
Situasi mendadak menjadi semakin memanas, membuat Ziva semakin tak karuan. Begitu pula, wakil kepala sekolah yang terpojok karna ia tak mungkin menyinggung orang di hadapan nya. Namun walaupun begitu ia masih punya hati, ia tak enak jika ia menghukum yang tak bersalah.
"Apa yang kamu tunggu?? Keluarkan anak sialan ini atau suami saya akan menarik donasi nya!!" Ancam Mama nya Syila.
"Pak, Bu, mohon tenang!! Belum tentu Ziva yang melakukan nya!!" Seru Wakil kepala sekolah.
"Kalo bukan dia terus siapa??" Bentak papa Syila.
"Saya!!" Seruan tak asing terdengar nyaring di ruangan itu.
Seketika pandangan beralih pada asal suara itu, Ziva dan semua orang yang ada di sana melihat kehadiran seorang pemuda di sana.
"Kamu!!"
"Iya saya!! Saya yang udah ngunciin Syila sama temen temen nya di gudang!!" Tukas Revan sembari tersenyum miring.
"Sialan!! Berani nya kamu nyakitin anak saya!!" Bentak Mama Syila.
"Anak siapa kamu!! Panggil orang tua kamu kesini!! Dasar anak gak tau diri!!"
"Heh?? Yakin mau papa saya kesini??" Revan semakin menyunggingkan senyum nya.
"Pak, dia itu putra dari salah satu donatur terbesar di sini" Peringat Wakil kepala sekolah.
Deg
Wajah papa dan mama nya Syila mendadak menjadi pucat pasih.
"Di... di... Dia... anak nya Adrian Baskara??" Tanya Papa Syila dengan terbata bata.
"Ya" Wakil kepala sekolah mengangguk pasti.
Papa dan Mama Syila saling pandang kemudian segera melangkah pergi dari sana. Mereka tak bisa menyinggung Baskara grup hanya karna kenakalan putri mereka.
Yah seperti yang sering di bilang orang orang bahwa yang beruang selalu kalah dengan yang berkuasa. Mereka tak bisa mengambil resiko untuk berselisih dengan kekuasaan mutlak.
Ziva menatap penuh arti pada Revan, ada rasa sakit menjalar di dada nya. Ziva segera berlari dari sana, tanpa bisa di cegah. Meski berkali kali Revan meneriaki nama nya, ia terus berlari sembari menahan air mata nya agar tak tumpah.
__ADS_1
"Zi...."
"Zi... Dengerin gue Zi..." Teriak Revan sembari mengejar Ziva.
Dan sampai lah Ziva di halaman belakang sekolah yang jarang di lewati orang. Ia berhenti di depan sebuah pohon dan langsung meninju nya. Setelah nya ia berjongkok sembari menekuk lutut nya, menyembunyikan wajah nya. Tumpah sudah, air mata nya ia sudah tak kuasa menahan nya lagi.
Ziva menangis sejadi jadinya, ia tak bisa membayangkan betapa kecewa nya mama dan papa nya kalau sampai ia benar benar di keluarkan dari sekolah. Baik papa maupun mama nya tau kalau Ziva ikut Genk motor, tapi tak pernah sekalipun ia membuat masalah.
Dan lagi kalau masalah ini terjadi, semua usaha nya selama ini akan sia sia. Ia tak bisa membayangkan semua itu, Ziva terus menangis sekencang mungkin. Sedangkan Revan hanya bisa diam diam melihat dari jauh, ia tau pasti Ziva kecewa pada nya.
Revan benar benar merasa bersalah karena dia menyeret Ziva dalam masalah seperti ini. Revan diam diam mendekat dan menaruh saputangan tak jauh dari Ziva. Setelah itu ia meninggalkan Ziva sendiri di sana. Karna ia tau Ziva butuh waktu dan ini bukan waktu yang pas untuk menjelaskan segala nya.
Setelah agak lama Ziva menghentikan tangis nya, ia membenarkan duduk nya dan menatap langit. Ziva mengedarkan pandangan nya dan langsung di suguhkan saputangan biru yang berada di dekat nya. Ia tau itu milik siapa, ia mengambil nya dan segera menghapus jejak air mata nya.
"Gue tau itu bukan Lo Van!! Thanks!! Tapi cukup gue gak bisa melibatkan Lo Van!!" Lirih Ziva.
"Hidup gue udah cukup berantakan dan gue gak mau bikin susah hidup orang lain. Lagi pula dunia kita berbeda!!" Seru Ziva sembari menatap langit dengan mata terpejam.
Di sisi lain
Bugghhh
"Brengsek ya Lo!! Gue deketin Lo sama Zi, bukan buat Lo nyakitin dia!! Bangsattttt!!" Teriak Randi penuh emosi.
"Sabar, bang, Sabar..." Seru Gio yang menghadang Randi.
"Van, Lo gila ya ngelakuin itu?? Lo sama aja nyelakain Ziva!!" Ujar Reno tak percaya bahwa sahabat nya bisa berbuat hal semacam itu.
"Iya Van, kenapa Lo ngunciin Syila sama temen temen nya?? Padahal Lo tau kan akhir nya pasti Ziva yang kena tuduh!!" Kali ini Vito ikut bersuara.
"Stop!! Ran, sorry mungkin bener Ziva terlibat sama Syila emang salah gue... Tapi bukan gue yang ngunciin dia!!" Tandas Revan.
"Kalo bukan lo ngapain Lo bilang sama orang tua nya Syila kalo Lo pelaku nya??" Tanya Vito bingung.
"Gini, kalo gue gak ngomong gitu bisa bisa Ziva di keluarin dari sekolah!! Apalagi bokap Lo lagi dinas, jadi gak mungkin bantuin Ziva!!" Seru Revan pada Randi yang membuat Randi tertegun.
"Dan kalo gue pelaku nya, paling juga gue kena SP!! Dan nyokap sama bokap nya Syila gak bakal mungkin mau nyinggung Baskara Grup!!" Lanjut Revan yang membuat semua orang mengangguk paham.
__ADS_1
"Jadi beneran bukan Lo??" Tanya Reno.
"Bukan lah, kalo gak percaya tanya aja sama Gio!! Gio dari kemaren sama gue terus!!" Tunjuk Revan.
"Eh?? Iya ya kan bang Revan sama gue terus?? Gak mungkin dia ngunciin Syila" Seru Gio yang mendadak mendapat Toyoran dari Vito.
"Kenapa gak bilang dari tadi pe'a?? Kan jadi salah paham!!" Geram Vito.
"Udah udah gak usah pada ribut, yang penting masalah ini dah clear kan??" Tanya Reno.
"Sorry Van, gue emosi!!" Seru Randi merasa bersalah.
"It's oke... Gue tau kok, Lo sayang banget sama Ziva... Lo kakak yang baik" Seru Revan.
"Tapi yang perlu Lo tau, gue beneran tulus sama Ziva!!" Tambah Revan.
"Gue percaya, gue titip adek gue, jangan bikin dia nangis" Randi menepuk bahu Revan.
Revan mengangguk pasti, mereka tak menyadari kalau percakapan mereka itu membuat seseorang menjadi tak enak hati. Ya dia adalah Reno, sejak pertemuan nya dengan Ziva ia merasakan hal berbeda. Namun ia terlambat menyadari itu karna buta dengan masa lalu nya bersama Alexa.
Sekarang bila di katakan, ia menyesali semua nya. Padahal ia tau, kalau perhatian Ziva pada nya itu memiliki pandangan yang mengarah lebih. Namun ia acuh seakan tak tau menahu, ia menganggap Ziva tak pernah ada. Padahal gadis itu mulai mengisi hari nya, mengisi hati nya.
Terlambat!! Karna seperti nya ia harus merelakan, ia tak mungkin bertengkar dengan sahabat baik nya hanya karna seorang gadis. Ia lebih memilih mundur, dan menyimpan perasaan. nya saat ini.
Sekarang dunia mereka berdua berbeda, Reno tak lagi mengharap banyak. Hanya ingin selalu melindungi gadis itu walau hanya dari jauh.
Sedangkan Di sisi lain
Ziva masih dalam keadaan yang sama, ia menikmati waktu nya. Ia memutuskan untuk membolos hari ini. Karna ia tak ada minat untuk belajar sama sekali.
"Mom?? I Miss you, I hope you always be happy of a there!"
"Mom, Ara suka sama dia!! Ara harus apa?? Ara tau dia sama Ara gak mungkin, tapi Ara masih mau berharap!!"
"Walau Ara tau kami berada di dunia yang berbeda"
Tes
__ADS_1
Air mata mengalir begitu saja, jatuh di pipi Ziva.