
Sementara Ziva sedang bertaruh nyawa di rumah sakit, lain cerita lagi dengan Mike kakak nya Ziva.
Di kantor polisi
"Pak, temen saya gak mungkin ngelakuin itu? Kan sudah di cek dia bukan pemakai pak! Ini pasti salah paham!" Mike terus mencoba menjelaskan pada pihak kepolisian agar Zein dan Zico bisa di bebaskan.
Namun ini tak mudah karena urusan nya dengan barang haram, ini merupakan jalan buntu untuk mereka. Mike hampir frustasi karena ini fitnah yang paling kejam yang pernah mereka dapat kan.
Tapi Mike tetap berusaha tenang supaya teman teman nya tak ikut panik. Ia memikirkan seribu cara supaya polisi itu percaya pada nya. Karena mereka tetap di tuduh pengedar walaupun tidak memakai barang itu.
Narkotika? Ya narkotika jenis sabu tiba tiba berada di dalam saku jaket Zico, dan yang lebih aneh lagi tiba tiba di jalan ada operasi mendadak.
Awal nya mereka tenang saja karena mereka mempunyai SIM dan surat kendaraan yang lengkap. Namun naas nya malah di bawa ke kantor polisi karena terdapat benda itu di saku Zico. Dan mereka bahkan Zico sendiri terheran kenapa benda itu bisa di sana.
Flashback on
"Woyy, Zic Lo dari mana? Ampir aja kita tinggal lu!!" Seru Zein.
"Maaf tadi gue di jalan Nemu nenek nenek mau nyebrang, jadi gue tolongin dulu!" Ujar Zico sembari mensejajarkan motor nya dengan motor teman teman nya.
"Ya udah lah yuk berangkat!!" Seru Mike.
Seperti biasa mereka memang selalu berangkat ke sekolah bersama. Mike, Zico, Zein, Vino dan juga Reynan. Mereka semua adalah anggota Warrior, mereka sudah seperti saudara sendiri.
Mereka segera melajukan motornya menuju ke sekolah mereka. Namun di tengah perjalanan mereka melihat ada polisi yang sedang melakukan operasi. Awal nya mereka tak menggubris nya karena mereka tak takut di tilang. Secara mereka mempunyai surat surat kendaraan yang lengkap serta mereka juga sudah memiliki SIM jadi mereka tak takut saat di hadang.
Namun rupa nya tak hanya pemeriksaan surat kendaraan tetapi memeriksa barang bawaan juga. Mereka terlihat santai tanpa beban sampai salah satu polisi meringkus Zico karena menemukan sesuatu di saku jaket nya.
"Pak, ini kenapa kok saya di tangkap? Salah saya apa coba?" Seru Zico yang mencoba melawan.
Mike pun mendekat ke arah Zico "Pak ini ada apa ya?"
"Kami menemukan ini di kantung jaket teman anda!" Seru polisi itu sembari mengangkat bungkusan berisi sabu.
Deg
Mike dan teman teman nya terdiam sesaat, tak terkecuali Zico yang syok saat melihat benda itu.
"Gak! Gak Mike gue gak pernah bawa itu apalagi make! Mike percaya sama gue, gue gak tau gimana bisa ada di situ!" Seru Zico membela diri.
"Gue percaya sama Lo!" Seru Mike menepuk bahu Zico yang membuat nya jauh lebih tenang.
"Maaf pak, mungkin ini jebakan dari orang. Temen saya gak mungkin ngelakuin itu!"
Mike terus berdiskusi dengan pihak polisi namun polisi itu tetap berniat meringkus Zico dan menjadikan mereka saksi. Zein yang memang tempramental langsung memukul seorang polisi yang sedari tadi berbicara dengan Mike.
Hal ini membuat yang lain nya terpelongo, sedangkan Mike langsung menahan Zein dan berusaha meredam kemarahan Zein.
__ADS_1
"Zein tenang!" Titah Mike.
"Tenang Lo bilang! Jelas jelas ini fitnah, Zico gak mungkin nyentuh barang haram itu!" Seru Zein.
"Iya gue tau tapi gak gini."
"Cukup kalian semua ikut ke kantor!!" Titah seorang polisi di sana.
Mereka pun terpaksa ikut ke kantor polisi, dengan Zico dan Zein yang di masukan ke sel isolasi. Zein juga di tangkap karena tindakan kriminal melukai pihak kepolisian yang sedang menjalankan tugas.
Dan di sini lah mereka di ruang interogasi, mereka di beri beberapa pertanyaan tentang kebiasaan Zico dan Zein. Mereka berlima melakukan pengecekan urin, dan terbukti tidak satu pun dari mereka yang memakai benda haram itu. Namun Zico masih di tuduh sebagai pengedar.
Flashback off
Ting
Tiba tiba sebuah notifikasi masuk ke ponsel Mike, ternyata sebuah email dari Ziva.
Tanpa menunggu lama ia segera melihat, mata nya membola ketika melihat rekaman cctv yang di kirimkan Ziva.
"Pak coba lihat ini!!" Mike menunjukan rekaman itu.
Polisi itu manggut-manggut, ia mengerti permasalahan nya sekarang. Dan seperti nya benar, anak anak ini memang di jebak oleh seseorang.
"Baiklah karna sudah ada bukti, kalian boleh bebas tapi tolong walaupun kalian benar, jangan memakai kekerasan atau kalian akan tetap di hukum. Dan ini anggap sebuah peringatan tidak ada lain kali lagi!" Seru polisi itu pada Mike dan kawan.
Mereka harus membuat pernyataan tertulis karena tadi Zein sempat melukai pihak polisi.
"Sumpah gue gak nyangka tuh nenek ternyata yang jebak gue!!" Lanjut Zico.
"Hahhh.. gue yakin dia di suruh orang!" Seru Mike sembari membuang nafas kasar.
"Ya gue juga yakin, tapi siapa? Lo tau pelanggaran narkotika itu berat, bisa di penjara seumur hidup atau di hukum mati!!" Reynan bergidik ngeri membayangkan kan nya.
"Udah yuk, bahas di base kamp aja!" Seru Vino.
Tringgg
Tiba tiba ponsel Mike bergetar.
"Alqan??" Mereka mengernyitkan dahi tak biasa nya tuh anak menghubungi Mike.
"Angkat aja siapa tau penting!" Usul Zein.
"Kenapa Qan??" Tanya Mike to the point
Brakkkk
__ADS_1
Ponsel Mike terjatuh dari genggaman nya dan tak terasa air mata meluruh dari kelopak mata nya.
Hal ini membuat Zico, Zein, Vino dan Reynan saling pandang dan perasaan mereka menjadi tak enak.
"Ara...."
Deg
Jantung mereka mendadak berhenti berdetak mendengar nama itu.
"Ke rumah sakit sekarang!!" Titah Mike.
Ia sebagai pemimpin Warrior sudah terbiasa menahan emosi nya, meski dalam waktu genting sekalipun ia di haruskan tetap tenang. Hal ini bertujuan agar yang lain tidak ikut tegang dan merasa khawatir.
Tanpa basa basi mereka segera mengendarai motor mereka menuju ke rumah sakit tempat Ziva di rawat.
"Ra, Lo harus baik baik aja" batin Mike.
Di rumah sakit
Dokter David baru keluar dari ruang tindakan.
"Dok, gimana keadaan Zi?" Tanya Bastian.
"Hhhhhhh, syukurlah sampe tepat waktu kalo nggak mungkin bakal jadi masalah."
"Tapi untuk sekarang kondisi nya baik baik aja, dia bentar lagi sadar kok." Jelas dokter David yang membuat Bastian dan anggota Warrior lain nya menghembuskan nafas lega.
"Oh ya, setelah ini Ziva bakal di pindah ke ruang rawat. Tapi untuk sementara waktu cukup dua orang yang menjaga nya gak boleh lebih karna itu bisa mengganggu nya." Ujar dokter David.
"Oh ya satu lagi, kalo Mike datang suruh temui saya di ruangan!"
"Qan, Bas, kayak nya kalian berdua aja deh yang jagain Queen." Usul salah satu anggota Warrior.
"Oke kalo gitu. Tapi ntar kita gantian jaga nya." Seru Alqan yang di balas anggukan kepala.
"Yang lain boleh cari makan dulu, atau apa" ujar Bastian kemudian melangkah memasuki ruang rawat VVIP di mana Ziva di rawat.
Setelah di dalam Bastian pun duduk di bangku yang berada di sebelah brangkar Ziva. Sedangkan Alqan lebih memilih duduk di sofa dekat pintu.
"Qan, sebenernya Queen sakit apa sih?" Tanya Bastian yang sedang memperhatikan wajah Ziva yang terlihat pucat.
"Gue juga gak tau, gue cuma tau kalo itu bukan penyakit ringan. Gue pernah liat Queen mimisan sampe gak berenti berenti..." Alqan menengadah ke atas.
"Kalo gue rasa waktu itu darah nya bahkan bisa di peres dari baju nya." Alqan meringis sendiri mengingat kejadian itu.
"Gue harap Queen cepet sembuh!" Seru Bastian sembari menggenggam erat tangan Ziva.
__ADS_1
"Eh, Rega mana?" Tanya Alqan yang baru sadar kalau Rega tidak ada.
"Dia lagi ngurus administrasi." Sahut Bastian.