
Sementara di sekolah Ziva, baru saja berbunyi bel istirahat. Siswa siswi di sana segera bergegas berhamburan keluar kelas. Namun lain hal nya dengan Ziva, Revan, Randi, Reno dan juga Sisil. Mereka berkumpul di meja Ziva, terlihat jelas wajah tegang mereka semua.
"Zi, are you okey??" Tanya Randi yang berjongkok di hadapan Ziva.
Sedangkan Ziva hanya tertunduk lesu, ia tak sanggup untuk mengangkat kepala nya.
"Zi!! Lo kenapa??" Tanya Revan yang khawatir melihat Ziva.
"Zi, kalo ada masalah bisa cerita ke kita!!" Seru Sisil.
"Sil, Lo keluar aja dulu deh!! Ada yang mau kita omongin sama Ziva!!" Seru Randi.
"Ta... Tapi..." Belum menyelesaikan ucapannya, Randi sudah memotong nya.
"Please!!" Ujar Randi.
"Oke, gue tunggu di luar aja!! Gue bakal tutup pintu nya, gue bakal jagain supaya gak ada yang masuk!!" Seru Sisil.
"Oke, thanks Sil!!" Ujar Revan.
Sisil pun bergegas keluar kelas, tak lupa ia menutup pintu kelas. Sementara Randi berusaha menenangkan Ziva, ia tau adik nya itu sedang tak baik baik saja. Setelah cukup lama berdiam diri, akhir nya Ziva mengangkat kepala nya. Terlihat jelas genangan air mata di pelupuk mata nya. Hal ini membuat Randi tertegun, ia dengan segera memeluk adik nya itu.
"It's okey!! It's gonna be oke!!" Seru Randi sembari mengusap punggung Ziva.
Setelah merasa Ziva cukup tenang, ia melepaskan pelukan nya. Ia menggenggam tangan Ziva, memberikan ketenangan untuk nya. Ziva yang sudah cukup tenang, mengambil hp nya dan langsung menunjukkan pesan yang ia terima pada Randi. Randi pun segera melihat nya, dan betapa terkejut nya ia ketika melihat foto itu.
Mata nya melebar dan memerah, tangan nya pun bergetar. Melihat hal ini, Revan segera mengambil alih hp Ziva dari tangan Randi. Reno pun ikut melihat apa yang ada di hp Ziva , mereka pun melongo tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Shiiitttt!!" Umpat Revan.
Reno hanya meringis melihat foto itu sedangkan Randi kembali memeluk Ziva.
"Banggsaatt!! Keterlaluan mereka!!" Maki Revan.
Revan benar benar tak menyangka ada orang yang bisa sekejam itu. Ya foto itu di kirim oleh anggota Winter Blezz, foto yang menunjukkan kondisi Alqan dan Rega. Di sana terlihat Alqan dan Rega yang di ikat menggunakan rantai. Mereka di gantung dengan kedua tangan di atas, juga kondisi mereka yang sangat mengenaskan. Mereka berdua babak belur dan penuh darah di sekujur tubuh mereka.
Ziva seketika menangis mengingat keadaan Rega dan juga Alqan. Apalagi setelah membaca pesan yang di tinggalkan bersama foto itu.
Isi pesan
Kalo Lo mau mereka tetep bernafas, Dateng ke sini sendirian!! Kalo Lo berani lapor polisi atau ada orang yang buntutin lo, gue pastiin mayat mereka pun gak bakal bersisa!!
Tes tes
__ADS_1
Ziva terus saja menangis di pelukan Randi, Sedangkan mata Randi sudah memerah akibat menahan amarah.
"Van, Lo telpon Mike sekarang!!" Titah Randi karna ia tau saat begini Ziva tak bisa memikirkan apapun.
"Oke!!" Seru Revan segera mencari kontak Mike di hp Ziva.
Tut Tut Tut
Panggilan pertama tak ada jawaban, Revan pun kembali menelpon nya dan kali ini di angkat.
"Halo, Ra!! Sorry hp gue silent!!" Seru Mike dari seberang sana.
"Bang ini gue!!" Seru Revan yang membuat Mike mengangkat sebelah alisnya.
"Revan??" Tanya Mike bingung, begitu juga anggota Warrior yang lain ketika Mike menyebutkan nama Leader White Eagle itu.
"Ya bang!!" Ujar Revan.
"Kok hp Ziva di Lo?? Dia gak kenapa kenapa kan??" Tanya Mike cemas.
"Dia gak papa kok bang, cuma shock aja kayak nya!!" Seru Revan.
"Shock?? Kok bisa??" Tanya Mike yang semakin khawatir dengan kondisi adik kesayangannya itu.
Mike pun segera memeriksa pesan nya, mata nya terbuka lebar melihat foto dan pesan itu.
"Siiaallannn!!!" Maki Mike dengan mata yang sudah sangat memerah karena amarah.
"Kenapa bang??" Tanya Bastian yang melihat jelas ekspresi Mike.
"Van, Lo jagain Ziva!! Jangan sampe dia lepas dari pengawasan Lo!! Jangan biarin dia nekat atau berbuat hal yang bakal nyelakain dia sendiri!!" Titah Mike.
"Oke bang, gue bakal slalu ada di Deket Ziva!!" Seru Revan.
"Gue percaya sama Lo!! Gue tutup dulu!! Ntar gue kabarin lagi, jangan bertindak sebelum gue suruh!! Tunggu kabar dari gue!!" Seru Mike.
"Oke bang!!" Seru Revan.
Tut Tut Tut
Mike pun mematikan sambungan telpon, ia kembali menatap ke arah anggota Warrior. Semua orang di sana mendadak kembali menjadi tegang.
"Ada masalah bang??" Tanya Samudra.
__ADS_1
Mike pun memperlihatkan foto dan pesan yang baru ia terima.
"Baangggssaatt!!!"
"Gila!! Apa mereka masih manusia!!"
"Ya Tuhan!!"
"Shiiitttt!! Keterlaluan!!"
Kira kira begitu lah reaksi Anggota Warrior ketika melihat foto itu.
"Terus kita harus gimana bang??"
"Iya bang, kita gak mungkin kan nyuruh Queen buat ngelakuin hal berbahaya kayak gitu!!"
"Iya tapi kita juga gak mungkin diem aja kan liat kondisi Alqan dan Rega kayak gitu!!"
"Terus gimana?? Gak mungkin kita ngorbanin Queen!!"
Seketika terjadi adu mulut di antara anggota Warrior.
"Stop!! Kalian bisa diem gak sih!!" Bukan Mike yang menjawab, tetapi Bastian.
"Kalian jangan memperkeruh keadaan bisa gak sih!!" Teriak Bastian emosi.
"Please, Lo semua gak usah berpikiran negatif dulu!! Mungkin ini mau nya mereka buat bikin kita terpecah!!" Seru Samudra.
Semua anggota Warrior pun terdiam, mereka menundukkan kepala.
"Gue gak nyalahin Lo semua, gue tau gimana perasaan Lo!!" Tapi gue juga gak bisa langsung ngambil keputusan, karna gue juga berat!!" Ujar Mike menghela nafas berat.
"Di satu sisi gue gak bisa liat kondisi Alqan dan Rega tapi di sisi lain gue juga gak bisa biarin adek gue kenapa kenapa!! Gue harap Lo semua ngerti keadaan. gue!!" Seru Mike.
"Gue bakal coba pikirin cara nya, tapi buat sekarang cukup tenang dan tolong percaya sama gue!!" Ujar Mike menatap satu per satu anggota Warrior.
"Iya bang, kita percaya sama Lo kok!!" Seru Samudra.
"Lo tenang aja, pasti ada jalan keluar nya!!" Seru Bastian yang mencoba menenangkan Mike.
Mike pun segera mengirim foto dan pesan. itu pada Fajar. Satu satu nya harapan untuk mengubah keadaan. Ia hanya bisa percaya dan berharap pada Abang nya dan orang kepercayaan Abang nya itu. Ia sebenarnya takut kalau sampai keputusan terakhir adalah harus menyerah akan adik kesayangannya itu. Tapi ia juga tak bisa main main dengan nyawa seseorang apalagi orang itu sudah bersama dengan nya bertahun tahun.
Mike berada dalam dilema yang sangat besar, ia tak bisa berpikir dengan jernih. Yang ia mampu saat ini hanya berharap semua akan baik baik saja.
__ADS_1