
Tut Tut Tut
"Cih!! Kenapa malah gak nyambung nyambung anjir!!!" Maki Randi yang sedari tadi menghubungi Mike tapi telpon nya malah tak tersambung.
Randi terus mondar mandir sembari memegang hp nya, dan kembali mencoba menghubungi Mike. Setelah entah yang keberapa ratus kali baru tersambung.
"Lo kenapa nelpon gue segini banyak!!" Seru Mike.
"Woyy bangsattttt!!! Kemana aja Lo hahhh??!!!" Teriak Randi dengan penuh emosi.
"Ck! Gue lagi di base camp, ada hal penting yang perlu di bahas sama Rega...." Jelas Mike.
"Tadi batre hp gue low, jadi mati... baru gue idupin lagi nih!! Kenapa sih kayak orang berkepentingan banget lu!! Nelpon sampe seratus kali lebih!!!"
"Sialan!! Adek lu masuk rumah sakit dan sekarang lagi bertaruh nyawa bangsattttt!!!"
Randi meluapkan amarah nya karena mendengar cara bicara Mike yang sangat santai. Padahal Ziva tak tahu kondisi nya bagaimana sekarang, ya walaupun bukan salah nya Mike juga sih karna dia sama sekali tak tau apapun tentang hal ini.
"Maksud Lo apa?" Tanya Mike dengan suara bergetar.
"Dateng ke rumah sakit tempat dokter David!! Lo liat sendiri...." Randi menghela nafas panjang, ia tak tega menceritakan pada Mike.
Randi tahu betul bagaimana perasaan Mike pada adik nya itu. Mike sangat sangat sayang pada Ziva bahkan kalau perlu dia akan mengorbankan nyawa nya demi kebahagiaan Ziva.
Trakkkkk
Suara benturan Keras terdengar dan sambungan telpon pun langsung terputus. Ponsel Mike hancur setelah menyentuh lantai dengan sempurna. Hal itu membuat Rega yang sedari tadi berada di dekat Mike menjadi bingung.
"Mike, are you..."
Belum sempat melanjutkan ucapan nya, Mike sudah menyela.
"Ke rumah sakit sekarang!!" Titah Mike.
Deg
Jantung Rega seakan berhenti berdetak mendengar pernyataan dari Mike. Hanya satu hal yang bisa membuat Mike mengeluarkan aura seperti ini, dan sebetulnya Rega berharap pikiran nya salah. Namun ketika melihat bahu Mike bergetar hebat dan air mata yang luruh membuat pertahanan Rega pun ikut runtuh.
Dengan segera ia berlari ke luar base camp bersama Mike.
__ADS_1
"Bang mau kemana??" Tanya Alqan ketika berpapasan dengan Mike dan juga Rega di depan base camp.
"Lo urus masalah anak anak dulu! Gue ada urusan!!" Dengan cepat Rega dan Mike melajukan motornya meninggal kan base camp.
Bukan tak ingin jujur pada Alqan tentang kondisi yang sebenarnya, namun ia tak memiliki waktu. Yang terpenting sekarang adalah Ziva, ia harus segera melihat Ziva.
Di rumah sakit....
"Lo dari mana aja??" Tanya Revan yang melihat Randi baru kembali sembari menenteng sebuah bungkusan.
"Gue abis nelpon orang sambil beli makan!!! Nih makan!!" Ujar Randi sembari menyerah kan bungkusan itu pada Revan.
"Gak usah!! Gue udah mau pergi kok, gue nunggu Lo balik aja tadi biar ada yang nungguin Ziva di sini!!" Jelas Revan sembari melirik ke ruang IGD.
"Lah!! Lo mau pergi??" Seru Randi heran.
Ya karna sedari tadi Revan lah yang paling cemas dengan keadaan Ziva, sekarang keadaan Ziva belum jelas pun Revan ingin pergi??!! Bukan nya itu aneh??
"Nyokap gue tiba tiba sakit di rumah, gue harus balik!!" Revan menghela nafas berat.
Jujur saja di hati Revan ingin sekali tetap disini untuk menemani Ziva namun kondisi mama nya juga penting.
"hmm, kalo ada apa apa kabarin gue!!" Ujar Revan kemudian melangkah pergi.
Setelah Revan sudah tak terlihat lagi, Randi menyandarkan tubuh nya di dinding.
"Huhhhhhh... Syukur deh Lo pergi sendiri!! Gue tadi sempet mikir gimana buat Lo pergi dari sini!!"
"Bukan gue mau nutupin ini dari Lo Van!! Tapi belum saat nya Lo tau identitas Ziva!!" Seru Randi.
Ia kemudian duduk di kursi tunggu dan membuka bungkusan yg tadi ia bawa. Jujur saja cacing di perut nya sudah meronta tinta untuk segera di beri asupan makanan.
Setelah menghabiskan makanan nya ia langsung membuang bungkus nya ke dalam tong sampah. Saat itu pula dokter David keluar bersama beberapa suster yang mendorong brangkar Ziva.
"Dok??" Randi ingin bertanya namun berhenti ketika dokter David mengangkat tangan nya.
"Dia baik, untung segera di tangani!!! Seperti nya dia sebelum kejadian sudah meminum obat nya jadi kemungkinan fatal nya sudah di tekan!!" Jelas dokter David yang membuat Randi bernafas lega.
"Dia hanya perlu istirahat beberapa waktu, kalau Mike datang bilang dia urus administrasi nya dan bawa Ziva pulang!!" Tambah dokter David yang membuat Randi tercengang.
__ADS_1
"Dok, keadaan Ziva apa gak perlu di rawat??" Tanya Randi dengan perasaan cemas.
"Perlu! Sangat perlu, tapi kalau terjadi kejadian seperti kemarin dia yang kabur dari sini, itu juga semakin tidak baik untuk kondisi nya!!" Dokter David memijit pangkal hidung nya.
"Jadi??"
"Rawat di rumah saja!! Nanti saya akan membawa peralatan nya ke rumah!!" Tandas dokter David.
"Oh, oke... kalo gitu saya mau ke ruang rawat Ziva dulu!" Ya selagi Randi berbincang dengan dokter David, Ziva sudah di pindahkan ke ruang rawat.
Sampai di ruang rawat Randi langsung duduk di samping dan menggenggam tangan Ziva.
"Ra, Lo kuat!! Lo bukan perempuan lemah!!" Senyum Randi.
"Iya lah kak!!" Lirih Ziva sedikit membuka kelopak mata nya.
Ya Ziva sudah sadar sewaktu ia di pindahkan ke ruangan ini.
"Ra??? Lo dah sadar!! Lo gimana?? Ada yang sakit??" Tanya Randi.
"Hmmm, gk kok" Ziva menggeleng kan kepala.
"Sebenernya apa sih yang Lo lakuin?? Kenapa bisa jadi seprah kayak tadi??" tanya Randi dengan lembut.
"Nanti aja kak, aku capek" Ziva kembali memejamkan mata nya.
"Aaaiishhhhh" Randi menghembuskan nafas kasar.
"Ya udah tidur lagi ya putri cantik, kakak jagain" Ujar Randi sembari mengusap puncak kepala Ziva.
Tak lama terdengar suara pintu terbuka, dan menampakkan Mike dan Rega. Buru buru Randi memberikan isyarat agar mereka jangan berisik. Randi segera menunjuk sebuah sofa dekat pintu dan menyuruh mereka duduk di sana. Ia melirik ke arah Ziva yang kelihatan nya sudah tertidur pulas.
Randi melepaskan genggaman tangan nya dengan sangat perlahan karena takut membangun kan Ziva. Setelah itu ia beranjak dari duduknya menuju ke arah Mike. Sebenarnya ia sendiri sudah cukup sudah menelan ludah karna aura yang sangat tidak nyaman keluar dari Mike.
Bahkan seperti nya hanya dengan tatapan tajam itu ia bisa mati di tempat.
"Kenapa??" Rahang Mike mengeras ketika melihat ada beberapa bekas memar yang sangat terlihat di lengan Ziva. Ada juga bekas cakaran, dan luka lecet.
"Sorry Mike, gue lalai!!" Randi menundukkan kepalanya nya.
__ADS_1
"Siapa??"