
"shiittt" Hampir aja keceplosan" batin Randi.
"ohhh... Gue kira lo ada something sama si Ziva" tandas Reno yang di setujui oleh Revan.
"setuju, hampir aja gue kepikiran ke gitu" seru Revan.
"ya kali gue suka sama cewek modelan kayak gitu. Udah jelek, cupu lagi" ujar Randi yang sengaja memanas manasi karena melihat si Ziva sedang menuju kearah nya.
"gue rasa dia gak buryk banget, dia pinter"
Mendengar ucapan dari Reno membuat Ziva seakan melayang. Ada begitu banyak kupu kupu di perut nya. Tanpa sadar ia meremas ujung rok nya.
"lo jangan berlebihan muji nya, kan jadi salting orang nya." ujar Randi sembari melirik Ziva.
"udah ah ngobrol nya laper nih, eh udah masak nya?" tanya Revan pada Ziva karena tak terasa sudah lima belas menit lebih mereka menunggu.
"udah"
"cepet banget, masak apaan?" Ujar Revan tak percaya.
Mereka berempat pun segera menuju ke meja makan dekat dapur. Reno dan juga Revan melihat nasi goreng seafood dan telur dadar yang tersaji di meja makan.
"ayo makan!" ujar Ziva yang duduk di salah satu kursi.
"cuma ini yang bisa di masak dalam waktu singkat." lanjut Ziva kemudian Reno, Revan dan Randi bergegas duduk.
Mereka mulai mengambil nasi goreng dan jangn lupakan telur dadar nya.
"yakin ini enak?" tanya Revan yang kesulitan menelan ludah nya.
Karena yang ia tahu, cewek cewek seumuran mereka mana pernah masuk dapur. Apalagi ia tahu kalau Ziva berasal dari kalangan menengah ke atas.
"udah makan aja dulu" ucap Ziva.
Revan dengan perlahan menyuapkan nasi ke dalam mulut nya. Setelah kunyahan pertama, ia membelalakan mata. Hal ini tak luput dari perhatian Reno.
"kenapa?" Tanya Reno yang was was.
"gila! Sumpah ini enak banget!" Revan dengan segera kembali menyuapkan nasi goreng itu ke mulut ny lagi.
"serius!" karena penasaran Reno pun mencoba nya.
"wah, Zi. Lo kayak nya cocok jadi chef." Reno dengan lahap memakan nasi goreng buatan Ziva.
Ziva mengulum senyum ketika di puji oleh Reno. Mereka pun melanjutkan acara makan nya.
Setelah selesai makan mereka menuju ruang tamu untuk mengistirahatkan tubuh nya. Sambil menurunkan makanan yang barusan mereka makan.
Mereka memutuskan untuk menonton tv saja. Revan membawakan beberapa snack sebagai cemilan.
Sedangkan Ziva fokus menatap ponsel nya. Ziva tersenyum ketika sebuah pesan masuk.
From : Nathan
To. : me
Miss you so much, sorry gue baru ngabarin. Gue sibuk banget belakangan ini. Yah lo tau lah giman gue.
From : me
__ADS_1
To. : Nathan
Gak papa tan, gue ngerti. Miss you too. Btw kapan balik indo.
Semua gerak gerik Ziva pun tak luput dari penglihatan Revan, Randi dan juga Reno.
From : Nathan
To. : me
Sekitar 2 minggu lagi, kenapa? Segitu kangen nya sama gue ya :)
Ziva terkekeh membaca pesan dari Nathan yang membuat Reno dan Revan saling menoleh. Sedangkan Randi mengangkat satu alis nya karena penasaran. Apa yang membuat sepupu nya itu terlihat begitu sumringah.
From : me
To. : Nathan
Hehe lo kali yang kangen ama gue. Kalo gue mah biasa aja :p
From : Nathan
To. : me
Iya gue kangen ama lo. Kalo gue pulang janji ya sehari lo jadi milik gue. 24 jam full!! Kalo gak, awas aja gue perawanin lo!
From : Nathan
To. : me
Tapi boong :D
Ziva langsung tertawa terbahak bahak, ia sampai memegang perut nya. Sampai Revan, Reno dan juga Randi mengedip ngedipkan mata nya beberapa kali.
"mana gue tau" sahut Reno.
Tringgg
"hallo"
"Tan, kangen... Kapan pulang?" ujar Ziva ketika menjawab panggilan telpon itu.
"ya elah gak sabaran banget deh." kata seseorang yang bernama Nathan dari seberang sana.
Ziva menatap sekeliling dan menyadari kalau ia sedang di tatap bingung oleh tiga sahabat di hadapan nya. Kemudian Ziva beranjak ke dapur untuk melanjutkan obrolan nya.
"Ra? Lo masih di sana kan?" ujar Nathan karna bebrapa kali memanggil Ziva tapi tak ada jawaban.
"sorry Tan, gue lagi di rumah temen. Jadi gue nyingkir dulu, takut ganggu." ujar Ziva.
"takut ganggu apa di ganggu" Nathan tertawa seketika ketika Ziva mendengus kelas.
"Tan, buruan balik." rengek Ziva.
"kenapa? Putus lo sama Aldi" tanya Nathan.
"iya, gue gak nyangka dia kayak gitu" sendu Ziva
Ia tak menyadari kalau ada sepasang mata yang terus mengawasi nya.
__ADS_1
"Tan, gue bener gak sih?" tanya Ziva menerawang ke atas.
"sssstt jangan bodoh Ra... Ada gue, gue mungkin gak bisa jadi yang pertama, kedua atau ketiga tapi gue bakal slalu jadi yang terakhir buat lo."
"hehe iya, lo bakal slalu jadi tempat terakhir gue bersandar Tan. Cepet pulang, gue butuh lo." tak terasa setetes air mata jatuh.
Ya sekuat kuat apa pun Ziva tetap lah seorang perempuan yang berhati lembut.
"gue tutup dulu Ra."
"oke, miss you." sambungan pun terputus.
"cih, yang terakhir!" Revan bergegas pergi dari sana.
Entah kenapa ada rasa sesak di dada nya saat mendengar kata kata itu. Kenapa dengan nya, apa mungkin sudah ada rasa? Siapa Nathan? Pacar? Gak mungkin kan dia baru putus sama Aldi.
Baca terus donk biar gak penasaran!! Lanjutt thor.
"woy, Van lo dari man?" Tanya Reno yang melihat Revan duduk di samping nya.
"toilet" singkat Revan.
"ya elah, pling penasaran tuh sama siapa yang nelpon si cupu" Ledek Randi.
"mana ada" elak Revan.
"ya siapa tahu kan. Lagian dari tadi mata lo kayak mau keluar pas liat si Ziva telponan." Goda Randi
"gak usah ngadi ngadi deh" Revan membaringkan diri di sofa.
"sorry ya, tadi angkat telpon dulu." ujar Ziva yang duduk di samping Randi.
"telpon dari siapan" tanya Randi.
"tuh, siapa yang kepo sekarang!" ledek Revan.
"dih, gue cuma nanya" dengus Randi.
"Nathan" singkat Ziva.
"WHAT NATHAN!!!" teriak Randi yang membuat Revan dan Reno menatap bingung pada Randi.
Sedangkan Ziva melotot karna reaksi Randi yang terlalu berlebihan. Ia khawatir itu akan menimbulkan kecurigaan.
"lo napa nyett?" tanya Revan mengelus dada nya karna jujur ia kaget mendegar teriakan Randi.
Melihat tatapan tajam Ziva, Randi langsung merubah mimik wajah nya.
"kapten tim SMA Cendrawasih?" tanya Randi yang membuat Reno dan Revan saling menatap.
"WHAT!!"
Revan segera memperhatikan Ziva.
"bener, Nathan, dari SMA Cendrawasih?" yang membuat Ziva mengangguk.
"ada hubungan apa lo sama dia?"
Deg
__ADS_1
Ziva terkejut dwngan nada suara Revan yang mendadak menjadi begitu dingin.
"dia kenapa? Diangin amat bahas soal Nathan."