan sangat fokus mengompres kelopak mata Ziva, bahkan sampai di bawah mata pun tak luput dari nya. Revan terlihat begitu telaten merawat Ziva, sikap nya begitu lembut. Sangat berbeda sekali dengan Revan yang biasa nya cuek, dingin dan tak punya hati kata orang. Inget ya!! Kata orang!!
"Thanks Van!!" Seru Ziva yang membuat Revan menatap Ziva dengan lekat.
"Gue cuma gak mau, cewek yang gue sayang tuh sedih!!" Jelas Revan dengan nada lembut.
"Gue gak perlu Lo bales perasaan gue Zi, meskipun gue berharap itu tapi gue gak bakal maksain perasaan Lo!!" Seru Revan saat Ziva ingin menjawab pernyataan Revan tadi.
__ADS_1
"Zi, gue sayang sama Lo!! Gue slalu berharap Lo bisa tersenyum, gue sakit ngeliat Lo kayak tadi!! Air mata Lo bener bener nyakitin gue!!" Ucap Revan sembari menangkup kedua pipi Ziva.
"Sorry Van!! Gue cuma gak bisa nahan perasaan gue!!" Seru Ziva mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Sebenernya Lo kenapa Zi?? Tadi Bang Mike bilang, trauma?? Maksud nya apa?? Lo punya trauma masa lalu??" Tanya Revan bertubi tubi.
"Bisa gak, gak usah di bahas!!" Lirih Ziva.
Revan pun segera menyadari bahwa Ziva tak ingin mengingat itu. Dengan segera ia mengubah topik pembicaraan karena tak ingin melihat sang pujaan hati sedih lagi. Ia pun mengambil botol minuman soda yang tadi ia ambil.
"Nih minum dulu!!" Seru Revan sembari menyerahkan botol itu, yang tentu nya sebelum nya ia sudah membukakan tutup botol nya.
"Ini??" Bingung Ziva.
"Minum yang bersoda pas hati kita lagi gak baik itu sedikit banyak nya bisa ngurangin rasa sedih lho!!" Jelas Revan sembari tersenyum.
"Coba aja dulu!!" Seru Revan yang membuat Ziva menuruti nya, ia segera menegak minuman soda itu.
"Gimana?? Manis asem seger meletup letup soda nya di mulut, seru kan!!" Seru Revan saat Ziva sedang minum.
Hal itu terdengar lucu, karna Revan menjelaskan apa yang ia rasa saat meminum soda itu. Ziva sedikit menyunggingkan senyum nya di sela di meminum soda itu. Setelah minum benar saja perasan Ziva jadi lebih baik. Namun yang sebenarnya bukan minuman soda yang membuat nya jadi lebih baik. Itu karna Revan, ya karna pemuda yang berada di hadapan nya ini.
"Dah lebih baik??" Tanya Revan.
"Hmm" Ziva pun tersenyum dan mengangguk.
"Ikut gue yuk!!" Ajak Revan mengulurkan tangan nya.
"Kemana??" Tanya Ziva bingung.
__ADS_1
"Ikut aja!!" Ujar Revan sembari mengambil tangan Ziva untuk di genggam nya.
Ziva pun tak ada pilihan lain selain ikut dengan Revan. Revan membawa Ziva keluar kamar menuju ke arah ujung lantai dua. Di sana terdapat pintu berwarna hitam pekat. Revan membuka nya dan membawa Ziva ke sana. Di sana ada beberapa anak tangga, ya sekitar lima sampai tujuh anak tangga lah ya. Sampai di ujung tangga, ada sebuah pintu lagi. Revan membuka nya dan dengan segera melangkah ke sana.
"Van, in... ini..." Ucap Ziva tak bisa melanjutkan kata kata nya.
Ziva takjub melihat pemandangan di hadapan nya.
"Waahhhh" Seru Ziva dengan mata berbinar melihat sekeliling.
"Gimana?? Suka??" Tanya Revan yang di balas anggukan antusias dari Ziva.
Mereka sekarang berada di roof top vila itu, di sana terpampang indah langit malam di hiasi rembulan dan berjuta bintang di langit. Serta pemandangan hutan yang indah dengan beberapa cahaya lampu yang menerangi dari bawah sana. Pemandangan yang baru pertama kali Ziva lihat, ini seperti dongeng putri untuk nya.
Pandangan nya pun teralihkan melihat sebuah teropong bintang yang berada di tengah sana. Revan menyadari apa yang di lihat Ziva pun hanya tersenyum. Ia kemudian menarik lembut tangan Ziva ke arah teropong itu. Sejenak ia mengatur, dan memperbaiki posisi teropong itu.
"Sini coba!!" Seru Revan pada Ziva.
Ziva pun dengan sangat antusias mencoba nya. Mulut nya terbuka ketika melihat bintang dari teleskop bintang itu. Ia melihat jelas bentuk bentuk bintang itu, bahkan ada beberapa yang menggambarkan zodiak bintang.
"Coba sini!!" Revan mengarahkan teleskop itu ke suatu arah.
"Liat deh!!" Seru Revan pada Ziva dan Ziva pun segera melihat nya.
"Waahhhh, bentuk nya kayak vegasus Van!! Gila keren banget!!!" Seru Ziva sembari tersenyum senang.
"Gue seneng liat Lo ceria kayak gini Zi!!" Batin Revan yang terus memperhatikan gerak gerik Ziva.
"Ternyata bener es itu bisa mencair kalo ketemu matahari!! Dan Lo adalah matahari gue Zi!!" Seru Revan dalam hati.
__ADS_1