
Keesokan paginya, Ziva bangun dengan wajah ceria karena kondisi nya sudah jauh lebih baik. Saat itu Sisil baru keluar dari kamar mandi, ia tersenyum melihat seperti nya Ziva sudah baikan.
"Hai bestie!!" Seru Sisil sembari memeluk Ziva dari belakang.
"Sih, sih pagi pagi dah manja amat!!" Ziva terkekeh melihat tingkah laku sahabat nya itu.
"By the way thanks ya, Lo semalem dah bersihin make up gue..." Tambah Ziva.
Ya semalam karena Ziva tertidur, setelah Revan keluar Sisil yang membersihkan make up Ziva. Karena ia tau tidur dalam keadaan mengenakan make itu benar benar tidak nyaman.
"Lha Lo mah, kayak sama siapa aja!!" Sisil beralih ke meja rias, ia mengeringkan rambut nya.
"Hmmm ya udah deh gue mandi dulu" Ziva segera menuju kamar mandi.
Ia tak kesulitan lagi untuk melakukan aktivitas karena kondisi nya sudah jauh lebih baik. Dan pagi pagi sekali tadi suster Anna sudah mengecek nya dan ia juga melepaskan infus yang di tangan Ziva.
Sekitar 30 menit Ziva baru keluar dari kamar mandi, ia langsung menuju meja rias untuk mengeringkan rambut nya. Setelah di rasa sudah cukup, ia kembali merias diri nya. Mengaplikasikan lotion di setiap bagian tubuh nya yang terbuka.
"Done!!" Ziva tersenyum puas melihat hasil karya nya.
"Hmm, mana Sisil ya?? Apa di dapur?? Gue cari dulu aja deh!!" Seru Ziva kemudian beranjak ke luar kamar.
Setelah menutup pintu nya, Ziva mendengar suara bising dari arah dapur. Seperti nya dugaan nya benar kalau Sisil berada di dapur. Ia bergegas menuju dapur, saat di dapur ia tertegun sejenak melihat pemandangan di depan nya itu.
"Duhhh, Van!! Lo jago amat masak nya nih enak banget!!" Puji Sisil yang mencicipi hidangan yang disajikan di atas meja.
Sedangkan Revan, masih sibuk membuat sesuatu. Ziva hanya mengamati dari pintu dapur, ia melihat Revan sangat telaten dalam memasak seperti nya ia sudah biasa memasak. Padahal ini baru yang kedua untuk Revan, selama ini ia tak pernah memasak sendiri. Dan ini semuanya ia lakukan hanya untuk seorang gadis yang ia sukai.
Selesai memasak Revan berbalik untuk meletakkan makanan nya di atas meja. Ia tersenyum manis ketika melihat Ziva berada di ambang pintu. Ziva yang melihat itu langsung berjalan ke arah meja makan, Revan yang melihat itu langsung menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Ziva untuk duduk. Sisil tercengang melihat apa yang di lakukan oleh Revan. Ia memperlakukan Ziva seperti seorang ratu, wahh ini adalah momen langka untuk nya.
Sisil tersenyum senyum melihat tingkah Revan, ia sudah bisa menebak nya sekarang.
"Kayak nya, si es batu udah ketemu sama matahari nya nih, auto meleleh deh hehehe" Kekeh Sisil dalam hati.
Sementara Ziva yang di perlakukan seperti itu sebenarnya sedikit risih. Apalagi ia tau kalau ia dan Revan tak mungkin bisa bersama.
"Aiiisshhhh, kenapa malah gue dilema sih!!" Gerutu Ziva dalam hati.
"Lo kenapa kayak gini sih Van?? Harus nya Lo kayak dulu aja biar gue gak susah buat bertindak!! Sekarang Lo kayak gini gimana sama rencana awal gue!!" Batin Ziva.
__ADS_1
"Nih Zi, Lo makan yang banyak biar cepet sembuh!!" Seru Revan sembari memberikan piring berisi nasi beserta lauk nya.
Mereka pun makan dengan hening, walaupun Sisil benar benar jengkel. Kerena ia harus jadi obat nyamuk, yang melihat Revan yang begitu perhatian dengan Ziva. Setelah makan sesuai dengan instruksi suster Anna, Revan membawa Ziva berjemur di halaman belakang. Kini ia dan Ziva duduk di kursi taman sedangkan Sisil ia mendapat telpon dari rumah yang mengharuskan ia pulang.
Tasya?? Jangan di tanya, ia masih ada urusan setidaknya itu lah alasan nya di telpon.
Revan melirik ke arah Ziva yang kelihatan nya begitu menyukai suasana taman ini. Revan tersenyum, ia memberanikan diri untuk menggenggam tangan Ziva. Ziva tersentak merasakan hangat yang menjalar di jemari nya.
"Van??" Ziva bingung harus bereaksi seperti apa
"Zi, gue tau gue bukan orang baik. Tapi gue bener bener...."
"Ah Van, gue baru inget tadi belum minum obat!!" Seru Ziva mengalihkan pembicaraan.
"Sorry Van, gue belum siap!! Gue gak mau nyakitin Lo!!" Batin Ziva.
"Astaga, iya gue lupa!!" Revan menepuk dahinya sendiri.
"Bentar Lo tunggu di sini!!" Revan berlari kecil menuju rumah.
Sedangkan Ziva hanya menengadah ke atas langit, ia tak tau bagaimana takdir akan menulis untuk nya kali ini. Namun tak lama, terdengar dering telpon dari hp nya. Melihat nama yang tertera senyum nya mengembang sempurna.
"Halo Tan!!" Seru Ziva tersenyum manis.
"Ya jelas donk, pagi pagi udah ada pangeran ganteng yang nelpon" Ledek Ziva menjulurkan lidah nya.
"Hahaha, apa aja dah yang penting my Queen bahagia" Nathan tertawa renyah melihat ekspresi Wajah Ziva yang begitu menggemaskan.
"By the way kenapa nelpon??" Tanya Ziva.
"Gue kangen sama Lo lah!!" Seru Nathan.
"Oh ,masa??!!" Seru Ziva tak percaya.
"Hmm iya, kangen banget sampe rasa nya pengen terbang kesana terus peluk cium hehehe" Ucap Nathan cengengesan.
"Hmmm coba aja kalo berani, nih!!" Ziva memperlihatkan kepalan tangan nya.
"Ulu ulu, emang tega??" Tanya Nathan dengan nada meledek.
__ADS_1
"Isshh" Ziva mendengus kesal ia memalingkan wajahnya.
"Dih, ngambek dia!!"
"AU ah gelap!!" Seru Ziva.
"Lah terang amat kek gini di bilang gelap!!" Seru Nathan menahan tawa melihat ekspresi wajah Ziva.
"Dah lah, rese lu!!" Ziva hendak memutuskan panggilan.
"Eittss tunggu, ya ngambek beneran nih... Ya maaf maaf Ra, ihh ngambek Mulu kerjaan Lo" Nathan buru buru mengakui kesalahannya.
"Ya siapa yang duluan coba!!" Seru Ziva.
"Ya maaf, kan bercanda sayang!!" Nathan menunjukkan deretan gigi nya.
"Hmm" Ziva hanya mengangguk.
"Oh iya, Lo baik baik aja kan?? Soal nya dua hari ini perasaan gue gak enak banget!!"
Deg
"Mati gue!! Kalo sampe Nathan tau bisa bisa ngamuk nih anak!!" Batin Ziva.
"Hah?? Perasaan Lo aja kali, sensitif amat kek cewek!!" Ziva berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Siapa yang kayak cewek??" Tanya Nathan dengan penuh penekanan.
"Elo??" Ziva menjulurkan lidah nya sembari mengedipkan sebelah mata nya.
"Awas aja Lo kalo ketemu!!" Ancam Nathan namun bukan nya takut Ziva justru malah tertawa mendengarnya.
Ia tak menyadari, sepasang mata sedari tadi mengawasi nya.
"Kenapa sih gue harus liat Lo kayak gini sama cowok lain Zi??" Lirih Revan sembari meletakkan tangan nya di dada nya.
Sakit!! Dada nya begitu sesak dan bahkan sulit untuk di jelaskan!! Cemburu?? Sudah pasti, tapi apa yang bisa ia lakukan.
"Kenapa sesakit ini Zi??"
__ADS_1
"Apa gue salah??"
"Salah mencinta Lo!!"