
Tak terasa waktu terus berjalan, hari pun sudah mulai gelap. Ziva pun merasa bosan karena terus berdiam diri di kamar. Ia memutuskan untuk pergi keluar menghilangkan rasa bosan nya.
"Apa gue ke Flow Cafe aja ya??" Monolog Ziva sembari menatap cermin karena ia sedang menyisir rambut nya.
"Oke, ke sana aja deh... Lagian kan ada bang Zidan jadi kak Mike gak bakal marah!!" Seru Ziva yang sedang menguncir satu rambut nya.
Setelah selesai, ia segera mengambil jaket nya yang berwarna cream senada dengan warna baju nya. Kemudian ia berjalan keluar kamar, namun di tangga ia berpapasan dengan Rega dan Samudra.
"Loh Queen Lo mau kemana??" Tanya Samudra.
"Gue mau ke Flow Cafe, suntuk gue!!" Seru Ziva.
"Tapi Zi, bang Mike udah nitipin Lo sama gue!! Bisa bisa jadi perkedel gue kalo Lo pergi sendiri!!" Ujar Rega merinding ketika mengingat mode savage nya Mike.
"Tenang aja, gue di jemput kok!!" Seru Ziva.
"Di jemput ?? Sama??" Tanya Rega bingung.
Tin tin
"Tuh orang nya Dateng!!" Seru Ziva sembari berjalan menuju pintu.
Karena penasaran, akhir nya Rega dan juga Samudra mengikuti langkah Ziva. Sesampai nya di luar, Rega di kejutkan dengan kehadiran seorang pemuda yang sedang melepas helm nya.
"Revan!" Seru Rega.
"Hai!!" Revan melambaikan tangan kepada Rega dan Samudra.
"Loh dia kan, Leader nya White Eagle ya kan!!" Seru Samudra bingung.
"Queen kenal sama dia??" Tanya Samudra bingung.
"Maka nya jangan sibuk sama urusan Lo sendiri, jadi gak tau update dunia!" Gerutu Rega.
"Revan itu temen sekolah nya Ziva, sekelas, dan dia juga yang udah nyelametin Ziva pas insiden tadi, yang gue ceritain ke Lo barusan!!" Seru Rega.
"Really??" Samudra seakan tak percaya karna yang ia dengar leader White Eagle itu dingin dan kejam.
Tapi yang di hadapan nya ini, adalah sosok yang ramah bahkan tak sungkan tersenyum pada Queen nya. Revan pun dengan begitu lembut Merapikan anak rambut Ziva yang berantakan.
"Jangan heran, cinta emang bisa ngerubah segala nya!!" Seru Rega.
__ADS_1
"Cinta??" Samudra semakin bingung di buat nya.
"Dah lah yuk masuk, sampe tahun gajah berubah jadi ayam pun Lo gak bakal ngerti!!" Seru Rega merangkul bahu Samudra.
"Zi, kita masuk!! Ati ati di jalan jangan lupa ngabarin bang Mike!!" Seru Rega kemudian masuk kembali ke dalam base camp.
Ziva hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah teman teman nya itu.
"Lo yakin mau keluar?? Lo udah gak papa??" Seru Revan yang masih khawatir sama keadaan Ziva.
"Iya suntuk gue di kamar Mulu!!" Gerutu Ziva.
"Ya udah, mau kemana??" Tanya Revan.
"Flow Cafe!!" Seru Ziva antusias.
"Flow Cafe?? Lo mau..."
Belum sempat Revan menyelesaikan kata kata nya, Ziva sudah mengangguk antusias. Revan tersenyum puas melihat tingkah Ziva yang menurut nya sangat menggemaskan itu.
"Oh ya Zi, Lo mau gak ngajarin gue, Reno, Randi sama Vito??" Tanya Revan.
"Belajar??" Tanya Ziva memastikan.
"Ya udah kalo gitu mulai besok abis pulang sekolah kita les nya!!" Seru Ziva, ia senang dengan perubahan sikap Revan dan teman teman nya.
Apalagi Randi, meskipun mereka sepupuan namun biasa nya Randi slalu menolak jika Ziva ingin memberikan privat les untuk nya. Ziva benar benar khawatir dengan nilai kakak sepupu nya itu yang benar benar bobrok. Bahkan Om Ridwan pun mengeluh dengan nilai Randi yang semakin turun bukan nya naik. Ziva senang kalau akhir nya, Randi dapat pencerahan untuk belajar.
"Ya udah yuk naik!!" Seru Revan.
Ziva segera menaiki motor Revan, ia berpegangan dengan ujung jaket Revan. Revan pun mulai melajukan motor nya dengan kecepatan sedang, ia tak ingin menyia nyia kan waktu nya bersama Ziva. Di tengah jalan Ziva melihat ada penjual cilok, ia meminta Revan menepikan motor nya.
"Mau beli??" Tanya Revan yang menyadari keinginan Ziva.
Ziva mengangguk antusias dan bergegas turun dari motor menghampiri penjual cilok itu. Revan pun mengikuti langkah Ziva, ia tersenyum melihat Ziva yang tersenyum riang. Entah mengapa Ziva seperti vitamin yang terus menambah kebahagiaan nya.
"Pak, beli cilok nya sepuluh!!" Seru Ziva.
"Oke neng!!" Seru sang penjual.
"Saya juga pak sepuluh!!" Seru Revan tiba tiba.
__ADS_1
"Lha Lo juga beli??" Tanya Ziva tak percaya.
"Belum pernah coba sih, tapi kalo Lo suka pasti enak!!" Seru Revan yang membuat Ziva tersipu malu.
Bapak penjual cilok itu pun hanya tersenyum melihat tingkah kedua sejoli ini.
"Ini pedes neng??" Tanya penjual cilok.
"Iya pak, Lo mau pedes atau gak??" Tanya Ziva.
"Iya pak pedes aja!!" Seru Revan.
"Ini cilok nya!!" Penjual itu menyerahkan dua bungkus cilok pesanan Revan dan Ziva.
"Ini pak uang nya!!" Revan menyerahkan uang seratus ribu.
"Gak usah pak, ambil aja kembalian nya!!" Seru Revan saat penjual itu hendak mencari uang kembalian.
"Tapi ini kebanyakan dek!!" Seru penjual cilok.
"Gak papa, buat anak bapak aja!!" Seru Revan tersenyum kemudian pamit pada penjual cilok itu.
Sesampai nya di motor, Revan dan Ziva segera melanjutkan perjalanan.
"Baik juga Lo!!" Seru Ziva.
"Baru tau gue baik, dari dulu kali!!" Seru Revan bangga.
Selama perjalanan mereka mengobrol ringan sambil sesekali bercanda. Ziva begitu nyaman saat bersama Revan, begitu pula Revan ia sangat senang bisa sedekat ini dengan sang pujaan hati.
"Anggep aja ini balas Budi gue Van, gue bisa jadi temen Lo tapi sorry gue gak bisa lebih!" Seru Ziva dalam hati tanpa sadar ia memeluk pinggang Revan.
Revan yang tiba tiba di peluk menjadi terdiam namun dalam hati nya begitu riang.
"Yess... Usaha gue gak sia sia!! Gue bakal bikin Lo jatuh hati sama gue Zi!!" Girang Revan bersorak dalam hati.
Mereka terlihat serasi ketika bersama, namun sayang nya Ziva tak mungkin membuka hati nya untuk Revan. Itu semua karena Ziva tak ingin orang lain terlibat dengan masalah nya. Dan lagi ia tak bisa begitu saja percaya dengan orang lain, ia hanya bisa percaya pada diri nya sendiri. Meski Revan sudah menyelamatkan nyawa nya, namun hati nya masih ragu.
Ia tak bisa mengambil resiko yang akan membuat semua rencana yang ia susun selama bertahun tahun hancur. Ia tak ingin pengorbanan nya selama ini menjadi sia sia. Ziva hanya bisa menerawang langit, merutuki nasib nya. Ia tak bisa seperti orang pada umumnya, namun ia takkan berhenti demi orang orang yang ia sayangi.
"Gue harap semua nya cepet berakhir!!" Batin Ziva.
__ADS_1
"Gue harap ini gak pernah berakhir!!" Batin Revan.
Kedua nya memiliki harapan yang berbeda dengan artian yang berbeda juga. Entah Tuhan akan mengabulkan harapan mereka atau tidak, itu hanya mengikuti jalur takdir. Karna takdir sudah di tentukan, namun tak di pungkiri bahwa orang bisa merubah takdir nya. Sekarang hanya bersisa harapan yang terus menguatkan mereka. Dalam keadaan paling terpuruk sekalipun, selama masih ada harapan maka mereka tau cahaya itu pasti akan datang.