Most Wanted School

Most Wanted School
Memastikan Perasaan


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah seorang gadis cantik sedang berbaring di kursi taman belakang sebuah rumah. Ia sedang menikmati hangat nya matahari pagi yang menyentuh kulit nya. Namun tiba tiba ia di kaget kan dengan sebuah tangan melingkar di pinggang nya. Ia reflek menoleh ke belakang, senyum nya mengembang melihat pemuda itu.


"Kak" Seru Ziva.


Ya gadis itu adalah Ziva dan yang memeluk nya adalah Mike kakak tersayang nya.


"Pagi my Queen!!" Sapa Mike sembari menyodorkan sekotak yogurt rasa strawberry.


"Makasih my King" Ziva tersenyum dengan sangat manis.


"Dah baikan??" Tanya Mike yang khawatir ketika melihat adik nya itu sudah keluar meski selang infus masih bertengger di lengan nya.


"Udah, kakak gak usah khawatir tadi kata suster Anna matahari pagi bagus buat mulihin keadaan ak" Jelas Ziva karena tau apa yang kakak nya khawatir kan.


"Hhmmm oke, tapi jangan kelamaan ntar ke bakar matahari!" Peringat Mike.


"Iya..."


Ting


Sebuah pesan masuk ke ponsel Ziva, ia segera membuka nya.


From : Anak Dajjal


To. : Me


Zi? Lo di rumah? Gue ke sana ya?


"What??" Teriak Ziva saat membaca pesan dari Revan.


"Kenapa??" Tanya Mike yang heran melihat tingkah adik kesayangannya itu.


"Gak, gak papa kok kak... Kaget doank ada temen gue yang mau jengukin" Seru Ziva.


"lah, bagus donk!! Berarti ada yg peduli sama Lo, meskipun dengan penampilan Lo yang nerd itu!!" Ujar Mike sembari mengedipkan sebelah matanya.


"ihhh kakak rese!!" Ziva memukul lengan Mike.


"Dah sana siap siap, Lo gak mau bongkar indentitas Lo kan!!" Seru Mike yang langsung di angguki oleh Ziva.

__ADS_1


Mike membantu Ziva untuk berjalan ke kamar, karna kondisi Ziva masih belum memungkinkan untuk berjalan sendiri. Tadi saja ia di bantu oleh suster Anna untuk berjalan ke belakang rumah. Ziva benar benar kesal dengan kondisi nya yang lemah seperti ini. Namun ia juga senang, bisa di perhatikan oleh orang orang yang sayang dengan nya. Jadi ia bisa tau siapa yang benar benar sayang atau hanya topeng.


Setelah sampai di kamar, Mike menyiapkan alat make up Ziva serta beberapa lotion yang biasa di gunakan oleh Ziva. Setelah itu ia duduk di sofa dekat jendela, sembari bermain game di ponsel nya.


Tak butuh waktu lama untuk Ziva sudah selesai, ia menghampiri Mike dengan berjalan tertatih.


"Eh udah selesai?" Tanya Mike yang kaget ketika melihat Ziva sudah berada di samping nya.


"Iya..." Ziva menyandarkan kepala nya di bahu Mike sembari sedikit melirik ponsel Mike, ternyata Mike sudah tak lagi bermain game melainkan sedang chat dengan Rega.


"Hmm kakak mau pergi??" Tanya Ziva.


"Sorry Ra" Mike menghadap ke arah Ziva kemudian mengelus rambut Ziva.


"Hahhh... Ya udah pergi aja" Seru Ziva sembari tersenyum.


"Tapi..." Belum sempat berkata Ziva langsung membungkam mulut Mike dengan jari nya.


"Ara, gak papa kak... Kan ntar ada temen Ara yang Dateng!! Ziva mencoba meyakinkan Mike bahwa ia akan baik baik saja.


"Hhmmm oke, tapi inget jangan terlalu capek dan jangan telat makan!!" Seru Mike sembari memeluk adik kesayangannya itu.


"iya" Ziva tersenyum sembari membalas pelukan dari Mike.


"Gue gak nyangka, ini alasan nya Lo gak bales chat gue Zi!!" Seru Revan dengan mata memerah.


Ya dia adalah Revan, ia memutuskan untuk langsung datang ke alamat yang sudah di berikan oleh Randi karna tak kunjung mendapat balasan pesan dari Ziva. Namun siapa sangka ketika ia sedang berenti untuk mencari nomor rumah yang tertera, justru ia melihat pemandangan di sebrang nya. Pemandangan yang membuat tangan nya terkepal, mata nya memerah, dan dada nya terasa sesak.


"Gue kenapa sih??" Tanya Revan monolog.


"Kenapa sakit banget?? Apa iya di hati gue sebenernya bukan Syila tapi Lo Zi? Gue cuma kagum sama Syila, sedangkan Lo, Lo beda Zi..." Batin Revan ketika melihat Mike memeluk Ziva.


"Apa gue dah terlambat buat sadar soal perasaan gue Zi?? Gue bener bener jatuh hati sama Lo Zi" Lirih Revan menatap ke langit menahan genangan di pelupuk mata nya.


"Gak!! Meski pun gue harus jadi Rival king nya Warrior gue juga gak peduli!! Gue sayang sama Lo!! Dan gue bakal rebut Lo dari dia!!" Tandas Revan mengepalkan tangan.


"Gue bakal buktiin kalo gue lebih baik dari pada dia!!" Tekad Revan yang telah memastikan perasaan.


Ia menunggu di sana, sampai ketika Mike keluar dari rumah itu dan pergi. Bukan nya ia takut bertemu dengan Mike, tapi ini belum saat nya, karna Ziva belum memiliki perasaan pada nya. Dan itu akan membuat Ziva dengan lantang memilih Mike, pikir Revan.

__ADS_1


Setelah Mike tak terlihat lagi, Revan segera melajukan motor nya ke pekarangan rumah itu.


Tok Tok Tok


"Iya cari siapa??" Tanya seorang gadis dengan rambut Curly sebahu yang baru saja membuka pintu.


"Eh, Ziva nya ada??" Tanya Revan.


"Ohh.. Ada" Tasya mempersilahkan Revan masuk.


"Jadi ini, temen nya Zi... Gila!! Penampilan nerd kayak gitu bisa dapet cogan kek gini!!" Decak Tasya dalam hati.


"emm jadi Ziva dimana??" Tanya Revan ketika melihat Tasya malah bengong.


"Eh, yuk sini!!" Tasya mengantar Revan ke kamar Ziva.


Saat memasuki kamar terlihat Ziva sedang duduk di kasur di dampingi dengan suster Anna yang sedang mengganti Infus Ziva.


"Eh suster Anna??" Revan kaget melihat Suster Anna ada di sini, biasa nya ia melihat ia di sekolah menunggu di UKS.


"Kok di sini??" Tanya Revan.


""eh, itu karna keluarga Ziva pake jasa rumah sakit tempat saya kerja dan kebetulan kan ini libur nasional jadi sekolah libur, jadi saya yang di kirim ke sini" jelas Suster Anna yang terlihat meyakinkan di mata Revan.


"Zi, Lo gimana??" Tanya Revan mendekat ke arah Ziva.


"Kalo gitu saya permisi, jangan lupa obat nya nanti di siang di minum" Suster Anna segera meninggalkan kamar itu.


"Dah oke kok" Senyum Ziva.


"Zi, gak di kenalin nih" Ujar Tasya.


"Eh, iya... Sya kenalin ini Revan temen sekolah gue... Dan Van ini Tasya sahabat gue."


"Hai" Seru Revan dan Tasya bersamaan.


"Oh ya, Zi gue ada janji sama temen, gue tinggal gak papa??" tanya Tasya yang sebenarnya ia tak enak meninggalkan Ziva sendiri.


"Gak papa kok, kan ada gue yang jagain Zi" Bukan Ziva yang menjawab melainkan Revan yang membuat Tasya tersenyum.

__ADS_1


"Nih anak kesambet apa??" Batin Ziva bingung dengan sikap Revan.


"Ya udah bye!!" Tasya pun meninggalkan Ziva dan Revan dengan keadaan canggung


__ADS_2