
"nah tuh tau. Udah ah kalo gitu aku mau ke perpus dulu!" ujar Ziva yang tak lama Jessy datang dan langsung memeluk lengan Revan.
"sayang..... Aku dari tadi nyariin kamu loh. Kita ke perpus bareng yuk, buat ngerjain tugas dari Pak Dimas." senyum Jessy yang membuat Revan jijik.
"lepas!!" tandas Revan sembari menghempaskan lengannya.
"ihhh ayank, kasar banget sih!!" rengek Jessy yang membuat Ziva jengah melihat nya.
"bisa gak sih lo gak usah ganggu gue?"
"emang kenapa?kamu kan belum punya pacar jadi aku bebas buat deketin kamu." senyun Jessy sembari mengedip ngedipkan mata nya.
"cacingan lo yah?! Gue udah punya pacar." seru Revan yang membuat Jessy shock dan tentu nya batin Ziva tertawa terbahak bahak melihat ekspresi nya.
"wkwkwk mampus lo!" sorak Ziva dalam hati.
"siapa?!" lirih Jessy sembari menatap Revan tak percaya.
"si cupu!!"
"WHAT!! kamu bercanda kan Van?!" seru Jessy menggoyang goyangkan tangan nya.
"gak, gue serius"
Jessy langsung terduduk lemas mendengar pengakuan Revan.
Sedangkan Ziva terdiam sedang mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar.
Revan pun segera menarik tangan Ziva dan pergi meninggalkan Jessy.
"lo gak usah GR! Gue ngomong kayak gitu cuma buat Jessy gak ganggu gue lagi.."
"iya mungkin dia gak akan ganggu kamu lagi. Tapi dia bakal terus terusan cari masalah sama aku." omel Ziva yang kemudian langsung berlari menuju perpustakaan.
"sial!! Bisa bisa nya dia manfaatin gue!!" omel Ziva sepanjang perjalanan.
Saat sedang berjalan ia tersandung tali sepatu nya sendiri dan membuat dia kehilangan keseimbangan.
Hap
"Randi" lirih Ziva ketika mendapati Randi sedang menahan tubuh nya agar tidak terjatuh.
"lo bisa gak sih hati hati dikit!"
"maaf kak" Ziva menunduk.
"kalo sampe abang lo tau gue gak bisa jagain lo, bisa bisa gue di omelin sama dia."
"udah donk kak! Jangan sampe orang orang curiga sama kita. Dan stop bahas soal Kak Mike." seru Ziva sembari menatap mata Randi.
"heran! Kenapa bisa gue ounya adik sepupu kayak lo? Kenapa sih lo gak jadi diri lo yang biasa? Gue enek liat nya!" curah Randi yang merupakan sepupu Ziva. Randi adalah anak dari adik nya papa Ziva, Pak Ridwan. Yang merupakan kepala sekolah tempat mereka bersekolah.
"tau ah! Lo bawel banget!" seru Ziva mengerucutkan bibir nya.
__ADS_1
"canda woy! Gue udah denger semua nya dari Mike" ujar Randi sembari mengacak ngacak rambut Ziva.
"Randi? Ziva? Kalian ngapain di sini?" tanya Sisil yang melihat tangan Randi di kepala Ziva.
Melihat tatapan Sisil membuat Randi sadar dan langsung menoyor kepala Ziva" kalo jalan tuh pake mata, untung aja gak nabrak gue lo!"
"ma maaf" lirih Ziva.
"udah ah, gak mood gue liat muka lo!" seru Randi langsung meninggalkan mereka berdua menuju ke kelas.
"Zi, lo gak papa?" tanya Sisil khawatir.
"iya, aku gak papa"
"sorry ya, Zi. Tadi aku pikir lo sama Randi lagi deket." curah Sisil yang merasa bersalah.
"ya gak mungkin lah aku suka sama Randi. Begutu juga sebalik nya." seru Ziva.
"ya udah yuk kita ke perpus. Gue udah nubgguin lo dari tadi!" ujar Sisil langsung menggandeng tangan Ziva memasuki perpustakaan.
"Van, mana buku lo? Mau gue kumpul tugas nya" seru Sisil yang tengah menghampiri Revan.
"tugas, apaan dah?"
"bahasa indo"
"gue gak ngumpul, soal nya gue gak ngerjain!" ketus Revan.
"udah lah Sil, lebih baik kamu kumpulin buku tugas yang lain aja. Kan kamu tau sendiri dia paling susah di suruh ngerjain tugas." bisik Ziva yang membuat Revan mengernyitkan dahi.
"bisik bisik apa lo?!"
"eng enggak kok" seru Ziva.
Mendengar ada sedikit keributan membuat Reno menghampiri Revan.
"kantin yuk!" ajak Revan yang langsung di sahut girang oleh Randi.
"boleh" ujar Revan dan langsung meninggalkan Sisil dan Ziva.
"temenin gue yu ke kantor!" ajak Sisil pada Ziva.
"boleh"
Mereka berdua pun segera menuju kantor untuk menaruh buku buku tersebut di meja sang guru.
"kita langsung ke kantin ya" lirih Ziva ketika mereka keluar dari kantor.
"boleh" angguk Sisil setuju.
Mereka pun kembali melanjutkan langkah menuju kantin yang mana suasana kantin cukup ramai.
"gue pesen dulu ya? Lo tunggu sini!" seru Sis yang langsung memesan makanan.
__ADS_1
"gila tuh orang." lirih Ziva ketika melihat Revan yang senyum senyum sendiri sambil menatap ponsel nya, sedangkan teman teman nya malah di cuekin.
"lo kenapa Van?" senggol Randi sembari menyeruput jus nya.
"gue lagi chatan sama Syila. Tadi agi gue sama si cupu berhasil ngerekam aksi bejat nya si Bagas. Semoga aja setelah ini gue bisa deket sama Syila." tandas Revan dengan senyum nya yang merekah.
Tak lama dari itu, Syila datang ke kantin dan langsung menghampiri Bagas yang sedang berkumpul dengan teman teman OSIS nya.
Byuuurtrr
Wajah Bagas seketika basah dengan jus yang sengaja di tumpahkan Syila di atas kepalanya.
"astaga! Syila kamu kenapa? Kok tiba tiba guyur aku sih, sayang"
"kenapa?" ulang Syila yang langsung merogoh ponsel nya dan memperlihatkan rekaman video pada Bagas.
"bisa jelasin?" tanya Syila yang membuat Bagas gelagapan dan tentu nya menjadi pusat perhatian.
"keren nih!" seru Revan yang menonton lerdebatan itu.
"cepet jawab!" titah Syila menatap tajam Bagas.
"aku bisa jelasin semua nya! Tadi utu tiba tiba Zelin dateng dan terus langsung nyosor ke aku" jelas Bagas dengan segala kebohongan nya.
Zelin yang kebetulan berada di sana pun lansung menghampiri Bagas dan langsung menampar nya.
Plak
"gila kamu ya! Kenapa kamu nuduh aku? Bukan nya kamu sendirj yang nyium aku dan berencana buat mutusin Syila." marah Zelin yang membuat Bagas serba salah.
"dasar buaya" lirih Sisil yang membuat Ziva menoleh ke arah samping.
"cowok emang gak pernah puas dengan satu cewek!" seru Ziva yang di balas sebuah anggukan kepala.
"dari pada ngurusin merekaebih baik kita lanjut makn!"
"good idea!" angguk Ziva setuju dan langsung menyuapkan bento mereka ke dalam mulut sembari menonton pertunjukan gratis.
Syila pun mendengus kesal "jadi kamu berencana mutusin aku?"
"gak gitu sayang. Aku gak pernah berpikir kayak gitu. Aku gak mungkin tega sama kamu. Aku cinta sama..."
"brengsek lo ya!" Zelin kembali menampar Bagas dan pergi dari sana dengan segala kekecewaan nya.
"kamu gak tega kan mutusin aku?" tanya Syila yang menatap mata Bagas sendu.
"apa apaan ini?" batin Revan yang melihat cara Syila menatap Bagas.
"tentu aja, aku gak mungkin lah mutusin kamu"
"oke fine! Biar aku aja yang outusin kamu."
"kita putus!!" seru Syila kemudia berlari meninggalkan Bagas.
__ADS_1