Most Wanted School

Most Wanted School
Seperti Mimpi


__ADS_3

Revan merutuki suara ponsel nya yang tiba tiba berbunyi, sehingga membuat momen nya bersama Ziva hancur. Revan segera mengangkat telpon nya.


"Ya kenapa??" Ketus Revan.


"Lah, jutek amat lu bang!!" Seru Gio sang pelaku penghancuran moment.


"Buruan, Lo mau apa??" Tandas Revan.


"Cah elah, bang Lo kayak orang yang ngambek karena gagal kencan aja!!" Ceplos Gio yang membuat Revan tersipu malu.


"Sialan nih anak!! Bisa bisa nya nebak suasana sekarang!!" Batin Revan memaki Gio.


"Dah gak usah basa basi, Lo mau apa??" Tanya Revan.


"Gue cuma mau bilang kalo Vito kalah bang, dan anak anak yang lain juga kalah telak dari tuh anak baru!!" Seru Gio serius.


"Hah, serius lu!! Bahkan Vito juga bukan lawan dia!!" Ujar Revan tak percaya.


"Iya bang awal nya gue juga kaget, tapi ini kenyataan!!" Seru Gio.


"Oke, ntar kita bicarain lagi di base camp!!" Seru Revan.


"Oke bang!!"


Tut Tut Tut


Revan mematikan sambungan telpon.


"Siapa??" Tanya Ziva.


"Oh, ini Gio!!" Seru Revan yang mendadak suasana menjadi canggung.


Revan kembali menatap Ziva yang sedang menatap lurus ke arah pemandangan kota. Revan tersenyum melihat ekspresi wajah Ziva saat ini. Ia kembali berinisiatif untuk menggenggam tangan Ziva. Ziva pun refleks menoleh ketika Revan menyentuh tangan nya.


"Thanks udah ngajak gue ke sini, gue gak bakal pernah lupa sama malem ini!!" Seru Revan.


"Ummmhh, thanks juga Lo udah nemenin gue!! Dan makasih Lo slalu ada buat gue Van!!" Ziva tersenyum lembut pada Revan.


"By the way, resmi nih ya kita sahabatan!!" Seru Revan berusaha mengalihkan topik agar suasana nya tak canggung.


"Best friend!!" Seru Ziva mengangkat jari kelingking nya.


"Best friend!!" Revan pun mengaitkan jari kelingking nya dengan jari Ziva.


Mereka tertawa bersama di malam itu, suasana pun tak canggung lagi. Mereka terus mengobrol sampai melupakan waktu. Bahkan tak jarang mereka tertawa lepas saat salah satu dari mereka melontarkan sebuah lelucon.


Ziva begitu menikmati suasana malam ini begitu pula dengan Revan. Meskipun ia tak bisa membuat Ziva menerima perasaan nya. Tapi setidaknya ia sudah mengikis jarak di antara mereka. Revan sudah sangat senang meski hanya menjadi sahabat di mata Ziva.

__ADS_1


"Zi, pulang yuk udah malem banget nih!!" Seru Revan.


"Yuk!!"


Mereka pun turun dari rumah pohon dan berjalan kembali menuju rumah Om Ilham.


"Om!!" Seru Ziva yang melihat Om Ilham sedang duduk di depan rumah nya sembari menyeruput secangkir kopi.


"Eh, udah mau pulang Zi??" Tanya Om Ilham.


"Hehe iya om, udah malem banget!! Maaf ya jadi ngerepotin!!" Seru Ziva merasa tak enak hati.


"Gak papa kok Zi, lagian om juga belum ngantuk!! Dan ini, om juga masih ada kerjaan yang harus di selesaiin." Ujar Om Ilham sembari mengangkat beberapa map di tangan nya.


"Ya udah kalo gitu kita pamit ya om!!" Seru Revan.


Revan segera menyalakan mesin motor nya, dan kemudian kembali membelah jalanan malam yang cukup lenggang. Ziva pun sudah tak canggung lagi pada Revan. Ia memeluk pinggang Revan selama dalam perjalanan. Hal ini membuat Revan bersorak riang dalam hati nya. Ia berharap hari ini tak pernah berakhir, namun apalah mau di kata kalau hari tetap harus berjalan.


Revan mengantar Ziva kembali ke base camp Warrior. Di halaman terdapat beberapa motor anggota Warrior yang baru saja sampai. Mereka menoleh ketika mendengar suara deru motor asing memasuki area mereka. Mereka terkejut melihat Queen mereka sedang bersama orang yang cukup familiar di mata mereka.


"Queen!!" Seru Alqan ketika Ziva turun dari motor.


"Hai!!" Sapa Ziva.


"Dari mana Queen??" Tanya Bastian.


"Tapi bukan nya Lo lagi..."


"Udah nggak kok, kalian gak berpikir Queen bisa down cuma gara gara kejadian kecil kayak gitu kan!!" Seru Rega tiba tiba muncul dari dalam base camp.


"Hehe ya juga sih!!" Sahut Bastian.


"By the way, Lo Revan leader nya white Eagle kan??" Tanya Bastian.


"Iya bang!!" Seru Revan tersenyum.


"Temen sekolah gue!!" Seru Ziva menjelaskan yang di balas dengan oh ria dari anggota Warrior lain nya.


"Masuk dulu!!" Ajak Rega.


Revan pun tak enak jika menolak tawaran mereka. Ia mengikuti Ziva dan Anggota Warrior lainnya untuk masuk ke base camp mereka. Berbeda dengan base camp nya Revan yang bernuansa abu abu, base camp Warrior lebih hidup. Meski juga menggunakan warna warna gelap. Setiap sudut di dekor dengan sangat rapi dan memanjakan mata.


"Duduk dulu!!" Seru Rega.


"Sejak kapan lu Deket sama dia Queen??" Tanya Bastian.


"Hmm gak tau juga sih, ya mungkin karna satu sekolah kali ya jadi ya gitu!!" Ziva bingung kalau harus menjelaskan nya.

__ADS_1


"Van, nginep aja di sini!! Dah malem pun!!" Seru Alqan yang melirik jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.


"eh?? Gak usah gue bisa balik kok!!" Tolak Revan tak enak.


"Udah gak papa, temen Ziva, temen kita juga ya gak!!" Seru Rega yang di balas sahutan antusias dari anggota Warrior lain nya.


"Iya lah bang, lagi pula kita meski beda Squad tapi gak pernah kontra atau pun bentrok kan!!" Seru salah satu anggota Warrior.


Revan tersenyum melihat kesolidan para anggota Warrior. Mereka tak mendiskriminasi anggota Genk lain, bahkan mereka dengan senang hati membuka tempat untuk orang baru. Revan akui Warrior adalah Genk motor yang paling bersih yang pernah ia temui. Biasa nya ada aja catatan buruk mengenai Genk motor. Contoh nya Genk nya sendiri, yang masih terlibat tawuran dan semacam nya.


Namun Warrior tak pernah ikut masalah seperti itu, mereka lebih memilih menyelesaikan masalah di arena. Begitu kuat dalam solidaritas serta kekeluargaan.


"Ya udah deh, gue mah ikut aja!! Gue telpon temen gue dulu biar dia gak nungguin gue!!" Seru Revan kemudian menghubungi Gio.


"Ya bang, Lo dimana??" Tanya Gio.


"Gue nginep di base nya Warrior!!" Seru Revan to the point.


"Hah serius Lo Bang?? Tapi Lo gak papa kan?? Mereka gak nahan Lo kan??" Panik Gio.


"Apaan sih Lo!! Mereka baik sama gue ogepp!!" Cetus Revan.


"Justru mereka yang nawarin gue nginep di sini karna udah kemaleman!!" Jelas Revan.


"Hehe ya maaf bang refleks nih mulut." Kekeh Gio.


"Ya mulut Lo perlu di sekolahin lagi!!" Seru Revan.


"Dih jahat ku bang!!" Rutuk Gio.


"Dalah, besok anterin seragam sama tas gue ke sini!!" Titah Revan..


"Oke bos!!" Sahut Gio.


Revan pun memutuskan sambungan telepon dan kembali beralih melihat interaksi yang di lakukan Anggota Warrior.


"Udah??" Tanya Ziva dan Revan pun mengangguk.


"Yuk gue Anter ke kamar!!" Seru Ziva.


"Kamar??" Ulang Revan.


"Iya tenang aja, di sini banyak kamar kok! Bahkan banyak yang lebih!! Soal nya kebanyakan anggota Warrior gak tinggal di sini!! Ada yang di rumah sendiri, ada yang di kosan, ada yang di asrama atau mess!!" Jelas Ziva sembari berjalan menaiki tangga.


Klek


"Nah ini kamar buat Lo, kalo butuh apa apa gue di kamar sebelah." Ujar Ziva menunjuk kamar yang di sebelah nya.

__ADS_1


Revan mengangguk paham, Ziva pamit untuk ke kamar nya. Begitu pun Revan yang langsung merebahkan tubuh nya di kasur. Jujur ini seperti mimpi bagi nya, dan kalau untuk ini mimpi ia rasa nya tak ingin bangun dari mimpi ini.


__ADS_2