Most Wanted School

Most Wanted School
Rumah Sakit


__ADS_3

Deg


Jantung Sisil seakan berhenti berdetak mendengar pernyataan dari Randi.


"Penting??!!!" Batin Sisil.


Sisil terus saja menjernihkan pikiran buruk nya tentang maksud dari pernyataan dari Randi itu. Dia tak ingin salah paham dengan sahabat baru nya ini, tapi hati dan logikanya menolak. Dia benar benar kecewa, tapi melihat sahabatnya sedang terpuruk seperti ini ia menjadi tak tega.


Bruuukkk


Semua perhatian teralihkan saat Ziva tiba tiba ambruk tak sadar kan diri dalam pelukan Sisil. Sisil yang tak siap pun terkejut ketika Ziva tiba tiba pingsan dan tak sempat menangkap nya.


"Zii....." Teriak Revan yang langsung berlari ke arah Ziva.


Tanpa berpikir panjang ia langsung menggendong Ziva, namun belum melangkah suara Randi membuat nya bergeming.


"Van, bawa dia ke mobil!! Ke rumah sakit sekarang!!" Seru Randi dengan mata yang sudah sangat merah, entah itu karna amarah atau emosi yang lain.


Revan tak banyak bertanya, ia segera membawa Ziva ke mobil Randi. Dengan segera ia membaringkan tubuh Ziva di kursi belakang begitu pun dengan nya. Randi segera memasuki mobil nya dan langsung membelah jalanan.


"Zi, Lo harus baik baik aja!!" lirih Randi namun masih bisa di dengar oleh Revan.


Entah kenapa telinga Revan begitu panas mendengar nya, ia emosi ketika Randi begitu perhatian pada Ziva. Namun saat melihat kondisi Ziva yang sekarang membuat nya mengurungkan niat untuk memarahi Randi.


Marah?? Ya ia marah ketika Randi dengan lantang menyebut Ziva penting untuk nya, ia tak terima. Namun ia menampik pikiran itu dengan segera, ia yakin itu bukan karena dia ada rasa dengan gadis yang berbaring di sisi nya ini.


"Kenapa?? Kenapa gue jadi kayak gini?? Bukan nya gue suka sama Syila?? Tapi kenapa hati gue malah gak terima Randi ada hubungan sama cupu??" Batin Revan terus berkecamuk sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit.


Tak lama mereka tiba di pelataran rumah sakit, Randi bergegas turun dan membuka kursi belakang. Ia segera mengeluarkan Ziva di bantu oleh Revan yang menjaga agar kepala Ziva tak terbentur.


Di sana sudah ada beberapa perawat dan seorang dokter laki laki yang sudah bersiap. Dari mana mereka tau kalau akan ada pasien darurat?? Jawaban nya karena Suster Anna kebetulan lewat saat keramaian itu terjadi, ia melihat Ziva di gendong oleh Revan. Dan ia bergegas menelpon dokter David untuk bersiap kemungkinan terburuk.


"Zii...." Panggil Randi sembari menggenggam tangan Ziva yang sudah di dorong menggunakan brangkar.

__ADS_1


Revan hanya menatap wajah sahabat nya itu dengan sendu.


"Apa iya gue suka sama Ziva?? Kalo iya, Randi...??" Revan bimbang dengan hati nya sendiri.


Jika ia benar benar sudah ada rasa dengan gadis berkacamata itu, lalu bagaimana selanjutnya. Ia bisa melihat kecemasan yang begitu besar dari mata Randi dan bisa di pastikan hubungan dua orang ini tak biasa. Revan tertawa kecut dalam hati, seharusnya ia bisa melihat perubahan dari Randi. Randi begitu membela gadis ini sejak pertama kali ia masuk ke sekolah nya.


Dia tak habis pikir kalau dia sudah kalah sebelum berperang, karna walaupun ia menyukai gadis ini namun ia tak bisa mengkhianati sahabat nya. Bagi nya persahabatan jauh lebih penting dari pada seorang gadis.


"Apa ini rasa nya kalah sebelum perang? Apa ini yang nama nya mati sebelum berjuang?? Kenapa dadaku segini sakit nya??" Batin Revan yang tak terasa setetes air mata lirih di pipi nya.


"Maaf kalian berdua silahkan tunggu di luar!!" Ujar salah satu suster yang segera menutup ruang IGD.


Randi menatap cemas pintu ruangan itu, tatapan kosong. Revan lebih memilih menyandarkan punggungnya di dinding samping pintu itu.


"Van!!" Panggil Randi yang membuat sang empu menoleh.


"Jujur sama gue!! Lo ada perasaan sama Ziva??" Tanya Randi tanpa menoleh pada Revan.


Sedangkan Revan hanya menghembuskan nafas berat, ia tak tahu harus menjawab apa.


"Gue gak tau, tapi gue gak bisa liat keadaan dia yang kayak gitu!!" Jelas Revan yang memang kenyataannya seperti itu.


"Lo sendiri??" Tanya Revan melirik ke arah Randi.


"Dia penting buat gue!! Jangan pernah Lo permainin dia Van!!" Tandas Randi.


"Lo cinta sama dia??" Tanya Revan yang membuat Randi terkekeh.


"lucu Lo, mana mungkin!! Gue sayang sama dia sebagai kakak ke adek nya!!" Seru Randi yang membuat Revan tertegun.


"Kakak??" Batin Revan.


Entah mengapa setelah mendengar Randi hanya menganggap Ziva sebagai adik nya Revan begitu merasa lega.

__ADS_1


"Lo beneran suka sama dia??" Tanya Randi lagi.


"Gue gak tau, tapi gue nyaman selama beberapa waktu ini sama dia" Jujur Revan tanpa menutupi apapun.


"Pastiin perasaan lo, Van!! Jangan sampe Lo nyesel pas dia udah sama yang lain!!" Peringat Randi.


Randi begitu menganggap penting persahabatan nya dengan Revan. Jujur baru kali ini ia melihat Revan ada sisi seperti ini, memang baru dugaan kalau sahabat nya itu menyukai sepupu nya. Namun bila memang seperti itu, ia akan mendukung keras. Karna ia sangat tahu sifat dan kepribadian Revan yang mungkin buruk di luar. Tetapi untuk seseorang yang ia anggap penting, ia tak kan ragu mengorbankan nyawa nya sendiri untuk kebahagiaan orang itu.


Randi akan tenang bila ada orang seperti Revan yang menjaga adik nya itu.


"Maksud Lo??" Tanya Revan.


"Nathan!!!" Tandas Randi yang membuat Revan tertegun.


"Nathan??? Cowok yang di telpon Ziva waktu itu??" Batin Revan.


Kepala nya pun kembali panas mengingat betapa manja nya nada bicara Ziva pada lelaki itu. Ia juga ingat sekali dengan senyuman manis yang di lontarkan Ziva saat menerima telpon itu.


"Apa bagus nya dia??" Tanya Revan cuek yang membuat Randi terkekeh.


"Dia jauh lebih mengenal Ziva, dan dia slalu mendampingi Ziva selama ini! Menurut Lo apa posisi dia di hati nya Ziva??"


Dannnnnn Skak Mat..... Hahahaha.....


Revan mati kutu menjawab pertanyaan dari Randi yang satu ini.


"Terserah!!" Cuek Revan.


"Jangan sampe Lo nyesel Van!!" Tegur Randi.


"Gue bakal pastiin hati gue dulu karna jujur nama Syila masih melekat di hati gue!! Dan seperti yang Lo bilang Lo udah anggep Ziva kayak adek Lo sendiri!! Jadi gue gak mau kasih harapan palsu terus nyakitin dia, gue gak mau persahabatan kita hancur karna cewek!!!" Tegas Revan yang membuat Randi tersenyum senang.


"Terserah Lo aja!!"

__ADS_1


Randi pasrah dengan jawaban dari Revan, ia merogoh saku seragam nya. Ia mengambil ponsel nya, dan hendak menghubungi seseorang. Namun di hati nya bimbang, karna ini akan jadi bencana untuk nya. Ia tau ini kesalahan nya karna tak bisa menjaga Ziva. Tapi mau tak mau ia harus memberitahu pada Harimau Jantan yang satu itu.


"Halo!!"


__ADS_2