
Bastian dengan risau menunggu dokter di luar base camp, sedangkan anggota Warrior yang lain sedang cemas di depan kamar Ziva. Mereka tak berani masuk, karena takut emosi Mike masih belum terkendali. Sementara Mike sedang duduk di sisi ranjang sembari menggenggam tangan Ziva yang suhu tubuh nya terus menerus menurun. Mike semakin panik ketika tubuh Ziva sudah sedingin es, wajah nya pun sufah pucat sekali bahkan bibir nya mulai membiru. Mike panik dan hendak keluar mencari dokter sendiri, namun saat ingin membuka pintu. Pintu itu terbuka lebih dahulu, langsung memperlihatkan Dokter David dan beberapa perawat. Mereka berjalan cepat menuju ke arah Ziva. Dokter David langsung memeriksa keadaan Ziva sementara perawat yang lain mulai mempersiapkan alat alat medis yang memang di siap kan di kamar itu untuk berjaga jaga.
Dokter David menyuntikkan cairan obat pada Ziva kemudian memasang selang infus di tangan Ziva. Tak lupa ia pun menyuruh perawat itu memasang tabung oksigen, yah karna Ziva seperti nya mengalami gangguan pernafasan. Malihat hal ini membuat Mike terduduk lesu bersamdar di dinding dekat pintu. Disana juga ada Bastian dan Alqan yang sudah siap sedia bila di perlukan. Di sisi lain, dua buah motor berhenti di depan base camp Warrior yang di kendarai oleh dua orang pemuda. Mereka dengan cepat melepaskan helm mereka, dan segera turun dari motor.
"Yuk!!" Ajak Randi, ya mereka adalah Randi dan juga Revan.
"Serius gak papa nih gue ikut??" Tanya Revan ragu untuk melangkah memasuki base camp Warrior.
"Ya elah.... Iya yukk!!" Sahut Randi.
Dengan langkah ragu Revan pun melangkah memasuki base camp Warrior di pimpin oleh Randi, namun sampai di ruang tengah mereka terkejut dengan keadaan di sana yang sudah kacau balau.
"Astaga!! Ini kenapa??" Tanya Randi membelalakan mata nya.
"Ini abis kena badai apa yah.." Ceplos Revan yang tak kalah kaget nya dari Randi.
Tak tik tuk
Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga yang membuat Revan dan juga Randi menoleh ke arah asal suara.
"Lho Randi.." Ujar Zico yang baru saja turun untuk mengambil minum.
"Zic, ini kenapa??" Tanya Randi langsung berjalan ke arah Zico di ikuti oleh Revan.
"Ah itu.... Lo ke atas aja liat sendiri!! Gue mau ambil minum dulu buat Zii!!" Seru Zico.
"Ara??" Randi mengernyitkan dahi.
Namun tanpa bertanya lebih lanjut ia langsung mempercepat langkah nya menuju ke lantai atas lebih tepat nya ke kamar Ziva. Begitu hampir sampai mereka di suguhkan dengan pemandangan yang membuat mereka terpaku. Di sana tepat nya di depan pintu kamar Ziva terlihat anggota Warrior yang sedang terduduk lesu sembari berkutat dengan pikiran masing masing. Melihat hal itu, Revan tanpa aba aba langsung berlari menuju kamar Ziva. Melihat kehadiran Revan membuat seluruh anggota Warrior terkejut bukan main. Apalagi Revan tanpa berucap langsung masuk ke kamar Ziva. Randi pun terkaget melihat respon Revan, dengan segera ia menyusul Revan. Mereka berdua terkejut melihat Ziva yang terbaring dan selang infus yang terpasang di tangan juga alat bantu pernafasan yang bertengger di hidung Ziva.
Sementara Mike, Alqan, Bastian dan Dokter David yang sedang berbincang terkaget karena pintu di buka begitu saja. Mike lebih terkejut lagi melihat kehadiran Revan dan Randi di sana apalagi dengan kondisi Ziva yang sekarang.
"Ziii...." Revan langsung mendekat ke arah Ziva.
"Mike, Ara kenapa??" Tanya Randi dengan sedikit emosi.
"Ziva gak papa, cuma kecapean dan terlalu stress aja, juga sedikit shock yang berlebihan!!" Bukan Mike yang menjawab melainkan Dokter David.
__ADS_1
"Zii... Lirih Revan sembari menggenggam tangan Ziva.
"Kita keluar!!" Seru Mike.
Alqan, Bastian dan Randi saling berpandangan kemudian mengangguk dengan serentak, Mike dan Dokter David keluar lebih dulu di susul yang lain nya. Dokter David dan perawat itu segera berpamitan setelah menyampaikan beberapa pesan untuk Mike.
"Ikut gue!!" Ujar Mike yang membuat Alqan, Bastian dan Randi mengikuti nya.
"Masuk!!" Titah Mike saat mereka sampai di kamar Mike.
"Mike sebenernya Ara kenapa bisa sampe gini??" Tanya Randi setelah menutup pintu.
"Semua salah gue!!" Seru Mike yang terduduk di lantai sembari mengusap kasar rambut nya.
"Maksud lo??" Tanya Randi yang bingung.
"Seharusnya gue bisa nahan emosi..." Rutuk Mike yang membuat Randi melebarkan mata nya.
"Lo.... Lo nyakitin Ara Mike!!" Teriak Randi yang terkejut dengan pernyataan Mike.
"Tenang Di..." Ujar Bastian.
"Mike gak nyakitin Ziva, Di!! Tenang dulu!!" Seru Bastian yang membuat Randi menyipitkan mata mya.
Randi tahu betul kalau Mike sudah lepas kendali, Mike bahkan pernah menyakiti Ziva saat emosi nya sudah tak terbendung jadi wajar kalau Randi berpikiran seperti itu apalagi setelah melihat keadaan Ziva tadi.
"Iya... Jadi gini...." Bastian pun menceritakan tentang apa yang di ceritakan oleh Ziva pada nya dan juga pertarungan nya dengan Mike yang membuat Xiva seperti nya cukup shock dan stress seperti yang di kata kan oleh dokter David.
"Mak... Maksud lo... Ara ketemu Fahri..." Ujar Randi tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Iya..." Sahut Bastian sembari menatap Mike.
"Ran..." Panggilan Mike mengalihkan perhatian mereka.
"Suruh Nathan balik!!" Titah Mike yang membuat mereka bertiga terdiam sejenak.
Deg
__ADS_1
"Nathan!!" Batin mereka bertiga.
"Apa lo yakin mau manggil Nathan??" Tanya Randi memastikan.
"Gak ada pilihan lain!!" Seru Mike sembari berdiri dan berjalan menuju ke arah jendela.
"Haisshhh..." Randi memijit pelipis nya.
Randi dilema sekarang jika ia memanggil Nathan sekarang itu arti nya semua perjuangan Revan sahabat nya itu pasti akan sia sia. Karena semua perhatian Ziva pasti teralihkan pada Nathan dan ini pasti akan sangat menyakiti Revan. Namun mereka memang tak punya pilihan lain, karena bukan hal mudah untuk berhadapan dengan Fahri dan keluarga Alzheir. Lagi pula, kekuatan dan identitas Nathan akan lebih menjamin keselamatan Ziva.
"Sorry Van!! Tapi yang paling penting sekarang adalah keselamatan Ara!! Lo yang sekarang belum mampu buat berdiri di samping Ara!!" Batin Randi.
"Oke!" Randi pun segera menelpon Nathan.
In call
"Halo!! Tumben lo nelpon Di??" Tanya Nathan.
"Tan!! Lo harus balik!!" Seru Randi to the point.
"Maksud lo??" Tanya Nathan yang bingung.
"Fahri udah ketemu sama Ara!!" Seru Randi.
"What??" Nathan terdengar panik.
"Lo tenang aja, buat sementara Ara aman... Karna Ara berhasil nipu Fahri kalo dia terkena amnesia... Tapi kita juga harus jaga jaga... Lo buatin laporan medis palsu buat Ara beberapa tahun lalu biar kalau pun Fahri cari tau dia bakal percaya sama Ara...." Jelas Randi yang membuat Nathan menarik nafas lega.
"Oke gue bikinin, gue bakal masukin data nya ke rs sana!! Lo tenang aja, dua hari lagi gue balik!! Gue selesaiin tugas gue di sini dulu!!" Seru Nathan.
"Oke!! Thanks Tan!!" Seru Randi.
"It's oke... Udah tugas gue!!" Tandas Nathan yang membuat Randi terdiam.
"Oke gue tutup dulu, masih ada kerjaan!!"
End call
__ADS_1
Randi pun menatap Mike yang masih setia di tempat nya, kemudian beralih menatap Alqan dan Bastian yang kelihatan nya juga bingung dengan masalah ini. Jujur saja ini adalah pilihan yang sulit untuk mereka, karena baru saja mereka senang melihat Ziva yang seperti nya mulai menikmati hidup nya dengan kehadiran Revan. Namun keadaan sekarang sudah tak memungkinkan, jika Nathan kembali mungkin Ziva akan melupakan kejadiran Revan. Yah begitu lah pikiran mereka.....