
"tapi gue gak bawa sisir, lo kan cewek biasa nya cewek suka bawa sisir kemana mana" ujar Revan yang membuat Ziva menggelengkan kepala.
Tuing
"cewek jadi jadian lo! Masa lo gak bawa sisir!" dengan enteng nya Revan menoyor keala Ziva.
"ya emang gak bawa Van. Sini biar aku bantu rapiin"
"kenapa bibir lo maju kayak bebek? Gak ikhlas lo?" tanya Revan yang membuat mood Ziva makin anjlok.
"bawel!" liarih Ziva kemudian berjinjit untuk merapikan rambut Revan.
Deg
Jantung Revan pun berdetak sangat kencang ketika Ziva berada di hadapan nya. Belum algi jarak mereka yang sangat dekat, karena ia belun pernah sedekat ini dengan perempuan.
"u udah udah gue bisa sendiri" seru Revan menjauhkan diri dari Ziva.
"ya udah kalo gitu." seru Ziva yang langsung melanjutkan langkah nya menuju kelas dan tanpa sengaja berpapasan dengan Sisil"
"hai Zi"
"hai Sil" sahut Ziva.
"kebetulan banget kita ketemu di sini? Kelas bareng yuk!" ajak Sisil dengan bersemangat.
"yuk"
"lo kenapa sih kayak lesu banget." lanjut Sisil ketika melihat ada yang tak beres dengan Ziva.
Wajah nya terlihat pucat dan murung.
"abis begadang, maka nya capek." alibi Ziva yang memang benar ia begadang semalam.
"ohh... Ya maka nya jangan begadang." seru Sisil yang kemudian memasuki kelas mereka.
"tumben lo rapihhh!" seru Randi ketika Revan baru saja masuk kelas.
"iya lah, gue harus berubah demi anyank Syila. Lo kan tau gimana type nya Syila." cengir Revan sembari mendudukan diri nya di bangku.
"tapi gue ngerasa ke ini bukan lo aja" timpal Reno yng duduk di samping nya.
"masih tetep gue kok." timpal Revan yang tak lama bell berbunyi.
Lagi dan lagi Ziva menguap bahkan penjelasan dari sang guru pun tak ia dengarkan. Penjelasan dari sang guru malah ia anggap sebagai dongen pengantar tidur.
"duhhh, ngantuk mana laper lagi!" gumam Ziva yang mana masih dapat di dengar oleh Reno.
Reno menoleh ke belakang, dan benar saja Ziva sudah tertidur dengan kepala di aats meja dan tangan nya sebagai bantalan.
Tak ingin sang guru melirik ke arah Ziva, Reno pun membentangkan jaket nya dan menegakan punggung nya agar Ziva terhalangi eleh nya.
"kayak nya dia kecapean karena harus ngeluangin waktu buat ngajarin si Revan" pikir Reno kemudian lanjut mencatat penjelasan dari guru.
Hingga pada akhir nya Pak Jojo menuliskan sebuah soal di papan tulis. Dan berjalan untuk memilih salah satu murid untuk mengerjakan soal nya.
"semoga aja Pak Jojo gak kesini" batin Reno.
Namun sayang nya, apa yang ia harapkan tak kunjung terjadi karena Pak Jojo sedang berjalan ke arah nya. Kemudian menghampiri Ziva yang sedang tertidur pulas.
Brakkk
__ADS_1
Dengan keras Pak Jojo menggeprak meja Randi yang kebetulan berada i samping Ziva. Dan tentu saja membuat Ziva gelagapan dan langsung terbagun.
"mampus!" maki Ziva dlam hati karena menyadari kesalahan nya.
"ini kelas Ziva bukan nya tempat tidur! Kenapa kamu tidur di kelas!" ujar Ak Jojo dengan suara yang menggelegar
"ma maaf pak saya ketiduran" lirih Ziva menunduk.
"astaga! Maka nya jangan begadang, tidur yang cukup. Kalo kayak gini kan kmu yang rugi karna gak dengerin penjelasan dari bapak. Sekarang kamu maju ke depan dan isi soal di papan tulis." titah Pak Jojo sembari menyerahkan spidol ada Ziva.
Saat itu juga Ziva segera maju ke depan.
"gak sia sia gue les" senyum Ziva ketika ia mengerjakan soal dengan cekatan tanpa terlihat kesusahan sedikit pun.
Pak Jojo pun mengangguk ngangguk dengan mata tertuju pada papan tulis.
"hebat!" lirih Sisil mengacungkan kedua jempol nya ada Ziva.
Setelah meletakan spidol itu, Ziva berpegangan pada papan tulis. Dada nya terasa begitu sesak, dan kepala nya kembali cenat cenut. Pangkal hidung nya pun mulai terasa sakit lagi.
"jangan!" batin Ziva memberontak.
Tes
"Pak, Ziva mimisan!" ujar salah satu murid yang duduk di barisan depan.
Seketika semua orang mengalihkan perhatian nya pada Ziva. Pandangnya mulai mengabur
Brukkk
"Ziva!" teriak seisi kelas ketika melihat Ziva ambruk begitu saja.
Dengan cepat Revan berlari menuju Ziva dan segera menggendong nya. Revan berlari sepanjang koridor menuju uks, tanpa mempedulikan tatapan heran dari siwa lain yang ada di dekat jendela.
Sesampai nya di uks Revan membaringkan tubuh Ziva di brangkar dan segera di sambut oleh suster Anna.
"ya ampun, dia kenapa?" Suster Anna sangat panik ketika melihat keadaan Ziva yang sudah penuh darah.
"gak tau, sus. Tadi dia pingsan di kelas, terus darh di hidung nya juga gak berenti" ujar Revan cemas melihat keadaan Ziva.
"kamu tunggu di luar dulu, biar saya yang urus." Revan oun terpaksa menuruti suster Anna dan menunggu di luar.
Sementara di kelas sudah heboh dengan pingsan nya Ziva. Dan lebih heboh lagi ketika Revan sendiri yang menggendong dan membawa nya ke uks.
"udah udah, lanjut pelajaranan nya" Ujar Pak Jojo yang sebenarnya tak kalah khawatir melihat keadaan Ziva tadi.
"lo kenapa Ra? Gue khawatir banget sama lo! Tapi gue gak bisa tunjukin itu, yang ada yang lain bakal curiga." batin Randi yang sangat mengkhawatirkan adik sepupu nya itu.
Sisil pun tak jauh beda, ia terus merapalkan doa agar Ziva baik baik saja. Jujur dia tulus berteman dengan Ziva, dan sudah sedari pagi ia tak enak melihat wajah Ziva. Taoi ia tak tahu kalau akan terjadi hal seperti ini.
Ia hanya berpikir bahwa Ziva hanya kelelahan.
Tes
Tak terasa setetes air mata tumpah dari pelupuk mata nya. Dan hal itu tak luput dari andangan Randi.
"Zi, lo gak papa kan? Gue khawatir" bitin Sisil.
Di uks
"uhuk uhuk" Ziva terbatuk ketika sadar.
__ADS_1
Terlihat suster Anna sudah memberika pertolongan pertama dan mengganti seragam Ziva yang terkena noda darah.
"Zi, kamu udah sadar?" suster Anna segera menyodorkan air dan juga obat pada Ziva.
Dengan segera Ziva menegak obat itu di bantu air di genggaman nya.
"makasih sus" lirih Ziva.
"kamu tau kondisi kamu Zi. Kamu gak seharusnya kecapean. Zi. Inget sama kese..."
"udah, sus. Aku dah gak papa. Aku balik kelas." ujar Ziva turun dari ranjang.
"eh, Zi. Lo udah gak papa?" tanya Revan yang baru memasuki uks setelah mengganti seragam nya karena tadi saat ia menggendong Ziva tak sengaja seragam nya terkena noda darah.
"hmm, aku gak papa kok. Balik kelas yuk!" ajak Ziva.
Revan menoleh ke arah suster anna. Suster Anna pun mengangguk, dan membuat Revan pasrah mengikuti Ziva untuk kembali ke kelas.
Sampai di kelas, mereka permisi dengan guru yang sedang mengajar dan kembali ke bangku masing masing.
"Zi lo gak papa?" tanya Sisil.
"gak papa kok, kata suster Anna cuma kecapean doank. Terus agak stress" dusta Ziva.
"stress kenapa?"
"memikirkan langit tak bertiang" Ziva terkekeh melihat wajah kesal Sisil.
"ishh gue serius tau." ujar Sisil mengerucutkan bibir nya.
"hmm iya deh, iya maaf. Tapi aku bener gak papa" ujar Ziva sembari tersenyum semanis mungkin.
"gak papa tapi sampe mimisan gak berenti gitu. Boong amat. Sok kuat!" cecar Revan dalam hati.
Entah kenapa Revan jadi begitu kesal mendengar percakapan Ziva dan juga Sisil. Ia tak suka Ziva sok kuat adahal dia sakit. Bisa di lihat dari wajah nya yang sedikit pucat.
"syukur lah kalo dia gak papa, gue pikir kenapa bis sampe pingan gitu?" batin Reno.
Ting
Eebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Ziva.
From : Randi
To. : me
Lo kenapa? Ada yng sakit?
From : me
To. : Randi.
Gak papa kak, cuma kecapean doank. Abis begadang tadi malem.
From : Randi.
To. : me
Lagian lo gaya gayaan pake begadang, fisik lo lemah gitu
From : me
__ADS_1
To. : Randi
Lemah gini Queen nya Warrior