
Setelah mengurus beberapa prosedur dan juga melewati beberapa pemeriksaan lanjutan Ziva di bawa pulang oleh Mike dengan menggunakan mobil Randi.
"Ra, you okey??" Tanya Mike ketika melihat Ziva memijit pangkal hidung nya.
"Sakit..." Lirih Ziva, ia memang tak bisa bohong pada kakak nya itu dan slalu bersikap manja selayak nya anak kecil yang ingin di sayang.
"Sini!!" Titah Mike menunjuk ke pangkuan nya.
Ziva segera meletakkan kepalanya di paha Mike, ya mereka duduk di kursi belakang sedangkan Randi yang menyupir. Mike memijat kepala Ziva dengan lembut, ia tau seberapa sakit nya itu.
Beberapa kali ia menghela nafas ketika melihat Ziva terlelap dengan wajah yang sangat pucat. Ia benar benar tak tega melihat nya seperti ini, apalagi kalau orang tua nya. Untung saja orang tua nya sedang di luar kota jadi mereka takkan melihat kondisi putri kesayangannya yang seperti ini. Ya orang tua Ziva memang tak tahu menahu mengenai sakit yang di derita oleh Ziva. Hal ini karena Ziva mengancam akan bunuh diri kalau sampai ada yang memberi tahu penyakit nya pada orang tua nya.
Alhasil semua orang yang tau tentang penyakit nya ini harus bungkam. Karena mereka sangat mengenal Ziva, ia tak pernah main main dengan ancamannya.
Tak lama mereka sampai di sebuah rumah, cukup luas dengan pagar putih di lilit oleh tanaman hias. Rumah Ziva?? No, ini adalah rumah Tasya yang pernah di ceritakan Ziva waktu eps 24. Bisa di ulang lagi baca!!
Tasya merupakan tetangga Ziva sekaligus sahabat masa kecil Ziva. Ia juga mengetahui tentang penyakit Ziva, dan kebetulan orang tua Tasya sedang pergi ke Jerman untuk beberapa bulan ke depan. Jadi Mike minta izin untuk merawat Ziva di sini beberapa waktu, karna ia takut kalau orang tua nya tiba tiba pulang dan melihat kondisi Ziva seperti sekarang.
Bisa bisa Mama nya terkena serangan jantung, apalagi papa nya pasti mengamuk karna ia menutupi semuanya. Mike menggendong Ziva ke kamar di lantai satu, kamar yang sudah di sediakan beberapa peralatan medis untuk merawat Ziva. Di sana juga sudah ada suster Anna, karena dokter David sedang ada pasien lain di rumah sakit jadi suster Anna yang menggantikan.
Setelah memasang infus, dan mengecek keadaan Ziva memastikan bahwa semua nya baik suster Anna pamit.
"Zi, Lo gak papa??" Tanya Tasya cemas.
"I'm okey." Lirih Ziva.
"Tas, thanks ya. Gue gak tau gimana kalo gak ada Lo" ujar Mike.
"Ya elah bang, kayak Ama siapa aja. Slow bang, Zi tuh dah kayak sodara buat gue." Tasya tersenyum sembari menggenggam tangan Ziva.
"Kak, Ara laper..." Seru Ziva dengan mata memelas.
"Di, tadi ada larangan buat makanan gak??" Tanya Mike memastikan.
"Gak ada sih, cuma kata dokter jangan yang terlalu asin, kalo bisa di kurangin kadar garam buat makanan nya." Jelas Randi mengingat pesan dokter David ketika di rumah sakit.
"Ya udah, mau makan apa??" Tanya Mike beralih ke Ziva.
"Sup jamur sama kentang." Seru Ziva antusias.
Mike tersenyum dan melangkah maju mengelus kepala Ziva.
"Oke. SYa, bahan di dapur lengkap??" Tanya Mike.
"Lengkap bang, tapi request bang bikinin tempura goreng hehehe...." Tasya menyengir mendapat lirikan dari Mike.
"um, Ara juga mau." Seru Ziva yang mau tak mau Mike mengangguk setuju.
Setelah kepergian Mike, Randi pamit pulang karna ini sudah terlalu sore. Dan sebenarnya ia harus kumpul di base camp White Eagle, ada jadwal pengecekan untuk anak anak.
__ADS_1
"Ra, gue tinggal ya, dah sore nih"
"Iya kak... Makasih ya" Ziva tersenyum karena kondisi tubuh nya sudah tak selemah tadi.
"Bye, Ra!! Bye, Sya!!" Seru Randi kemudian beranjak pergi.
Ia langsung mengendarai mobil nya menuju ke base camp yang jarak nya lumayan membutuhkan waktu.
Ting
From : Revan
To. : Me
Lo di mana?
From : Me
To. : Revan
Di jalan
Ting
From : Revan
To. : Me
Randi sedikit menekan pedal gas nya namun masih di batas kecepatan yang wajar. Ia tak mau baru saja mengantar pulang Ziva dari rumah sakit malah dia yang ke rumah sakit. Kan gak lucu 😂😂
Sekitar dua puluh menitan ia mengendarai mobil nya, sekarang ia memarkirkan mobil nya di pelataran base camp White Eagle. Ia segera turun dan memasuki rumah itu.
"Hai, guys!!" Sapa Randi pada Anggota White Eagle yang sedang berkumpul di sana.
"Woy, bang!!" Seru anak anak White Eagle yang lain.
"Mana yang lain??" Tanya Randi.
"Lagi pada ada urusan yang lain bang, kalo bang Revan di belakang entar juga kesini!!" Ujar Gio.
Baru beberapa saat, Revan sudah muncul dan bergabung di tengah tengah mereka.
"Dah hadir semua??" Tanya Revan.
"Dah bang, sisa nya pada ada kesibukan." Jawab salah satu member White Eagle.
"Oke gak papa. Gue di sini cuma mau ngingetin sama Lo pada, jangan terlibat hal hal kriminal atau sebagai nya! Karna gue denger belakangan ini ada yang membelot dan bahkan sampe di penjara." Penjelasan Revan membuat semua yang hadir di sana melotot tak percaya.
"Hahh?? Bang, lu becanda kan... Gak mungkin lah kita berkhianat" Protes Loriz.
__ADS_1
"Gue gak becanda, lu semua liat nih!!" Revan menyodorkan sebuah berkas pada mereka.
Mereka membaca satu persatu dan kembali lagi mereka di kejutkan oleh kenyataan.
"Ini? Mereka rekrutan baru kan??" Tanya Gio yang membuat semua yang ada di sana mengangguk.
"Gue tau Lo semua yang hadir di sini gak mungkin berkhianat sama gue atau pun White Eagle. Karna kita sama sama mulai dari titik nol!! Tapi buat orang baru, tolong seleksi lagi!! Jangan sampe terulang!!" Tandas Revan.
"Siap bang!!!" Jawab mereka serempak.
"Oke hari ini sampe sini aja, gak usah pemeriksaan!! Gue tau lu pada gak mungkin bawa barang yang Ngadi Ngadi!!" Seru Revan.
"Ohh oke bang, kebetulan gue sebenernya ada janji hehehe!!"
"Gue juga harus pulang bang!!"
"Ya udah, gue ke atas bang mau Mabar!!"
Dan begitu lah, mereka mempunyai dunia dan kesibukan masing masing. Namun ketika salah satu dari mereka terkena masalah selama itu benar maka mereka takkan ragu untuk berjuang di garis depan. Solid!!
Kini tinggal Revan dan juga Randi yang sedang menyeruput sekaleng soda.
"Gimana??" Tanya Revan yang membuat Randi mengernyitkan dahi nya.
"Ya udah keluarin aja, lagian mere...."
"Bukan itu, nyettt!!" Potong Revan.
"Lah, ya terus apa?? Lagian lu ngomong setengah setengah." Seru Randi sewot.
"Ziva gimana??" Tanya Revan dengan wajah cemas yang membuat Randi tersenyum.
"Baik, dia di rawat di rumah nya sekarang!!" Sahut Randi menatap Revan mencoba mencari sesuatu di wajah Revan.
"Hahh?? Kok pulang?? Emang gak papa??" Pertanyaan itu membuat Randi tak mampu menahan senyumnya baru kali ini sahabat nya itu perhatian dengan seorang gadis.
"Ya, kata dokter gak papa, lagian ada peralatan dan juga suster khusus yang ngerawat dia" Ujar Randi.
Revan menghela nafas kasar
"Tapi tetap aja kan, kondisi nya masih lemah gitu... Gimana kalo dia kenapa Napa??" Seru Revan.
"Dih, perhatian amat lu!! Beneran suka nih!!!!" Goda Randi.
Deg
Perhatian
Suka
__ADS_1
Apa iya
Itu lah yang terngiang di pikiran Revan.