Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Penyelidikan Marta


__ADS_3

Hari ini Marta akan kedatangan tamu dari teman-teman arisan nya. Marta juga merupakan perempuan sosialita. Marta pun menyiapkan segala keperluan untuk menyambut teman-teman arisan nya.


Tak lama, mereka pun datang. Dan Marta pun menyambut mereka dengan senang hati. Pandangan Marta tertuju kepada salah seorang temannya yang membawa anak gadis. Marta pun bertanya kepada temannya itu.


"Jeng.. ini siapa?" Tanya Marta sembari melihat ke arah gadis itu.


"Oh, ini anak saya jeng.. namanya Rita.."Jawab temannya itu.


" Halo.. tante, selamat pagi.. perkenalkan saya Rita tante.." Ucap gadis itu sembari bersalaman dan mencium tangan Marta. Marta merasa senang melihat gadis itu. Gadis itu terlihat sangat sopan.


Kemudian Marta pun menyuruh mereka untuk duduk. Marta pun ke belakang sebentar untuk mengambil sebuah kue hidangan untuk dihidangkan kepada tamunya.


Marta pun menyuguhkan kue itu kepada teman-temannya dan mempersilahkan untuk dinikmati. Setelah itu, mereka pun memulai acara arisan nya.


Marta pun bertanya kepada temannya yang membawa anaknya itu.


"Jeng.. kok kamu ga bilang-bilang sih kalau kamu punya anak gadis secantik Rita? Terus, kalau Aku ke sana Aku ga pernah melihat Rita.." Ucap Marta penasaran.


"Ngapain Aku pamer anak gadis jeng.. toh nantinya orang-orang juga pada tau tentang anak saya.. Anak saya ini, baru pulang dari luar negeri.. Rita baru menyelesaikan kuliah S2 nya di luar negeri.." Ucap temannya itu. Marta pun lanjut bertanya.


"Oh iya? Terus Rita ngambil jurusan apa?" Tanya Marta kepada Rita.


"Saya ngambil jurusan bisnis tante.." Jawab Rita. Marta pun terkejut mendengar ucapan Rita.


"Wah, benarkah? Kebetulan nih.." Ucap Marta. Dan Marta pun bertanya lagi.


"Oh iya.. kamu ikut kesini tujuannya apa?" Tanya Marta.


"Saya kesini hanya nganterin mama tante.. rencana sih mau langsung pulang.. entar kalau selesai saya jemput.. tapi, mama yang ngotot untuk ikut acara ini.." Jawab Rita.

__ADS_1


"Iya, apa yang dikatakan Rita itu benar jeng.. saya ajak dia kesini.. kan, kasian jika harus bolak-balik kesini.. sekalian kan, saya ajak dia kesini.. lagian acara arisan ini cuma sebentar.." Jawabnya membenarkan ucapan Rita. Marta pun mengangguk paham. Dan Marta pun berfikir.


"Dari sini, kelihatannya gadis ini sopan.. entar, Aku cari tahu tentang dia lebih dalam.." Gumam Marta.


.


.


.


Acara arisan mereka pun telah selesai. Semua teman-teman Marta pamit pulang. Tidak terkecuali mamanya Rita dan juga Rita. Rita tidak lupa bersalaman dengan mencium tangan Marta. Dengan langkah dan kata-kata yang sopan, Rita pun pamit. Marta memperhatikan tingkah kecil dari gadis itu.


"Kelihatannya gadis itu sangat sopan, dan baik hati. Dari sini, Aku menyukai gadis itu. Sudah cantik, sopan pula.. tapi, Aku harus menyelidiki gadis itu terlebih dahulu.." Pikir Marta.


Marta pun menelfon seseorang. Iya juga memiliki detektif yang handal. Tak lama, orang suruhan Marta pun datang. Marta meminta untuk menyelidiki siapa gadis yang bernama Rita itu. Dan Marta meminta untuk menyelidiki tingkah gadis itu.


"Baik buk.." Jawab orang suruhan Marta.


Marta adalah ibu yang cerdas. Iya tidak ingin salah memilih istri untuk Rival. Seperti suaminya yang salah pilih karena hanya anak seorang teman. Tapi, mau bagaimana lagi, semua itu karena desakan.


Sekarang ini, Marta lebih berhati-hati. Meskipun iya adalah anak dari temannya. Tapi, iya perlu menyelidiki semuanya lebih dalam lagi.


...****************...


Sementara Rival, Rival masih bersedih dan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat menolong Namira. Rival terus saja murung. Iya seperti hilang semangat karena secara ga langsung iya telah kehilangan sahabat kecilnya untuk selamanya. Nadia yang melihat itu, merasa kasihan dengan kakaknya itu. Nadia pun berusaha untuk menghibur kakaknya agar tidak terpuruk.


"Kak.. jangan sedih terus dong.. kakak harus semangat.. ga boleh begini.." Ucap Nadia.


"Bagaimana kakak ga sedih dek.. Namira itu bukan hanya cinta pertama kakak, tapi iya juga sahabat kakak dari kecil.. meskipun dia sudah menikah, tapi tetap aja dia adik kakak.. dan kakak sangat menyayangi dia.. sebagaimana kakak sayang sama kamu.." Ucap Rival.

__ADS_1


"Iya.. Aku tau kok.. perasaan kakak, tapi kakak ga boleh murung.. Kak Namira itu sudah tenang di sana.. Dia sudah bahagia di sana..kalau dia liat kakak sedih begini, nanti Namira tidak tenang. Namira juga akan sedih.." Ucap Nadia.


"Andai bisa seperti itu.. kakak akan lakukan dek.. ga mudah untuk kakak bisa ceria.." Ujar Rival.


Dari balik pintu Marta melihat mereka berdua. Iya mendengar percakapan kakak beradik itu. Marta merasa kasihan dengan Rival. Marta harus cepat-cepat untuk menyelidiki gadis yang bernama Rita itu. Agar Rival tidak lagi murung dan berhenti memikirkan Namira.


Tiba-tiba saja Helsen datang dan melihat istrinya sedang berdiri di depan kamar Rival. Helsen pun bertanya.


"Ada apa ma?" Tanya Helsen.


"Ga ada apa-apa kok pa.." Jawab Marta berbohong.


"Bohong.. pasti ini tentang Rival lagi.." Ucap Helsen. Kemudian Helsen pun melihat sendiri keadaan di dalam. Helsen juga mendengar percakapan mereka. Helsen hanya menggelengkan kepala.


Karena geram, akhirnya Helsen pun masuk ke kamar Rival. Iya menegur Rival untuk berhenti memikirkan Namira.


"Rival.. untuk apa sih kamu memikirkan Namira? Untuk apa kamu memikirkan orang yang sudah meninggal? Namira itu sudah mati dan ga akan kembali lagi.. kamu ini, buang-buang waktu saja!" Ujar Helsen. Rival pun kemudian berdiri dari duduknya dan menjawab perkataan papanya.


"Iya, saya memang buang-buang waktu memikirkan orang yang sudah tidak ada.. tapi ini semua gara-gara papa.. papa, kalau saja papa tidak menyita HP Nadia waktu itu, mungkin saya sudah menghubungi teman-teman saya untuk menyelamatkan Namira.. Dan mungkin sampai saat ini Namira masih hidup pa.." Ujar Rival.


Marta dan Nadia pun segera merelai perdebatan antara Rival dengan ayahnya. Marta segera membawa keluar ayahnya. Sementara Rival, Rival pun hilang kendali. Iya mengamuk dan semua perabotan yang ada di kamarnya, iya lempar. Bahkan Rival pun memukul cermin rias dengan tangannya hingga tangan Rival berdarah. Nadia yang melihat kakaknya itu pun merasa ngeri sendiri.


...****************...


Orang suruhan Marta pun berhasil mengumpulkan informasi yang diminta oleh Marta. Iya menyerahkan laporan tersebut. Dan Rita pun mulai membuka laporan itu. Tidak hanya itu, iya juga memberikan sebuah vidio tentang tingkah Rita itu setiap harinya.


Marta pun membaca laporan tersebut dengan seksama. Dan Marta mengangguk paham tentang pekerjaan Rita. Ternyata benar, apa yang dikatakan oleh temannya itu.


Marta pun juga melihat vidio tentang tingkah Rita. Melihat vidio itu, Marta dibuat takjub oleh Rita. Kemudian, Marta pun menyuruh orang suruhannya itu untuk pergi.

__ADS_1


__ADS_2