
Sinar mentari yang mengintip dari celah tirai jendela mengusik tidur seorang pemuda yang sedang berselancar dalam alam mimpi nya. Ya dia adalah Revan, setelah sambungan telpon nya dengan Mike putus ia kembali ke kamar Ziva. Ia tidur di sofa dekat jendela, ia tak ingin meninggalkan gadis cantik nya itu. Revan mulai mengerjapkan mata nya, ia sedikit menutup mata nya dengan telapak tangan nya. Untuk menutupi silau nya sinar matahari, namun detik berikut nya ia langsung terduduk karena menyadari ini sudah pagi dan matahari sudah naik ke singgasana nya.
Ia melirik ke arah kasur dan betapa kaget nya ia, saat tak menemukan sosok yang ia cari. Ia langsung berdiri dengan keadaan yang masih setengah sadar. Jalan nya pun masih sempoyongan, namun ia tetap berjalan mengarah ke dekat kasur. Wajah nya berubah panik karena mendapati gadis nya itu benar benar tidak ada. Namun beberapa saat kemudian ia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Ia pun menajamkan pendengarannya untuk memastikan apa yang ia dengar.
Kemudian ia berjalan ke arah kamar mandi, ia mengetuk pintu nya.
Tok Tok Tok
"Zi?? Lo di dalem??" Tanya Revan sedikit berteriak.
"Hmmm..." Hanya gumaman yang terdengar dari dalam sana.
"Huhhhhhh.." Namun hal itu sudah membuat Revan mampu bernafas dengan lega.
"Oh oke, gua balik ke kamar dulu!! Gue mau mandi dulu!! Gue mau ajak Lo ke suatu tempat!!" Seru Revan yang kembali di tanggapi gumaman oleh Ziva.
Revan pun bergegas keluar kamar itu dan masuk ke dalam kamar nya. Ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri nya. Tak butuh waktu lama ia sudah menyelesaikan acara mandi nya. Ia segera berganti pakaian. Ia memakai kaos berwarna hitam yang di padukan dengan kemeja kotak kotak berwarna merah hitam yang kancing nya di biarkan terbuka, serta celana jeans hitam panjang untuk melengkapi penampilan nya.
Ziva keluar dari kamar bersamaan dngen Revan yang juga keluar dari kamar nya. Revan tersenyum lebar melihat penampilan Ziva dari atas sampai bawah. Ziva mengenakan hoodie berwarna pink pucat yang di padukan dengan celana jeans hitam. Ziva menggerai rambut nya yang ikal itu sehingga ia terlihat imut sekali. Tak lupa make up tipis natural yang menghiasi wajah nya itu. Revan segera menghampiri Ziva, ia mengulurkan tangan nya pada Ziva. Gadis itu pun segera menyambut uluran tangan Revan.
"Mau kemana??" Tanya Ziva.
"Udah ikut aja!!" Seru Revan yang menarik tangan Ziva pelan.
Ziva hanya bisa mengikuti langkah Revan, jujur hati nya masih begitu sakit mendengar kabar semalam. Ia hanya mencoba untuk tetap berpikiran positif, ia tak boleh negatif thinking. Ziva sedang berperang dengan perasaan dan pikiran nya sendiri. Dan itu sebenarnya sudah di sadari oleh Revan sejak tadi. Karena tatapan mata Ziva yang begitu kosong. Mereka menuruni tangga dengan perlahan, Revan membawa Ziva ke dapur. Setelah sampai Revan segera mendudukkan Ziva di salah satu kursi di meja makan. Sedangkan diri nya pergi ke pantri.
"Hmm, masak apa ya??" Monolog Revan sembari mencari cari bahan makanan yang ingin ia masak.
__ADS_1
"Ah?" Terlintas sebuah ide di otak Revan.
Revan segera mengambil tepung pancake dari lemari penyimpanan, dengan lihai ia mencampurkan semua bahan untuk membuat pancake. Sedangkan Ziva tak berkomentar apapun, ia hanya diam dan memperhatikan setiap gerak gerik Revan. Terkadang Ziva tersenyum melihat tingkah menggemaskan Revan yang mencari ke sana kemari setiap bahan yang ia perlukan. Tidak hanya membuat pancake, Revan juga membuat beberapa hidangan lain nya untuk menemani sarapan mereka. Setelah agak lama berkutat dengan bahan masakan akhir nya semua siap. Ia segera menyajikan hidangan itu untuk Ziva.
"Nah, ini dia... Masakan ala chef Revan!!" Seru Revan dengan begitu percaya diri nya.
"Ayo di makan!!" Seru Revan menatap Ziva antusias.
Ziva pun mulai mengambil pancake yang sudah di siapkan oleh Revan. Tak lupa ia menuangkan saus strawberry pada pancake nya.
"Hmmm, enak" Puji Ziva ketika merasakan makanan buatan Revan.
"Serius??" Tanya Revan tak percaya.
Ia segera duduk dan ikut menyantap makanan yang tadi ia buat. Dan ternyata benar enak, mereka pun makan dengan tenang. Terkadang Revan melemparkan candaan yang membuat Ziva tak mampu menahan senyum nya. Revan berusaha mengembalikan keceriaan gadis nya itu, dan usaha nya tidak sia sia. Ziva sudah bisa tersenyum lepas dan bahkan menimpali candaan nya.
"Hehe iya, lanjutin gih makan nya!! Gue mau ngajak lu ke suatu tempat!!" Seru Revan.
"Danau lagi??" Tanya Ziva menebak.
"no no no!! Pokok nya ada deh!!" Ujar Revan sembari terkekehmelihat ekspresi wajah Ziva yang merajuk karna tak di beritahu.
Setelah makan, Revan dan juga Ziva menaruh sisa makanan di lemari. Dan piring kotor di wastafel.
"Udah ntar aja nyuci nya!!" Seru Revan saat Ziva ingin mencuci piring nya.
"Emang kita mau kemana sih Van?" Tanya Ziva yang semakin penasaran.
__ADS_1
"Cari hiburan!!" Seru Revan sembari menarik tangan Ziva.
Ziva pun dengan terpaksa mengikuti langkah Revan, ia hanya berjalan berdampingan dengan Revan tanpa melepaskan tautan tangan mereka. Mereka berjalan, ke jalan setapak yang berada di samping vila. Di sepanjang jalan terdapat banyak sekali pohon dan tanaman yang terlihat sangat terawat. Di sini terlihat masih saat asri bahkan udara nya pun begitu menyegarkan. Revan mengajak Ziva untuk naik tangga batu yang ada di hadapan mereka. Tidak terlalu tinggi namun begitu estetik di pandang mata. Sehingga Ziva tak mampu menahan rasa nya untuk mengabadikan moment ini.
"Van bentar, fto dulu yuk!!" Seru Ziva antusias.
"Hehe oke" Revan terkekeh pelan namun masih mengikuti keinginan Ziva.
Mereka pun berfoto dengan berbagai pose, ini sudah menjadi hiburan tersendiri bagi Ziva. Dan Revan begitu senang dapat melihat gadis nya itu tersenyum lepas seperti ini. Mereka kembali melanjutkan perjalanan, sampai di atas Ziva takjub dengan hamparan bingan lavender yang begitu indah. Mulut nya sampai tak lagi mau menutup, mata nya terbuka lebar. Tanpa sadar ia melepaskan genggaman tangan Revan. Ia melangkah perlahan menuju hamparan bunga itu. Tangan nya mulai menyentuh bunga bunga yang indah itu.
Ziva tersenyum lepas sembari menari nari mengelilingi hamparan bunga itu. Seakan lupa segala nya bahkan ia lupa kalau ia sedang bersama Revan. Sedangkan Revan hanya bisa tertawa pelan melihat tingkah menggemaskan Ziva yang sudah seperti anak kecil. Tak lama Ziva mulai teringat pada Revan, ia kembali melangkah menuju Revan.
"Wah gila Van, di sini keren banget... Warna purple nya duh oh god!!" Ziva sudah kehilangan kata kata untuk mengekspresikan perasaan nya.
"Suka??" Tanyaku Revan.
"Iya lah, eh foto yuk!!" Seru Ziva.
Revan mengeluarkan ponsel nya, kali ini ia yang mengambil selfi. Ziva dengan senang nya segera bergelayut manja di bahu Revan sembari menunjukkan senyum termanis nya. Tak hanya satu foto, namun mereka mengambil beberapa foto dengan angle dan pose yang berbeda. Yah kebanyakan pose seperti sepasang kekasih, mereka terlihat sangat serasi. Terakhir Ziva foto sendiri, Revan menyuruh nya memetik satu bunga dan memegang nya. Ziva memegang bunga itu di dekat wajah nya dan berada di tengah hamparan bungan purple itu. Beberapa foto di ambil oleh Revan, merasa sudah cukup ia memanggil Ziva mendekat ke arah nya.
"Zi, liat nih hasil nya!!" Seru Revan dengan segera Ziva berlari kecil ke arah Revan.
"Wah, gila!! Lo pinter banget deh cari angle yang pas!! Estetik wee!" Teriak Ziva antusias.
"Karna yang di foto cantik nya nyaingin bidadari sih!! Jadi angle mana pun tetep cantik!!" Goda Revan mengedipkan sebelah mata nya.
"apaan sih lo Van!!" Ujar Ziva tersipu malu.
__ADS_1