Most Wanted School

Most Wanted School
Saos Sialan!


__ADS_3

"dih, not your bussiness" ujar Ziva yang membuat Revan mendengus kesal.


"eh, Ren. Lvo follow Zivara?" tanya Randi yang tak sengaja melirik ke arah ponsel Reno yang sedang membuka insta nya.


"enggak, kemaren adek gue mainin hp gue. Gue mana tau kalo dia buka insta"


"Zivara siapa? Ziva maksud nya?" tanya Revan yang penasaran.


"yah bukan lah, itu si Zivara yang selebgram itu lho, masa lo gak tau?" tandas Randi sembari melemparkan andangan nya pada Ziva.


"pantes aja si Revan biasa aja pas ketemu gue, rupa nya emang gak tau!" batin Ziva.


"ya elah, gue kan gamers ya pasti nya yang gue ikutin sesama gamers lah. Coba liat foto nya donk!" seru Revan dan langsung Reno menunjukan ponsel nya di mana ada foto Ziva di sana but yang versi cantik wkwkwk.


"cantik" tandas Revan yang membuat Ziva bangga.


"tapi kayak nya dia gak asing deh kayak nya kita pernah ketemu. Tapi di mana ya?" pikir Revan yang membuat Ziva memejamkan kedua mata nya.


"oh iya!!" seru Revan menggeplak meja yang membuat Ziva, Reno dan juga Randi terlonjak kaget.


"kaget anjirr!" seru Randi sembari menepuk bahu Revan.


"gue pernah ketemu sama cewek itu, dia udah nabrak gue same baju gue kotor ketumpahan sama eskrim"


"sial! Bisa bisa nya mereka ngeghibahin gue di hadapan gue sendiri." pikir Ziva yang menatap tiga sekawan itu dengan kesal.


"hah?! Kok bisa?!" tanya Reno penasaran.


"mungkin karena dia pecicilan!"


Mendengar hal itu sontak saja membuat Randi tertawa.


"hahhhahaha dia emang pecicilan woy" seru Randi.


"tau banyak lo tentang dia, lo ngefans?" senggol Reno.


"bukan, dia itu Ara sepupu gue."


"oh yang duku pernah lo ceritain itu kan? Gue pikir bukan Zivara yang ini" tandas Reno.


"terus kenapa lo gak pernah kenalin dia ke kita?" tanya Revan.


"ya gak papa. Lagi pula dia sibuk." ujar Randi yang melirik ke arah Ziva.


"oh gitu" sahut Reno dan juga Revan bersamaan.


"udah lah, gue ke belakang dulu. Tadi piring nya belum di cuci." ujar Reno.


"eh biar aku aja." tawar Ziva.


"gak usah, lo ajarin Revan aja takut nya lo pulang makin telat." ujar Revan kemudian beranjak ke dapur.


"gue ke kamar dulu, ambil buku." seru Revan.


Setelah menunggu agak lama akhir nya, Reno datang bersamaan dengan Reno yang beru selesai mencuci piring.


"Van, gue sama Reno ke kamar lo ya, mau maen PS." ujar Randi.


"oh oke" sahut Revan.


Kemudian Reno dan Randi bergegas menuju kamar Revan. Sedangkan Ziva dan juga Revan kembali duduk dan mulai belajar. Lebih tepat nya proses mentoring.


"untuk yang pertama kita pelajari soal rumus simple present tense. Soal nya ini yang aling sering kita jumpai atau kita pakai setiap hari nya."


"kalimat present tense ini memiliki 3 tiga macam kalimat yaitu positif, negatif, dan kalimat tanya. Rumus untuk kalimat positif adalah subjek+verb1(s/es)+objek" dengan sabar Ziva menjelaskan rumus demi rumus kata demi kata pada Revan.


Ya walaupun ia terkadang jengkel dengan pertanyaan yang sungguh membuat nya naik pintam.


"gimana? Sampai sini paham?" tanya Ziva yang telah menyelesaikan penjelasan nya.

__ADS_1


"emmm mungkin paham" angguk Revan yang membuat Ziva memejamkan mata nya.


"udah hampir satu jam lebih gue jelasin sama dia, tapi dia cuma bilang mungkin paham. Oh my god!" gerutu Ziva dalam hati.


"tapi lebih mengarah ke paham sih" ujar Revan dengan wajah yang meragukan.


"oke sekarang aku minta kamu buat kalimat positif, negatif dan juga tanya dari present tense. Kalo kmu bingung bisa liat contoh di buku asal aja jangan nyontoh yang di huku. Kamu harus buat kalimat sendiri."


"oke siapa takut" seru Revan kemudian mulai mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Ziva.


Sembari menunggu Revan mengerjakan tugas yang ia berikan, ia pun menyomot kentang goreng yang ada di atas meja.


Melihat ekspresi wajah Revan yang rerlihat kebingungan membuat Ziva bertanya "ada yang mau di tanya?"


"gak usah! Gue bisa sendiri! "tandas Revan yang membuka kamusnya.


Setelah berkutat cukup lama, ia pun selesai mengerjakan tugas nya.


"nih, periksa gih! Gue yakin bener semua"


"pede lu" ujar Ziva yang kemudian lamgsung memeriksa dan mengoreksinya.


"ada saos tuh, di bibir lo" ujar Revan menunjuk ke arah bibir nya.


Dengan segera Ziva pun mengusapnya.


"bukan di situ bego, agak pinggiran lagi"


"anjirr, gue di bilangin bego!" Maki Ziva dalam hati kemudian langsung mengusap kembali bibir nya.


"ini?" tanya Ziva yang lama lama membuat Revan jengah.


"lihat tunjuk gue ngarah kemana!"


"astaga!" ujar Revan ketika lagi dan lagi Ziva salah mengusap bibir nya.


Saat itu juga Revan menyambar sebuah tisu dan langsung mengusap sudut bibir Ziva.


Untuk sejenak mata mereka saling terpaku. Hingga akhir nya Revan memberikan tisu itu ada Ziva dengan agak kasar.


"arrggghh kasar banget sih!" lirih Ziva menoleh ke arah lain.


Jujur saja untuk beberapa saat jantung nya tak bisa di kendalikan. Dan ini merupakan hal baru untuk nya.


"bodo amat" tandas Revan yang membuat Ziva mengepalkan tisu yang ada di tangan nya.


"pengen banget rasa nya gue nyumpel ni tisu ke mulut nya!" batin Ziva.


"jadi gimana?! Bener semua kan?" tanya Revan pada Ziva yang tengah mengoreksi jawaban nya.


"salah satu" tandas Ziva.


"yang mana? Perasaan gue ngerjain nya bener semua." bantah Revan yang membuat Ziva benar benar ingin menelan nya hidup hidup.


"yng ini" tunjuk Ziva pada salah satu jawaban Revan yang menurut nya salah.


"harus nya kalo kata subjek tunggal seperti she/he/ it pake s atau es"


"kalimat yng kamu buat di sini 'he know what i want' dan seharusnya kamu pake tambahan s pada verb 1/kata kerjanya. Jadi seharusnya 'he knows what i want' gitu"


"oh iya gue lupa, tapi gak usah ngomel ngomel juga kali, kan yang salah cuma satu huruf doank."


"tapi makna nya jadi beda Revan"


"iya iya iya" lirih Revan yang kembali membenarkan jawaban nya yang salah.


Tak terasa sudah hampir tiga jam waktu berlalu, saat Ziva mengajari Revan.


"Van, aku pulang dulu ya. Udah sore mana mendung lagi!"

__ADS_1


"oke. By the way, besok pelajaran apa yang bakal kita bahas?" tanya Revan sembari membereskan buku buku nya.


"mungkin IPA" sahut Ziva.


"fisika apa kimia?" tanya Revan.


"hmmm, fisika dulu deh" sahut Ziva yang di balas anggukan kepala.


"eh, lo mau balik ya!" ujar Reno yang baru keluar dari kamar nya Revan.


"mau gue ant..."


"gak usah biar gue aja!" tandas Randi yang membuat Revan melirik nya.


"soalnya nyokap ny Ziva minta gue buat nganterin dia pulang." lanjut Randi yang membuat Revan dan Reno mengangguk paham.


"oh, ya udah kalo gitu"


"Van, gue duluan ya!" seru Randi yang langsung menghampiri Ziva ubtuk mengajak nya pulang bersama.


"duluan ya" senyum Ziva pada Revan dan juga Reno.


Ziv dan Randi pun segera keluar dari apartemen tersebut dan memasuki lift.


"kakak kenapa nganterin aku balik sih? Padahalkan aku pengen nya Reno yang anter" gerutu Ziva mengerucutkan bibir nya.


"kalo dia yang anter, bisa bahaya. Ruang tmu lo kan isi nya foto foto lo semua, kalau dia curiga gimana?" seru Randi yang memang itu ada benar nya.


"kan gue bisa minta dia nurunin gue di pinggir jalan"


Dengan geram Randi menjitak kening Ziva


"aawwww kak" ringis Ziva.


"palak lo! Gue gak bakal biarin itu terj..."


"maksud gue, kn gue bisa minta dia nuruni gue di depan rumah nya Tasya."


"Tasya anak tetangga lo itu? Klo besok dia mau jemput lo atau mau mampir ke rumah lo gimana? Kan gak mungkin lo sama dia ketemuan di luar pagar doank" omel Randi.


"iya juga sih" lirih Ziva menghembuskan nafas berat.


"ngomong ngomong lo suka sama si Reno?" tanya Randi yang membuat Ziva menggigit bibkr bawah nya.


"****!! Kenapa juga sih gue harus ngomongin Reno depan Kak Randi. Gimanaa kalo dia ngomong sama Reno. Kalo iya kan bisa gawat." rutuk Ziva dalam hati nya.


"lo kok diem aja sih, Ra. Lo dengerin gue ngomong gak sih?" seru Randi yang membuat Ziva tersadar dari lamunan nya.


"eng enggak kok. Gue cuma ngefans aja sama dia. Soal nya dia baik banget." senyum Ziva begitu lebar.


"udah ngaku aja, ketara banget dari cara lo na...."


"emang ketara banget ya?" seru Ziva yang membuat Randi tersenyum.


"kan bener apa kata gue"


"anjir!! Pertanyaan jebakan!" dengus Ziva kemudian bergegas keluar dari lift dan langsung masuk ke mobil Randi.


Randi segera menyusul masuk dan langsung memasangkan seatbelt


"lo boleh aja suka sama dia tapi jangan sampe lo sakit hati. Reno emang baik dan perhatian sama semua orang . Untuk permasalahan cinta, dia udah punya satu orang yang dia sayang."


"si siapa?" tanya Ziva yang penasaran.


"Nama nya Alexa, dulu kita slalu berempat. Tapi Alexa mutusin buat pindah keluar negeri ngelanjutin sekolah balet nya. Singkat cerita dulu Reno pernah ngungkapin perasaan nya sama Al. Tapi ya gitu, Alexa gak mau karna dia mau fokus sama balet nya. Dan gue gak tau si Reno masih inget atau bahkan masih sayang nggak sama Alexa." jelas Randi sembari menyalakan mesin mobil nya.


Mobil pun melaju meninggalkan apartemen Revan menuju rumah Ziva.


"apa itu tanda nya gue gak bisa ngedapetin Reno?" lirih Ziva.

__ADS_1


"tapi lo masih punya kesempatan kok, Kan Alexa udah nolak Reno. Kalo lo terus pepet dia, kasih dia perhatian gue yakin lama lama Reno juga bakal luluh sama lo." ujar Randi yang membhat semangat Ziva kembali lagi.


__ADS_2