
Revan yang mendengar hal itu menjadi penasaran, terlihat banyak siswa siswi yang sudah berkerumun di sana.
"Woyy cepet tolongin!!" Teriak salah satu siswa di sana.
"Gila tuh cewek mau bunuh diri!!"
"Oyyy buruan panggil guru atau apa!!"
Mereka sama sekali tak bisa berpikir karna panik melihat ada seseorang yang akan jatuh dari roof top. Revan menatap ke arah roof top, dan betapa terkejut nya ia melihat siapa yang ada di sana. Begitu pun Randi dan teman teman nya, mata mereka melebar sempurna.
"Ziva!!!" Teriak mereka bersamaan.
Tanpa pikir panjang, Revan berlari sekencang mungkin menuju tangga. Ia tak peduli meski sesekali ia menabrak sesuatu baik itu orang maupun barang. Bahkan ia sampai tersandung di anak tangga, membuat kaki nya sedikit terbentur dengan keras.
Ia tak menghiraukan rasa sakit nya, yang ada di pikiran nya sekarang adalah gadis yang di cintai nya. Revan terus berlari meski rasa sakit mendera kaki nya sampai jalan nya pun sedikit terhuyung.
"Zi, Lo harus tahan!!" Gumam Revan berusaha berlari secepat mungkin menaiki tangga.
Sementara itu, Ziva seperti nya sudah tak sanggup bertahan lagi. Wajah nya sudah memerah karena rasa sakit di tangan nya saat menopang tubuh nya. Sampai satu tangan nya tergelincir dan kini hanya tersisa satu tangan lagi yang bergelantungan di besi itu.
"Aaaaaaaa...."
Di bawah sana pun semakin histeris, guru guru pun mulai panik melihat kejadian itu. Ada beberapa guru yang mencoba untuk naik ke roof top, namun langkah mereka masih lambat.
Ziva meneteskan air mata, ia benar benar merutuki diri nya sendiri. Kenapa ia bisa seceroboh ini?
"Shhiiittt!! Gue gak mau mati di sini!!" Lirih Ziva.
"Setidaknya gak dengan cara kek gini!!" Frustasi Ziva.
Ia berusaha, meraih besi itu dengan tangan nya yang satu lagi. Namun gagal, bahkan ia hampir terjatuh karena tindakan nya membuat para pegangan nya pada besi itu hampir terlepas.
"Sial!!" Rutuk Ziva.
Ziva benar benar di ambang frustasi, tangan nya sudah sangat lelah dan sakit. Ia tak bisa menahan berat badan nya lebih lama lagi. Ziva benar benar takut sekarang, sedangkan mereka yang di bawah benar benar tak membantu. Teriakan mereka justru tambah membuat Ziva takut dan menjadi frustasi.
__ADS_1
Ziva mendongakan kepala nya ke atas, ia kembali mencoba meraih besi itu. Dan kali ini berhasil menyentuh nya, namun hanya sedikit dan itu membuat ia gagal lagi. Bahkan tubuh nya sedikit terbentur ke tembok, ia merasakan sakit di sekujur tubuh nya.
"Zi, Lo harus kuat!!" Monolog Ziva.
Sedangkan di sisi lain, Randi panik dan segera menyusul Revan berlari menuju roof top. Begitu pula dengan Reno, Vito dan juga Gio.
"Zi, jangan sampe Lo kenapa kenapa!!" Randi terlihat begitu cemas.
"Tenang Ran, Revan udah duluan!! Ziva pasti gak kenapa kenapa!!" Reno berusaha menenangkan Randi sembari berlari mengiringi langkah Randi.
Meskipun begitu sejujur nya hati Reno pun tak tenang. Ia bagai di sambar petir ketika melihat Ziva berada di atas sana. Tapi ia berusaha tetap tenang agar ia tak kehilangan logika nya. Ia percaya bahwa Revan pasti bisa menyelamatkan Ziva.
Sedangkan Revan, ia jatuh terduduk di depan pintu menuju roof top. Celana nya sudah robek memperlihat kan darah segar yang mengalir di lutut nya. Ia berusaha berdiri dengan susah payah sembari menahan rasa sakit di kaki nya. Keringat sudah bercucuran di dahi nya, ia memaksa kan diri untuk berdiri.
Di sisi lain, Ziva sudah memejamkan mata nya ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada diri nya. Ia benar benar sudah lelah, dan ia pun sudah tak dapat merasakan tangan nya lagi. Tepat dengan itu, tangan nya pun perlahan terlepas dari besi itu. Hal ini membuat siswa siswi di bawah sana semakin berteriak ketakutan.
Saat tangan Ziva terlepas dari besi itu, semua orang menutup mata nya tak sanggup melihat apa yang akan terjadi. Namun di saat yang sama, Revan dengan tenaga nya yang tersisa menangkap yang Ziva sebelum terjatuh. Kini posisi nya sedang telungkup di roof top sembari menggenggam tangan Ziva.
Ziva mendongak ke atas.
"Revan!!" Seru Ziva tak percaya melihat Revan sedang berusaha menahan agar diri nya tak terjatuh.
Ziva tersenyum lemah, dan hanya mengangguk paham. Ia mengeratkan pegangan tangan nya, ia meraih tangan Revan dengan tangan yang satu nya. Revan berusaha menarik Ziva ke atas, namun tenaga nya tak cukup. Ia sudah menghabiskan banyak tenaga untuk berlari ke sini.
"Van!!" Teriak Ziva khawatir karena melihat Revan seperti nya menahan sakit.
"Gue gak papa, jangan lepasin tangan gue!!" Seru Revan.
Sejujurnya kaki Revan sudah sangat sakit, di tambah lagi harus bergesekan dengan lantai untuk menahan Ziva. Revan hanya berharap seseorang segera datang untuk membantu nya.
"Van, Lo gak papa??" Tanya Ziva khawatir.
"Jangan lepasin!!" Hanya itu lah yang mampu Revan katakan.
Ziva terlihat khawatir karena seperti nya tenaga Revan sedikit berangsur berkurang. Ia mengeratkan pegangannya, jujur ia takut jatuh. Di saat itu, pegangan tangan Revan mulai mengendur dan ini membuat Ziva sedikit panik.
__ADS_1
"Van!!" Teriak Ziva.
Revan kembali mengeratkan genggaman tangan nya, meski rasa sakit yang ia rasakan sungguh menyiksa nya.
Namun karena tangan nya basah oleh keringat, tangan nya menjadi licin. Dan pegangannya berangsur terlepas.
"Van.... Van..." Ziva panik menyadari bahwa Revan seperti nya sudah tak sanggup menahan nya.
sSehingga Ziva kembali di dorong dalam jurang keputusasaan. Ziva menarik nafas dalam dalam, ia harus bersiap jika sewaktu waktu Revan melepaskan genggaman tangan nya.
"Apa gue bener bener bakal mati??" Batin Ziva.
"Van, please!! Gue belum mau mati!!" Seru Ziva dalam hati karena ia tak sanggup untuk mengatakan nya.
Seperti dugaan Ziva tangan Revan pun, sudah hampir melepaskan nya. Ziva menutup mata nya dan bersiap dengan apa yang akan ia alami.
Hap
"Van tarik!!" Seru Randi yang tiba tiba datang dan menggenggam tangan Revan dan Ziva.
"Zi, tangan Lo!!" Teriak Reno yang meminta tangan Ziva yang satu nya.
Ziva segera mengulurkan tangan nya, dan Reno segera menarik nya.
Revan, Reno dan Randi segera menarik Ziva ke atas. Dengan sedikit usaha, akhirnya Ziva berhasil di tarik ke atas. Hal ini membuat sorak sorai orang orang yang berada di bawah sana. Mereka juga merasa lega tidak terjadi hal buruk apapun.
Sedangkan Ziva, ia sangat ketakutan di sana. Melihat hal itu Revan segera membawa nya ke dalam pelukan nya. Sedangkan Randi dan juga Reno terduduk di samping mereka karena kelelahan. Terlihat wajah Randi yang benar benar lega, dan ada sedikit jejak air mata di pipi nya.
Ziva menangis sejadi jadinya di dalam pelukan Revan. Dan Revan hanya bisa mencoba menenangkan nya dengan mengelus punggung Ziva.
"Hikksss hikksss, gue takut Van!! Gue takut hikksss" Ziva menangis dengan keras.
"It's okey, semua nya baik baik aja!!" Dengan nafas yang terengah-engah Revan mencoba menenangkan Ziva.
Randi yang berada dekat sebelah nya pun meraih tangan Ziva.
__ADS_1
"Tenang Zi... Gue di sini!!" Randi tak tau harus mengatakan apa.
Ini benar benar insiden tak terduga....