Most Wanted School

Most Wanted School
Perasaan Tak Tenang


__ADS_3

Pembicaraan mereka pun berhenti, ketika Revan berjalan ke arah mereka. Sedangkan Ziva tetap di sana untuk memeriksa tugas yang dibuat oleh Revan. Ziva sangat serius dalam memeriksa nya, ia bahkan tidak mengangkat pandangan nya.


"Woyy bang, akhir nya selesai juga Lo!!" Seru Gio.


"Wajar sih, soal nya susah susah banget!!" Ujar Vito.


"Iya apalagi harus 70% yang bener!!" Seru Reno.


"Nah, kita aja puyeng kan!! Gimana Ziva yang buat soal sekaligus jawaban nya??" Ujar Randi yang membuat mereka saling pandang.


"Iya juga sih!!"


Tak lama ia membawa kertas jawaban Revan, awal nya ia terkejut melihat jawaban Revan. Namun karena ia sendiri yang membuat soal nya, ia pun tak bisa berkata apa apa.


"Eh, Zi gimana?? Kemampuan kita gak jelek jelek amat kan??" Tanya Randi.


"Yahh buat keseluruhan oke sih!!" Sahut Ziva.


"By the way, Lo belum bilang nilai kita semua" Seru Vito penasaran.


"Haiissshhh, Kak Randi 78, Reno 84, Vito 73...."


"Hah 73!! Dah ampir aja gak lulus donk gue!!" Ujar Vito memotong ucapan Ziva.


"Elu mah suka amat motong omongan orang!!" Seru Randi menggeplak lengan Vito.


"Itu kalo nilai bang Revan??" Tanya Gio.


"Nilai nya?? Hmm jauh dari ekspektasi gue sebenernya...."


"Hah?? Bentar bentar ini ekspektasi lebih tinggi apa lebih rendah nih??" Tanya Revan was was.


"Dalam bagus kok Van!!" Seru Ziva yang membuat Revan menarik nafas lega.


"Emang berapa??" Tanya mereka serempak.


"Hampir semua jawaban nya bener, cuma satu soal yang salah!! Kalian itung sendiri dia harus nya dapet nilai berapa!!" Jelas Ziva yang membuat semua orang yang ada di sana tercengang.


Bahkan termasuk Revan, ia pun tercengang dengan awabn nya sendiri.


"Di punya kemampuan juga!!" Gumam Ziva dalam hati.


"Serius Zi??" Tanya Revan tak percaya.


"Ya, gue dah periksa berulang ulang!!" Sahut Ziva.


"Wahhh ternyata Lo pinter juga Van!!" Seru Randi menepuk pundak Revan.


"Hahaha, yah gue emang pinter lah cuma gue gak suka belajar doank!!" Tawa Revan gambar, ia masih tak percaya dengan diri nya sendiri.


"Ini beneran, berarti gue bisa donk, gue masih ada kesempatan donk buat sama Zi!!" Seru Revan dalam hati.


"Woyy malah ngelamun!!" Teriak Vito pada Revan yang termenung.


"Yok makan!!" Ajak Reno.


Mereka pun mulai makan bersama, tak lupa Ziva memesan beberapa hidangan lagi. Namun di tengah acara makan itu, kepala Ziva mendadak sakit. Pangkal hidung nya juga berdenyut, pandangan nya mulai mengabur namun masih ia tahan.

__ADS_1


"Guys, gue ke toilet dulu!!" Seru Ziva.


"Kenapa tuh anak??" Batin Randi yang melihat keanehan dari Ziva.


Ziva langsung bergegas pergi dari sana, ia tak peduli tatapan heran dari orang orang yang melihat nya berlari seperti itu. Sesampai nya di toilet, Ziva langsung berpegangan dengan wastafel. Pandangan nya benar benar blur kali ini, nafsu nya juga tersegal segal.


"Hahh hahh please jangan sekarang!!" Lirih Ziva meneteskan air mata.


"Hikksss kenapa hikksss kenapa ya Allah hikksss" Ziva mulai menangis sembari berusaha menopang tubuh nya.


Tes


Tes


Cairan kental berwarna merah mulai membasahi baju nya. Tubuh nya benar benar sudah tak kuat lagi, pandangan nya pun mulai mengabur. Tubuh nya bergetar hebat, ia berusaha sebisa mungkin menahan rasa sakit nya.


Klek


Ziva lupa mengunci pintu sehingga orang lain bisa masuk ke sana. Awal nya Ziva panik namun ketika melihat bayangan orang itu ia tersenyum lemah. Walaupun pandangan nya tak jelas, tapi ia tau pasti itu siapa. Tubuh nya sudah tak bisa menahan nya lagi, dan orang itu dengan sigap menangkap Ziva yang hampir jatuh. Ziva pun tak sadarkan diri dan orang itu langsung membawa nya pergi dari sana.


Tak lupa ia memakai kan jaket nya untuk menutupi tubuh Ziva. Ketika ia berjalan menuju pintu samping, ia berpapasan dengan Bang Zidan.


"Lho Mike??" Sapa Zidan heran.


"Bang, tolong Lo bilang sama temen nya Ziva kalo dia pulang duluan!!" Seru Mike, ya orang itu adalah Mike.


"Hah?? Zi kenapa Mike??" Tanya Zidan khawatir karena Mike sedang menggendong seseorang yang ia tutupi dengan jaket.


"Zi gak papa bang, gue minta tolong sama Lo please!!" Mohon Mike.


"Mike, Lo gak bisa boong sama gue!!"


"Zi Lo kenapa??" Lirih Zidan khawatir.


Sementara di tempat Revan, ada seseorang yang begitu cemas. Hal ini tak lepas dari penglihatan Revan, ia menjadi penasaran dengan sikap aneh Randi.


"Woyy Di, Lo kenapa sih??" Tanya Revan penasaran.


"Hah?? Gue?? Gak papa" Sahut Randi gugup.


"Serius? Terus kenapa Lo dari tadi kek gelisah gitu!!" Seru Revan yang membuat teman teman nya yang lain mengalihkan perhatian nya pada Randi.


"Lo kenapa Ran??" Tanya Reno.


"Iya bang, muka Lo tu kek cemas gitu!!" Tambah Gio.


"Gue gak papa kok, perasaan Lo aja kali!!" Elak Randi.


Dan mereka berempat pun tak lagi bertanya, mereka sebenarnya tau kalau Randi berbohong. Namun mereka memberikan hak sepenuhnya pada Randi, jika ia tak ingin membicarakan nya maka mereka juga tak bisa memaksa. Sedangkan Revan, di dalam hati nya ia juga gelisah namun ia tak mengerti dengan perasaan nya itu.


"Gue kenapa sih?? Kenapa juga perasaan gue gak tenang gini??" Batin Revan.


Gini amat yah, kalo orang dah bucin peka amat kalo crush nya kenapa kenapa!!🤣🤣


"Kok Zi, belum balik balik ya!!" Ceplos Gio yang membuat Revan dan Randi menoleh ke arah nya.


"Zi??" Batin mereka berdua.

__ADS_1


"Zi, Lo gak papa kan??" Tanya Randi dalam hati.


"Kok perasaan gue tambah gak tenang ya??" Batin Revan.


"Iya, ini dah lima belas menitan lohh?? Masa iya si Ziva boker di toilet!!" Seru Vito yang mendapat jitakan dari Reno.


"Asal aja Lo ngomong!!" Kesal Reno.


"Lah kan gue cuma ngomong doank" ujar Vito sembari meringis karna rasa sakit bekas jitakan Reno.


"Apa jangan jangan tuh anak pingsan!" Ceplos Gio.


Revan dan Randi yang mendengar itu pun langsung berdiri. Tanpa aba aba, mereka langsung berlari keluar ruangan itu. Reno, Vito dan Gio pun langsung menyusul mereka. Meskipun bingung dengan apa yang di lakukan Revan dan Randi mereka etape mengikuti nya.


Belum sampai di toilet, mereka berpapasan dengan Bang Zidan.


"Eh kalian mau kemana??" Tanya Zidan yang melihat mereka begitu tergesa Gesa.


"Bang, Lo liat Zi gak??" Tanya Randi.


"Lah iya gue lupa bilang, Ziva tadi dah balik duluan!!" Seru Zidan.


"Hah?? Kok bisa??" Tanya Revan tak percaya.


"Tadi Ziva bilang sama gue kalo dia ada keperluan jadi di balik dulu!!" Seru Zidan.


"Kenapa gak bilang dulu sama kita??" Tanya Reno.


"Mungkin di.. dia buru buru!!" Jawab Zidan meskipun sedikit gugup, ia berusaha senatural mungkin.


"Yahh, jadi kita belajar nya sampe di sini doank nih!!" Seru Vito.


"Ya udah deh mau gimana lagi" Sahut Reno.


Meskipun masih ada yang mengganjal di hati nya, Revan tetap beranjak dari sana. Di ikuti dengan yang lain nya, namun Randi tak langsung pergi dari sana.


"Zi kemana bang??" Tanya Randi.


"Zi..."


"Gak usah boong sama gue!!" Tandas Randi yang membuat Zidan menghela nafas panjang.


"Mike yang bawa dia tadi, kek nya Zi pingsan!!" Seru Zidan yang membuat Randi membulatkan matanya.


"Dia di bawa ke RS *******" Ujar Zidan.


Randi yang mendengar itu langsung beranjak dari sana, ia berpapasan dengan Revan dan yang lain nya.


"Lo dari mana??" Tanya Revan.


"Gue tadi abis ngobrol sama bang Zidan.." sahut Randi berusaha tetap tenang..


"Van, gue gak ikut ke base ya... Nyokap gue nyuruh gue pulang cepet!!" Seru Randi.


"Oh oke, salam buat nyokap Lo!!" Sahut Revan.


Mereka pun sampai di parkiran, mereka langsung berpisah di sana.

__ADS_1


"Zi??" Perasaan Randi semakin tak tenang.


__ADS_2