
Angkasa sungguh tidak berperasaan. Pria itu melenggang begitu saja setelah bicara ketus. Myria yang masih berdiri di tempat terus memandangi sembari menahan tangis.
Ketika tubuh tegap itu menghilang sepenuhnya, tangis Myria pecah. Dia bersandar ke dinding sembari membekap mulut.
Sorot lampu mobil yang memasuki area perusahaan membuat Myria sadar. Dua tangannya segera menyeka mata dan pipi. Dia tidak ingin orang yang menjemput tahu dirinya menangis.
“Hai.” Andreas membukakan pintu dari dalam. Pria itu selalu tersenyum setiap bertemu Myria.
Myria ikut tersenyum menanggapi sekalipun senyumnya tidak terlihat. Dia segera masuk mobil dan duduk di samping Andreas.
“Kamu mau makan dulu?” Pertanyaan keluar dari mulut Andreas bersamaan tangan yang mulai memutar kemudi. Tatapan matanya mengarah ke jalanan sehingga tidak terlalu awas akan kondisi Myria.
“Enggak. Aku mau langsung pulang. Capek banget.”
Suara Myria yang terkesan lemah menimbulkan curiga bagi Andreas. Pria berambut hitam kecokelatan itu menoleh sekejap, lalu harus kembali fokus menyetir. “Apa ada masalah dengan pekerjaanmu, Myria?”
Myria menggeleng. Dia sandarkan kepala serta punggung sepenuhnya ke sandaran kursi. Sembari melemaskan pikiran, wanita itu bercerita, “Angkasa salah paham gara-gara kehadiranmu. Entah apa yang ada di pikirannya sampai-sampai bicara menyakiktan tadi.”
“Apa yang dikatakan? Apa ex-husband-mu itu mengira aku kekasihmu?”
“Ya, seperti itu.”
Andreas tertawa. Pria itu menggeleng pelan, lalu memutar stir lebih cepat saat berbelok. Setiap hari berkunjung ke apartemen Myria, sehingga tidak membuatnya kesusahan dalam menghafal jalan.
“Pertemukan kami. Biar aku yang bicara sendiri padanya.”
Usul Andreas hanya ditanggapi decakan. Myria tidak mungkin bisa mewujudkan itu karena bicara saja begitu sulit dengan Angkasa, apalagi mengundangnya bertemu bersama Andreas. Hal yang mungkin didapat bukan pernyataan setuju, justru kebencian makin dalam.
__ADS_1
“Aku akan selesaikan ini sendiri. Pulanglah, sampaikan salamku untuk Ayah. Tapi ingat, jangan katakan apa pun pada Ayah soal Angkasa,” kata Myria setelah sampai di depan apartemen.
“Okay. Good night.”
Napas lelah terbuang dari mulut Myria lagi setelah melepas kepergian Andreas. Dia bergegas masuk apartemen tanpa menunggu apa pun. Badannya lelah, pikiran ikut rumit karena kesalahpahaman yang berlarut. Angkasa makin keras kepala dan begitu sulit dijangkau ketika sudah berpendapat.
“Capek ngadepin Kasa. Dulu tukang maksa, sekarang nambah lagi jadi tukang ngambek. Bikin orang bad mood juga lama-lama.” Selama lift berjalan, selama itu pula Myria mengomel. Beberapa kali dia mengentak lantai agar kekesalannya terlampiaskan.
Masuk unit apartemennya sendiri, Myria langsung merobohkan badan ke sofa. Cadar dan jilbab yang menutup kepala seharian itu langsung dilepas, lalu menggulung lengan gamisnya hingga ke siku. Myria memejam sebentar untuk menghalau penat. Setelah cukup tenang, baru ada ide muncul.
Buru-buru Myria membuka ponsel dan mencari nomor seseorang. Dia mulai mengetik banyak pesan, lalu menghapusnya lagi saat melihat jam sudah berada di angka 10. Akan dianggap tidak sopan jika memaksa menghubungi orang malam-malam. Maka dari itu, Myria tahan dan tunggu sampai besok.
Tidak berbeda dari Myria yang pusing, Angkasa jauh lebih parah. Pria itu tak mau pulang dan justru memutari kota dengan motornya tanpa arah. Ada Sakti yang menemani meski tidak diminta.
Dua pria itu akhirnya mendatangi sirkuit balap liar setelah tengah malam terlewat. Sakti sempat mencegah, tetapi dia terpaksa berhenti saat sahabatnya pura-pura tuli.
“Ka, jangan gila lo!” Sakti berteriak saat Angkasa mengajukan diri ikut tantangan. Dia kira setelah berputar-putar di jalan beberapa jam bisa membuat emosi sahabatnya surut, tetapi ternyata tidak sama sekali.
“Gue nggak mau lo kenapa-kenapa. Kita pulang!”
Tubuh nyaris ditarik sahabatnya, tetapi Angkasa segera menepis. Pria itu menuju motornya tanpa memedulikan Sakti lagi. Hatinya tengah gelap gulita sehingga tidak bisa menerima omongan dari siapa pun.
Mesin motor menyala, helm terpasang di kepala, empat orang bersiap adu kecepatan dalam hitungan detik. Ada satu wanita di tengah-tengah memegang bendera sebagai pemberi aba-aba.
Sakti berteriak frustrasi melihat kelakuan Angkasa. Andai hal buruk terjadi pada sahabatnya itu, dia akan dapat masalah dan tentu bingung menyampaikan pada Nyonya Nasita.
Belum selesai pikiran Sakti yang khawatir akan kondisi Angkasa, kejadian buruk itu seolah direstui takdir. Suara tabrakan di ujung sana membuat orang berteriak dan langsung berbondong-bondong lari menghampiri.
__ADS_1
“Sh itt!” Habis kesabaran Sakti. Dia buang blazer Angkasa yang ada di tangan, lalu ikut berlari. “Minggir semua!” teriaknya ketika sampai di tempat kecelakaan.
“Bego! Sumpah lo memang nggak waras, Ka!” Emosi Sakti meledak. Melihat Angkasa dan satu orang berjaket hitam terduduk di aspal sambil mengaduh kesakitan, dia tidak peduli lagi kesopanan. Semua orang yang mengerumuni ikut diteriaki agar membawa Angkasa dan satu korban itu ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Sakti tidak bisa diam dan ingin terus memaki. Satu jam berada di IGD, akhirnya Angkasa dan satu orang yang kecelakaan tadi bisa pulang. Biaya rumah sakit telah dibereskan tanpa harus mempertimbangkan orang yang dibiayai kenal atau tidak.
“Jangan bawa gue pulang. Gue ke rumah lo,” kata Angkasa saat melewati pintu IGD.
“Kalau udah gini, lo baru bisa ngomong gitu? Tadi ke mana aja otak lo, Ka? Sialan!” Meski kesal bukan main, Sakti tetap memapah sahabatnya menuju pinggir jalan. Dia pesan taksi dan sengaja meningggalkan motor di parkiran rumah sakit.
Angkasa membisu. Dia terima kemarahaan Sakti karena sadar telah merepotkan. Akan tetapi, pulang ke rumah memang bukan keputusan yang benar. “Please, gue mohon. Biarin gue di rumah lo dulu sampek nemu ide buat ngomong sama nyokap.”
Pintu taksi dibukakan oleh sang sopir, Sakti mengempaskan tubuh Angkasa di belakang. Pria itu tak bicara lagi.
Sesuai permintaan, Sakti tidak mengantar Angkasa pulang. Dia bawa sahabatnya itu ke rumah agar bisa istirahat tanpa dapat pertanyaan macam-macam. Orang tua kebetulan sedang perjalanan bisnis ke luar negeri, sehingga keduanya bebas dari introgasi.
“Udah subuh, salat dulu sebelum tidur. Nggak usah ngantor kalau jalan lo masih pincang.”
Angkasa mengangguk sembari menyandarkan diri di kepala ranjang. Tangannya masih terasa perih karena bergesekan dengan aspal, sementara lutut ketiban motornya sendiri. Dia tidak mengira jika akan kecelakaan seperti ini hingga merepotkan Sakti untuk kesekian kali.
“Gue minta maaf.”
Sakti yang sejak tadi mencarikan sajadah di lemari menengok. Dia tutup pintu lemari itu dengan gerakan cukup kuat hingga menimbulkan bunyi. “Basi omongan lo, Ka. Lo sayang nyawa nggak sebenarnya? Otak pindah ke dengkul?”
Angkasa membuang napas dapat cecaran dari Sakti. Tak ada daya untuk membalas karena memang posisinya salah.
“Tante Ayu bakal marah besar karena lo ingkar sama kepercayaannya. Lo lupa udah mau mati berapa kali selama lo hidup. Heran gue, kenapa nggak bisa waras dikit aja kalau ada masalah.”
__ADS_1
Belum usai omelan Sakti, ponsel Angkasa sudah berbunyi. Benar saja, Nyonya Nasita menelepon.
“Kasa, di mana kamu, Nak?”