Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Kebaikan Rita


__ADS_3

Setelah mengobati luka Rival, Rita pun langsung membantu Rival untuk berdiri. Dan Rival pun masih saja menolak bantuan Rita.


"Aku bisa sendiri! Aku ga butuh bantuan kamu!" Sungut Rival. Rita hanya menggelengkan kepala. Iya tidak habis pikir dengan sikap kepala Rival.


"Oh.. bisa sendiri, ya udah kalau gitu.." Ujarnya sembari jalan duluan tanpa menunggu Rival.


"Argh.." Rival terjatuh kembali karena kakinya masih mengalami cidera. Rita pun menoleh kepada Rival. Dan Rita pun langsung ingin membantunya.


"Makanya jangan keras kepala.. Sini saya bantuin.." Ucap Rita sembari membantu Rival untuk berdiri dan jalan. Rival pun lagi-lagi menolak bantuan Rita.


"Kamu itu dengar ga sih? Aku ga butuh bantuan kamu.." Ujar Rival ketus.


"Udah ga usah bawel.. kita semua itu mau pulang dan mau cepat-cepat sampai rumah." Ujar Rita sembari membantu Rival jalan. Anehnya, Rival malah tidak banyak memberontak lagi. Iya menuruti kata-kata Rita.


.


.


.


Setelah sampai di rumah, Rita pun tetap membantu Rival untuk berjalan dan menuju ke kamar Rival. Rita membantu Rival untuk duduk di kasur kamarnya. Kemudian Rival pun bertanya.


"Kenapa sih kamu ingin membantu Aku terus? Aku kan ga butuh bantuan kamu!" Sungut Rival lagi.


"Rival, Aku itu bantu kamu karena kamu memang butuh bantuan Aku.. Jangankan kamu jika orang lain saja butuh bantuan Aku pasti Aku bantu. Aku heran deh.. dimana-mana orang itu kalau dibantu ketika iya memerlukan bantuan, pasti iya akan mengucapkan terimakasih, tapi kamu enggak. Sudah ga terimakasih, marah-marah lagi." Ledek Rita.


"Ya, udah terimakasih.." Ujar Rival terpaksa.


"Kalau ga bisa berterimakasih kenapa harus dipaksakan? Emang begitu, cara kamu berterimakasih kepada orang lain?" Ujar Rita.


"Kamu itu bawel banget sih? Ga berterimakasih salah, terus ngucapin terimakasih juga salah.. maunya kamu itu apa?" Ucap Rival heran. Rita hanya tersenyum kecut dengan ucapan Rival.

__ADS_1


"Ya, ga salah sih.. cuma kan cara kamu yang kurang tepat.." Ucap Rita.


"Ah.. udah Aku mau istirahat, kamu pergi aja sana.." Usir Rival. Rita pun membuang nafas. Dan kemudian langsung keluar dari kamar Rival.


Entah kenapa Rival merasa ingin tertawa. Iya merasa asyik saat berdebat dengan Rita. Rival merasa seperti terhibur saat berdebar dengannya.


...****************...


Rita pun mendapat sebuah telfon dari seseorang. Iya pun langsung berangkat setelah menerima telfon itu. Rival yang melihat Rita berbicara dengan seseorang di telfon, bertanya-tanya. sama siapa Rita berbicara.


"Rita berbicara sama siapa di telfon? Dan mau kemana dia?" Tanya Rival kepada dirinya sendiri. Karena penasaran, Rival pun akhirnya mengikuti Rita. Iya diam-diam mengikuti kemana Rita pergi tanpa sepengetahuan Rita.


.


.


.


"Hai.. sudah lama ya nunggu?" Tanya Rita.


"Enggak kok Rit.. baru saja sampai.." Ucap Steven.


"Oh iya.. kita berangkat sekarang gimana?" Ujar Rita.


"Ya, udah ayok.." Ucap Steven. Mereka pun naik mobil milik Steven bersama-sama. Rival yang memantau mereka dari jauh pun akhirnya mengikuti mereka.


"Sebenarnya mereka mau kemana sih? Awas aja kalau sampai macam-macam. Ucap Rival tanpa sadar. Setelah Rival sadar dengan ucapannya,


" Ih.. kenapa Aku malah memikirkan Rita sih? Kalau mereka memang ada hubungan, apa urusannya sama Aku.." Ujarnya.


Rival terus saja memantau Rita. Iya tidak ingin kehilangan jejak mereka. Dan mobil yang dikendarai oleh Steven dan Rita pun berhenti di suatu tempat. Rival melihat mereka berdua turun dari mobil. Dan Rival pun penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Untuk apa mereka berhenti disini? Mana bangunannya kumuh lagi. Jangan-jangan.." Pikiran Rival mulai tidak enak. Karena penasaran, Rival juga ikut turun mengikuti mereka berdua. Setelah Rival melihat mereka, Rival pun menjadi terkejut dengan apa yang telah mereka lakukan. Rival tidak menyangka kalau ternyata Rita seperti itu.


Rita dan Steven melakukan peduli sosial terhadap anak-anak jalanan. Rita membantu mengajarkan anak-anak jalanan itu tentang pendidikan seperti di sekolah. Rita melakukan itu karena iya senang dan tidak ingin anak-anak jalanan itu terlantar dan tidak tau arti sebuah Pendidikan. Rival yang melihat tindakan terpuji yang dilakukan oleh Rita pun tersenyum sendiri.


Entah kenapa dia melihat sosok Namira ada pada diri Rita. Sebelum Rita mengetahui keberadaannya, Rival pun segera pergi menuju ke mobilnya. Rival menunggu mereka keluar. Dan setelah sedikit lama menunggu akhirnya mereka keluar juga. Rita dan Steven pun mulai masuk mobil. Dan entah mereka mau kemana lagi.


"Mau kemana lagi mereka?" Tanya Rival pada dirinya sendiri. Daripada penasaran, Rival pun terus mengikuti mereka. Dan mereka berhenti di salah satu tempat panti jompo. Rival tidak menyangka kalau Rita dan Steven sering ke sini. Rival bertanya-tanya lagi.


"Ngapain mereka kesini? Memangnya ada orang tua mereka atau saudara mereka yang ditempatkan disini?" Tanya Rival kepada dirinya sendiri. Kemudian Rival pun ikut turun dan mengikuti mereka berdua.


Lagi-lagi Rival dibuat terkejut oleh Rita. Rita menghibur para orang tua yang sudah renta. Mereka sangat sedih karena tidak dapat berkumpul dengan anak-anaknya.


Rita turut bersimpati dengan keadaan mereka. Untuk menghilangkan kesedihan mereka, Rita pun mencoba menghibur mereka. Dan mereka pun terlihat nyaman dan senang dengan hiburan yang Rita berikan.


"Oh iya.. kakek, nenek.. ini Rita punya sedikit bingkisan untuk kakek-kakek dan nenek-nenek ini.. semoga ini bisa membantu ya.." Ujar Rita. Dan Rita pun mulai membagikan bingkisan-bingkisan itu kepada mereka.


"Terimakasih nak Rita atas kebaikan kamu.. semoga Tuhan membalas atas kebaikan kamu.." Ujar para orang tua itu. Rita pun tersenyum dan berkata amen. Karena doa dari mereka yang Rita harapkan. Kemudian, Rita pun pamit kepada mereka semua. Karena Rita harus kembali ke rumah Marta.


Rival pun segera pergi dari tempat itu sebelum Rita mengetahuinya. Rival segera masuk dalam mobilnya. Rival pun sangat salut dengan sifat Rita yang suka menolong dan peduli dengan sesama. Rival tidak menyangka kalau Rita ternyata adalah orang yang baik.


...****************...


Sementara Rita, Rita merasa lega karena telah selesai melakukan peduli sosial.


"Akhirnya, selesai juga.." Ujar Rita.


"Iya, Aku juga lega.. mana besok jadwal Aku padat banget lagi.." Ujar Steven.


"Ngomong-ngomong kasian juga ya, mereka.. mereka udah ga punya siapa-siapa.. terus terlantar lagi.. apa lagi mereka yang sudah renta di panti jompo barusan.. pasti mereka sangat rindu dengan anak-anak mereka.. anak yang sudah mereka besarkan, mereka rawat, mereka didik.. tapi pada akhirnya mereka harus di tempat seperti itu.. Aku jadi ngebayangin sama diri Aku sendiri.. nanti kalau Aku sudah tua, pasti Aku juga seperti mereka.. tapi, Aku ga bisa bayangin kalau Aku di panti jompo.. pasti tersiksa banget.." Ujar Rita.


"Ya, itu semua kan tergantung dari diri kita sendiri Rita.. bagaimana perlakuan kita terhadap orang tua kita sendiri.. kalau memperlakukan orang tua kita dengan baik, pasti anak-anak dan cucu kita juga memperlakukan kita dengan baik juga kelak.. karena yang namanya karma itu pasti berlaku.." Ujar Steven. Rita pun tersenyum dengan jawaban itu. Dan Rita mengangguk paham dengan apa yang telah diucapkan oleh Steven.

__ADS_1


__ADS_2