
Revan mencoba untuk terus menenangkan Ziva. Namun tak ada hasil nya karena Ziva semakin tak bisa mengendalikan tangisan nya. Ini membuat Revan sedikit frustasi, dengan terpaksa ia mengambil ponsel nya. Ia segera menghubungi Mike, beberapa kali namun tetap tak di jawab. Hal ini membuat nya over thinking, ia kembali melirik Ziva yang terus menangis dalam pelukan nya.
"Zi, tenang!! Gue coba hubungi bang Mike lagi yah!" Seru Revan yang mencoba menenangkan Ziva.
"Hiks hiks gue takut terjadi sesuatu Van!!" Ujar Ziva di sela tangis nya.
"Sssttt gak boleh negatif thinking donk!! Harus optimis, pasti mereka baik baik aja!" Seru Revan namun dalan hati nya ia juga begitu khawatir.
Ia kembali menghubungi Mike, dan akhirnya setelah puluhan kali mencoba di angkat juga.
"Halo, bang!! Bang lo bikin gue khawatir tau gak!!" Seru Revan yang membuat Ziva mendongak dan melepaskan pelukan nya.
Ziva memberi kode untuk mengaktifkan speaker, dan Revan hanya bisa menuruti keinginan Ziva, Ia tak ingin gadis itu menangis lagi.
"Ini gue Van!!" Seru seseorang yang sangat familiar di pendengaran Revan.
"lho bang Zack??!!" Yah yang bicara dengan Revan adalah Bang Zack.
"Kok hp Bang Mike ada sama lo??" Tanya Revan yang bingung.
"Mike lagi gak bisa ngomong!!" Ujar Bang Zack yang terdengar jelas helaan nafas berat di akhir kalimat nya.
Hal ini membuat Revan dan juga Ziva saling memandang.
"Apa terjadi sesuatu di sana bang??" Tanya Revan.
"Gue gak bisa ngomong banyak, semua nya terjadi gitu aja!!" Seru Bang Zack yang kembali menghela nafas.
"Apa yang terjadi bang??" Tanya Revan sembari melirik ke arah Ziva, yang raut wajah nya sudah sangat cemas.
"Maaf Van...." Dan Bang Zack pun menceritakan segala nya.
__ADS_1
Bang Zack juga mengatakan keadaan Mike sekarang. Mike sangat kacau sekarang ia seperti kehilangan jiwa nya. Kepergian Rega membuat nya sangat terpukul. Begitu pula dengan Alqan yang terus menangis frustasi. Dan mereka sekarang berada di markas otomotif White Eagle yang tak jauh dari lokasi. Tempat awal mereka berkumpul membuat rencana tadi.
Mendengar penuturan dari Bang Zack air mata Ziva semakin tak bisa di kendalikan. Bak di sambar petir, tubuh nya bergetar hebat. Kepala nya terus ia geleng geleng kan. Ia tak terima dengan kenyataan yang ada.
"Gak... ini pasti bohong... bohong..." Teriak Ziva histeris.
Revan yang semula terbengong karna masih mencerna pernyataan Bang Zack kini tersadar mendengar suara histeris Ziva. Ia langsung memeluk Ziva dengan erat, sedangkan gadis itu terus memberontak ingin lepas. Tangis semakin menjadi ia sama sekali tak menerima kenyataan ini.
"Gak... Itu bohong.... Rega gak kenapa kenapa kan... hikss hikss ini cuma prank ya kan hikss ini prank kan Van hiksss" Racau Ziva do sela tangis nya yang membuat Revan semakin menenggelamkan tubuh Ziva dalam pelukan nya.
Bang Zack di sana pun sedikit terkejut karna tiba tiba mendengar suara seorang gadis yang histeris. Namun seketika ia menyadari kalau itu pasti suara Ziva. Ia mengerutkan kening, ia turut prihatin dengan keadaan ini. Ini pasti sulit untuk di terima oleh gadis itu, secara Rega adalah orang terdekat nya. Bang Zack mematikan panggilan telpon tersebut dan beralih memerintah anggota nya.
"Bran, lo oke gak??" Tanya Bang Zack.
"Iya bang ada perlu apa??" Tanya Gibran.
"Lo ajak temen pergi cek ke lokasi, mungkin di sana udah ada polisi!! Dapetin info sebanyak mungkin terutama korban!" Seru Bang Zack sembari menoleh ke arah Mike dan Alqan memastikan mereka baik baik saja.
Bang Zack sangat tau bagaimana rasa nya kehilangan, dulu ia pun begitu saat ibu nya memutuskan untuk bunuh diri.
"It's oke cuma luka kecil!!" Seru Zaki, ya luka luka nya sudah di obati dan di perban jadi saat ini ia sudah terlihat lebih baik.
"Ikut gua yuk ke lokasi!! Jadi spy!!" Seru Gibran.
"Oh oke, bentar gue pinjem jaket dulu!! Ya kali gue pamer tangan perbanan!!" Ujar Zaki yang masih sempat sempat nya bercanda.
"hahaha buru sono!!" Sahut Gibran sembari tertawa.
"Woyy, bagi jaket!!" Seru Zaki pada salah satu anggota White Eagle.
"Bagi, beli bang!!" Ledeknya tapi tetap saja memberikan jaket nya pada Zaki.
__ADS_1
"Awas lu gua tandain!!" kekeh Zaki sembari memasang jaket nya.
"Tandain di hati biar gak ilang yah bang!!" Sahut orang itu yang di sambut tawa anggota lain.
Sedangkan Bang Zack, Alex dan juga Fajar hanya bisa geleng geleng kepala karna kelakuan random anggota White Eagle bahkan disaat seperti ini. Kan bingung mau sedih atau ketawa.
"Udah ayoookk!" Seru Gibran sembari menarik Zaki.
"Woyy bang pelan pelan sakittt!!" Teriak Zaki yang tak di gubris oleh Gibran.
Mereka berdua pun segera menuju lokasi yang tak begitu jauh. Sampai di sana sudah begitu ramai orang, dan juga garis polisi sudah terpasang. Mereka pun segera menyatu dengan kerumunan warga, mencoba menyelip untuk maju ke depan. Sampai di depan Gibran dengan segera memanggil salah seorang petugas di sana.
"Pak!!" Panggil Gibran petugas itu pun segera menghampiri.
"Ada apa ya??" Tanya petugas itu.
"Bisa biacara bentar, ini masalah gedung ini!!" Seru Gibran dengan nada yang meyakinkan.
"Saudara tau mengenai gedung ini??" Tanya petugas itu.
"Bukan cuma tau pak, tau banget, ini adik saya jadi korban nya!!" Seru Gibran sembari menunjukkan luka di tubuh Zaki.
Zaki terbelalak mendengar pernyataan dari Gibran, bukan nya mereka mau jadi spy yah kok malah ngaku jadi saksi.
"Oh kalau begitu mari ikut saya!!" Seru petugas itu.
Zaki dan Gibran pun segera mengikuti petugas itu, dan Zaki pun tak bertanya alasan Gibran karna ia tau ini pasti siasat Gibran.
Sedangkan di sisi lain, terlihat Ziva yang tertidur di pelukan Revan karna terlalu banyak menangis. Revan hanya bisa menghela nafas ia sangat bingung harus bagaimana sekarang. Apalagi ini tengah malamkan, mana bisa pergi dari sini terlalu berbahaya. Tapi ia juga tak tenang mendengar kabar tadi, ia hanya berharap semua nya akan baik baik saja. Revan mengangkat Ziva, ia kemudian melangkahkan kaki nya menuju tangga. Ia segera menaiki tangga menuju ke kamar Ziva, setelah sampai ia langsung membuka pintu dengan sedikit bersusah payah karna ia sedang menggendong Ziva. Setelah terbuka ia masuk dan membaringkan Ziva di atas kasur dengan hati hati.
Kemudian ia menyelimuti gadis pujaan hati nya itu. Sedikit menyeka rambut rambut yang menutupi wajah cantik nya. Kemudian ia segera beranjak dari sana. Ia kembali turun ke bawah untuk mengambil air es dan handuk. Kemudian ia kembali ke atas lagi menuju kamar Ziva. Ia meletakkan air es itu di nakas, kemudian mencelupkan handuk kecil ke dalam nya. Memeras nya kemudian mengarahkan nya ke mata Ziva. Sedikit menekan nekan nya dengan sangat lembut di bagian bawah mata Ziva agar sangat nyaman dan tak terbangun. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk pujaan hatinya itu, ia tak mau mata gadis itu sakit ketika bangun nanti. Dengan telaten Revan mengulangi kegiatan yang sama. Sesekali membersihkan bekas air mata di pipi gadis nya itu.
__ADS_1
"Zi, lo harus kuat!! Gue gak bisa liat lo kayak gini!!" Seru Revan dalam hati.
"Kenapa semua nya jadi kacau gini??" Lirih Revan.