Most Wanted School

Most Wanted School
Suasana Mendukung


__ADS_3

Ziva menghampiri meja Revan dan langsung menarik Revan keluar dari Flow Cafe. Revan hanya bisa pasrah mengikuti langkah Ziva.


"Kita mau kemana??" Tanya Revan.


"Udah jalan aja dulu entar gue tunjukkin arah nya!!" Seru Ziva.


Tak banyak bertanya lagi, Revan segera menyalakan mesin motor nya. Ia melajukan motor nya dengan kecepatan sedang. Ia terus mengikuti instruksi yang diberikan oleh Ziva.


"Depan belok kanan, lurus aja sampe ada pohon Pinus" Ujar Ziva menunjukkan arah.


Sesampai nya di depan pohon Pinus itu, Revan menepikan motor nya di salah satu rumah bercat biru langit sesuai perintah Ziva.


Ting tong


Suara Bell bergema cukup kencang karena suasana yang cukup sepi.


Klek


"Malem Om!!" Sapa Ziva.


"Malem, lha ada non Ziva!! Kenapa non??" Tanya Om Ilham.


"Mau titip motor temen nya Zi, om!! Boleh kan??" Tanya Ziva.


"Ya boleh donk non!!" Sahut Om Ilham.


"Emang non sama temen nya mau kemana??" Tanya Om Ilham.


"Mau ke HT om!!" Seru Ziva.


"Oh iya, saya lupa... Ini tanggal 15 Oktober ya!!" Seru Om Ilham yang di balas senyum manis oleh Ziva.


"Ya udah, non kesana aja!! Aman kok motor temen nya!!" Ujar Om Ilham.


"Oke, yuk Van!!" Ajak Ziva.


"Misi ya om!!" Pamit Revan.


"Git, anak mu udah tumbuh menjadi peri yang cantik dan menawan!!" Seru Om Ilham ketika Ziva dan Revan sudah keluar dari pekarangan rumah itu.


"Oh ya, ini tahun pertama Zi bawa temen nya ke sini!!" Kekeh Om Ilham ketika mengingat moment ia dulu bersama dengan Ziva.


"Git, putri mu tumbuh dengan baik dan semakin ceria tiap hari nya!!" Lirih Om Ilham.

__ADS_1


"Aku harap dia tidak mengikuti jejak mu dulu!!"


Sementara itu, Ziva terus menarik tangan Revan agar mengikuti nya. Ziva membawa Revan masuk ke dalam kebun bunga. Revan di buat takjub dengan hamparan bunga yang di padukan dengan cahaya lampu kecil itu. Luar biasa indah, di tambah lagi hari itu bulan purnama yang menambah kesan art.


Revan menatap sekeliling nya sembari mengikuti langkah Ziva yang terus Mambawa nya menyusuri jalan setapak itu. Di depan ada sebuah gerbang setengah melingkar yang cukup luas. Dengan tanaman merambat yang menghiasi, jangan lupakan lampu kecil berkerlap kerlip yang ikut menghiasi. Di tambah lagi buah anggur segar yang bergelantungan di sana Revan benar benar di buat terperangah oleh keindahan yang memanjakan mata nya.


Setelah melewati gerbang itu, Revan kembali di buat takjub dengan rumah pohon di hadapan nya. Ziva melepaskan tangan Revan, kemudian berjalan ke tumpukan kayu api. Ziva membuat api unggun di sana, karena sudah di siapkan tungku, kayu dan juga korek api nya. Sehingga dengan mudah Ziva membuat nya, api unggun itu selain menghangatkan juga menambah kesan Keindahan untuk malam ini.


Revan di sana hanya bisa diam mengikuti semua gerakan yang di lakukan Ziva.


"Yuk naik!!" Ajak Ziva pada Revan agar ia mau naik ke rumah pohon.


"Boleh??" Tanya Revan memastikan.


Ziva tersenyum manis dan segera naik ke rumah pohon melalui tangga yang ada di pohon itu. Revan pun juga ikut naik ke atas, sesampai nya di atas ia ikut duduk menjuntai kan kaki ke bawah di pinggir rumah pohon itu. Revan melirik ke samping nya, ia melihat Ziva yang duduk sembari merentangkan tangan nya dan menutup mata nya.


Revan tersenyum melihat ekspresi wajah Ziva yang begitu bahagia.


"Coba liat ke depan deh!!" Seru Ziva tiba tiba.


"HH??" Revan dengan refleks memandang ke depan.


Dan betapa terkejut nya ia melihat pemandangan di hadapan nya. Ia bisa melihat sebagian kecil kota ini. Di bawah gelap nya malam namun cahaya lampu lampu dari rumah ke rumah seperti cahaya kunang kunang yang indah.


Ziva yang melihat itu tertawa kecil, dulu saat pertama kali ia ke sini ia juga bertingkah seperti Revan.


"Lo tau dari mana tempat ini??" Tanya Revan menatap ke arah Ziva.


"Ini tempat yang di bangun sama nyokap gue!!" Seru Ziva tersenyum sembari menutup mata nya.


"Tempat kenangan yang gak bakal pernah gue lupain!!"


Revan takjub melihat art di hadapan nya, wajah cantik Ziva seakan bertambah sempurna di bawah sinar bulan. Dan suasana malam ini sungguh luar biasa romantis.


"Zi??" Panggil Revan.


"Ya??"


"Kenapa Lo bawa gue ke sini??" Tanya Revan.


"Hmm gue pengen ke sini aja, dan kebetulan malem ini gue lagi sama Lo!!" Seru Ziva jujur, ia tiba tiba merindukan tempat ini.


"Hmm Lo sering ke sini??" Tanya Revan.

__ADS_1


"Dulu iya, tapi semenjak gue kelas 2 SMP gue jarang ke sini!!" Sahut Ziva sembari mendongak ke langit.


"Di sini satu satu nya tempat di mana gue bisa ngilangin semua rasa penat gue, setidak nya di sini cuma ada kenangan bahagia tanpa rasa pahit sedikit pun!!" Seru Ziva meneteskan air mata.


Revan yang melihat itu menjadi tertegun, ekspresi Ziva sungguh sulit ia tebak. Ia menyeka air mata Ziva dengan tangan nya. Yang membuat sang empu menoleh ke arah nya, Revan tersenyum lembut pada Ziva.


"Jangan nangis!! Lo jelek kalo nangis!!" Seru Revan yang membuat Ziva memukul lengan nya.


"Sialan Lo!!" Ziva tertawa kecil mendengar ucapan Revan.


"Gue bener bener gak nyangka, ada tempat seindah ini!!" Seru Revan kembali menatap pemandangan kota di depan nya.


"By the way, siapa aja yang pernah Lo ajak ke sini??" Tanya Revan penasaran.


"Lo orang pertama!!" Seru Ziva yang membuat Revan kembali menatap nya.


"Really??" Tanya Revan tak percaya.


"Um" Ziva mengangguk kecil.


Revan tersenyum senang mendengar nya, ia tak menyangka bahwa ia adalah orang yang pertama yang menginjakan kaki di tempat kenangan Ziva. Revan menggenggam tangan Ziva yang membuat sang empu menoleh ke arah nya.


"Zi gue..."


"Entah kenapa gue nyaman banget waktu sama Lo Van!!" Seru Ziva memotong ucapan Revan.


"Mungkin gue gak bisa bales perasaan Lo, tapi kita masih bisa jadi sahabat kan??" Tanya Ziva.


Revan menghela nafas nya, ia sangat senang mendengar jika Ziva nyaman berada di dekat nya. Namun hati nya juga teriris dalam waktu yang bersamaan, karena sang pujaan hati tak ingin menerima perasaan nya. Revan berusaha untuk tetap tersenyum dan berpikir positif.


"Gue seneng banget Lo bisa Nerima kehadiran gue Zi!!" Ucap Revan yang membuat Ziva menatap nya.


"Gue bakal terus buat Lo nyaman sama gue, sampe akhir nya Lo gak bisa hidup tanpa gue!!" Batin Revan.


Mata Revan terpana dengan indah nya netra Ziva, bagitu pun sebaliknya. Sehingga tanpa sadar mereka mengikis jarak di antara mereka. Jantung mereka pun ikut bersaing memompa lebih kencang dari biasa nya. Revan tak melepaskan genggaman tangan nya pada Ziva. Terus larut dalam indah nya kedua netra itu.


Sampai akhir nya tinggal beberapa inci lagi jarak di antara mereka. Revan memiringkan wajah nya tanpa sadar mengikuti naluri nya. Dan Ziva pun seakan terhipnotis dengan suasana sehingga tanpa sadar mengikuti naluri nya.


Tringgg


Suara dering ponsel Revan seketika membuyarkan pikiran mereka. Revan buru buru melepaskan genggaman tangan nya. Dan memberi jarak antara diri nya dan juga Ziva. Sedangkan Ziva sendiri, ia memalingkan wajah nya karena malu. Ia tak habis pikir dengan apa yang barusan terjadi, hampir saja ia dan Revan...


"Ya ampun dah gila kayak nya gue!!" Rutuk Ziva dalam hati.

__ADS_1


"Duh, siapa suruh suasana yang mendukung banget!!" Seru Revan dalam hati nya.


__ADS_2