
Kerutan muncul di antara dua alis Myria saat membaca pesan sang ayah. Kakinya yang baru saja menjejak bumi langsung berhenti.
“Kenapa, My?” Friska bertanya setelah berhasil menarik rolling door butik. Sudah dua pekan ini dia dan Myria sibuk membuka usaha secara resmi.
“Ini, nih, tumben banget Ayah nyuruh dateng ke kediaman Sastra. Padahal rumah itu lama banget nggak dikunjungi.”
Friska ikut menghentikan langkah dan berhasil menarik perhatian Myria. Sahabatnya sampai bertanya, tetapi jawabannya berupa gelengan ringan. “Nggak, deh.”
Bibir Myria mendesis. “Aneh kamu.”
Tanggapan Friska berubah menjadi tawa. Wanita itu lantas melanjutkan langkah dan berucap, “Kamu nggak mau nempatin rumah itu karena ada kenanganmu sama Kasa, ya, My?”
Fokus Myria tertancap pada Friska beberapa saat sebelum kini berpaling. Wanita bergamis hazelnut itu menggeleng ragu. “Mungkin itu salah satunya. Tapi selain itu juga karena nggak imbang aja hidup sendiri di rumah sebesar itu.”
“Kalau suatu saat kamu nikah dan Om Tirta minta kamu nempatinnya, gimana?”
Myria angkat tangan. Dia belum terpikirkan soal pernikahan. Mendengar kabar Angkasa taaruf dengan wanita lain, sudah cukup membuatnya enggan memikirkan perasaan lagi sementara waktu.
Sementara itu, di kediaman Sastra, Tuan Aji sekeluarga baru tiba. Mereka disambut ramah oleh Nyonya Caroline dan Andreas, sedangkan Tuan Tirta bersikap biasa dengan wajah datar tanpa ekspresi berlebih.
“Myria belum tahu soal ini. Jadi jangan berharap banyak andai dia menolakmu.” Tuan Tirta bicara tanpa basa-basi sembari menatap Angkasa. Kedatangan beliau kemarin ke rumah adik tirinya hanya diketahui Nyonya Caroline dan Daniel.
Sebenarnya, masih ada sedikit rasa tidak rela menikahkan Myria dengan Angkasa. Namun, hati Tuan Tirta mulai terbuka saat Nyonya Caroline memberi saran. Tidak banyak hal yang dilakukan istrinya itu, Nyonya Caroline hanya menyampaikan pendapat-pendapat yang bisa diterima logika. Sang istri paham karakter Tuan Tirta seperti apa, sehingga pandai mengambil celah.
Entakan alas kaki dari luar menjeda perbincangan. Tidak sampai bermenit-menit, suara salam dan kemunculan Myria sudah terlihat. Perempuan itu sempat menghentikan langkah saat melihat banyak orang di sofa tamu. Akan tetapi, dia tetap mendekat.
“Myria.” Nyonya Nasita memanggil dengan langgam tenang.
Selepas bersalaman dengan kedua orang tuanya, Myria beralih pada Nyonya Nasita. Dia langsung memeluk dan bersikap manja. “Bunda … Myria kangen.”
Tangan Nyonya Nasita mengusap kepala Myria penuh kelembutan. “Mama juga. Kenapa tidak pernah berkabar?”
Masih dalam pelukan karena enggan beranjak, Myria menjawab, “Maaf, Bun. Myria sibuk banget beberapa bulan ini. Lagi nemenin Friska buat persiapan buka butiknya.”
“Wah, masyaallah. Udah buka butik sendiri?”
__ADS_1
Pelukan Myria baru terlepas. Dia berikan senyum lebar hingga matanya menyipit. “Hu’um. Friska yang punya pikiran itu, Myria cuma bantu-bantu aja kalau mau.”
“Ajak Mama ke sana kapan-kapan.”
Sebelum menjawab, Myria melirik ke arah sofa. Saking senangnya bertemu Nyonya Nasita, dia lupa ada Tuan Tirta yang selalu mengawasi. Namun, menurutnya ada yang berbeda dari sang ayah kali ini. Tuan Tirta terlihat tenang tanpa buru-buru memisahkan.
“Boleh tidak? Kenapa malah diam?”
“Oh, boleh, Bunda.”
Aktivitas menggelayuti Nyonya Nasita usai, Myria pindah menyapa Tuan Aji. Dia ulurkan tangan untuk bersalaman dan mencium punggung tangan ayah mertuanya itu sebentar sembari tanya kabar.
Cukup dua orang tua, tidak untuk Angkasa. Myria hanya mengangguk sebagai sapaan tanpa bertanya apa pun.
“Kamu lelah, Myria?” Pertanyaan Tuan Tirta mengudara kala melihat putrinya sudah duduk. “Istirahatlah sebentar, bersihkan dirimu dan ganti pakaian. Mommy sudah membawakan bajumu, ada di kamar tengah.”
Sadar akan dirinya yang baru pulang dan belum mandi, Myria bergegas ke belakang untuk membersihkan diri. Meski banyak sekali pertanyaan atas kedatangan Angkasa sekeluarga, dia enyahkan pikiran itu sementara.
“Nggak! Nggak mungkin. Dia udah taaruf sama cewek lain.”Sebisa mungkin Myria mengusir pikiran bahwa kedatangan Angkasa untuk melamarnya lagi. Dia tidak lupa penolakan Tuan Tirta kala itu dan juga kabar Angkasa yang sedang taaruf.
Semua orang bergantian mengambil makanan saat Tuan Tirta mempersilakan. Sikap beliau lagi-lagi membuat Myria bingung. Namun, Myria enggan bertanya karena takut.
Makan dengan situasi tenang dan hangat adalah kebahagiaan. Semua orang mungkin beranggapan demikian. Sesekali kehangatan itu diselingi obrolan oleh Tuan Tirta dan Tuan Aji mengenai perusahaan.
Ketika makanan utama telah habis dan tinggal menikmati makanan penutup, Tuan Tirta melirik Myria dan Angkasa bergantian. Setelah itu, beliau menggeleng.
Dihirupnya napas dalam-dalam oleh Tuan Tirta, lalu dikeluarkan pelan sembari meletakkan sendok. Dia lirik Myria sekali lagi. “Myria.”
Myria yang masih menikmati pudding mangga buatan asisten rumah tangga itu menoleh. Dia hanya bisa mengangguk karena mulut masih berisi makanan. Setelah tertelan baru menjawab, “Ya, Ayah.”
“Ayah yang mengundang Aji sekeluarga kemari.”
Myria mengangguk-angguk tanpa protes.
“Ada sesuatu yang ingin mereka dengar darimu.”
__ADS_1
Tadi tenang, sekarang Myria berubah waswas. Indra penglihatannya bergeser ke arah depan di mana Tuan Aji sekeluarga duduk bersebrangan dengan keluarganya. “Masalah apa, Ayah? Apa aku ada utang yang harus ditagih?”
Angkasa ingin tertawa mendengar nada bicara Myria berubah seperti orang cemas. Meski wajah mantan istrinya tertutup, pria itu menebak ekspresi Myria pasti terlihat lucu.
“Tanyakan sendiri pada mereka?”
Jawaban Tuan Tirta tidak membuat Myria tenang apalagi puas. Maka dari itu, dia segera mengabaikan makanan dan fokus pada keluarga Angkasa. “Bunda … apa Myria ada salah?”
Senyum semanis teh melati tersulam di bibir Nyonya Nasita. Wanita berjilbab hitam itu menggeleng. “Tidak, Sayang. Jangan khawatir.”
“Tapi Ayah bilang ….”
“Kami hanya ingin mendengar jawabanmu, apa masih mau jadi menantu kami lagi?” Pembicaraan diambil alih Tuan Aji. Sebagai kepala keluarga, ada sikap tanggung jawab yang ingin ditunjukkan.
Kesadaran Myria terpecah. Kebingungan makin memuncak karena tak kunjung paham sejak tadi. Saking bingungnya, Myria diam tanpa merespons hingga membuat Andreas turun tangan.
Pria yang ada di samping Myria itu sengaja memegangi kepala sang kakak, lalu digerakkan naik turun seperti orang mengangguk berulang. “Nah, Om. Ini jawaban Myria.”
Kesal atas sikap Andreas, Myria memukul tanpa peduli. Kakak beradik beda ibu justru bertengkar kecil dan membuat seseorang tidak nyaman.
Angkasa berdehem karena tidak tahan lagi. Saat perhatian semua orang tertuju padanya, dia pura-pura minum.
“Jadi bagaimana, Myria? Mertuamu memintamu kembali, apa mau?” tanya Tuan Tirta agar fokus semua orang kembali pada pembahasan.
Ucapan Tuan Tirta mengejutkan Myria. Sejak kapan sang ayah bisa setenang itu ketika membicarakan hubungan pernikahan bersama Angkasa? Dengan ragu-ragu dan siap dimarahi, Myria bertanya lirih. “Kalau Ayah sendiri bagaimana?”
Satu alis Tuan Tirta terangkat. Hal itu sontak membuat Myria mengerut. Akan tetapi, jawaban Tuan Tirta tidak seburuk perkiraan. “Ayah setuju asal kamu mau.”
Binar bahagia di mata Myria langsung memancar. “Beneran, Yah?”
Tuan Tirta mengangguk dengan senyum tipis. “Jadi bagaimana? Apa masih mau jadi menantu Aji dan Ayu, yang artinya menikah lagi dengan Angkasa?”
Myria ingin melompat kegirangan, tetapi sadar diri hal itu akan menjatuhkan marwahnya sebagai muslimah. Maka dari itu, dia tetap bersikap anggun dan tenang, lalu mengangguk malu-malu.
.
__ADS_1
......................