Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta
Perasaan Aneh


__ADS_3

Sudah satu bulan usia pernikahan Namira dengan Malik. Keduanya sampai saat ini belum pernah merasakan benih-benih cinta. Dan sampai sekarang pun mereka juga belum pernah merasakan pengalaman malam pertama. Tetapi meskipun begitu, mereka tetap menjalankan kewajibannya sebagai suami istri yang lain.


Namira melakukan pekerjaan sebagai seorang istri yaitu menyiapkan keperluan suami. Sedangkan Rival bertugas memberikan nafkah kepada Namira. Namira menjalani hari-hari seperti biasa. Keadaan rumah tangga Malik dengan Namira bisa dikatakan seperti hubungan pertamanan.


Pagi-pagi, Namira pun menyiapkan sarapan pagi. Dan Namira pun memanggil Malik untuk melakukan sarapan pagi.


"Kak.. sarapannya sudah siap.. Ayok kita sarapan bareng.." Ajak Namira. Malik pun tersenyum kepada Namira. Dan berkata.


"Terimakasih ya.. sudah repot-repot menyiapkan sarapan segala.." Ujar Namira.


"Apa sih kak.. Ini kan sudah kewajiban Aku sebagai istri kakak.." Ujar Namira.


Dan mereka pun melakukan sarapan pagi bersama. Namira merasa heran dengan Malik. Kenapa dia belum siap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.


"Oh.. iya kakak kok belum siap-siap berangkat ke rumah sakit?" Tanya Namira.


"Enggak Namira.. hari ini Aku ga ada jadwal di rumah sakit.. Oh iya.. kenapa kamu repot-repot segala sih menyiapkan sarapan.. Kamu ga boleh capek loh... karena kamu baru dapat dua minggu pulang dari rumah sakit.." Ucap Malik.


"Aku sudah merasa sehat kok kak.. Lagian.. kan, kata Ibu Aku masakan istri itu istimewa.." Ucap Namira.


"Oh iya.." Ucap Malik.


"Iya dong.." Jawab Namira sambil tersenyum.


"Oh, iya Namira.. hari ini kita berkunjung ke rumah mama sama papa ya? Besok kita ke rumah Ayah dan Ibu.." Ajak Malik. Namira pun mengangguk setuju.


"Iya.. baik kak.." Jawab Namira. Mereka pun menyelesaikan sarapan mereka terlebih dahulu.


Setelah itu Namira bersiap-siap untuk berangkat ke rumah mertuanya. Dan setelah siap, Namira pun segera menunggu Malik. Mereka pun berjalan menuju ke mobil. Tapi, tiba-tiba saja, kaki Namira keseleo dan Namira hampir saja jatuh. Beruntung, Malik dapat menangkap Namira. Namira terlihat panik karena hampir jatuh.


Malik dan Namira pun saling bertatapan. Namira memandang Malik dengan rasa panik. Mereka menjadi tertegun dan saling bertatapan. Entah kenapa Malik merasa jantungnya berdegup kencang. Entah apa yang dia rasakan. Begitu juga dengan Namira, iya juga merasakan ada hal aneh dalam hatinya. Kenapa iya menjadi gugup juga saat ini. Jantungnya juga merasa tidak karuan. Entah apa yang terjadi dengannya saat ini.

__ADS_1


Kemudian, Namira pun segera melepaskan dirinya dari pelukan Malik. Dan Namira dan juga Malik terlihat gugup. Mereka pun berkata bersamaan.


"Maaf.." Ucap mereka secara bersamaan.


"Iya.. ga apa-apa.. terimakasih kak.." Ujar Namira akhirnya. Mereka pun berangkat bersama dan Malik pun membukakan pintu mobil untuk Namira.


Dalam perjalanan menuju ke rumah orang tuanya, tidak ada percakapan sedikitpun di antara mereka. Tapi, sesekali Malik melirik ke arah Namira. Namira pun fokus melihat ke depan. Dan begitu juga dengan Namira. Iya juga sesekali melirik ke arah Malik. Mereka pun saling curi-curi pandang.


.


.


.


Sesampainya di rumah orang tua Malik, terlebih dahulu Malik pun mengetuk pintu rumah orang tuanya. Dan tak lama, Sintia membukakan pintu untuk mereka. Sintia sangat senang karena Namira dan Malik berkunjung ke rumah mereka.


"Alhamdulillah.. akhirnya kalian berkunjung ke sini juga.. mama senang jadinya.." Ucap Sintia. Sintia pun memeluk Namira.


"Apa kabar kamu sayang? Bagaimana keadaan kamu hari ini nak? Apa kamu sudah enakan?" Tanya Sintia.


"Alhamdulillah.. mama senang dengarnya. Ayok kita masuk.." Ajak Sintia. Malik dan Namira pun masuk ke dalam rumah Sintia. Sintia pun memanggil suaminya dan memberitahu bahwa anak dan menantunya sudah datang. Tentu saja Imam merasa senang dengan kedatangan mereka.


"Oh iya.. keadaan kamu bagaimana sekarang Namira? kamu sudah sehat?" Tanya Imam.


"Alhamdulillah pa.. Aku merasa lebih enakan sekarang.." Ucap Namira.


"Alhamdulillah kalau begitu.. papa ikut senang.." Ucap Imam.


"Oh iya.. karena sudah enakan, mendingan kalian cepat-cepat bikinin mama dan papa cucu.. Kita ga sabar ingin segera menimang cucu.." Ucap Sintia.


Malik dan Namira pun saling pandang. Mereka merasa terkejut dengan permintaan mamanya.

__ADS_1


"Cucu ma?" Tanya Namira.


"Iya dong Namira.. kita pengen segera punya cucu.." Ucap Sintia. Kemudian Malik pun menjawab perkataan mamanya.


"Ma.. kita ini baru satu bulan menikah.. masak udah mau buat cucu aja sih.." Ucap Malik.


"Ya, emangnya kenapa kalau satu bulan? Pokoknya mama minta cepat buatin cucu segera.. jangan ditunda-tunda lagi dong.. Jangan bilang kalau kalian ikut KB.." Ujar Sintia.


"Iya Malik, lagian mama sama papa ini sudah semakin tua.. kita ini kalau bukan cucu apa yang mau diharapkan.. kita ini ingin segera punya cucu.." Ujar Imam. Namira pun tersenyum mendengar permintaan ini.


Lagi-lagi Namira merasakan hal aneh dalam hatinya. Entah mengapa berbicara soal cucu membuat Namira merasa senang. Begitu juga dengan Malik. Iya juga merasakan hal aneh dalam hatinya. Ketika orang tuanya berbicara soal ingin cucu, entah kenapa hatinya merasa senang dan tiba-tiba jadi ingin memiliki anak.


Mereka berdua membayangkan mempunyai anak. Namira dan Malik membayangkan mereka sedang memiliki anak kembar dan digendong secara bersamaan. Tiba-tiba saja, Sintia mengejutkan lamunan mereka.


Malik dan Namira tersadar dari lamunannya. Malik pun tiba-tiba menjadi heran. Kenapa dia malah membayangkan memiliki anak dengan Namira? Begitu juga dengan Namira, kenapa dia malah membayangkan memiliki anak dengan Malik. Namira dan Malik sudah merasakan hal aneh. Kenapa mereka malah membayangkan hal yang tidak-tidak. Kemudian, Malik dan Namira pun menjawab perkataan mereka secara serentak.


"Iya ma.. insha Allah.." Jawab Namira dan Malik secara bersamaan.


Sintia dan Imam pun tersenyum dengan kekompakan mereka. Setelah dirasa cukup puas, bermain di rumah orang tuanya, Malik dan Namira pun pamit untuk pulang. Sintia dan Imam pun mengingatkan mereka lagi.


"Ingat ya.. pesan mama dan papa, segera buatkan kami cucu.." Ujar Imam. Mereka pun mengangguk dan berkata.


"Iya pa, ma.." Ucap mereka berdua secara bersamaan lagi. Mereka pun langsung pulang.


.


.


.


Sesampainya di rumah, Namira dan Malik pun dibuat galau dengan permintaan mama dan papanya. Malik merasa tidak enak hati dengan Namira. Begitu juga dengan Namira, mereka juga tidak enak hati dengan Malik karena permintaan itu.

__ADS_1


"Namira.. Aku minta maaf ya.. atas sikap orang tuaku.. Kamu pasti merasa tidak enak ya.. dan kamu jangan pikirkan omongan mereka ya?" Ucap Malik


"Ya, ga apa-apa lah kak.. namanya juga orang tua.. pasti yang diharapakan kalau anaknya sudah menikah itu ya itu memang.. Aku ngerti kok.." Ujar Namira.


__ADS_2