
Malam itu Ziva memutuskan untuk tidur lebih awal karna kepala nya tiba tiba sakit, ia sangat tahu ini adalah efek dari sakit nya. Ia berpamitan dengan Alqan dan juga Revan untuk langsung kembali ke kamar nya.
"Are you oke, Zi??" Tanya Revan cemas karna wajah Ziva yang sudah sedikit pucat.
"Hah? Eh gak papa kok Van, gua kayak nya kecapean doank kok!!" Seru Ziva sedikit gugup.
"Tapi lo serius mau langsung tidur queen?? Lo gak makan dulu?" Tanya Alqan khawatir.
"Iya, gue masih kenyang kok!! Ntar kalo gue laper tinggal ambil sendiri aja!!" Seru Ziva sembari tersenyum manis.
"Ya udah lo istirahat dulu gih sana!!" Seru Revan mengusap rambut Ziva yang membuat sang empu tersenyum.
"Ehemmzz." Alqan berdehem melihat tingkah Ziva dan Revan.
Ziva dan Revan langsung memalingkan pandangan mereka ke arah berlawanan. Ziva langsung beranjak menuju ke lantai atas sedangkan Revan dan Alqan menuju ke dapur untuk mengisi perut mereka. Ziva sedikit berlari menuju kamar nya, sesampainya di kamar ia langsung menutup dan mengunci pintu nya. Kemudian ia bergegas menuju ke kamar mandi, ia berpegangan erat pada wastafel.
Tes
Tes
Tes
Darah segar mengalir begitu saja dari hidung nya, kepalanya begitu sakit sampai ia hanya mampu memejamkan mata nya. Ia semakin meremas pinggiran wastafel ketika kepala nya semakin sakit seperti di tusuk ribuan jarum. Tak terasa air mata nya pun ikut mengalir karna tak dapat menahan sakit yang ia rasakan. Bahkan kaki nya pun bergetar seperti nya sudah tak mampu menahan tubuh nya lagi. Hal itu bertahan lebih dari lima belas menit, saat sakit nya mereda Ziva mulai membuka mata nya. Pandangan nya sedikit kabur. Ia segera menghidupkan keran air dan langsung membasuh wajah nya. Ia pundengan segera membersihkan darah yang ada di sekitar hidung nya.
Kemudian ia menanggalkan pakaian nya karena sudah basah dengan darah, ia segera membersihkan diri nya. Dua puluh menit ia berada di kamar mandi, setelah menyelesaikan ritual mandi nya ia segera mengenakan pakaan nya. Ziva langsung naik ke kasur nya, ia mengambil ponsel nya dan segera menghubungi seseorang.
Tut tutt tuttt
In call
"Iya Ra??" Tanya pemuda yang berada di seberang sana saat sambungan terhubung.
"Kak.." Lirih Ziva.
"Ra, are you oke??" Tanya Mike cemas mendengar suara Ziva bergetar, ya orang yang di telpon Ziva adalah Mike.
"Ara lupa bawa obat!!" Seru Ziva dengan suara nya yang bergetar karna masih menahan sakit di kepala nya.
"Apa??!! Oh god, Ra!! Ya udah lu share lock, gue ke sana sekarang" Ujar Mike panik.
__ADS_1
"Umm" Ziva sudah tak sanggup menimpali perkataan Mike, ia segera mematikan telpon nya.
End call
Ziva mengirimkan share lock pada Mike, setelah itu ia berbaring dan memejamkan mata nya berharap kakak nya bisa segera datang. Sementara Revan dan Alqan sedang menikmati makan malam mereka meskipun kedua nya terlihat enggan memakan nya. Hal ini pun di lihat oleh Pak Kasno, ya kedua nya sangat mencemaskan keadaan Ziva.
"Den, ada masalah apa??" Tanya Pak Kasno pada Revan.
"Gak ada kok pak." Sahut Revan berusaha tersenyum.
"Aden gak bisa bohong sama bapak, dari tadi bapak perhatiin kalian berdua gak nafsu makan... Dan non Ziva tadi juga langsung naik ke kamar! Apa kalian berantem??" Tanya Pak Kasno.
"Kita gak berantem kok pak, cuma tadi gak tau kenapa Zi tiba tiba pengen langsung istirahat" Seru Revan.
"Iya kata nya sih kecapean tapi tadi muka nya queen pucet banget!!" Ujar Alqan menambahi ucapan Revan.
"Ah gitu!! Mungkin non Ziva emang kecapean den!!" Ujar Pak Kasno berusaha menenangkan pikiran kedua pemuda di hadapan nya.
"Hmm ya kita berharap juga gitu pak" Sahut Alqan yang menyelesaikan makan nya begitu pun Revan.
Mereka berdua pun membantu Pak Kasno membersihkan dapur, mulai dari mencuci piring, menyimpan sisa lauk dan lain lain. Setelah itu mereka kembali ke kamar masing masing Alqan memilih kamar yang berada di lantai satu, karna ia malas untuk naik tangga. Ia duduk di sofa dekat jendela sembari menatap lurus ke luar jendela. Beberapa kali ia menghembus kan nafas kasar dan mengusap wajah nya. Bayang bayang penyekapan dan saat saat terakhir ia melihat Rega terus terngiang di dalam pikiran nya.
Ia berusaha untuk tetap tegar, untuk tetap kuat di hadapan Ziva. Meski sebenarnya hati nya begitu sakit, namun ia tahu Ziva jauh lebih sakit dari nya. Karna meskipun ia tersenyum dan tertawa mata gadis itu tak bisa berbohong. Meski hanya seperkian detik namun mata itu slalu terlihat kosong di beberapa kesempatan. Tiba tiba Alqan mengingat wajah Ziva yang terlihat pucat tadi, ia pun menjadi khawatir. Ia memutuskan untuk keluar kamar dan beranjak menuju lantai dua. Saat berada di depan kamar Revan, tiba tiba pintu kamar Revan terbuka. Revan keluar dari kamar dan langsung menatap Alqan.
"Lo mau kemana??" Tanya Revan.
"Gue khawatir sama Ziva!!" Seru Alqan.
"Gue juga, nih gue mau cek keadaan dia!!" Seru Revan.
Mereka pun segera menghampiri kamar Ziva, Revan mengetuk pintu kamar nya dan memanggil nama Ziva.
"Zi..." Panggil Revan.
Tok tok tok
"Zi... Lo dah tidur??" Revan kembali mengetuk pintu kamar Ziva namun tak ada jawaban.
Alqan dan Revan saling berpandangan, Alaan memberi isyarat untuk kembali mengetuk pintu nya. Namun masih tak ada jawaban, hal ini membuat mereka menjadi semakin cemas apalagi pintu kamar Ziva terkunci. Revan pun berinisiatif untuk mengambil kunci cadangan di kamar nya. TAk berapa lama ia kembali dengan kunci cadangan di tangan nya, bukan ia bermaksud tidak baik ia hanya ingin memastikan bahwa gadis yang cintai itu baik baik saja. Ia langsung membuka pintu kamar Ziva dan bergegas memasuki kamar Ziva. Revan dan Alqan menarik nafas lega ketika melihat Ziva yang tertidur di atas ranjang. Revan tersenyum dan berjalan ke arah Ziva. Ia membenahi selimut yang di pakai oleh Ziva, kemudian mengusap puncap kepala Ziva. Namun ia tersentak saat merasakan suhu tubuh Ziva.
__ADS_1
"Zi..." Panggil Revan sembari sedikit mengguncang tubuh Ziva.
Melihat hal itu, Alqan pun langsung mendekat ke arah Ziva dengan wajah yang sulit di artikan.
"Kenapa??" Tanya Alqan cemas.
"Badan nya panas banget" Panik Revan yang membuat Alqan segera menaruh punggung tangan nya di dahi Ziva dan benar saja suhu tubuh Ziva sangat panas.
"Astaga!" Kaget Alqan sangat merasakan panas di punggung tangan nya.
"Gue ambil kompres dulu, lu jagain aja Ziva di sini!!" Ujar Alqan yang bergegas berlari menuju lantai bawah.
Revan terus berusaha membangunkan Ziva namun tetap tak ada respon, hal ini membuat nya semakin panik.
"Zi, bangun please!!" Lirih Revan.
Tak lama Alqan datang membawa kompresan serta di ikuti oleh Pak Kasno. Ya saat mengambil konpresan Alqan tak sengaja bertemu dengan Pak Kasno. Pak Kasno pun dengan sigap membantu Alqan untuk menyiapkan kompresan. Revan segera mengambil kompresan itu dan menaruh nya di kening Ziva. Sementara itu, terdengar suara raungan motor yang berhenti di depan villa yang membuat Pak Kasno mengernyitkan dahi begitu pun Revan dan Alqan yang saling berpadangan. Alqan segera menghampiri jendela dan melihat siapa yang datang padahal ini bukan lah tempat yang bisa di datangi sembarangan. Ketika melihat motor Mike terparkir di sana membuat Alqan membelalakan mata nya.
"Bang Mike di bawah!!" Seru Alqan yang membuat Revan sedikit tersentak.
Namun detik kemudian Revan segera tersadar dan langsung menyuruh Pak Kasno membukakan pintu dan membawa Mike ke kamar ini. Pak Kasno dengan segera turun ke lantai satu bertepatan dengan suara bell yang bergema.
Klek
Pintu terbuka menampilkan sosok Mike yang masih dengan gaya cool nya meski terlihat jelas raut wajah cemas nya.
"Silahkan masuk den!!" Ujar Pak Kasno.
"Saya mau.." Belum sempat menyelesaikan kalimat nya sudah di potong oleh Pak Kasno.
"Den Revan bilang langsung aja ke atas, soal nya non Ziva sedang demam!!" Seru Pak Kasno.
Jedaarrr
Seperti di sambar petir, Mike langsung berlari menaiki tangga di ikuti oleh Pak Kasno. Mike langsung masuk ke kamar yang pintu nya terbuka. Ia melihat Revan sedang mengompres Ziva, dan Alqan yang menatap Ziva dengan Cemas. Dengan segera Mike menghampiri Ziva, ia mengeluarkan bungkusan obat dari jaket nya. Dan langsung meminum kan nya pada Ziva, kebetulan Pak Kasno tadi memang membawakan air untuk Ziva. Revan dan Alqan menatap Mike bingung karna seperti nya Mike sudah mempersiapkan semuanya.
."Apa Zi yang nyuruh bang Mike ke sini??" Batin Revan.
"Sebenernya Queen sakit apa??" Batin Alqan karna ia hanya tau Ziva sedang sakit namun ia dan anggota Warrior yang lain tak ada yang mengetahui nya.
__ADS_1