Most Wanted School

Most Wanted School
Ziva Kritis


__ADS_3

Adu jotos pun tak terhindarkan, mereka masing masing melawan satu orang. Kecuali Ziva dan Rega yang sama sama melawan dua orang.


Sama kuat itu lah yang bisa di katakan mengenai kemampuan bertarung mereka. Belum ada yang tumbang meski sudah ada luka dan lebam di sekujur tubuh mereka.


Tapi tidak berlaku untuk Ziva, ya Ziva terkenal dengan kebengisan nya bila melawan musuh. Dapat di lihat sekarang ia menyerang lawan nya habis habisan, meskipun agak kewalahan karena harus menghadapi dua orang sekaligus.


"Aarrrggghhhh" Ringis Ziva ketika Ando berhasil menendang perut nya.


"Queen" Teriak Anggota Warrior ketika mendengar teriakan Ziva Queen mereka.


Dengan membabi buta mereka menghajar lawan di depan nya. Batas kesabaran mereka adalah Queen mereka, jika ia tergores sedikit saja. Maka tidak akan ada ampun untuk orang yang berani menyakiti atau melukai Queen mereka.


"Sial!!" Ziva langsung bangkit dan menuju tepat di wajah Ando.


Kemudian ia memutar kaki nya ke atas saat menyadari serangan Jody dari arah belakang nya. Tendang memutar nya itu tepat mengenai hidung Jody dan membuat sang empu mengerang kesakitan karena hidung nya yang berdarah.


Ziva tersenyum senang melihat anggota WBT terkapar tak berdaya. Namun tak di sangka, pangkal hidung nya tiba tiba sakit, dan pandangan nya mendadak jadi gelap.


"Sial, jangan sekarang!" Seru Ziva dalam hati.


Ziva mencoba untuk bertahan tetap berdiri tegak, hal itu di lihat oleh Rega. Namun di saat yang bersamaan Ando bangkit dengan sebuah pisau kecil di tangan nya. Ia berjalan menuju Ziva, tak ada yang menyadari nya karena anak anak Warrior sibuk meringkus anggota WBT.


Dengan seringai di bibir nya, Ando mengarah kan pisau itu pada Ziva.


Srraaasshhh


"Aarrrggghhhh" Darah segar mengalir seiring teriakan kesakitan itu.


Semua anggota Warrior di kejutkan oleh suara bariton yang sangat mereka kenali. Mereka menoleh, melihat lengan kiri Rega yang tergores akibat tikaman dari Ando. Tanpa membuat waktu Alwan yang kebetulan berada yang paling dekat dengan posisi Rega. Menendang perut Ando dan menghajar nya habis habisan.


Ya di waktu yang tepat Rega menyadari perubahan Ziva dan melihat Ando yang mengarah pada Ziva. Ia berlari untuk menyelamatkan Ziva alhasil pisau itu justru mengenai diri nya. Namun Ziv masih bergeming menahan rasa sakit di tubuh nya.


Rega terus memegang lengan nya yang terluka, seperti nya luka nya cukup dalam. Ia melirik ke arah Ziva.


"Zi, are you okey?" Rega menyentuh bahu Ziva dengan tangan kanan nya.


Brukkk


"Queen!!" Teriak semua anggota Warrior ketika Ziva tiba tiba ambruk.

__ADS_1


Bastian segera berlari dan menggendong Ziva ke dalam base camp.


"Hubungi dokter David dan suster Anna!" Titah Rega saat mereka semua sudah ada di dalam base camp.


Ziva di baringkan di sofa, dan Bastian segera menelpon dokter yang di perintahkan Rega.


"Qan! Urus yang di luar" Titah Rega pada Alqan.


"Oke bang!" Sahut Alqan segera membawa beberapa anak Warrior keluar untuk membereskan anak anak WBT.


Ya karena Rega merupakan tangan kanan Mike alias King mereka, jadi seluruh anak Warrior sangat menghormati Rega.


"Zi, Lo harus tahan!" Rega menggenggam tangan Ziva.


"Bang, obatin dulu luka nya!" Ujar Bastian.


"Gue gak papa." Sahut Rega yang enggan pergi dari sisi Ziva.


Rega sudah menganggap Ziva seperti adik nya sendiri, ia benar benar tak bisa melihat Ziva dalam keadaan yg seperti ini.


"Zi, Lo harus kuat. Gue harus bilang apa sama Mike kalo Lo sampe kenapa Napa." Setetes air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata Rega.


Seluruh anggota Warrior tahu kalau Ziva Queen mereka sedang sakit. Tapi mereka tak tahu pasti sakit apa, yang jelas bukan penyakit yang ringan seperti nya.


Dan bahkan yang masih sekolah, semua di biayai oleh orang tua Ziva. Ada yang mendapat beasiswa lewat papa nya Ziva. Melihat Ziva dalam keadaan lemah seperti ini kelihatan miris untuk mereka.


Karna Ziva adalah sosok perempuan tangguh dan pantang menyerah di mata mereka. Sosok yang selalu ceria dan humoris, terkadang juga manja seperti anak perempuan lain nya. Mereka tak pernah melihat Queen Zi begitu tak berdaya seperti saat ini.


"Zi..." Lirih Rega yang tak tau harus mengucapkan apa.


Tak lama Alqan masuk dengan seorang dokter dan juga suster Anna.


"Ya ampun ini kalian kenapa?" Tanya Suster Anna yang melihat kondisi mereka yang luka luka.


"Itu gak penting Sus, dok, tolong Ziva" Seru Rega.


Dokter David segera memeriksa kondisi Ziva, ia menghela nafas ketika memeriksa denyut nadi Ziva. Ia juga memeriksa kelopak mata Ziva dan detak jantung nya.


Ia segera menyuntikkan cairan obat ke lengan Ziva dan menyuruh Bastian membawa Ziva ke kamar yang ada di sana. Setelah itu ia memasang infus di tangan Ziva.

__ADS_1


Setelah selesai dengan urusan Ziva, ia bergegas mengobati luka luka yang di derita oleh anak anak Warrior di bantu oleh suster Anna.


Rega pun begitu, tangan nya harus di jahit akibat luka sayatan itu. Ia menghela nafas berat melihat perban di lengan nya. Tapi ia sangat sangat bersyukur dia yang terluka bukan Ziva.


Namun teriakan dari Alqan membuat mereka panik. Ya Alqan tidak terluka dari kejadian tadi, jadi ia yang menjaga Ziva di kamar.


"Dokter!!!" Teriak Alqan.


Semua orang berlari ke kamar Ziva, terlihat di sana Ziva terlihat kesulitan bernafas. Dokter David segera memasangkan alat bantu pernafasan. Ya alat di sini memang lengkap, karna semua di siapkan oleh Mike. Mike sangat tau kalau Ziva paling malas ke rumah sakit. Jadi ia meminta peralatan untuk pengobatan Ziva di pindahkan ke base camp Warrior.


Semua anggota Warrior mendadak menjadi tegang, ketika suster Anna menyuruh mereka menunggu di luar.


Lama menunggu, mereka mulai waspada was.


Dugghh


Rega memukul dinding sebagai pelampiasan kekesalan nya.


Tak lama pintu terbuka, dan suster Anna kelihatan panik.


"Cepat siapin mobil, kita ke rumah sakit sekarang..."


Deg


Jantung mereka seakan berhenti berdetak.


"Ziva kritis"


Dengan cepat Bastian berlari menuju parkiran untuk menyiapkan mobil. Sedangkan Alqan berlari ke dalam kamar untuk menggendong Ziva karna Rega terluka jadi tak mungkin ia yang menggendong Ziva.


"Zi..."


Mereka segera menuju ke rumah sakit Widya Pranata.


Bastian mengendarai mobil tersebut agak kencang namun tetap berusaha tenang dan hati hati karena ia tak mau mengantar nyawa.


"woy, Bas! Buruan lelet amat kaya siput!" Seru Alqan yang berada di belakang kursi penumpang sembari memangku Ziva.


"Woy, pe'a nih dah paling kenceng... Bisa oleng nih mobil"

__ADS_1


"Lo mau mati jangan ngajak ngajak gue! kalo ngebut lagi yang ada bukan Ziva doank yang ke ICU... tapi kita semua!" Geram Bastian.


Tak lama mereka sampai di pelataran rumah sakit, dan sudah ada beberapa perawat yang menunggu di sana. Karena dokter David sudah menghubungi pihak rumah sakit agar bersiap. Ziva pun segera di larikan ke ruang gawat darurat untuk melakukan tindakan.


__ADS_2