Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Bab 18


__ADS_3

Coat di tangan melayang ke udara, sementara pemiliknya langsung berbalik menghadap pintu. “Aku nggak lihat apa-apa? Tutupin kepalamu pakai itu.”


Myria bergegas menarik coat yang tersangkut di sofa untuk menutup kepala beserta wajah. Dia terlalu ceroboh karena keluar tanpa jilbab apalagi cadar. Sebenarnya, tidak mengira pula bahwa Angkasa pulang sekarang. Bukankah Nyonya Nasita kemarin malam bilang Angkasa pulang minggu depan.


“Udah belum?” Angkasa seperti bertanya pada pintu karena masih berdiri membelakangi.


“U–udah.” Masih dalam kondisi tidak stabil, Myria menjawab. Dia lakukan apa yang diperintahkan Angkasa untuk menutup kepala dengan coat bekas pria itu.


Mendengar jawaban Myria, Angkasa baru berbalik. Kemudian, dia melangkah ke ruang tengah. Ketika melewati mantan istrinya, pria itu menyempatkan diri menoleh. “Ngapain kamu kemari? Pakai nginep pula. Bukan salah aku jadinya soal yang barusan.”


Dari balik coat yang menutup kepala serta hampir semua mukanya, Myria mencebik. Wanita itu melengos dan hendak kembali ke kamar tanpa menghiraukan.


Akan tetapi, baru jalan beberapa kali, derap langkah dari arah tangga mengalihkan perhatian Myria dan Angkasa. Dua manusia itu melihat kedatangan Nyonya Nasita yang buru-buru seperti dikejar sesuatu, disusul di belakangnya Tuan Aji.


“Myria, kamu kenapa, Nak?” Seolah tidak melihat putranya pulang, Nyonya Nasita justru menghampiri Myria dengan wajah khawatir. Diperiksanya perempuan yang sudah dianggap anak sendiri itu secara teliti dari atas sampai bawah, bahkan diputar sekali.


“Myria nggak pa-pa, Bun,” kata Myria sungkan. Teriakannya ternyata mengganggu istirahat kedua orang tua yang ada di lantai atas.


“Benar kamu baik-baik saja? Jangan buat Mama panik.”


“Dia cuma kaget lihat aku, Ma.” Angkasa menyela. Mendadak dia iri melihat sikap ibunya memperlakuan Myria seperti itu. Padahal, dahulu justru senang saat Nyonya Nasita memanjakan Myria seperti memanjakan dirinya.


“Kasa, kamu pulang, Nak?” Usai menguasai diri, Nyonya Nasita baru menyadari keberadaan sang anak. Beliau menghampiri lalu memeluk. “Kamu bilang masih Selasa pulang, ini baru Sabtu, kan?”


“Urusan sudah selesai, Ma. Aku sengaja pulang cepet biar bisa istirahat. Nggak tahunya tertanya Mama bawa Myria kemari.”


“Iya, Mama minta maaf. Mama lupa kasih tahu kamu kemarin. Rencananya pagi ini mau telepon kamu, tapi kamu sudah sampai rumah.”

__ADS_1


Angkasa mengatupkan bibir. Matanya melirik ke arah Myria sebentar, lalu pamit ke kamar untuk istirahat.


“Salat Subuh jangan lupa, Kasa.”


Dari undakan tangga, Angkasa menjawab ‘iya’ tanpa menoleh. Dia tinggalkan kedua orang tuanya di lantai bawah agar mengurus Myria.


“Tidur lagi, Sayang. Mama kira ini hanya salah paham.” Perhatian Nyonya Nasita kembali pada Myria. Wanita itu meminta coat yang masih dipengang Myria untuk dicuci.


“Biar Myria aja, Bun. Bentar lagi subuh, Myria nggak bisa tidur. Biar Myria mandi sebentar lalu beres-beres rumah aja sambil nunggu hari terang.”


“Baiklah kalau begitu. Ikut masak bersama Mama. Akhir pekan, ART rumah ini selalu libur. Mama sengaja meliburkan karena biasanya Mama yang akan memasak buat keluarga.”


Myria setuju. Dia ke kamar untuk mandi dan harus berpakaian tertutup sepenuhnya seperti hari biasa. Mewaspadai, takut-takut andai Angkasa muncul seperti hantu tanpa undangan meski pria itu tadi pamit tidur.


Tuan Aji hanya bisa menarik napas panjang melihat sikap Angkasa dan Myria yang sudah sama-sama hilang dari pandangan. Lagi-lagi ada sesal menyelip di hati karena masa lalu. Namun, usapan lembut dari Nyonya Nasita yang kini dirasa, membuat beliau tersadar.


“Mereka hanya butuh waktu, Pa. Papa jangan menyalahkan diri terus. Hal penting saat ini, bagaimana kalau kita mulai berpikir cara bijak untuk meluluhkan hati Kak Mandala.”


Insiden pagi itu berusaha diabaikan Myria. Sekarang, dia fokus memasak di dapur bersama Nyonya Nasita. Ibu dari mantan suaminya itu banyak bercerita saat berdua seperti ini. Tentang semua hal yang terlewat setelah beberapa tahun.


“Butik Mama tinggal satu. Beberapa cabang terpaksa dijual buat modal bangun perusahaan yang sekarang ini dijalani Kasa sama Sakti itu, Sayang. Dibantu Papa dan banyak orang lagi buat sahamnya. Dan, alhamdulilah berjalan cukup lancar.”


Myria mengangguk-angguk sembari memotong buah untuk dijadikan jus.


“Kenapa kamu milih kerja di perusahaan daripada bangun usaha sendiri, Nak? Mama tidak akan tanya modal, karena pasti kamu sudah punya.”


“Eh?” Pertanyaan Nyonya Nasita sukses membuat tubuh Myria mendadak kaku. Mana mungkin dia mengaku terang-terangan pada beliau bahwa sengaja masuk perusahaan untuk melihat Angkasa. “Eum, itu, Bunda. Pengin ngerasain kerja sama banyak orang gitu, Bun. Biar banyak temen juga di sini.”

__ADS_1


Gelas-gelas kaca diletakkan Nyonya Nasita ke meja. Wanita itu mengulas senyum. “Tapi alhamdulillah sekali bisa pas begini kerja di tempat Kasa. Takdir memang tidak ada yang tahu, ya.”


Myria hanya meringis mendengar perkataan ibu mertuanya. Dia lanjut memasukkan buah ke mesin juicer lalu menunggu sampai selesai.


Matahari mulai terbit. Myria ganti aktivitas menyapu halaman sembari menyiram tanaman. Nyonya Nasita sebenarnya melarang, tetapi wanita itu bersikukuh.


Di tengah keseriusan menyapu, tiba-tiba seekor kucing putih abu-abu menghampiri. Tanpa peduli datang dari mana, Myria segera meletakkan sapu dan menggendong hewan berbulu halus tersebut.


“Lucunya kamu. Di mana majikanmu? Apa kamu nyasar?”


Namanya hewan, tentu tidak bisa menjawab. Kucing itu hanya menjilat dua kaki depannya bergantian lalu diusapkan ke wajah.


“Myria.” Suara Nyonya Nasita memanggil dari dalam berhasill mengalihkan perhatian Myria. “Ayo, sarapan dulu, Nak. Papa sudah menunggu di meja makan.”


“Oh, iya, Bunda.” Tak tega meninggalkan kucing itu di halaman, Myria menggendongnya masuk rumah. Dia akan memamerkan kucing itu pada Nyonya Nasita dan Tuan Aji saat tiba di dalam.


“Bunda, ada kucing lucu mendatangi Myria. Apa ini punya Bunda? Kalau iya, apa boleh Myria bawa pulang buat teman di apartemen?”


“Enak aja mau bawa Gilbert-ku pulang. Beli sendiri sana, yang jual banyak.”


Suara berat dari arah tangga membuat Myria menoleh. Dia dapati Angkasa menuju meja makan dengan tampilan kaus putih polos dan celana bahan di bawah lutut. Wajah pria itu masih segar, terlihat selesai mandi atau hanya cuci muka, Myria tidak tahu.


“Kasa, yang enak kalau bicara, Nak.” Nyonya Nasita menegur. “Myria, Sayang, itu kucing kesayangan Kasa. Saking sayangnya sampai dibawa pulang ke sini meski kuliah sudah selesai. Dulu beli di Inggris sana. Persis seperti niat kamu tadi, Kasa beli itu juga buat teman di apartemen selama kuliah dulu.”


Tadi sempat melongo, kini Myria mengangguk pelan lalu merendahkan badan untuk melepas si kucing. Hewan berbulu itu segera lari dan menuju ke samping rumah setelah benar-benar terbebas.


Selama sarapan, suasana begitu sepi. Nyonya Nasita yang kemarin banyak bicara, kini justru sibuk memperhatikan Angkasa dan Myria bergantian.

__ADS_1


“Kasa, yang masak ini Myria. Bagaimana menurutmu?”


Pertanyaan Nyonya Nasita terlontar. Angkasa yang sejak tadi menikmati langsung diam, bahkan berhenti mengunyah.


__ADS_2