Most Wanted School

Most Wanted School
Curahan Hati


__ADS_3

"ciye, kompak banget!"


"gak papa kali, gak usah malu malu. Oh apa jangan jangan kalian lagi backstreeet"


"El, kita beneran gak ada hubungan apa apa! Kita cuma temenan, iya kan Zi?" Reno melirik ke arah Ziva.


"betul bnget!" seru Ziva walaupun jauh di lubuk hati nya ia sangat ingin menjadi pacar Reno.


"yah... El kira kalian pacaran. Tapi gak papa lah. Kapan kapan kakak main yah ke rumah!" seru Elvina yang membuat Ziva menoleh ke arah Reno.


"iya boleh." senyum Ziva.


"Zi, gue sama Elvina pulang dulu ya. Soal nya hari udap hampir gelap. Soal buku nya nanti kamu titipin aja ke Ziva" tandas Reno yang di balas acungan jempol.


"oke siap!"


"bye Kak Zi!" seru Elvina sembari melambaikan tangan.


Setelah kepergian Elvina dan juga Reno, Ziva menarik tangan nya dan memeluk nya di dada.


"gue gak nyangka gue egangan tangan sama Reno walaupun cuma bentar. Kayak nya tangan gue gak bakal gue cuci supaya jejak Reno gak ilang!"


"gila! Bucin banget gue" Ziva terkekeh sejenak dan kemudian melangkah ke arah kasir untuk membayar buku nya.


"total nya Rp 89.999 ya kak"


"ini uang nya" ujar Ziva sembari menyodorkan uang seratus ribu.


"kembalian nya ambil aja mbak" seru Ziva ketika sang kasir hendak memberi nya kembalian.


Ia bergegas keluar dari mall dan langsung menuju mobil nya. Dengan segera ia memasuki mobil nya dan memasang seatbelt.


"sumpah, Reno manis banget deh. Cara dia nyebut nama gue itu lho. Eh, tapi untung aja gak ketauan. Seharus nya gue nyamarin juga nama gue, waktu di sekolah. Duh pe'a nmbanget sih gue."


"tapi Reno, beneran cute banget!"


"astaga! Lama lama gue bakal gak waras nih!" seru Ziva sembari menetralkan kembali hati nya.


Setelah lama berkutat dengan perasaan nya, Ziva melajukan mobil nya menuju rumah. Karna langit pun mulai gelap dan ia harus segera pulang, kalau tidak Kakak nya bisa marah besar. Apalagi tidak ada orang tua nya di rumah, ya kalian inget kan di bab sebelum nya mereka pergi ke luar kota.


Sesampai nya di rumah


"assalamu'alaikum, yuuuhuuuuu Ara pulang!" teriak Ziva saat memasuki rumah.


"ya ampun, anak gadis mana yang teriak teriak kayak tarzan. Suara lo gangguin tetangta woyy." Seru Mike yang sedang main game di ruang tamu.


"ya elah Kak. Rumah kita jauh jauh kli dari tetangga, gak bakal ganggu juga." ujar Ziva mengerucutkan bibir nya.


"iya tapi suara lo kayak toa."


"issshhh kakak ngomel ngomel mulu, jawab kek salam nya, dosa tau gak jawab salam" Ziva mendudukan diri di samping Mike.


"aiisshh wa alaikum salam"


"oh ya? Kmu abis dari mana sih, kok baru pulang?" tanya Mike tanpa menoleh ke arah Ziva karna sedang fokus dengan game di ponsel nya.


"abis dari gramedia, beli buku"


"beli buku? Buku novel" lirik Mike pada Ziva.


"iya"


"dah makan belom lu?" tanya Mike.


"idih, perhatian. Tumben kayak pacar nanyain udah makan belom" ledek Ziva menoel lengan Mike.


Pletak


"awww kak" Mike menjitak dahi adik kesayangan nya itu.


"perhatian salah, cuek salah, semua salah di mata cewek. Gue tu khawatir ama lu Ra" cecar Mike yang langsung menghentikan game nya dan meletakan hp nya di atas meja.


"hmm ya ya maaf. Ara gak makan deh, dah masih kenyang" sahut Ziva.


"kenyang makan apa? Harapan palsu!" ujar Mike.


"issshhh kakak" Ziva menepuk nepukan bantal ke lengan Mike.

__ADS_1


Mereka berdua pun tertawa bersama, ya seperti itulah mereka. Sering sekli berantem hanya karna masalah kecil. Tapi mereka saling menyayangi terutama Mike ia sangat sangat melindungi adik nya itu.


"udah ah, Kak aku mau ke kamar dulu ya" pamit Ziva kemudian segera beranjak dari duduk nya.


Sesampainya di kamaar ia segera merebahkan tubuhnya dan memeluk bantal guling.


"gue penasaran siapa Alexa itu? Secantik apa sih dia sampe bisa buat Reno suka sama dia?" lirih Ziva sembari menerawang ke atap.


Seketika ia mengeluarkan ponsel nya dan mengetikan nama yang ia tahu.


"pantes aja, Reno suka. Orang nya imut banget gini."


"pengen jadi Queen Zi yang dulu, tapi takut di manfaatin lagi. Lebih baik gue tetep kayak gini biar gue tau siapa yang tulus sama gue. Lagian cinta kan buta, siapa tau Reno bakal cinta sma gue. Tapi apa itu mungkin ya?" lirih Ziva menatap ke langit langit kamar nya.


Tringgg


"astaga!" Ziva terkaget mendengar panggilan masuk di ponsel nya.


"isshhh si anak dajjal ngapain sih nelpon malem malem, gak tau apa gue lagi galau gini. Ngerusak mood aja nih ank." gerutu Ziva saat melihat Revan yang melakuman panggilan.


Setelah beberapa saat, dengan berat hati ia menggeser icon untuk menerima panggilan itu.


"EH CUPU! KENAPA LAMA BANGET SIH ANGKAT TELPON NYA!" Teriak Revan yang membuat Ziva menjauhkan ponsel nya dari telinga.


"ya maaf, aku udah tidur tadi." dusta Ziva.


"dasar kebo! Ini baru jam berapa woy!" omel Revan yang membuat Ziva menghela nafas.


"hem iya, emang ada apa ya?" sahut Ziva mencoba untuk bersabar menghadapi makhluk satu ini.


"gue pengen nembak Syila"


"What!" teriak Ziva kaget yang membuat Revan menjauhkan ponsel dari telinga nya.


"lo kenapa teriak teriak anjir! Kaget gue"


"lagian kamu bikin aku kaget" seru Ziva yang membuat Revan terdiam.


"kaget? Kenapa, oh atau jangan jangan lo naksir ya ama gue?"


"terus kenapa lo kaget?"


"apa gak kecepetan Van? Syila kan baru putus sama Bagas. Emang nya dia mau gitu nerima kamu secepat ini?" ujar Ziva yang menerut Revan ada benar nya, tapi Revan juga tak bisa teru terusan memendam perasaan nya begini.


"terus gue harus gimana? Gue udah lama suka sama dia?"


"kok si Revan malah nanya sama gue sih? Kayak yang gak pernah pacaran aja." batin Ziva yang keheranan.


"eh kadal buntung kok lo malah diem sih"


"eh... Emang kamu belum pernah pacaran gitu sebelum nya?" tanya Ziva.


"gak"


"hah? Serius?" pernyataan Revan membuat Ziva kaget dan membulatkan mata nya.


"ya karna Syila cinta pertama gue. Gue bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta dan juga gue gak mau jadian tanpa perasaan. Dari dulu yang gue suka cuma Syila. Jadi gimana pun cara nya gue bakal perjuangin dia."


"oh gitu" angguk Ziva.


"oh doank? Lo gak mau bantuin gue gitu?"


"tunggu sebenetar!" ucap Ziva kemudian meninggalkan ponsel jya di atas tempat tidaur dan segera berlari ke kamar mandi.


Setelah masuk ia mengunci pintu nya, dan segera menrik nafas dalam dalam sebelum khir nya mengeluarkan kekesalan nya ada Revan.


"AAAAAAA DASAR GAK ADA AKHLAK, MANUSIA NYEBELIN!! GAK PUNYA OTAK! BISA NYA CUMA NYUSAHIN GUE DOANK!" Teriak Ziva mengeluarkan unek unek nya.


Setelah selesai mengeluarkan unek unek nya, Ziva bergegas kembali ke temlat tidur nya.


"sorry ya lama"


"lo abis ngapain sih? Kesel tau gak lama." omel Revan dari seberang sana.


"emang lo pikir gue gak kesel sama lo!" batin Ziva ngedumel.


"ya maaf, terus kamu butuh bantuan apa dari aku?" tanya Ziva kemudian.

__ADS_1


"gue pengen pdkt sama Syila tapi gue gak tau gimana caranya. Gue gak tau gimana cara mulai nya, nah lo kan cewek pasti tau lah gimana perasaan nya? Gue cuma minta saran dari lo?"


"kenapa harus aku? Aku kan gak pernah deket sama Syila?"


"masalah nya gue gak percaya sama orang lain. Kalo lo doank mah bisa gue percaya. Please bantuin gue ya! Ya kali gue minta bantuan Reno sama Randi, yang ada mereka malah ngeledekin gue"


"oke deh kalo gitu, aku bakal usahain."


"makasih ya! Pokok nya lo emang partner gie yang aling the best." seru Revan yang tampak girang.


"oke! Jadi pertama tama gue harus ngapain nih?" tanya Revan.


"mungkin lo harus cari tau dulu apa yang dia suka! Kalo dia suka coklat ya lo kasih coklat. Atau bisa juga bunga."


"tapi gue gak tau dia suka nya ap..."


"gimana sih kamu, bilang nya suka tapi hal sekecil ini aja masa gak tau sih" potong Ziva karena terkejut mendengar penuturan Revan.


"maka nya gue butuh bantuan lo, supaya lo cari tau apa yang dia suka dan gak dia suka. Kalo sampe gue dapetin Syila, lo gak bakal gue suruh suruh lagi deh!" serus Revan.


"Hem boleh juga" seru Ziva sembari menganggukan kepala.


"yah udah deh, gue tutup dulu telpon nyaa. Bye!"


"by..."


"baru juga mau nyautin dah di matiin telpon nya."


Saat itu ia langsung melemparkan ponsel nya ke kasur dan menuju ke lemari nya. Untuk mengganti pakaian nya denga piyama, dan setelah nya kembali merebahkan diri di kasur untuk istirahat.


Ke esokan hari nya


Revan baru saja turun dari mobil nya sembari mengutak atik dasi di leher nya.


Melihat Ziva berada tak jauh dari nya, ia pun menghampiri nya.


"woy cupu!" Seru Revan yang membuat Ziva menoleh malas.


"lo kenapa dah? Kusut banget tuh muka kayak gak pernah di setrika"


"gak papa" lirih Ziva yang mana ia tak sengaja bangun di tengah malam dan berakhir menbaca novel nya.


"eh, lo bisa pasang dasi gak?" tanya Revan yang berhasil membuat Ziva menghentikan langkah nya.


Ziva berbalik menghadap Revan dan kemudian segera memsangkan dasi nya, tanpa sepatah kata pun.


"kok lo diem aja sih? Lo gak heran apa liat penampilan gue?" ujar Revan yang membuat Ziva menilai penmpilan Revan dari bawah sampai atas yang memang sedikit berbeda karena jarang sekali Revan menggunakan dasi.


"cuma dasi doank" lirih Ziva kemudian kembali melanjutkan langkah nya.


"dia buta atau gimana sih?" seru Revan kemudian menyusul langkah Ziva. "eh, cupu masa cuma dasi doank. Gak liat gue dah rapi terus pake almamater."


Lagi lagi Ziva menghentikan langkah nya, walaupun kepala nya masih cenat cenut.


"rambut sama baju lo benerin duku, percuma aja lo pake almamater kalo baju lo keluarin"


Mendengar penuturan Ziva, ia segera memasukan baju nya ke dalam celana yang membuat Ziva memalingkan wajah nya.


"kalo lo mau masukin baju jangan di depan cewek. Gak malu apa sih?" cecar Ziva.


"iya iya sorry, gimana sekarang?" tanya Revan.


Tiba tiba tubuh Ziva oleng, karena kepala nya kembali berdenyut.


Namun dengan sigap, Revan menangkap lengan Ziva.


"Zi, lo kenapa?" tanya Revan khawatir.


"hah?" Ziva masih memegang ujung hidung nya.


"gak papa, cuma kecapean." dusta Ziva yang membuat Revan menyernyit karna di lihat nya muka Ziva sedikit pucat.


"gue anter ke uks?" tawar Revan yang di sambut gelengan kepala.


"lo benerin almamaternya, kancingin biar rapi, terus rambut lo benerin berantakan banget." ujar Ziva mengalihkan perhatian.


"Ya Allah, jangan sekarang!" batin Ziva menangis.

__ADS_1


__ADS_2