
Sesampainya Ziva di ruangan Bu Sarah, Ziva langsung di suguhkan dengan beberapa materi yang harus ia pelajari. Bu Sarah menjelaskan bahwa pelatihan untuk olimpiade akan di tunda beberapa waktu karna ada kendala yang tak terduga. Jadi semua yang ikut pelatihan akan di berikan materi untuk pelatihan mandiri sementara. Ziva dan yang lain nya pun mengangguk paham, ya Ziva tak sendiri ia bersama beberapa siswa lain nya. Setelah semua nya paham Bu Sarah memibta semua nya kembali ke kelas masing masing. Namun ia meminta Ziva untuk tetap tinggal.
"Ziva!" Panggil Bu Sarah ketika Ziva hendak beranjak pergi.
"Ya bu??" Sahut Ziva.
"Kamu sudah bisa berhenti untuk private les nya Revan!! Seperti nya dia sudah bisa mengejar ketertinggalan nya dan lagi mungkin sulit untuk kamu karna kamu harus fokus ke olimpiade!!" Ujar Bu Sarah yang membuat Ziva tersenyum.
"Gak papa kok Bu!! Saya punya jadwal sendiri buat Revan dan juga yang lain!! Masalah olimpiade Ibu tenang saja saya gak bakal ngecawain kepercayaan sekolah kok!!" Jelas Ziva yang membuat Bu Sarah menghela nafas karena ia hanya mengkhawatirkan Ziva.
"Ya kalau itu keputusan kamu, ibu hanya bisa mendukung" Seru Bu Sarah.
Ziva pun memutuskan untuk undur diri dan segera kembali ke kelas nya. Sampai di kelas ia hanya diam dan mendengarkan penjelasan dari guru nya, namun itu yang di lihat oleh orang lain. Yang sebenarnya Ziva hanya menatap ke depan dengan tatapan kosong, pikiran nya sekarang sedang ke tak lagi di sini. Sementara Revan, ia sedang fokus mendengar dan mencatat pelajaran sehingga ia tak bisa melihat ke arah Ziva. Waktu pun berlalu begitu cepat, saat jam istirahat Ziva langsung beranjak dari dari tempat duduk nya ia langsung berjalan keluar. Hal ini membuat Revan kaget, ia dengan segera menyusul Ziva namun langkah nya kalah cepat.
Saat hendak berjalan Randi memanggil nya yang membuat ia mengalihkan pandangan nya.
"Yuk kantin!!" Ajak Randi.
"Tapi..." Belum sempat Revan menyelesaikan ucapan nya sudah di potong oleh Randi.
"Ziva??" Ujar Randi yang membuat Revan mengangguk.
"Dia kalo sedih pasti ke roof top!! Lo harus tetap berpikir jernih Van, dia suka lupa makan kalo lagi kayak gini!!" Ujar Randi.
"Lo bener!! Ya udah kita ke kantin dulu!!" Seru Revan yang membuat Randi tersenyum.
Sementara Reno hanya bisa mendengar percakapan antara kedua sahabat nya itu. Revan, Randi dan juga Reno pun bergegas menuju kantin, terkadang mereka bercanda sesekali. Dan ketika memasuki kantin, semua pasang mata pun beralih ke mereka begitu pun dengan anggota White Eagle. Mereka langsung menyambut leader mereka, yah karna sudah beberapa hari mereka tak melihat leader mereka.
"Wihh bang Revan, akhir nya nongol juga!!" Seru salah satu anggota White Eagle.
"Iya nih, gimana seru liburan nya.." Goda yang lain nya.
Yang membuat seluruh anggota White Eagle termasuk Reno dan Randi tertawa.
__ADS_1
"Liburan pala lu!!" Kesal Revan namun ia tersenyum mengingat hari nya bersama Ziva
"Cieeeee.... Yang di mabuk cinta..." Ledek Randi dan anggota White Eagle yang lain.
"Apaan sih lo pada!!" Ujar Revan sembari memalingkan wajah nya.
"Udah lah gue pesen dulu!!" Ujar Randi.
"Sekalian buat Zi!!" Seru Revan.
"Iya iya... By the way, lu makan sama kita atau di tempat laen..." Ujar Randi menaik turunkan alis nya.
"Yah sama ayank lah...." Jawab salah satu anggota White Eagle yang menimbulkan sorak sorai anggota White Eagle yang lain.
"Rese lu!!" Kekeh Revan dan ia pun duduk di samping Reno.
Randi pun langsung memesan makanan, ia sudah hafal kesukaan adik sepupu nya itu jadi ia tak perlu bertanya lagi. Mereka sama sekali tak menyadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi setiap pergerakan dan pembicaraan mereka. Orang itu mengepalkan tangan erat bahkan kalau sendok yang ia pegang adalah sendok plastik mungkin sudah remuk.
"Semua orang sayang sama lo!!" Batin orang itu.
Sementara di sisi lain, Ziva sedang duduk di pinggir roof top sebenarnya ia masih trauma dengan kejadian tempo hari. Namun ia menepiskan segala pikiran buruk nya, ia hanya ingin menenangkan pikiran nya. Ia tak bisa berbohong dengan hati nya, hari bya masih begitu terluka. Ia hanya mencoba tetap tegar agar orang di sekitar nya tak ikut sedih, agar orang di sekitar nya tak merasa khawatir. Tiba tiba ponsel nya berdering, ia tersenyum melihat video call dari Nathan.
In call
"Hai Tan!!" Ujar Ziva sembari tersenyum.
"Hai cantik nya Nathan...." Sahut Nathan yang di akhiri kekeha yang membuat Ziva ikut tersenyum.
"Lo di mana??" Tanya Nathan, Ziva pun segera beranjak dari duduk nya ia menunjukkan sekeliling nya.
"Roof top??" Tebak Nathan.
"Iya..." Sahut Ziva sembari tersenyum.
__ADS_1
"Ngapain neng?? Mau bunuh diri loncat ke bawah..." Kekeh Nathan yang berusaha bercanda.
"Iya nih, mau mastiin gue punya satu nyawa atau sembilan nyawa ..." Kekeh Ziva.
"Kayak kucing yah..." Ujar Nathan.
"Kucing comel..." Sahut Ziva sembari mengedip ngedip kan mata nya.
"Gue terkam lu ntar!! Awas ya kalo gua balik!!" Ujar Nathan dengan nada deep.
"Weee... Gak takut.." Seru Ziva menjulurkan lidah nya.
"Eh udah dulu, gue harus balik kerja..." Ujar Nathan.
"Ya udah sono!!" Sahut Ziva.
"Jangan kangen lu yah" Seru Nathan.
"Dih, sorry nih yeeee..." Kekeh Ziva.
"Sorry karna terlalu kangen sama gua kan..." Tawa Nathan.
"Dih gr lu..." Kekeh Ziva.
"Udah sana, kerja... Abis itu cepet pulang!!" Ujar Ziva.
"Oke siap my queen..." Ujar Nathan.
"Bye..."
Ziva pun mematikan sambungan telpon nya.
End call
__ADS_1
Ziva menatap lurus ke depan sembari menikmati hembusan angin yang menerpa wajah dan rambut nya. Berbicara dengan Nathan membuat sedikit rasa sedih nya terangkat, ia tersenyum sembari merentangkan kedua tangan nya. Ia menutup mata nya, dan tersenyum lebar meski Nathan tak berada di sisi nya saat ini. Namun hanya dengn satu video call mampu membuat nya kembali tersenyum. Ziva tak menyadari sedari tadi ada seseorang di balik pintu roof top yang mengawasi nya. Ya orang itu adalah Revan, setelah mendapatkan pesanan nya ia dengan segera melangkah menuju roof top. Saat baru membuka sedikit pintu roof tol ia mendengar Ziva memanggil nama Nathan. Ia pun mengurungkan niat nya dan lebih memilih bersandar di sana dan mendengar kan percakapan antara Ziva dan Nathan. Jujur saja hati nya begitu sakit melihat kedekatan Ziva dan Nathan. Namun ia juga memilih menolak kenyataan karna ia lebih memilih untuk tetap bersama Ziva apapun yang terjadi nanti nya. Meski pilihan nya ia harus tersakiti karna mungkin Ziva tak akan memilih nya.
"Ini pilihan paling bodoh yang pernah gua pilih Zi!! Mencintai lo, meski gue tau pada akhirnya bakal tersakiti...." Seru Revan.