
Sesampai nya di sekolah, Revan dan Ziva sudah menjadi pusat perhatian banyak pasang mata. Banyak mata yang iri melihat kedekatan mereka berdua, bahkan ada yang sampai histeris melihat Ziva turun dari mobil Revan. Di sepanjang perjalanan banyak sekali komentar tentang mereka, entah itu komentar menyenangkan atau komentar pedas pun tak luput dari perhatian.
Anggota White Eagle yang lain, yang sebenarnya ikut berjalan beriringan dengan Revan dan Ziva pun menjadi terabaikan. Padahal mereka juga di sana, tapi seperti tak di anggap oleh orang orang. Mereka terus meneriakkan, kenapa mereka jalan berdua. Padahal jelas jelas Revan dan Ziva tidak berdua sama sekali. Tapi seakan buta, siswi di sana terus berteriak tak terima jika Revan berjalan berdua dengan Ziva.
"Oh astaga!! Ni orang pada buta apa ya?? Gak liat ada kita!!" Tutur Vito.
"Dah lah nasib orang tak di kenal!!" Drama Gio sembari akting sedih yang kurang meyakinkan.
"Lebay lu!!" Sorak Anggota White Eagle lain nya.
"Yah wajar aja lah kalo mereka bilang gitu, liat aja tuh si Revan nempel Mulu kayak perangko!!" Seru Reno.
"CK,... ya juga sih!!" Ujar Randi yang tiba tiba muncul di samping Gio.
"Eh anak ayam!!" Kaget Gio karna Randi tiba tiba berada di samping nya.
Pletak
"Enak aja lu, siapa yang anak ayam!!" Kesal Randi
"Awww sakit ogep!!" Ringis Gio mengusap kening nya.
"Rasain!! Siapa suruh ngatain gue anak ayam!!" Seru Randi.
"Dih siapa juga yang ngagetin orang, kayak setan dah lu bang!!" Sahut Gio.
"What?? Setan??" Ulang Randi dengan ekspresi wajah yang sulit untuk di artikan.
"Iya Dateng tak di undang pulang tak di antar!!" Seru Gio
"Dah, jailangkung donk ah!!" Seru Vito yang di sambut tawa Anggota White Eagle lain nya.
"Van, gue mau ke ruang guru dulu! Kalo Lo mau masuk kelas dulu ya udah gak papa!!" jelas Ziva.
"Mau ngapain?" Tanya Revan.
"Gue mau ngasih ini, jadwal buat less tambahan yang ikut olimpiade sains!!" Seru Ziva sembari mengangkat sebuah map.
"Oh oke!!" Sahut Revan.
Ziva pun segera meninggalkan rombongan Itu dan langsung bergegas ke ruang guru. Sampai di sana ia langsung memberikan map itu pada Bu Sarah.
__ADS_1
"Makasih ya!! Maaf jadi kamu yang repot!!" Ujar Bu Sarah.
"Gak papa Bu!! Gak repot kok!!" Seru Ziva.
"Oh iya nanti pulang sekolah jangan pulang dulu ya, kita kumpul di ruang sains!! Wakil kepala sekolah minta untuk evaluasi kemampuan kalian dulu!!" Seru Bu Sarah.
"Oh iya Bu!!" Sahut Ziva
" Ya udah kamu udah boleh kembali ke kelas!!" Ujar Bu Sarah
Ziva pun bergegas keluar ruang guru berniat ke kelas. Namun di tengah perjalanan ia berpapasan dengan Syila dan Teman teman nya. Mereka pun menghadang jalan Ziva, bahkan Bianca dengan lancang menyeret Ziva.
"Apaan sih Lo!!" Seru Ziva ketika Bianca membawa nya ke ruang peralatan olahraga.
"Lo yang apaan!! Ganjen amet sih jadi cewek!!" Bentak Bianca.
"Maksud Lo??" Tanya Ziva memandang remeh pada tiga gadis di hadapan nya itu.
"Pelet apa yang Lo pakein ke Revan sampe sampe dia mau mau nya Deket sama cewek kayak Lo!!" Seru Stefanie.
"What pelet?? Hellooo jaman sekarang Lo masih percaya sama yang kek gituan!!" Ledek Ziva.
"Cih gak usah sok bersih deh Lo!!" Ketus Bianca sedangkan Ziva hanya mengangkat kedua bahu nya.
"Rebut dia?? Bentar bentar gue mau lurusin dulu!!" Seru Ziva.
"Emang dia dah pernah bilang dia suka sama Lo??" Tanya Ziva dengan percaya diri yang membuat Syila terdiam
"Ya dia emang gak pernah bilang, tapi dia kan slalu memperlakukan Syila spesial dari yang lain!!" Seru Bianca membela Syila.
"Spesial??" Ulang Ziva.
"Ya dari perhatian nya terus Revan juga kan yang ngasih tau Syila soal Bagas!! Itu pasti karna dia suka sama Syila dan dia gak mau Syila sama cowok lain!!" Seru Stefanie.
"Ohh, gitu!! Kalo masalah Bagas, mungkin dia kasian sama Lo!! Dan perhatian?? Perhatian yang kek gimana maksud Lo?? Pernah Lo di beliin makanan sama dia?? Pernah Lo di anterin pulang sama dia?? Pernah Lo di jemput buat berangkat bareng?? Oh ya satu lagi, Lo ada nomor pribadi nya Revan?? Pernah chat, telpon atau Vc??" Tanya Ziva bertubi tubi membuat tiga sekawan itu bungkam.
"Gak pernah ya?? Duh kasian banget, dah ngarep padahal gak berarti tuh!!" Ledek Ziva.
"Emang Lo pernah!!" Seru Bianca kalut yang membuat Ziva terkekeh.
"Pasang telinga kalian baik baik oke!! Dia sering beliin gue makanan, ngajak gue jalan, pas gue sakit dia yang nungguin gue, ngerawat gue, kalo Anter jemput yah Lo liat sendiri lah yahh!! And than liat nih!!" Seru Ziva memperlihatkan riwayat pesan, telpon dan vc nya yang kebanyakan dari Revan.
__ADS_1
"Ini... ini.. Gak mungkin!!" Elak Syila.
"Oh iya masih ada satu lagi, dia udah nyatain perasaan nya sama gue secara resmi!!" Seru Ziva memandang remeh ke arah Syila dan teman teman nya.
"What??" Teriak Syila dan teman teman nya yang shock.
"Tapi gue belom jawab!! Apa gue harus terima aja yah!!" Seru Ziva tersenyum miring.
"Lo..." Syila menunjuk wajah Ziva namun ia tak bisa melanjutkan kata kata nya.
"CK CK ck... Kasian banget sih!!" Ziva berjalan mendekat ke arah Syila.
Ziva menepuk bahu nya sekali dan kemudian beranjak pergi dari sana. Ziva berjalan dengan senyum penuh kemenangan. Langkah nya begitu pasti, pesona nya begitu terpancar sekarang. Setiap siswa yang berpapasan dengan nya seperti terhipnotis dengan pesona nya itu.
Meski ada saja yang berbicara miring tentang nya, yang terkadang terdengar nyaring di telinga nya. Namun Ziva tak menggubris nya, ia hanya terus berjalan menyusuri koridor menuju kelas nya. Sampai di kelas ia, di sambut oleh sapaan riang dari sahabat nya.
"Hai Zi!!" Sapa Sisil.
"hai!!" Sahut Ziva.
"Lo dari mana?? Perasaan Lo bareng mereka kan??" Seru Sisil menunjuk Revan.
"Gue ke ruang guru dulu!!" Sahut Ziva sembari duduk di bangku nya.
"Ruang guru?? Kok laamma banget??" Tanya Sisil.
"Hmm biasa lah beresin para tikus pengganggu dulu!!" Seru Ziva.
"Tikus??" Tanya Sisil bingung.
"Iya, nah tuh dia lewat!!" Sahut Ziva.
Refleks Sisil mengikuti arah pandangan Ziva yang menatap jendela kelas nya. Terlihat Syila dan teman teman nya sedang berjalan melewati kelas mereka.
"Them??" Tanya Sisil penasaran sedangkan Ziva hanya tersenyum.
"Wah bikin apalagi tuh orang!!" Seru Sisil tak percaya karna Syila terus saja membuat masalah untuk Ziva.
"Tenang aja, dah beres kok!!" Seru Ziva.
"Lo emang beda Zi!!" Bangga Sisil.
__ADS_1
"Iya lah, buat ngatasin yang kayak gitu gak perlu otot cuma perlu otak!!" Seru Ziva.