
Jam istirahat pun tiba, semua murid bergegas keluar kelas namun ada juga yang memutuskan untuk tetap berada di dalam kelas. Begitu pula Ziva, ia hanya duduk sembari memainkan ponsel nya. Ia terus tersenyum dan tertawa kecil, hal ini tak luput dari pandangan Revan, Reno dan juga Randi.
"Tuh anak kenapa lagi!!" Seru Randi.
"Mana gue tau, kan dia adek Lo!!" Sahut Reno spontan.
Tiba tiba Gio dan Vito datang menghampiri mereka, yang membuat mereka sangat terkejut.
"Woyy bang!!" Teriak Gio.
"Annjiiimm kaget gua!!" Revan mengelus dada nya.
"Hehe sorry bang... Abis nya lu pada serius amat!!" Kekeh Gio.
"Iya Lo serius amat, liatin apaan sih??" Tanya Vito.
"Gak ada, yuk kantin!!" Ajak Revan.
"Lah gak ngajak ayank nih!!" Ledek Randi yang mengundang gelak tawa yang lain.
Pletak
"Sialan Lo!!" Revan menjitak kepala Randi.
"Dih, dih marah, biasa nya juga bucin!!" Goda Vito.
"Tau ah!!" Revan segera berlalu pergi.
"wow... Tuh anak kenapa??" Tanya Reno yang membuat teman teman nya menggeleng gelengkan kepala nya.
"Tau tuh gak biasa nya kek gitu!!" Seru Randi.
Mereka berempat pun di buat bingung dengan sikap leader mereka yang tiba tiba berubah. Randi pun merasa aneh, padahal tadi ia masih baik baik saja. Dan bahkan sangat antusias di kelas, ia pun tak menyangka bahwa sahabat nya yang satu ini jenius.
"Dah lah, susulin yuk!" Seru Vito.
Mereka segera beranjak dari tempat nya menuju ke kantin.
Sedangkan Ziva juga beranjak dari duduknya nya sembari membawa kotak bekal di tangan nya. Ia segera berjalan menyusuri koridor menuju tangga, ia berniat ke roof top. Tindakan nya itu pun di lihat oleh seseorang dari jauh, orang itu tersenyum licik.
Di kantin
"Woyy Van!!" Sapa Randi yang langsung duduk di sebelah Revan dengan membawa makanan nya.
"Lo kenapa sih??" Tanya Randi heran melihat tingkah Revan yang sedikit aneh menurut nya.
"Iya bang, gak biasa nya Lo kek gini!" Seru Gio.
"Lha emang gue kenapa??" Tanya Revan balik.
"CK... Gak usah sok gak tau deh... Dari muka Lo aja dah ketara!! Lo ada masalah!!" Seru Reno.
"Cerita lah Ama kita, jangan di pendep sendiri!!" Sahut Vito.
"Jangan di pendep bang, ntar liver!!" Seru Gio yang membuat ia terkena tatapan maut dari Revan.
__ADS_1
"Paan sih, Lo pada!! Gue gak papa kali!!" Ujar Revan tegas.
Mereka masih merasa aneh, namun mereka tak berani untuk bertanya lebih jika sang leader sudah begitu. Mereka memilih bungkam, bukan karna mereka takut tapi karna mereka menghormati Revan. Mereka tak ingin memaksa nya bercerita jika ia tak mau.
"Wuih, bang! Bagi yah!!" Gio mencoba mengalihkan perhatian dengan mencomot sedikit kentang goreng milik Revan.
"Oh ya, malem ini ada track sama Tiger Ice!!" Seru Vito yang membuat yang lain mengalihkan pandangan kepada nya.
"Really??" Tanya Randi memastikan dan Vito mengangguk yakin.
"Wahhh... Bakal seru nih!! Nonton yuk bang!!" Ajak Gio pada Revan.
"Hmm liat aja nanti!!" Sahut Revan.
"Yah kok gitu sih!!" Gio memasang wajah kecewa.
"Gue ada less sore nanti!!" Tandas Revan yang membuat Reno yang sedang minum tersedak mendengar nya.
"What!!" Randi, Vito dan Gio di buat melongo tak percaya.
"Kenapa??" Tanya Revan bingung dengan ekspresi dari teman teman nya itu.
"Les?? Serius Lo??" Tanya Randi tak percaya.
"Lo pada kenapa sih?? Iya gue mau les ntar sore."
Jawaban Revan membuat Randi berdiri dan menepuk tangan nya.
"Wahhh, sejak kapan Lo tertarik belajar??" Takjub Randi.
"Gue cuma pengen bisa berdampingan sama dia!!" Seru Revan yang membuat teman teman nya saling pandang.
"Yapss, tapi syukur deh!! Karna Lo berubah ke arah positif!!" Sahut Randi.
"Emang ada yang negatif??" Tanya Revan heran.
"Ya jelas lah, bahkan ada yang bisa sampe gila ngelakuin apa aja demi cinta!!" Seru Reno.
"Really??" Revan menatap tak percaya.
"Yah elo sih gak niat baca atau nonton berita! Dah banyak kejadian tau!!" Seru Vito.
"Yah, gue kan gamer bukan gosiper...." Sahut Revan dengan gaya santai nya.
"Gue gamer juga kali, tapi gak kudet kayak Lo!!" Ledek Randi.
Mereka pun saling ledek dan bercanda di sana. sementara di sisi lain, tepat nya di roof top sekolah itu. Seorang gadis duduk manis, di dekat pembatas di sana yang hanya setinggi pinggang gadis itu. Ia adalah Ziva, ia lebih memilih untuk menghabiskan bekal nya di sini. Ia sengaja memasak tadi pagi bukan hanya untuk Revan namun juga ntuk diri nya sendiri.
Setelah selesai menghabiskan makanan nya, Ziva duduk di pembatas itu. Ia tak terlihat takut sedikit pun, justru ia tersenyum lepas. Ia menatap aktivitas orang orang yang berada di bawah sana. Sesekali ia mendongakan kepala nya menatap langit. Memejamkan kedua mata nya untuk merilekskan tubuh nya. Entah mengapa sedari tadi perasaan nya tak enak, ia selalu gelisah.
Dan ini benar benar mengganggu nya, ia takut terjadi sesuatu yang buruk. Apalagi biasa nya Ziva selalu benar akan perasaan nya. Dan kali ini ia ke roof top, sengaja menghindari orang orang, untuk menenangkan pikiran dan hati nya.
"Shiittt, gue kenapa sih??" Gumam Ziva sembari memegang dada nya yang terasa sesak.
"Ya Allah, tolong jangan ada yang buruk!!" Lirih Ziva.
__ADS_1
"Gak mungkin kan mama sama papa?? Atau Kak Mike??" Monolog Ziva.
"Gue telpon aja deh!!" Seru Ziva sembari mengeluarkan ponsel nya.
"Halo ma!!" Seru Ziva saat panggilan nya tersambung.
"Iya sayang kenapa?? Bukan nya kamu di sekolah??" Tanya Mama Ziva.
"Gak papa ma, Iya Ara masih di sekolah kok.. Cuma pengen denger suara mama aja!!" Seru Ziva membuat alasan.
"Kan nanti ketemu di rumah sayang!!" Kali ini bukan mama nya yang menjawab melainkan papa nya.
"Lho mama lagi sama papa??" Tanya Ziva.
"Iya bentar lagi mama sama papa mau meeting!!" Seru Mama Ziva.
"Oh ya udah kalo gitu Ara tutup dulu!! Love you ma, pa!!"
"Iya, love you too sayang...."
Tut Tut Tut
"Hahhh, syukur deh mama sama papa gak papa!!" Ziva bisa bernafas lega.
Ting
Sebuah pesan masuk
From : Kak Mike
To. : Me
Ra, ntar mau di jemput gak?? Hari ini gue pulang cepet??
"Kak Mike?? Berarti dia juga gak kenapa kenapa!! Duh apa gue yang terlalu parno ya!!"
Ziva pun mengirim balasan tak usah menjemput nya, karna dia tadi sudah janjian dengan Rega.
Ziva tak menyadari sama sekali bahwa ada yang terus memandangnya dari arah tak jauh dari nya.
Ziva hanya fokus menatap ke arah lapangan basket, yang terlihat jelas dari sana. Ada beberapa siswa yang sedang bermain di sana. Membuat Ziva lengah dan tak menyadari bahwa di belakang nya ada seseorang.
Orang itu mengenakan jaket Dongker juga masker, namun di lihat dari postur tubuh nya ia adalah seorang gadis. Gadis itu berjalan semakin mendekati Ziva, ia mengulurkan tangan nya ke depan.
Sampai saat ia berada tepat di belakang Ziva, ia mendorong Ziva ke depan. Ziva yang tak melakukan persiapan apapun langsung terhuyung ke depan.
"Aaarthgggh"
Ziva hampir saja terjatuh dari roof top jika reflek nya tidak cepat. Ia berpegangan pada besi melintang di yang berada di sana. Kini ia menggantung di atas sana, yang membuat orang orang di bawah yang tak sengaja melihat nya pun menjadi heboh.
"Sial!!"
Ziva terus mengeratkan pegangannya nya, meskipun besi itu sedikit licin. Jujur saja sekarang ia sangat takut, melihat ke bawah. Ia bertahan sekuat tenaga, keringat dingin pun meluncur bebas di wajah nya.
"Aaaaaaaa.. Ada yang mau jatuh!!" Teriak seorang siswi yang melihat kejadian itu.
__ADS_1
Teriakan itu mengundang banyak perhatian, termasuk Revan dan teman teman nya yang baru saja keluar dari kantin.
Sedangkan yang menjadi pelaku pendorongan Ziva, menghilang bagaikan hantu.