
Jadi di sini lah mereka berada. Di tengah lapangan yang terbuka memberi hormat pada tiang bendera di siang bolong. Menjadi tontonan gratis para murid.
"Gue masih gak nyangka kalo kita semua bisa masuk ke dalam jebakan tu cewek tengil, sumpah gue pikir dia tuh polos!!" Keluh Vito.
Gio mengusap peluh di dahi nya.
"Gue juga gak nyangka. Gue kira dia itu cupu ternyata suhu."
"Dengan kapasitas otak nya dia, gak mungkin dia jadi orang bego!!" Imbuh Reno.
"Kayak jadi orang yang gue suka."
Mereka bertiga menatap Revan dengan tajam.
"Kita udah di hukum kayak gini, dan Lo masih sempet sempet nya ngebanggain dia." Reno menunjuk sebuah arah.
Mereka mengikuti arah yang di tunjuk oleh Reno. Di sana ada Ziva, yang berdiri di koridor lantai dua, menikmati sebotol yogurt di tangan nya.
Meskipun jarak mereka cukup jauh, tapi merek masih bisa melihat senyuman mengejek di wajah cantik nya itu.
"Sial!! Senyum nya udah kayak Joker anjiirr!!" Umpat Gio.
Revan dengan konyol nya malah melambaikan tangan ke arah Ziva dan melakukan kiss bye beberapa kali.
Ziva menatap Revan dengan aneh sebelum masuk ke dalam kelas. Revan langsung lemas melihat Ziva menghilang dari pandangan nya.
"Gue jijik liat ekspresi muka Lo Van!!" Ujar Reno.
"Gak heran kalo Ziva nolak lo mentah mentah. Kalo gue jadi Ziva juga, gue bakal ilfeel duluan sih sama Lo!!" Imbuh Vito.
"Masa sih!?? Emang masih ada cewek yang bisa nolak pesona gue!!"
Sudut bibir Reno berkedut.
"Lo sejak kapan sih jadi narsis kayak gini? Gue kira Gio udah cukup narsis, tapi ternyata Lo...." Reno tak bisa melanjutkan kata kata nya.
"Lo kok bawa bawa nama gue sih??" Protes Gio.
Baru saja ingin membalas Gio, Reno terdiam mendengar ucapan dari Bu Beta.
"Kalian berempat, jangan ngobrol, berdiri yang bener!!"
"Gue tandain tuh cewek!! Awas aja lu Zi!!" Gerutu Gio.
Ziva terus tersenyum di sepanjang kelas, membuat Randi curiga.
"Ra, Lo kenapa sih?? Kayak nya lagi happy banget."
__ADS_1
Ziva berdehem dan mengontrol ekspresi wajah nya.
"gak kok, gak ada. Perasaan Lo aja kali" Elak Ziva.
"Lo bohong!! Gue juga liat kok pas Lo senyum senyum sendiri!!" Sela Sisil.
Ziva akhirnya tak bisa menutupi semua nya dari mereka, sambil menahan tawa nya Ziva menceritakan semua yang ia lakukan pada Revan dan teman teman nya.
Sisil memegang perut nya saat ia tertawa terbahak bahak.
"Gila Lo ya?? Pantesan aja mereka tiba tiba di hukum di lapangan ternyata Lo dalang nya."
"Siapa dulu, Ziva gitu loh!!" Seru Ziva.
"By the way, Ra... Kayak nya kita harus ngurus Syila deh. Masa Lo biarin gitu aja!!" Seru Randi yang khawatir, ia tak ingin kejadian beberapa hari lalu terulang kembali.
"Tenang aja Kak, semua nya dalem kendali... Lagi pula gue dah buka kedok gue jadi walau pun dia mau berbuat harus mikir dulu!!" Jelas Ziva.
"Lagian bokap nya donatur sekolah ini, gue cuma mau hidup tenang selama gue sekolah di sini!!" Tambah Ziva.
"Tapi Zi, kalo Lo diem aja, mereka bakal makin semena mena!!" Sisil mendengus tak habis pikir dengan Ziva.
"Iya Ra, apalagi semua siswa di sini, nyangka Lo itu Queen Warrior dan setau mereka Warrior itu cuma anak jalanan biasa. Mereka pasti mikir nya Lo cuma cewek biasa, cewek miskin yang gak punya apa apa!! Gue khawatir itu bakal ngancem Lo!!" Seru Randi memperingati Ziva.
"Liat aja nanti deh, kalau dia emang makin keterlaluan... Gue bakal aduin ke bokap Lo!!" Seru Ziva pada Randi.
Ziva hanya tersenyum tipis dengan penuturan Sisil. Ia diam bukan karena baik, tapi ia tidak ingin memancing kecurigaan seseorang.
Ziva menatap dua orang siswi yang melewati kelas nya dari jendela. Tatapan nya berubah menjadi dingin saat ia melihat jelas sosok itu.
Randi yang sedari tadi mengamati Ziva terkejut dengan tatapan Ziva yang berubah menjadi sangat dingin.
"Ra, are you okey??" Ziva tersentak dari lamunan nya, dan menggeleng pada Randi.
"Ra, gue tau... Tapi Lo harus tetep tenang, jangan sampe Lo celakain diri Lo sendiri." Peringat Randi ketika tanpa sengaja ia menyadari apa yang di lihat oleh Ziva.
"Lo harus bisa nahan diri, kalo sampe ada yang curiga bisa gagal semua rencana Lo!!" Gumam Ziva sembari menggigit bibir nya.
Hujan deras turun saat belum pulang berbunyi. Ziva mengingat kalau ia lupa membawa payung.
"Gimana nih?? Mana mama sama papa baik hari ini" Ziva mendesah pelan.
"Zi, biar sopir gue nganter Lo pulang ya??" Tawar Sisil.
"Gak deh, gue mau nunggu hujan nya reda aja. Rumah Lo sama rumah gue tuh berlawanan arah." Tolak Ziva.
Tidak peduli bagaimana pun Sisil membujuk nya, Ziva tetapi dengan pendirian nya. Randi sudah pulang duluan karena ia di minta mama nya untuk pulang lebih awal.
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu gue duluan ya!!" Ujar Sisil dengan pasrah.
Sisil berlari kecil menerobos hujan dan masuk ke dalam mobil jemputan nya
"Ini hujan. kok kagak mau berhenti sih!!" Keluh Ziva.
Para murid perlahan berkurang, hanya menyisakan Ziva dan 5 murid lain yang sedang menunggu jemputan nya.
"Terobos aja kali ya??" Tanpa pikir panjang Ziva langsung menerobos hujan.
Namun baru beberapa langkah ia sudah di hentikan oleh sesosok laki-laki yang muncul di hadapan nya. Laki laki itu menutupi kepala Ziva dengan payung yang ia bawa, membuat Ziva mendongak.
Mata nya bertubrukan dengan netra gelap Revan.
"Lo??!!"
"Hai!!" Revan tersenyum manis menatap Ziva.
"Ngapain sih Lo ada di mana mana?"
"Gue kan pewaris Baskara Grup, terserah gue lah mau kemana aja!!" Seru Revan dengan bangga.
Ziva terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menggelengkan kepalanya.
"gak pernah denger yang nama nya apa tadi... Bas.. Bas grup apalah itu..."
Revan tersedak lidah nya sendiri.
"Lupain aja! Yang jelas kata kata Lo waktu di rumah gue waktu itu... Makasih"
Ziva mengangkat sebelah alisnya dan mengambil alih payung dari tangan Revan.
"Gue tiba tiba nyesel bilang kek gitu sama Lo" Setelah mengucapkan itu Zva pergi dengan payung nya.
Meninggalkan Revan sendiri yang tercengang di bawah guyuran hujan.
"LO BOLEH NYESEK KARNA UDAH BILANG KEK GITU!! TAPI GUE PASTIIN LO GAK BAKAL NYESEL KARNA UDAH BIKIN GUE JATUH CINTA SAMA LO!!" Teriakan Revan cukup keras walaupun teredam suara hujan.
Langkah Ziva melambat tapi ia tak berbalik
"Tapi Lo gak bakal bahagia karena Keputusan Lo buat jatuh cinta sama gue."
Meskipun Ziva tak mengatakan nya dengan lantang, Revan yang tak jauh dari nya masih bisa mendengar kalimat itu.
Di bawah kebingungan Revan, Zva membawa langkah nya lebih cepat.
"Kita gak di takdir kan bersama Van!!" Lirih Ziva
__ADS_1