
Keesokan harinya...
"ehhh Zi, gimana kalau kita nonton pertandingan futsal hari ini." ujar Sisil antusias.
"kamu semangat banget kayaknya??!" sahut Ziva.
"ya iyalah kan, rombongan The White Eagle bakal tanding, apalagi Randi juga ikut!!" Sisil memangku kedua tangannya.
"hmmm kamu suka ya sama Randi??" goda Ziva.
Sisil langsung salah tingkah di buatnya.
"emang permainan futsal mereka sebagus itu??" tanya Ziva.
"ya iyalah, secara kaptennya tuh gue pasti tambah nilai plus." bukan Sisil yang menjawab melaikan Revan yang baru saja tiba.
"nonton nanti biar tau!!" seru Revan.
Setelah perdebatan yang panjang dengan Sisil ia terpaksa mengikuti keinginan Sisil untuk menonton pertandingan.
Sampai disana Ziva mengedarkan pandangannya. Terlihat tempat itu sudah di penuhi oleh siswa sekolah nya maupun sekolah lain yang menjadi lawan team Revan.
Sisil langsung menarik tangan Ziva untuk duduk di barisan paling depan. Karena jujur saja ia sangat antusias ingin menonton pertandingan kali ini.
Suara riuh dari siswi perempuan seketika membuat kaget Ziva. Ia melihat ke sisi kiri dan kanannya tampak mereka terus berteriak menyerukan nama idola mereka. Tetapi yang paling jelas di pendengarannya yaitu nama Revan.
Ziva sudah tidak kaget lagi sih masalah ini semua karna ia juga mengakui ketampanan dan juga pesona seorang Revan Baskara.
Tampak Revan dan team nya berjalan memasuki lapangan. Lelaki itu tampak melihat ke arah salah satu bangku penonton , lalu melemparkan smirk nya.
Pruiitttt
Suara peluit akhirnya berbunyi dan permainan pun di mulai. Sorak sorai penonton semakin bergemuruh menghiasi jalannya pertandingan.
"Revan!!!"
"astaga dia cakep banget sih kalo keringetan gitu!!" seru seorang siswi yang berada di belakang Ziva.
Ziva mendengarnya namun ia sengaja seolah tak mendengar apapun. Ya apa pedulinya kan, walaupun yang di katakan siswi tersebut ada benarnya. Ziva mengakui bahwa Revan mempunyai karisma nya tersendiri.
Di sana jua ada Reno, cowok yang berhasil menarik perhatiannya. Ia membayangkan kalau ia saat ini sedang berada di tengah lapangan dan mengelap keringat Reno.
"goolllllll!!" lamunan Ziva pun buyar ketika mendengar sorak sorai penonton ketika Revan berhasil mencetak gol.
Sisil begitu menikmatipertandingan kali ini, mata nya pun tak lepas dari Randi. Sedangkan Ziva ia tak begitu antusias ia hanya memberikan tepuk tangan saja.
Permainan kali ini benar benar membuat para siswi terus histeris. Dan kebanyakan mereka menyerukan nama Revan.
Ziva menatap sisi lapangan di mana Revan sedang di angkat tinggi tinggi oleh teman temannya. Tampak raut wajah lelaki itu sangat gembira karena berhasil membawa teamnya memenangkan pertandingan.
__ADS_1
Revan turun lalu melambaikan tangan ke seluruh penonton. Setelah itu lelaki itu keluar lapangan sambil menyugar rambutnya ke belakang. Membuat para gadis berteriak histeris.
"Revan!!"
"aduhhh Revan cool banget!!"
"duhh panas sumpah ngeliatnya!!"
"meleleh gue!!"
"jantung gue gak aman nih"
Masih banyak lagi celoteh gadis gadis di sekitar Ziva. Ya Ziva akui kali ini Revan benar benar menunjukan kharisma nya.
Ziva terdiam sesaat saat mata nya bertabrakan dengan Revan.
Deg
"ya ampun jantung gue kenapa nih??" batin Ziva.
"Zi, mau langsung balik??" Tanya Sisil.
"ehh, kenapa??" Ziva langsung salting.
Sisil menghela nafas dan memutar bola matanya malas " gue mau ke kantin lo ikut apa kagak??"
"kalo aku masih mau di sini gak papa ya!!" seru Ziva.
Duduk seorang diri pandangan nya beredar mencari sesuatu. Saat ia menemukan orang yang ia cari, ia segera bangkit dan mengambil air mineral yang ia bawa tadi.
Namun belum sempat mencapai tempat orang itu tangan nya di tarik ke belakang.
"gimana permainan gue??" Tanya Revan.
"hah??" Ziva terdiam saat mengetahui siapa orang itu.
"itu minuman buat gue??" tanya Revan yang sebenarnya emang merasa sangat haus.
"eh ini??" Ziva menoleh ke arah Reno yang ternyata sudah meminum air nya sendiri.
Ziva menghela nafas lalu menyerahkan botol itu pada Revan.
"aku gak nyangka badboy kayak kamu ternyata punya prestasi kek gini." ujar Ziva menatap Revan yang sedang minum.
"lo baru tau, gue ini sebernernya pinter dalam segala hal tapi gue males aja." Seru Revan menatap Ziva penuh arti.
"masa??!" tanya Ziva tak percaya.
Sehingga terjadilah perdebatan di antara mereka. Hal itu tak luput dari pandangan anggota The White Eagle. Mereka kebingungan karna ini adalah kali pertama mereka melihat ketua mereka menjadi begitu banyak bicara. Apalagi di hadapan seorang cewek.
__ADS_1
Randi hanya menatap mereka, tajam ya sangat tajam, ia sebenarnya ingin menarik Ziva dari sana. Namun apa daya, janjinya pada Ziva yang melarang ia memberitahukan indentitasnya.
Randi hanya bisa menghela nafas panjang, berharap kalau sahabatnya itu tak menyakiti Ziva. Ia tak ingin melihat permpuan yang istimewa di hidupnya itu terluka lagi. Ia melihat sendiri Ziva menangis sendirian di tepi danau.
"lo kenapa?!!" tanya Reno.
"eh, kenapa apanya?" Randi malah bertanya balik yang membuat Reno memutar bola matanya malas.
"lo kenapa ngeliatin Revan sama Ziva kayak gitu?" ya Reno sedari tadi melihat reaksi Randi.
Penyataan Reno membuat Randi salah tingkah, ia berusaha setenang mungkin agar Reno tak curiga padanya.
"perasaan lo aja kali!" sahut nya kemudian berlalu pergi.
Karna pertandingan futsal hari ini semua kelas di bebaskan. Jadi siswa siswi bebas, tanpa pelajaran full sampai pulang sekolah nanti.
Di tengah perdebatan antara Ziva dan Revan tiba tiba nama merekan di panggil melalui speaker kantor.
"itu nama aku yang di panggil??" tanya Ziva menatap Revan bingung.
"iya emang lo budek. ."
"yuk!!" tanpa sadar Revan menarik tangannya Ziva.
Sepanjang perjalanan semua siswa maupun siswi terus memandangi mereka. Mereka pun heran apa yang mereka lihat apa penampilan mereka aneh. Dan sepertinya mereka tak sadar kalau sedari tadi mereka berjalan bergandengan tangan, yang membuat semua heran. Terlebih lagi siswa perempuan yang tak terima most wanted di sekolah ini menggandeng upik abu seperti Ziva.
Sampai di kantor Revan baru sadar kalau tangannya terus saja menggandeng tangan Ziva.
"astaga!! Wajar aja dari tadi di liatin. " Revan menepuk dahi nya menyadari kesalahannya.
"lo ngapa diem aja??" tanya Revan dan yang di tanya hanya menatapnya bingung.
"udah lah masuk!"
Mereka masuk ke dalam dan langsung di sambut oleh Linda.
"silahkan duduk!" titah Linda.
"ada apa ya, Bu?" tanya Ziva.
"begini, ibu lihat nilai kmu cukup baik. Dan hubungan kamu juga kelihatan baik dengan Revan.." Bu Linda menjeda ucapannya.
"hah??" Ziva dan Revan tampak kebingungan "mulai hari ini ibu minta kamu untuk mengajari Revan." tukas Bu Linda.
"what?!" Ziva tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Bu kok harus cupu sih??" protes Revan.
"gak ada yang mau ngajarin kamu. Karna sikap kamu itu, sedangkan Ziva ibu rasa dia tidak keberatan."
__ADS_1
"ini...."
Melihat keseriusan Linda Ziva pun mengiyakan dan Revan pun hanya bisa pasrah.