
Tringggg
Suara dering hp membuat Ziva segera bangkit dari tidur nya, ia langsung menyambar hp nya. Ia melihat nama yang tertera di sana, seketika senyum nya merekah cerah. Tanpa basa basi ia pun segera mengangkat panggilan telepon itu.
In call
"Halo..."
"Hay Ra!! Sorry gue masih nyelesaiin proyek tadi." Seru Nathan pemuda yang sedari tadi Ziva hubungi.
"Ahh oke gak papa kok, Tan!" Sahut Ziva kembali merebahkan tubuh nya.
"Kenapa?" Tanya Nathan.
"Gak papa Tan, gue kangen sama lo!!" Lirih Ziva.
"Hehe masa..." Kekeh Nathan.
"Ishh gue serius, biasa nya kalo gue sedih lo yang slalu hibur gue!!" Seru Ziva yang mana mata nya kembali sendu.
"Ah gue baru denger dari Bastian soal Rega.." Lirih Nathan yang membuat setetes air mata mengalir di pipi mulus gadis itu.
"Ra..." Panggil Nathan khawatir.
"Hmmm..." Ziva hanya mampu bergumam.
__ADS_1
Hal ini membuat Nathan menghembuskan nafas kasar, ia tahu pasti bahwa gadis yang berada di seberang sana pasti sedang menangis. Ingin rasa nya ia ke sana dan langsung memeluk tubuh gadis itu. Menenangkan nya, menghibur nya dan membuat nya tertawa kembali. Namun apa daya tuntutan pekerjaan nya yang membuat ia tak bisa berkutik. Yah pekerjaan, meskipun dia masih sekolah, namun ia sudah menanggung tanggung jawab besar di perusahaan keluarga nya. Karena ia adalah pewaris tunggal sedangkan papa nya sedang dalam kondisi yang tidak baik. Jadi mau tidak mau ia harus mengambil tanggung jawab itu.
"Ra, gue tau lu sedih!! Tapi gue juga tau lo itu kuat, Ra..." Seru Nathan namun Ziva hanya terdiam.
"Menangis lah, menangis gak bakal bikin lo jadi lemah Ra!!" Tambah Nathan.
"Hiks hikss hiksss..." Ziva pun mulai menangis sejadi jadi nya.
Nathan yang mendengar itu memejamkan mata nya, jujur saja mendengar tangisan gadis itu membuat dada nya begitu sakit. Terasa seperti ribuan pedang yang di hunus tepat di jantung nya. Ia berusaha untuk tetap tenang karna ia tau kalau gadis itu sedang membutuhkan diri nya.
"Ra, apapun nanti yang terjadi lo harus inget!! Rega gak bakal suka liat lu jatuh kayak gini!!" Seru Nathan.
"Lo harus bangkit Ra, jangan bikin Rega sedih liat lo yang kayak gini!! Rega sayang banget sama lo, jangan buat dia gak tenang Ra!!" Pernyataan Nathan itu semakin membuat tangis Ziva pecah.
Ziva menangis sejadi jadi nya, ia bahkan tak perduli lagi dengan keadaan sekitar. Yang ingin ia lakukan saat ini adalah meluapkan rasa sakit di dalam hati nya.
"Lu mau balik hiks hiks??" Tanya Ziva di sela tangis nya.
"Iya donk, masa my queen lagi butuh gue, gue gak balik!!" Kekeh Nathan.
"Apaan sih lho!!" Sahut Ziva tersenyum tipis.
"Lah bener kan?? Queen ku yang satu ini mana bisa jauh dari prince Nathan!!" Seru Nathan yang di akhiri suara tawa nya.
"Dihh gr lu!!" Ujar Ziva sembari menghapus air mata nya.
__ADS_1
"lah?? Yakin nih gak butuh gue??" Goda Nathan.
"ishhh dah lah cepet balik lu!!" sahut Ziva.
"Nah kan!! Dah kangen yah!!" Goda Nathan yang membuat Ziva tersenyum simpul.
"Dih pd banget sih!!" kekeh Ziva.
"Iya donk, percaya diriitu penting!!" Bangga Nathan.
"Yeee penting sih penting tapi jangan over juga..." Kekeh Ziva.
"Gak papa lah yang penting bisa bikin my queen tersenyum kembali...." Seru Nathan...
"aaaaaahhh so sweeet!!!" Seru Ziva dengan nada manja.
Ziva dan Nathan terus saja mengobrol di telepon tanpa menyadari bahwa pintu itu sedikit terbuka. Ya Revan sedang berada di balik pintu itu. Ia bersandar di tembok dekat pintu sembari mendengar kan apa yang di bicarakan Ziva di telpon. Hati nya begitu sakit, ia baru ingat bahwa di hati Ziva sudah ada yang mengisi. Ia lupa bahwa sekuat apapun ia mencoba menghibur Ziva tak menutupi kenyataan yang bisa menghibur Ziva hanya lah dia. Pemuda yang sedang mengobrol dengan Ziva. Sosok pemuda yang selama ini menjadi rival dan musuh terbesar nya. Ia benar benar tak menyangka takdir akan segini mempermainkan perasaan nya.
Revan beranjak pergi dari sana, dengan beribu duri yang menusuk ke jantung nya. Ia melangkah ke lantai bawah, ia berjalan menuju dapur. Setelah sampai dapur ia segera mengeluarkan beberapa bahan masakan. Ia langsung memotong beberapa sayuran. Ia terdiam sejenak mengingat kalau Ziva menyukai hal berbau k-pop. Ia segera mengeluarkan ponsel nya mencari resep makanan yang bisa ia buat. Dengan cepat ia menemukan sebuah resep yang mudah dan semua bahan nya ada.
Ia mulai mengambil semua bahan yang di perlukan dan meletakkan semua di hadapan nya. Kemudian ia merebus bihun jagung sebagai pengganti dangmyeon. Setelah bihun nya lembut dan kenyal ia memarinasinya dengan kecap asin dan minyak wijen. Ia mengaduk nya sampai rata dan kemudian ia diamkan beberapa saat. Sambil menunggu marinasi nya ia menyiapkan wajan. Lalu memanaskan minyak, kemudian di lanjut dengan tumis sawi hijau kemudian masukkan bawang bombai, tumis sampai sedikit layu dan aromanya harum. Kemudian masukkan jamur, bawang putih, wortel, dan paprika merah. Setelah itu ia memasukkan daging. dan memasak nya hingga daging setengah matang. Kemudian ia memasukkan bihun yang sudah dimarinasi tadi dan Aduk hingga rata. kemudian ia menaburi garam, lada hitam, dan gula. Mengaduk nya hingga rata, ia mencicipi nya sedikit karena sudah sesuai, ia memberikan taburan daun bawang dan mengaduk nya lagi.
Ia mematikan kompor dan langsung menuangkan hasil masakan nya ke dalam piring, japchae versi Revan pun selesai.
"Gua gak peduli takdir mempermainkan gue, yang jelas gue bakal lakuin segala hal supaya lo nyaman di deket gua Zi!!" Monolog Revan.
__ADS_1
Sementara di sisi lain, Ziva yang sudah selesai mengobrol dengan Nathan segera beranjak ke kamar mandi. Setelah cukup lama membersihkan diri, ia langsung berganti pakaian. Awal nya berjalan ke arah kamar Revan, ia mencoba mengetuk dan memanggil Revan. Namun tak ada jawaban ia pun memutuskan untuk langsung turun ke bawah. Dan benar saja ia melihat Revan berada di dapur, sedang berkutat dengan peralatan dapur. Ya Revan masih melanjutkan acara masak nya dengan masakan yang lain nya. Ziva yang melihat itu ingin membantu namun di hentikan oleh Revan. Revan menyuruh nya untuk duduk dan melihat nya saja. Ziva pun tak bisa berkata apa apa, ia hanya bisa menuruti perintah Revan.