
Setelah Rega pergi, Ziva kembali berbaring dan melupakan kalau masih ada seorang lagi yang masih ada di kamar nya. Revan yang melihat itu menjadi jengkel sekali.
"Cih!! Bener bener masa gue gak di anggep!!" Batin Revan kesal.
"Van, ambilin minum donk!!" Seru Ziva tiba tiba yang membuat Revan mengedip ngedipkan mata nya beberapa kali.
Namun ia segera tersadar dan segera mengambil minum di dapur.
"Gue pikir dia lupa sama gue!!" Seru Revan yang sedang menuang air minum.
Setelah itu ia segera kembali ke kamar, dan betapa terkejutnya ia melihat Ziva sudah berada di lantai sambil memegang perut nya. Revan segera berlari ke arah Ziva tanpa perduli air yang ia bawa tumpah. Ia segera meletakan gelas nya dan beralih ke Ziva.
"Zi, are you okey??" Revan terlihat begitu khawatir.
"ssss... sa sakiittt..." Lirih Ziva.
Tes
Ziva sudah tak kuasa menahan rasa sakit nya, ia sampai menangis. Revan menjadi panik melihat kondisi Ziva sekarang, namun logika nya masih sedikit waras. Revan mengambil ponsel nya dan segera menghubungi rumah sakit tempat dokter David bekerja.
Ia harus menunggu beberapa saat untuk mendapatkan nomor Dokter David. Setelah mendapatkan nya, ia langsung menghubungi nya.
"Halo"
"Dok, tolong!!! Ziva kesakitan" Suara Revan bergetar menandakan ia sangat panik.
Deg
Dokter David awal nya sangat terkejut mendengar hal itu, namun ia berusaha profesional dan tidak panik.
"Apa perut nya yang sakit?" Tanya dokter David tenang.
"Ya, dok... Dia gak berenti nangis" Panik Revan.
"Oke tenang, cari bantal kecil suruh dia baring di lantai pastiin posisi nya miring." Jelas Dokter David.
Revan segera melakukan apa yang di perintahkan oleh dokter David, ia mengambil bantal kecil dan segera memposisikan Ziva untuk berbaring miring.
"Halo dok, udah"
"Oke kalo gitu sekarang jaga dia baik baik, pastiin dia gak tertidur, jangan sampe dia tertidur apalagi pingsan" Dokter David beserta beberapa perawat memasuki mobil nya, ia segera tancap gas.
__ADS_1
Sedangkan Revan terus menjaga Ziva agar tetap sadar, sesekali ia harus menepuk pipi Ziva karna gadis itu memejamkan mata nya.
"Zi, Zi, wake up, Zi, don't slepp!!" Revan menepuk pipi Ziva berkali kali.
Dan itu berhasil membuat kesadaran Ziva kembali, walau sayu. Ziva memang tak meringis kesakitan lagi namun kondisinya kali ini sangat sangat memprihatinkan. Wajah nya sudah pucat pasih dan bibir nya pun membiru. Melihat keadaan Ziva, Revan menjadi tak karuan ia terus menggenggam tangan Ziva. Ia berharap dokter segera datang karena ia takut terjadi sesuatu pada gadisnya itu.
"Zi, Lo harus kuat!! Zi, gue di sini!! Gue di sini buat Lo!!" Ucap Revan.
"Zi, gue sayang sama lo!! Zi, please don't leave me!! Zi!!" Seru Revan tanpa sadar mengungkap kan rasa sayang nya pada Ziva.
Sedangkan Ziva yang setengah sadar seperti bermimpi mendengar kata kata itu. Ziva berusaha untuk tetap sadar, namun mata nya begitu berat. Dunia seakan berputar di hadapan nya, ia sudah mencapai batas nya.
"Zi!!! Zi!!!" Teriak Revan ketika melihat Ziva tak sadarkan diri dengan darah mengalir di hidung nya.
"Zii!!!"
Suara Revan menggema di rumah itu dan kebetulan Mike dan Randi baru sampai untuk mengecek keadaan Ziva. Mendengar suara teriakan, mereka berlari kencang ke arah kamar Ziva.
Braakkkk
Pintu di buka dengan keras oleh Mike, ia langsung berlari ke arah Revan dan juga Ziva begitu pula Randi. Mike terkejut melihat kehadiran Revan di sisi adik nya itu, namun kondisi Ziva jauh lebih penting.
Randi melihat kondisi Revan yang sangat kacau,dengan memegang tisu membersihkan darah di hidung Ziva. Randi tak pernah melihat Revan menangis sampai seperti ini, benar benar miris di mata nya. Ya seorang Revano Baskara yang di kenal badboy, urakan, tak berperasaan sekarang sedang jatuh.
Revan hanya diam, namun air mata nya tak berhenti mengalir.
Selang beberapa menit, Dokter David beserta beberapa perawat datang. Ia segera meminta semua orang keluar dan melakukan tindakan pada Ziva. Namun sebelum Revan keluar, dokter David menanyakan sesuatu.
"Kapan dia pingsan?"
"8 menit" Tandas Revan yakin.
Dokter David mengangguk dan langsung mengambil tindakan.
Sementara Revan, Mike dan juga Randi menunggu di luar kamar dengan cemas. Setelah bisa mengendalikan emosi nya, Mike menghadap Revan.
"Kenapa??" Tanya Mike.
"Gue gak tau bang!! Tadi dia baik baik aja, Rega tadi juga di sini.... Pas Rega pergi dia juga masih baik baik aja... Terus dia minta minum, gue ke dapur buat ambil minum... Pas balik dia udah kesakitan di lantai.. Gue... Gue... Langsung telpon dokter David, gue udah coba yang terbaik buat bikin dia tetap sadar, tapi di.. dia.. dia..." Suara Revan bergetar hebat, ia tak bisa melanjutkan kata kata nya.
Mike meninju dinding melampiaskan amarahnya, namun bukan karna Revan. Melainkan menyalahkan diri nya sendiri yang lalai menjaga adik kesayangannya itu. Randi menjadi penengah, ia mencoba menenangkan kedua laki laki itu. Meski hati nya juga cemas, namun dalam situasi begini harus ada yang tetap tenang.
__ADS_1
"Van, tenang!! Ziva pasti gak papa kok!!"
"Mike..." Randi ingin menenangkan Mike namun Mike sudah mengangkat tangan nya terlebih dahulu yang membuat Randi menghembuskan nafas berat.
Lima belas menit mereka menunggu, akhir nya dokter David keluar.
"Dok..." Belum sempat bicara Dokter David mengangkat tangan nya.
"Ziva gak papa, cuma sedikit komplikasi karna terlalu stress... Usahakan jangan sampai terjadi lagi, ini benar benar bukan hal yang bisa kalian sepelekan... Usahakan suasana hati nya jangan sampai tegang, dan jangan sampai dia sendiri harus ada orang di sisi nya..." Jelas Dokter David.
"Makasih dok!!" Seru Mike yang sudah mulai mengatur emosi nya agar tidak meledak.
Setelah selesai, Dokter David beserta beberapa perawat itu pergi meninggalkan rumah itu.
"Dimana Tasya??" Tanya Mike.
"Dia baru kirim pesan, dia gak pualng karna ada tugas yang gak bisa dia tunda" Seru Randi yang membuat Mike menyugar rambut nya.
Mike juga harus pergi menyelesaikan apa yang sudah ia mulai, dan ia pun tau Randi juga begitu. Tapi menurut pesan Dokter David, Ziva tak boleh di tinggal sendiri. Untuk beberapa saat Randi dan Mike sama sama berpikir, namun setelah beberapa saat mereka saling melempar pandangan. Lalu beralih menatap Revan.
"Gak ini ide buruk!!" Seru Mike yang tau isi pikiran Randi.
Randi segera menarik tangan Mike sedikit menjauh.
"Gak ada pilihan lain Bang!!" Seru Randi.
"Gak" Tandas Mike yang membuat Randi mendengus kesal.
"Gini, coba Lo inget aja gimana tadi Revan jagain Ara... Gimana tatapan mata nya yang khawatir sama Ara... Gue rasa Lo udah liat seberapa besar perasaan dia ke Ara...." Jelas Randi.
"Ya tapi, dia cowok" Tandas Mike.
"Oke gini, gue telpon temen gue buat nemenin Ara sama Revan di sini!!" Seru Randi.
"Cewek??"
"Iya cewek, jadi gak bakal kenapa Napa, dan Revan biarin di sini buat jagain mereka kalau ada sesuatu yang gak terduga..."
"Oke."
Di sisi lain Revan menggenggam tangan Ziva dengan lembut sembari memainkan beberapa anak rambut nya.
__ADS_1
"Zi, gue sayang sama Lo, please jangan sampe Lo kenapa Napa!!"