Most Wanted School

Most Wanted School
Mengungkap Identitas


__ADS_3

"Halo" Sapa Sisil.


Sebenarnya ia tak menyangka mendapat telpon dari Randi sang pujaan hati, ia begitu senang sampai tak tau harus bicara apa lagi.


"Hai Sil!! Lo sibuk gak??" Tanya Randi.


"Enggak kok, em emang kenapa??" Sahut Sisil.


"Hmm gini, gue mau minta tolong sama Lo buat jagain Ziva, Lo nginep di sini bisa??" Seru Randi.


Deg


Mendengar nama sahabat nya di ungkit enath mengapa hati nya terasa sakit.


"Jadi ini alasan Lo nelpon gue!!" Batin Sisil miris.


"Hah?? Oh bisa, Lo share lock aja" Sahut Sisil.


"Thanks Sil, gue tunggu."


Setelah menelpon Sisil, Randi memberikan isyarat pada Mike kalau semua nya beres. Kemudian Mike berjalan ke arah Revan yang senantiasa menemani adik kesayangannya itu.


"Van"


"Eh? Ya bang??" Tanya Revan yang kaget dengan kehadiran Mike.


"Gue mau minta tolong jagain Ziva, gue ada urusan yang gak bisa gue tinggal" Seru Mike.


"Urusan??" Revan menatap Mike bingung.


"Apa ada urusan yang lebih penting dari cewek Lo yang lagi sakit ni!!" Gerutu Revan dalam hati karena ia belum tau kenyataan yang sebenarnya.


"Ya, Lo mau kan jagain dia??" Tanya Mike ragu.


"Lo tenang aja bang, Zi pasti aman sama gue!!" Sahut Revan dengan yakin.


"Oke" Mike beralih ke Ziva dan mengecup kening Ziva lalu beranjak pergi.


"Van, ntar Sisil kesini buat bantuin Lo jaga Ziva.... Soal nya Tasya gak bisa pulang.." Seru Randi menepuk bahu Revan.


"Oh oke"


Randi pun meninggalkan rumah Tasya, begitupun Mike. Mereka menjalankan tugas mereka masing masing sesuai rencana. Tak lama dari kepergian mereka, Sisil datang dan langsung mengetuk pintu. Revan yang mendengar itu langsung berjalan menuju pintu. Ia sudah tau siapa yang datang, jadi ia langsung membuka pintu.


"Revan!!" Kaget Sisil yang melihat Revan berada di sana.


"Masuk!!" Seru Revan yang tak perduli dengan keterkejutan Ziva.

__ADS_1


"Lha kenapa nih anak ada di rumah Ziva??" Batin Sisil merasa heran.


Walaupun dengan sejuta pertanyaan di pikiran nya Sisil tetap mengikuti langkah Revan. Saat sampai di kamar, Sisil menutup mulut nya melihat keadaan Ziva. Sisil langsung melangkah ke arah Ziva, ia melihat wajah Ziva yang sangat pucat.


"Ya Tuhan Zi!!" Sisil merasa iba dengan keadaan Ziva.


"Sil" Lirih Ziva yang membuk sedikit mata nya.


Hal itu sontak membuat Revan segera menuju ke arah Ziva.


"Zi, Lo gak papa?" Tanya Revan cemas sedangkan Sisil tercengang melihat raut wajah khawatir dari Revan.


Ziva hanya tersenyum lemah, tubuh nya begitu sakit seperti tulang tulang nya remuk. Ia jelas tau kondisi nya saat ini, namun ia sudah biasa menahan rasa sakit itu.


"Van, Lo keluar deh, gue mau ngomong sama Ziva!!" Titah Sisil yang membuat Revan tak suka.


"Kenapa gue harus keluar??" Tanya Revan.


"Ya Lo gak liat nih dah sore, Ziva butuh mandi ya kalik Lo liatin" Ketus Sisil.


"Eh??" Revan menyengir sembari menggaruk kepala nya yang tak gatal lalu beranjak keluar menuju ruang tamu.


"Sil!!" Panggil Ziva.


"Ya??"


"Hah?? Gak usah, gue tau kok!!" Sahut Sisil yang membuat Ziva tertegun sejenak.


"Gue gak sanggup denger cerita Lo Zi" Batin Sisil miris.


"Syukur lah kalo Lo dah tau" Ziva bernafas lega kalau sahabat nya itu mengetahui kebenaran nya.


"Gue cuma mau bilang semoga Lo bahagia sama Randi." Meski sulit mengatakan nya, Sisil tetap mengatakan nya dengan air mata yang sudah ada di pelupuk mata nya.


Mendengar hal itu membuat Ziva tersentak, ternyata Sisil salah paham mengenai hubungan nya dengan Randi.


"Sil, gak gitu.. Lo salah paham" Ucap Ziva yang membuat Sisil mengernyitkan dahi nya.


"Maksud Lo?" Tanya Sisil yang membuat Ziva menghela nafas panjang.


"Jadi gini, sebenernya gue sama Randi itu sepupuan" Tandas Ziva.


"Hah? Sepupu?" Heran Sisil.


"Iya."


"Gak mungkin, gue tau kalo Randi itu cuma punya satu sepupu perempuan... Dia itu Zivara yang selebgram itu.. Lo gak usah Ngadi Ngadi deh!!" Seru Sisil tak percaya.

__ADS_1


"Hahhhh"


Ziva menghembuskan nafas panjang, kemudian meminta Sisil mengambil beberapa tisu basah. Ia menghapus make up yang ada di wajah dan juga tangan nya. Hal itu membuat Sisil terkejut sampai menganga, melihat ternyata kulit Ziva seputih kapas. Dan lebih tercengang lagi ketika ia melihat wajah Zivara yang merupakan selebgram yang sedang naik daun itu.


"Astaga!!" Seru Sisil menutup mulut nya.


"Jadi Lo, Lo itu!!" Sisil tak bisa berkata apa apa lagi.


"Iya, Sil!! Sorry gue gak bermaksud bohongin Lo atau nyembunyiin sesuatu sama Lo" Lirih Ziva merasa bersalah.


"Tapi kenapa Lo nyamar kek gini?" Tanya Sisil penasaran.


Dengan nafas berat, Ziva menceritakan semua kisah tentang dia yang dulu nya pernah mengekspos tampilannya. Alhasil justru dia dimanfaatkan oleh orang orang yang mengaku sahabat nya padahal cuma numpang tenar. Dan juga pengkhianatan dari mantan nya dulu, yang membuat Ziva terpaksa mengubah diri nya. Agar ia tau siapa yang benar benar tulus dan siapa yang hanya memandang mulus.


Sisil mengangguk mengerti dengan keadaan Ziva, ia tersenyum dan menggenggam tangan Ziva.


"Jadi Lo bongkar kedok Lo di depan gue karna gak mau gue salah paham sama Lo dan Randi??" Tanya Sisil.


"Iya, gue gak mau sia siain sahabat kayak Lo!!" Seru Ziva.


"Jadi kalo gak ada kejadian kemaren, apa Lo bakal tetap ngerahasiain tentang jati diri Lo??" Tanya Sisil.


"Gue bakal tetep kasih tau Lo, tapi gue nunggu waktu yang tepat aja" Ujar Ziva.


"Haaisssshhhh ternyata gue sahabatan sama selebgram terkenal Wee" Sisil langsung memeluk Ziva.


Ziva terkekeh melihat tingkah laku Sisil, ia sangat tulus pada nya.


"Bentar masih ada satu hal lagi yang gak gue ngerti" Seru Sisil.


"Apa??" Tanya Ziva bingung.


"Kenapa tuh biang kerok ada di sini??" Tanya Sisil penasaran.


Deg


"Hah? Itu, gue juga gak tau, tiba tiba tadi pagi dia udah Dateng aja ke sini bawain gue makanan. Dia juga yang ngejagain gue waktu gue mendadak sakit lagi..." Jelas Ziva.


"What??!! Serius Lo??" Seru Sisil tak percaya.


"Iya serius"


"Wah wah wah, jangan jangan dia suka lagi sama Lo"


Deg


Pernyataan dari Sisil membuat Ziva tertegun, ia tak tahu harus bereaksi bagaimana. Apa dia harus senang ada orang yang menerima nya walaupun dengan tampilan nya yang sekarang. Atau harus cemas karena ini mungkin akan menghambat tujuan awal nya. Atau dia harus berpikir bagaimana??

__ADS_1


__ADS_2