
Klek
"silahkan duduk!" ujar Bu Beta ketika Ziva dan Jessy masuk.
Mereka segera duduk di kursi di hadapan Bu Beta.
"ibu mendapatkan laporan kalau Jessy memukul Ziva. Apa itu benar Jessy?" tanya Bu Beta yang membuat Jessy menatap tajam Ziva.
"kayak nya ibu salah pah..."
"salah paham? Maksud kamu ibu salaah liat? Sebelum ibu memanggil kalian berdua, ibu sudah terlebih dahulu mengecek rekaman cctv yang ada di sana. Apa kamu masih ingin mengelak?" sela Bu Beta yang membuat Ziva tersenyum tipis melirik ke arah Jessy.
Dengan pelan Jessy mengangguk.
"iya bu, itu benar. Tapi itu terjadi karena Ziva yang duluan nendang perut saya bu!"
"tapi ibu gak liat aksi Ziva yang nendang perut kamu?"
"itu terjadi saat kai masih berada di dalam toilet bu." jelas Jessy.
"apa itu benar Ziva?" tanya Bu Beta yang langsung menoleh pada Ziva.
"itu bohong bu! Mana berani saya nendang Jessy sedangkan dia di kawal oleh kedua teman nya."
Jessy yang mendengar itu langsung menggeram dan menatap tajam pada Ziva.
"brani bohong lo ya!" seru Jessy tak terima.
"emang apa bukti nya kalo aku nendang kamu?" tanya Ziva dengan wajah polos nya.
"ini?" seru Jessy menunjuk ke arah seragam nya.
"tapi seragam kamu gak kenapa napa Jessy. Kalo emang Ziva nendang perut kamu pasti nya seragam kamu bakal kotor dan ada jejak sepatu nya Ziva."
"karena tadi saya risih seragam saya kotor bu, jadi saya cuci. Kalo ibu gak percaya ibu bisa tanya aja sama Angle dan Maurin . Karena mereka juga ada di sana." jelas Jessy yang berusaha membuat Bu Beta percaya.
"Jessy ini bukan pertama kali nya kamu memasuki ruangan ini. Dan hal ini bukan hanya Ziva yang mengalami ini. Ibu sudah banyak mendengar keluhan tentang kamu, pihak sekolah tidak mengeluarkan kamu karena memandang ayah kamu yang merupakan salah satu donatur di sekolah ini." Bu Beta menghela nafas.
"yang mana kami menghargai ayah kamu sehingga kami masih mempertahankan kamu di sini. Tapi kalau sampai ini terjadi lagi, maka pihak sekolah tidak bisa mentolerir lagi. Apa kamu mengerti?"
"tapi saya beneran jujur bu kali ini" seru Jessy yang memohon agar Bu Beta percaya akan kata kata nya.
"ibu capek Jessy, kmu slalu berkata seperti itu. Sekarang kamu minta maaf sama Ziva." titah Bu Beta yang membuat Jessy menggeleng pelan.
"saya gak mau...."
"kamu mau saya buatkan surat untuk kedua orang tua kamu"
Dengan terpaksa Jessy melirik ke arah Ziva.
"maafin gue." tandas Jessy dan langsung bergegas berlari keluar ruangan Bu Beta.
__ADS_1
"Ziva maafin Jessy ya, dia dari dulu emang begitu"
"susah untuk membuat nya berubah" senyum Bu Beta yang di balas anggukan.
"iya bu, kalau begitu saya pamit dulu. Permisi!" ujar Ziva kemudian beranjak meninggalkan ruangan Bu Beta dan langsung menghampiri Jessy.
"buru buru banget sih? Mau kemana?" tanya Ziva yang mensejajarkan langkah dengan Jessy.
"sonbong banget di tanya gak di jawab" ujar Ziva saat Jessy hanya menoleh sekilas.
"karena gue kesel sama lo! Kenapa sih lo gak ngaku aja sih di depan Bu Beta? Lo sengaja kan nyudutin gue?" ujar Jessy yang menatap tajam pada Ziva.
"ckckck itu kerena percuma ogue bilang yang sebenernya. Karena lo tetep aja yang bakal kena omel karena lo duluan yang mulai. Maka nya yah jadi orang gak usah jadi tukang bohong. Kan jadi gak di percaya orang kan?" kekeh Ziva.
"lo..." tunjuk Jessy tepat di wajah Ziva.
Dengan santai nya Ziva menurunkan jari telunjuk Jessy dan berkata.
"jangan ngajak berantem, gak malu di liatin orang? Apa kata Bu Beta kalo kita balik lagi ke ruangan itu?"
"lama lama lo nyebelin juga ya!"
"for the last, gue gak ada hubungan apapun sama Revan. Dia ngomong kayak gitu karena dia gak mau di tempelin sama lo!" senyum Ziva yang langsung meninggalkan Jessy menuju kelas.
Klek
"permisi bu" senyum Ziva.
"iyah duduk"
"lo gak apa apa kan Zi? Gue sempaet khawatir kalo Jessy bakal ngancem lo di jalan" lirih Sisil.
"tenanng aja, aku gak papa kok"
"syukurlah kalo lo gitu" senyum Sisil.
Tak lama Jessy memasuki kelas dengan wajah yang sangat sangat kusut.
"lo kenapa Jess, kusut banget muka lo?"
"abis di marahin sama Bu Beta ya?"
Tanya kedua sahabat Jessy yang membuat nya tambah kesal.
"tau ah!? Gak usah banyak ngomong. Gue lagi males" sahut Jessy yang membuat Ziva tersenyum mendengar nya.
Setelah pelajaran selesai siswa siswi segera berhamburan keluar dari kelas.
"genks, gue duluan ya!!" ujar Randi yang bergegas meninggalkan kelas.
"oke" jawab Revan dan Reno bersamaan.
__ADS_1
Randi pun berjalan ke area parkir dengan membawa beberapa paku di tangan nya. Karena melihat para siswa belum ada yang berada di area parkir, Randi langsung menyebarkan paku paku itu di belakang mobil Jessy.
"gue yakin, pasti ban mobil nya pecah di tengah jalan! Salah siapa kenapa gangguin sepupu gue!" seru Randi yang tersenyum merekah sebelum akhir nya menghampiri mobil nya dan langsung mengendarai mobil nya menuju rumah nya.
Jessy dan kedua teman nya segera memasuki mobil nya dengan berceloteh panjang lebar.
"eh gue masih bingung banget deh, kenapa Ziva bisa berani banget sama gue?"
"lo liat sendiri kan pas dia berani banget nendang perut gue! Mana Bu Beta gak percaya banget lagi sama gue!" dumel Jessy sembari menyalakan mesin mobil nya.
"iya gue juga gak nyangka" timpal Maurin yang menyetujui nya.
"apa jangan jangan dia punya kepribadian ganda?"
"ih serem deh kalo emnag dia punya kepribadian ganda. Bisa aja kan sisi lain dari dia itu psikopat! Liat aja dari cara dia natap kita. Kek orang yang mau nelen kita idup idup!" Angle sampai bergidik ngeri.
"bener juga. Gawat kalo mosal nya kita jadi inceran nya. Bisa bisa nasib kita sama kek di film film." timpal Maurin yang membuat Jessy mendengus kesal.
"jangan nakut nakutin gue napa?!"
"harusnya kita cari cara supaya kita bisa ngungkapin siapa dia sebenernya." tandas Jessy.
"tapi Jess, gue takut." ujar Angle.
"sama gue juga." seru Maurin mengangguk setuju.
"halah kalian berdua payah!"
"eh eh eh kok mobil hue bernti?" ujar Jessy yang merasa tiba tiba mobil nya terasa berat.
"bensin lo abis kali!"
"enak aja kalo lo ngomong" Jessy langsung melepaskan seatbelt nya dan bergegas turun dari mobil nya.
"anjirrr! Baru jalan udah bocor." ujar Jessy yang membuat Angke dan Maurin menoleh ke arah belakang nya.
"yah padahal perjalanan kita masih jauh" lirih Angle yang mengelap keringat nya. Karena kebetulan mereka berdiri di bawah terik matahari yang lagi terik terik nya.
"mana sepi lagi!" timpal Maurin.
"Rin, telpon montir!" titah Jessy pada Maurin
"oke tunggu bentar"
Maurin segera menelpon montir untuk segera datang ke sana.
Sedangkan di sisi lain, Ziva sedang memasuki mobil Revan. Karena Revan mengajak nya ke rumah nya untuk kembali obrolan.
"aku kurang suka sama orang orang di sana" jawab Ziva mata nya terus tertuju pada jalanan.
"oh gitu, berarti lo dari kalangan atas donk, terus kenapa lo sering naik ojek!" tanya Revan penasaran.
__ADS_1
"ya gak apa apa, aku suka coba hal hal baru."
"eh itu bukan nya Jessy sama temen temen nya ya?!" ujar Ziva ketika melihat Jessy dan teman teman nya sesng berdiri di pinggir jalan.