
Setelah meminumkan obat pada Ziva, Mike duduk di samping Ziva sembari menggenggam tangan Ziva. Revan yang melihat itu hanya bisa terdiam, begitu banyak pertanyaan yang ingin ia tanya kan. Namun ia tahu ini bukan lah waktu yang tepat, ia hanya bisa menghela nafas panjang dan beranjak menuju sofa dekat jendela. Tak lama Ziva pun menunjukkan pergerakan, Mike dengan sedia tetap berada di samping Ziva. Ziva perlahan membuka mata nya, ia mengerjap ngerjapkan mata nya. Ia tersenyum melihat kakak nya berada di sini, tanpa berpikir panjang ia langsung duduk dan memeluk kakak nya itu.
Mike membalas pelukan Ziva, mata nya terpejam menahan sejuta perasaan yang ada dalam hati nya. Ia bingung harus bersikap seperti apa, karna semua nya beresiko untuk Ziva. Ia sangat tahu kondisi adik nya sekarang tidak dalam keadaan baik baik saja. Namun ia juga tak bisa banyak berbuat karna itu akan membuat Revan dan Alqan curiga. Mike hanya mampu mengusap perlahan surai panjang milik Ziva. Tak terasa setetes air mata luruh dari kelopak mata Mike.
"Kak??" Panggil Ziva saat melepaskan pelukan nya.
"Hmm, are you oke??" Tanya Mike cemas.
"Ummm, cuma sakit kepala.." Seru Ziva sembari tersenyum.
"Syukur lah!!" Ucap Mike kembali mengusap puncak kepala Ziva.
Ziva menyandarkan kepala nya pada bahu Mike, ia kembali memejamkan mata nya. Tanpa menyadari ada sepasang mata yang menatap nya dengan sangat cemas sedari tadi. Tak berapa lama Ziva kembali tertidur, Mike pun yang menyadari nya segera membenahi posisi Ziva. Ia kembali membaringkan Ziva dan membenahi selimut nya. Ia kemudian memberi isyarat pada Revan dan juga Alqan untuk keluar dari kamar itu. Revan dan Akqan saling betpandangan dan mulai beranjak dari sana menuju lantai bawah. Setelah kepergian semua orang, Mike mengecup puncak kepala Ziva.
"Ra, lu tenang aja ada kakak di sini!! Apapun yang tetjadi nanti nya, lu tak sendirian Ra!!" Bisik Mike.
Mike segera beranjak dari sana, tak lupa ia menutup pintu kamar yang di tempati oleh Ziva. Ia melangkahkan kaki menuju lantai bawah. Di ruang tengah, Revan dan Akqan sudah menunggu sedangkan Pak Kasno kembali mengerjakan pekerjaan nya yang lain. Mike segara duduk di hadapan kedua pemuda yang sedang menatap nya serius.
"Bang..."
"Gue kesini karna Ara!!" Seru Mike memotong ucapan Revan.
"Bang, sebenernya queen sakit apa sih??" Tanya Alqan khawatir.
"Iya bang... Gue sering banget liat Zi, kayak nya nahan sakit gitu!!" Ujar Revan menambahi ucapan Alqan.
Mike menghembus kan nafas panjang jujur ia bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Nanti juga lo tau, tapi lebih baik kalo Ara sendiri yang kasih tau lu semua!!" Tandas Mike yang membuat Revan dan Alqan bungkam.
"Thanks Van, udah jagain adek gue!!" Ujar Mike.
"Its oke bang, justru gue seneng bisa jagain Zi..." Sahut Revan sembari tersenyum.
"Besok kita balik!!" Seru Mike yang membuat Revan dan Alqan mengernyitkan dahi.
"Lah, emang udah aman bang??" Tanya Alqan.
Lagi lagi Mike menghembus nafas panjang.
"Kita harus hadiri upacara pemakaman Rega..." Ujar Mike dengan wajah sendu.
Deg
Jedaarrrrr
"Bu.. Bukan.. Nya ada yang selamat yah bang??" Tanya Alqan dengan suara bergetar.
"Ya, tapi mayat yang di temukan polisi cocok dengan dna nya Rega..." Jelas Mike yang berusaha untuk tetap tenang meski air mata nya sudah menggenang di pelupuk mata nya.
Tangis Alqan seketika pecah, ia tak menyangka sahabat nya itu, teman seperjuangan nya tewas dengan keadaan yang begitu mengenaskan. Takdir seperti mempermainkan mereka, baru saja mereka sedikit merasa lega dengan petunjuk yang di temukan polisi. Bahwa ada kemungkinan yang masih selamat, namun ternyata itu bukan lah Rega. Revan yang berada di samping Alqan pun ikut merasakan sakit nya kehilangan. Apalagi yang di pikiran Revan sekarang bagaimana dengan gadis cantik yang sedang berbaring lemah di lantai atas. Alqan sana bisa segini hancur nya dan Mike pun yang dingin pun meneteskan air mata.
Apa yang akan di rasakan oleh gadis kesayangan nya itu, apakah gadis itu akan hancur. Yang pasti nya iya, karna Revan tau bahwa Rega sudah seperti kakak nya Ziva. Revan berusaha menenangkan Alqan, Mike pun berdiri karna tak kuasa melihat Alqan. Ia lebih memilih memalingkan pandangan nya ke arah lain, hati nya juga hancur sangat sangat hancur.
"Qan, lo harus kuat!!" Ujar Revan sembari mengusap punggung Alqan.
__ADS_1
"Gak mungkin!! Ini gak mungkin, ini pasti mimpi kan..." Ujar Alqan dengan nada frustasi.
"Qan, gua tau lo sedih!! Gua juga bisa rasain apa yang lo rasain... Tapi lo harus tegar, gimana dengan Zi, kalo lo kayak gini" Seru Revan yang membuat Alqan dan Mike langsung menoleh ke arah Revan.
Wajah mereka berdua sangat kacau, mata mereka begitu memperlihatkan kehancuran.
"Lo bener, gua mungkin hancur dengan ini semua tapi gua gak boleh terlihat lemah di hadapan Ara!!" Ujar Mike sembari mengepalkan tangan nya.
"Lo bener bang, yang paling tersakiti di sini pasti nya Ziva... Gua gak boleh lemah, gua harus tetap kuat demi queen.." Ujar Alqan sembari menghapus air mata nya.
"Sekarang kita harus pikirin gimana cara nya jelasin ke Zi, kalo Rega udah gak ada.." Lirih Revan namun masih terdengar cukup jelas.
Pranggg
Tiba tiba terdengar suara barang pecah dari arah belakang mereka, dan betapa terkejut nya mereka ketika mendapati Ziva sedang berdiri di sana dengan air mata yang terus saja mengalir. Ya beberapa saat yang lalu Ziva terbangun, ia mencari keberadaan kakak nya namun ia tak menemukan nya. Ia memutuskan untuk pergi ke lantai bawah, karna mungkin saja mereka semua sedang berkumpul di bawah. Karena Revan pun tak ada dalam kamar nya, sayup sayup Ziva mendengar suara orang yang sedang berbicara. Ketika sampai di belakang ketiga orang itu, bak di sambar petir di siang bolong. Ia mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Revan. Tak sengaja ia menyenggol guci di samping nya, alhasil guci itu jatuh dan pecah berkeping keping.
Revan yang melihat keberadaan Ziva langsung beranjak dari posisi nya. Ia berlari ke arah Ziva sedangkan tubuh Ziva seketika oleng karna terlalu kaget dengan berita yang ia dengar. Untung saja Revan sangat sigap ia langsung mendekap tubuh Ziva dalam pelukan nya. Mike dan Alqan pun segera beranjak menghampiri Ziva, Mike mengusap surai panjang Ziva yang sedang dalam dekapan Revan.
"Tenang lah!!" Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Mike karna ia tak bisa berkata apa apa lagi.
Sedangkan Alqan, ia sedang bergelud dengan diri nya sendiri. Ia sedang berusaha untuk kuat menerima segala nya, ia sedang berusaha melawan rasa sakit di dada nya. Sesak sungguh sesak ketika mereka harus mengetahui fakta menyedihkan ini. Terlebih lagi melihat gadis cantik yang sangat mereka sayangi dalam keadaan begitu terpuruk bahkan tangis nya membuat hati mereka teriris.
"Zi, look at me!!" Ujar Revan sembari melepaskan pelukan nya dan mengangkat dagu Ziva untuk menatap mata nya.
"Lo kuat, lo pasti bisa!! Gue yakin Rega gak bakal seneng liat lu terpuruk kayak gini!!" Seru Revan yang menahan genangan air mata nya agar tak terjatuh.
"Hiks... Kenapa hikss kenapa harus Rega Van..." Ucap Ziva di sela tangis nya.
__ADS_1
"Takdir gak pernah ada yang tau Zi.." Ujar Revan mengusap surai Ziva dengan penuh kasih sayang.
"Seprti kita berdua... Kita gak pernah tau, mengenai apa yang di tuliskan takdir untuk kita berdua!!" Batin Revan menatap Ziva sendu.