
Di sebuah gedung kosong terlihat seorang gadis tengah duduk di sebuah ruangan yang cahaya nya remang. Ia berusaha tak gugup atau terlihat takut karena ia tau resiko yang harus ia hadapi sekarang. Ia sedang berhadapan dengan tiga orang pria di hadapan nya, satu di antara nya terus memperhatikan diri nya. Namun ia tetap memasang wajah se dingin mungkin. Karena ia tau kalau orang di hadapan nya ia dapat membaca mimik wajah hanya dengan tatapan mata saja. Jadi percuma ia memakai masker, namun ia masih enggan melepaskan masker di wajah nya.
"Lepasin Rega sama Alqan sekarang!!" Tukas gadis itu menatap tajam ke arah tiga pria di hadapan nya.
" Gak semudah itu sayang!!" Seru salah seorang pria sembari berdiri dan memegang pundak gadis itu.
"Tolong jaga sikap Anda, tuan Wilson Aditya Pratama!!" Ujar gadis itu sembari menepis tangan pria yang bernama Wilson itu dari bahu nya.
"Hahaha kita gak seasing itu kan Ra!!" Tawa Wilson yang terdengar hambar.
"udah gue bilang, gue gak kenal sama lo!! Gak usah sok kenal!!" Ujar gadis itu sembari menatap Wilson tajam walau pun sebenarnya hati nya begitu gugup dan takut.
"Aaiisshhh lo keras kepala banget sih Ra.... Lo emang gak pernah berubah dari dulu, kepala batu!!" Ujar Wilson.
"Makasih pujian nya!!" Tandas gadis itu dengan nada dingin nya.
"Bang, langsung terkam aja nih cewek resek banget!!" Seru Ryan.
"Mana tuh anak??" Bukan nya menimpali pernyataan Ryan, Wilson justru memberi nya pertanyaan.
"Ah, lagi ada urusan di luar mata nya!!" Seru Ryan yang menyadari siapa yang sedang dicari oleh pemimpin nya ini.
"Aaiisshhh, di saat kek gini justru bilang tuh anak!!" Kesal Wilson.
"Lo ada perlu sama Z, bang??" Tanya Ryan.
"Gue cuma mau mastiin sesuatu!!" Tandas Wilson.
Ryan hanya mengangguk, walaupun ia sebenarnya belum sepenuhnya mengerti. Namun ia memilih untuk diam. Karna ia tau pasti pemimpin nya yang satu ini sangat tak suka bila di beri pertanyaan berulang ulang. Jadi ia mengambil jalur aman saja, diam adalah pilihan terbaik.
Sementara di sisi lain, Mike dan yang lain nya sedang merencanakan rencana cadangan. Bang Zack dan beberapa anggota White Eagle sudah lebih dulu meninggalkan tempat itu. Terlihat Mike yang mondar mandir mencoba mencari ide yang paling aman untuk di lakukan.
"Lo bisa diem bentara gak sih!!" Ketus Alex yang geram melihat Mike yang tak bisa diam sedari tadi.
__ADS_1
"Lo dah kayak setrikaan tau gak!!" Seru Fajar.
"Terus gue harus gimana bang?? Gue khawatir!!" Seru Mike sembari duduk di salah satu bangku di sana.
"Lo tenang aja, gue udah kirim beberapa anak Tiger Moon buat menyusul mereka!!" Seru Alex dengan nada santai nya.
"What??!!" Kaget Fajar dan Mike.
"Kapan lo ngirim nya, pe'a??" Tukas Fajar.
"Elu yang pe'a!! Emang gue harus laporan dulu sama lo, buat merintah anak buah gue sendiri!!" Ketus Alex.
"Lo ada rencana lain??" Tanya Fajar.
"Sure, ngadepin iblis berwajah malaikat itu, gak bisa pake satu dua cara doank,... Kita harus banyak persiapan!!" Seru Alex.
"Jadi apa rencana lo bang??" Tanya Mike.
"Sok misterius lu!!" Ledek Fajar.
Sedangkan anggota Tiger Moon yang lain hanya bisa diam memperhatikan interaksi antara pemimpin mereka itu.
"Udah, gak usah debat lagi!! Sekarang kita harus gimana nih?? Ya kali mereka bertindak tapi kita malah diem aja!!" Seru Fajar.
"Kita bakal bergerak kalo udah satu jam!!" Sahut Alex.
"Satu jam?? Apa gak terlalu lama bang, gimana kalo..."
"Gak bakal!! Semua dalam kendali gue!!" Seru Alex memotong ucapan Mike.
"Lo yakin bang??" Tanya Mike ragu.
"Tenang aja, serahin semua nya ke Al!!" Seru Fajar sembari menepuk bahu Mike.
__ADS_1
Mike hanya bisa menghela nafas panjang karena tak bisa berbuat apa apa. Sementara di sisi lain, seorang gadis sedang duduk manis di sisi ranjang. Ia di kurung di sebuah kamar yang hanya bercahaya kan lilin. Ia terus menghela nafas untuk menghadapi ke gugupan nya.
"Gue harus apa sekarang?? Si Fajar brengsek itu gak kasih kabar lagi!!" Rutuk gadis itu dalam hati nya.
Ia tak leluasa berbicara karna ia takut kalau di ruangan ini terdapat penyadap suara atau yang lain nya. Ruangan ini tak cukup pencahayaan untuk ia mencari tahu keadaan di sekitar nya. Ini tambah membuat nya dongkol, apalagi keadaan nya sekarang sangat sangat tak menguntungkan. Ia tak tau apa resiko nya kalau orang orang di sini tau kalau dia bukan lah Ziva. Tadi hampir saja orang itu membuka masker nya untung saja ia punya seribu akal untuk menghadapi orang itu. Dan lebih lagi, ia sudah lama mengenal Ziva jadi lebih kurang nya ia sangat tau pasti sifat dan sikap Ziva. Jadi orang akan sulit mengenali perbedaan mereka.
"Fel..." Suara yang menggema di sela sela rambut nya yang membuat ia menghela nafas lega.
"Akhir nya...." Lega gadis itu dalam hati nya.
"Fely, lu gak papa kan??" Tanya Fajar dari seberang sana.
Gadis yang bernama Fely itu, berdehem lembut sembari sedikit memijit tengkuk nya. Hanya untuk berjaga jaga kalau kalau di sana ada cctv, jadi orang yang mengawasi nya tak akan curiga.
"Sorry Fel, kita harus ubah rencana!! Buat sekarang lu turutin aja dulu apa permainan mereka.... Bantuan bakal Dateng bentar lagi, gue harap Lo bisa ulur waktu selama mungkin!! Kalo bisa satu jam dari sekarang!!" Jelas Fajar yang membuat Fely menghempaskan tubuh nya di kasur itu.
"Satu lagi, jangan pernah jawab pertanyaan apapun dari Wilson!! Dia orang yang berbahaya, Lo harus bisa bermain kata Fel!!" Seru Fajar.
"Gue juga tau dia bahaya, maka nya sekarang gue gak tenang banget!! Bahkan buat nafas aja kayak di awasi orang!!" Ketus Fely dalam hati nya.
"Satu jam?? Buat bertahan di sini selama lima menit aja udah berkah!!" Rutuk Fely dalam hati nya.
Fely menutup mata nya mencoba untuk merilekskan tubuh dan juga pikiran nya. Namun tak bisa, bayang bayang senyuman pria yang bernama Wilson itu terus terbayang. Bukan karena ia terpesona tapi ia begitu takut melihat nya. Senyuman yang terlihat manis namun menyimpan aura yang sangat mengerikan.
"Fel, gue cuma mau Lo tau!! Lawan Lo kali ini psikopat gila!!" Ujar Fajar serius yang membuat Fely mengernyitkan dahi nya.
"Ya psikopat mana yang gak gila ya kan!!" Seru Fely dalam hati.
"Saat umur nya belasan tahun, dia pernah bantai satu panti asuhan!! Bahkan mayat mayat nya dia cincang habis!! SENDIRIAN!!" Fajar menekan kan kata terakhir nya.
Fely membulatkan mata nya, namun ia berusaha menahan gejolak di hati nya. Ia harus tetap tenang di saat seperti ini, namun tubuh nya tak mau bersahabat. Tubuh nya sedikit bergetar dan gigi nya bergemeletukan.
"Tuhan!! Cobaan apalagi ini!!" Batin Fely
__ADS_1