
Setelah semua kejadian itu, sekolah membebaskan pelajaran untuk hari ini. Namun siswa tidak boleh meninggalkan lingkungan sekolah. Randi membawa Ziva ke roof top, ia duduk di bangku dekat pembatas di sana.
"Ra, Lo gila ya!! Gimana kalo sampe Revan marah sama Lo karna dah bohongin dia??" Randi mengacak rambut nya frustasi.
"Emang itu yang gue mau kak!!" Seru Ziva.
"What!!" Teriak Randi tak percaya.
"Kak Lo tau tujuan gue!! Gue gak mau dia terlibat kak, gue gak mau semua yang gue lakuin selama ini Sia sia!!" Seru Ziva.
Randi tak bisa mengungkapkan apa apa karna ia tau jelas maksud dari Ziva. Ia benar benar tak habis pikir dengan tekad adik nya ini.
"Ra, gue harap Lo gak nyesel dengan pilihan Lo!!" Randi pergi meninggalkan Ziva sendirian.
Sedangkan di sisi lain, di halaman belakang sekolah, Revan berbaring menenangkan diri.
"Kenapa Zi?? Kenapa Lo boongin gue??" Revan begitu kecewa.
"Jadi apa perasaan gue ini salah!!"
Tiba tiba Revan duduk
"Gak, gue gak salah, gue emang suka sama Lo Zi.. Gue bukan tertarik sama penampilan Lo, tapi gue suka sama hati dan kepribadian Lo... Lo yang cerewet suka marah marah, Lo yang nyebelin, jadi gak perduli penampilan Lo sebenernya kayak apa gue tetep sayang sama Lo Zi..." Monolog Revan meyakinkan hati nya sendiri.
"Ya gue harus buktiin ke Ziva kalo gue bener bener tulus sama dia!! Gue gak pernah nilai dari penampilan nya!!" Revan berdiri dari tempat duduk nya.
"Gue harus cari Ziva!!" Revan berlari menyusuri koridor.
Setelah sekian lama ia mencari akhirnya menemukan Ziva sedang berbincang dengan murid lain.
"Zi!!"
Ziva menoleh ke arah sumber suara.
"Wah, dia Revan kan ketua White Eagle!!" Seru siswi yang tadi bicara dengan Ziva.
"Hai, kenalin calon masa depan nya Ziva!!" Revan mengedipkan sebelah mata nya pada Ziva.
"Lo gak usah Ngadi Ngadi deh!!" Ziva memelototi Revan dengan kesal.
Ternyata di sana juga ada Randi, ia menyerahkan sebotol yogurt pada Ziva.
"Gue tadi beliin di kantin!!"
Ziva mengambil botol yogurt itu
"Thanks, Kak"
"Anytime."
Sisil yang berada di sebelah Ziva menatap botol yogurt itu kemudian menatap Randi.
"Kok Ziva donk yang di kasih, gue enggak??" Tanya Sisil protes.
"Beli aja sendiri!!" ujar Randi acuh.
"Dihh, Randi pilih kasih!!" Protes Sisil.
"RAN, yuk maen futsal!!" Seru seorang siswa laki laki dari lapangan.
"Gue main futsal dulu ya??" Randi langsung berlari ke lapangan.
"Good luck!!" Ujar Ziva menyemangati.
"Eh , gue nonton Randi main ya, Lo mau ikut??" ajak Sisil.
"Nggak deh, panas banget!!" Ziva menggeleng kan. kepala nya.
"Oke deh, kalo gitu gue ke sana dulu!!"
Sisil segera berlari ke sisi lapangan dan bergabung dengan beberapa siswi yang ikut menonton.
"Lo mau sampe kapan di sini??" Ziva benar benar kesal melihat reaksi Revan tak sesuai yang ia bayangkan.
__ADS_1
Ia pikir Revan akan membenci nya, tapi apa yang Revan katakan tadi "calon masa depan".
"Gak tau"
"Oke fine!! Biar gue yang pergi" Ziva mendengus.
Ziva beranjak dari posisi nya, tapi dengan sigap Revan menarik tangan Ziva. Ziva yang lengah saat itu langsung kehilangan keseimbangan dan jatuh di pelukan Revan. Mata mereka saling memandang dalam sepersekian detik.
"Lo gila!!" Ziva mendorong Revan menjauh dengan wajah nya yang memerah.
Revan masih terpaku di posisi nya, aroma khas dari Ziva masih melekat di penciuman nya. Revan memegang dada nya, dan tersenyum seperti orang bodoh.
"Sweet"
Di toilet,
Ziva membasuh wajah nya di kamar mandi dengan air dingin.
"Gila!! Tuh Revan!!" Seru Ziva.
Ia menatap pantulan diri nya di cermin, wajah cantik nya telah basah. Tapi itu bukan lah poin penting nya, melainkan rona merah yang masih tersisa di pipi nya.
Saat Ziva hendak membuka pintu kamar mandi, pintu itu tidak bisa di buka. Ziva mencoba memutar gagang pintu nya lagi, tapi hasil nya nihil.
Ziva menggedor pintu sekuat tenaga.
"Ada orang di luar!!! Tolong... Buka pintu nya!!"
Syila dan teman teman nya saling menatap dan tertawa.
"Lo emang pantes tinggal di sana!!" Ujar Syila.
Ziva mengerutkan keningnya, itu suara Syila.
"Mau Lo apa sih!! Bukain pintu nya gak??" Seru Ziva.
"Salah sendiri ngapain Lo rebut perhatian Revan dari gue!!" Seru Syila.
Syila dan teman teman nya meninggalkan toilet dan tak lupa meletakkan papan bertuliskan toilet sedang di perbaiki di arah lorong.
"Sumpah deh, gue paling males maen game anak anak kayak gini!"
Ziva menatap sekeliling nya mencari cara untuk keluar, tatapan nya berhenti di sebuah ventilasi udara. Seperti nya Ziva tak punya pilihan lain. Ia memanjat wastafel dan membuka penutup ventilasi yang ukuran nya cukup besar. Dengan hati hati Ziva melompat dari lubang ventilasi itu.
bugghhh
Revan yang sedang merokok dengan teman teman Anggota White Eagle yang lain tercengang saat ia menangkap tubuh seseorang yang tiba tiba jatuh dari atas.
"Gue jadi inget lagu pas liat adegan ini" Seru Vito.
Gio mengangguk dan mulai bernyanyi.
"Kau bidadari, jatuh dari surga di hadapan ku... eeeaaaa..."
Ziva juga tercengang dengan situasi saat ini, ia langsung melompat dari pelukan Revan.
"T.. thanks" ujar Ziva
Lo ngapain sih lompat dari ventilasi!! Lo gak tau apa, yang Lo lakuin itu bahaya!!" Seru Revan.
Ziva menatap Revan dengan malas.
"Kalo bukan karena Lo, gue juga gak bakal repot repot lompat dari ventilasi." Ujar Ziva.
"Lo di ganggu??"
Ziva tak menjawab, ia hanya memalingkan wajah nya dan menatap teman teman Revan. Penampilan mereka sebelas dua belas dengan Revan.
Ziva mengerutkan kening saat ia menghirup asap rokok.
uhuk! uhuk!
Ziva menutup mulut dan hidung nya saat ia mencium lebih banyak aroma rokok.
__ADS_1
Mereka seperti nya menyadari sesuatu dan segera mematikan rokok mereka.
Vito yang sedari awal tidak merokok menepuk punggung Ziva dengan lembut dan membawa nya ke tempat lain yang agak jauh.
"Kalian ulangi dulu bau asap rokok nya!" Titah Vito.
Ziva terus batuk hingga wajah nya memerah.
"Lo tunggu di sini bentar!!" Setelah mengatakan itu Vito berlari menuju kantin dan membeli sebotol air minum.
"Nih Lo minum dulu!!" Ujar Vito.
Ziva meminum air itu dengan cepat hingga batuk nya mulai mereda, ia menghela nafas lega.
"Thanks"
"Gimana udah lebih baik??" Vito tersenyum kecil.
Ziva mengangguk kecil, Revan dan yang lain segera menyusul ke tempat Ziva. Meskipun masih tersisa bau rokok namun tak sepekat tadi.
"Lo udah gak papa kan??" Tanya Revan cemas.
"Gue tau kalian badboy, tapi bisa gak sih pake otak... Ini sekolah!! Ngerokok di sekolah, gila ya Lo!!" Seru Ziva.
Revan menunduk, sedangkan Ziva mengedarkan pandangan nya kemudian kembali menatap Revan.
"Pegang kerah gue!!" Titah Ziva pada Revan.
"Hah??" Revan menatap Ziva bingung.
"Gue bilang pegang kerah gue!!" Ulang Ziva.
"Udah sih, Van turutin aja!!" Desak Reno.
Revan memegang kerah baju Ziva dengan bingung.
"Gue janji gak bakal bilang ke guru kalo kalian ngerokok..." Ujar Ziva dengan ekspresi ketakutan.
Yang lain saling memandang dengan bingung
"Lo sebenernya ke..."
"Revan!" Seruan tersebut membuat orang orang itu tersentak.
Mereka menatap Bu Beta, guru BK itu menghampiri mereka dengan sebuah penggaris panjang.
"Lepasin tangan kamu!!" Seru Bu Beta pada Revan.
Revan segera melepaskan tangannya dari kerah baju Ziva. Mereka akan sangat bodoh jika tidak mengetahui rencana Ziva ketika melihat Bu Beta.
"Kalian ya, udah ketahuan merokok di sekolah!! Berani ngancem Ziva juga!!"
"Bu, kita gak ngancem Ziva. Kalo gak percaya tanya aja sama Ziva!!" Sanggah Gio.
Bu Beta menatap Ziva yang wajah nya ketakutan.
"Ziva, kamu jujur sama ibu. Apa mereka ngancem kamu supaya gak Ngaduin mereka??"
"me.. mereka gak ngancem Ziva kok Bu.." Ujar Ziva lemah.
"Ibu denger sendiri kan, kalau kita gak ngancem Ziva" sela Vito.
"Tapi yang ibu liat, kalian yang udah berhasil ngancem Ziva"
"Bu, kita gak..." Kata kata Reno di sela.
"Kalian berempat, ikut ibu ke ruang BK!!" Bu Beta berbalik memimpin jalan.
"Lo bener bener licik!!" Seru Gio tak percaya.
"Gio!!" Teriak Bu Beta.
Revan, Reno, Gio dan juga Vito segera mengikuti Bu Beta, sebelum jauh mereka berbalik menatap Ziva yang tersenyum miring menatap mereka sembari merapikan kerah baju nya.
__ADS_1
untuk pertama kali nya mereka di komplit oleh seorang gadis.
"Kena Lo!!" Seru Ziva