Most Wanted School

Most Wanted School
Berubah Karena Dia


__ADS_3

Tringgg


Jam pelajaran pun di mulai, ini adalah pelajaran yang sangat di sukai oleh Ziva yaitu kimia. Ia sangat antusias ketika mendengar penjelasan Bu Sarah mengenai unsur atom. Namun di sisi lain, Revan tak bisa fokus dengan pelajaran ini. Pikirannya terus melayang, dan sama sekali tak memperhatikan penjelasan dari Bu Sarah.


"Baik sampai di sini ada yang mau di tanya kan?" Seru Bu Sarah.


Semua murid hanya diam, entah itu memang tidak ada pertanyaan atau mereka memang tidak mengerti dengan penjelasan Bu Sarah.


"Oke kalau tidak ada, kalian kerjakan soal pelatihan di halaman 125!!" Titah Bu Sarah.


"Yah, Bu kok soal sih" Keluh seorang siswa.


Tapi walaupun mengeluh mereka tetap mengerjakan tugas mereka karena Bu Sarah adalah harimau betina yang siap mengamuk kapan saja.


"Hmmm yang ini, dan ini...." Ziva sedang serius mengerjakan soal nya hal itu tak luput dari perhatian Revan.


"Apa dia suka banget belajar??" Tanya Revan dalam hati.


Tak lama pangkal hidung Ziva berkedut, kepala nya juga medadak pusing.


"Aissshhhh ini udah terlalu sering, kayak nya harus kontrol sama dokter David..." Batin Ziva sembari memijit pangkal hidung nya untuk meredakan sedikit rasa nyeri nya.


"Bu, saya udah selesai boleh izin ke toilet?" Seru Ziva sembari mengangkat tangan nya.


"Oh, bawa kemari!" Titah Bu Sarah.


"Gila!! ini baru juga lima belas menit!!"


"Ziva keren!!"


"Dewi kimia yang baru nih!!"


"Gak nyangka si cupu bisa segitu pinter nya."


"Alah paling juga asal jawab biar bisa caper!"


"Iya tuh, sok banget!!"


"Iya mentang jadi mentor nya Revan jadi belagu!!"


Ya begitulah dunia ini, ada yang akan menilai baik dan juga ada yang menilai buruk. Semua itu tergantung pandangan masing masing. Yang terpenting adalah diri sendiri, apakah bisa atau tidak.


Ziva pun menyerahkan buku nya pada Bu Sarah untuk di periksa.


"Ini Bu!"


"Kamu gak asal jawab kan?" Tanya Bu Sarah memastikan.


"Iya, Ibu bisa periksa sendiri!" Seru Ziva dengan sangat percaya diri.


"Zivara William Melson?" Bu Sarah membaca nama yang tertera di buku Ziva.


"Eh, kamu??!" Bu Sarah terkejut sampai menutup mulut nya.

__ADS_1


"Iya itu saya!!" Ziva yang sudah tau arah dari ucapan Bu Sarah langsung mengakui nya.


Bu Sarah menatap Ziva dari atas sampai bawah.


"Tolong rahasiakan Bu!" Seru Ziva pada Bu Sarah.


Ya, Bu Sarah memang pernah bertemu Ziva, saat itu di lomba sains Nasional. Dan kebetulan Bu Sarah saat itu di undang sebagai salah satu juri nya.


Bu Sarah sangat bangga bisa melihat Ziva yang begitu mahir di bidang sains waktu itu, lebih tepat nya Ziva sedang mengikuti lomba kimia waktu itu. Dia berhasil mengembangkan rumus yang bahkan Bu Sarah butuh waktu sebulan untuk memahami nya. Itu adalah momentum yang tak pernah ia lupakan.


Namun saat bertemu dengan Ziva yang sekarang, ia sungguh sungguh tertegun. Ziva yang dulu nya kharismatik, dan slalu memancarkan aura Queen nya di mana pun kaki nya melangkah. Justru di hadapan nya kini, terlihat seperti Upik abu yang terbuang.


"Astaga, anak ini!!" Batin Bu Sarah.


"Semua siswi di sini berlomba untuk menarik perhatian dengan kecantikan nya, eh dia malah jadi Upik abu!!" Bu Sarah geleng geleng kepala ketika Ziva meminta izin ke toilet dan langsung pergi.


"Jika saat nya tiba dia mengungkapkan jati diri, saya yakin itu akan menjadi ledakan atom yang sangat mengejutkan.


"Baiklah lanjutkan tugas kalian!" Titah Bu Sarah setelah selesai dengan urusan pikiran nya.


Satu per satu siswa mulai mengumpulkan tugas nya, hanya tinggal Revan yang belum mengumpulkan tugas nya.


"Revan!! Kamu tidak mengerjakan tugas lagi?" Tanya Bu Sarah saat memeriksa buku dan ternyata tidak ada nama Revan di dalam nya.


Sudah bukan hal yang mengejutkan bila Revan tak mengerjakan tugas. Namun ini akan membuat nya kerepotan jika Revan terus seperti ini.


Ia berjalan menuju bangku Revan, karena seperti nya sang empu tak mendengar perkataan nya. Ia sangat geram, saat melihat Revan seperti sedang fokus dengan hal lain tanpa mementingkan ucapan nya.


"Eh?! Anak ini!!!" Batin Sarah melongo seperti melihat sebuah keajaiban.


Ya bagaimana tidak, karna ini adalah pertama kalinya ia melihat Revan mengerjakan tugas. Ya Bu Sarah melihat Revan sedang melakukan perhitungan rumus dan menjawab soal yang ia berikan.


"Sudah Bu!!" Seru Revan menyerahkan buku nya pada Bu Sarah.


"hah?! Eh?! iya..." Bu Sarah bingung harus bereaksi bagaimana karena ini adalah momen yang langka.


Begitu juga dengan seisi kelas bahkan Reno dan juga Randi pun di buat terpelongo melihat sahabat nya itu mengumpulkan tugas.


"Reno, gue gak lagi mimpi km?" Tanya Randi.


"Ho oh, gue juga kayak nya lagi mimpi deh liat Revan ngumpul tugas!!" Seru Reno.


"Cubit gue!!" Ujar mereka berdua bersamaan.


"Aawwww sakit woy!!" mereka berdua meringis ketika seseorang mencubit pipi mereka.


"Kalian gak mimpi, berarti gue juga!!" Seru Sisil yang menjadi tersangka yang telah mencubit pipi Reno dan juga Randi.


"Kenapa Lo cubit sih?!" Ketus Randi.


"Lah tadi siapa yang minta?" Sewot Sisil.


"Ya kan gue ngomong sama Reno bukan sama Lo!!" Balas Randi tak terima.

__ADS_1


"Ya sama aja keles kan juga sama sama di cubit!!" Sisil memutar kedua bola mata nya.


Walaupun dalam hati nya sudah bersorak Sorai.


"Demi apa!!! Gue pegang pipi nya Randi!!"


"Ya ampun! Ya ampun!! Mimpi apa gue semalem."


"Fix, gak bakal gue cuci nih tangan!!"


"Terserah!!" Tajuk Randi.


"Dah ngambek dia!!" Seru Sisil.


Tringgg


Jam pelajaran pun selesai, Bu Sarah segera meninggalkan ruangan. Randi dan juga Reno segera menghampiri Revan.


"Wih tumben nih, mas bro bikin tugas!!" Ejek Randi.


"Terus??!" Revan mencoba untuk cuek.


"Ya kan biasa nya juga gak, bahkan sekarang dah gak bolos lagi nih??!" Tanya Randi mengedip ngedipkan mata nya.


"Kenapa mata lo,? katarak?" Tandas Revan.


"Annjjiir Lo!!" Randi melempar buku ke kepala Revan namun segera ia tangkis.


"Tapi bener Lo kenapa juga hari ini??" Heran Reno.


"Biasa nya Lo cuek dan bodi amat sama pelajaran!" tambah Reno.


"Iya ya gue kenapa?" Tanya Revan.


"somplak lu!!" Randi menggeplak kepala Revan.


"Sakit ogep!!" Revan mengelus kepala nya.


"Kayak nya si Ziva bawa aura positif ke elo ya!!" Seru Reno.


"Hah?? Ziva?? Kok bawa bawa cupu sih??" Heran Randi yang mendengar nama sepupu nya di bawa bawa.


"Ya elah apa Lo gak sadar, semenjak Ziva jadi mentor nya Revan, nih anak perlahan berubah!!" Seru Reno.


"Iya juga ya!!" Sahut Randi yang membuat Revan tertegun.


"Iya kan, Revan yang dulu nya susah di ajarin malah sekarang jadi rajin belajar dan yang jelas dah gak pernah bolos!!" Seru Reno.


Deg


"Iya ya, kenapa gue gak sadar??"


"gue berubah karena dia!!" batin Revan.

__ADS_1


__ADS_2